OLEH: Rifadillah Sarin

Filsafat Melayu

6 Desember 2015 - 10.32 WIB > Dibaca 2751 kali | Komentar
 
Filsafat Melayu
Per aspera ad astra.1)

Tulisan ini merupakan refleksi yang timbul atas pembacaan buku Kearifan Pemikiran Melayu (KPM) karya ayahanda Tenas Effendy (TE), yang secara khusus telah dibahas dalam “Filosofi Tenas Effendy dalam  Kearifan Pemikiran Melayu” di Riau Pos 05 Juli 2015.

Sebagaimana telah ditulis di dalam esai itu, TE di dalam bukunya itu mengklaim bahwa kebudayaan Melayu pada dasarnya telah menggalakkan orang untuk berpikir, dengan menggunakan akal dan hati nuraninya secara cermat (KPM: 30). Kebiasaan dan kebisaan inilah yang menurut beliau menjadi latar bagi kearifan berpikir orang Melayu.

Berpikir adalah kegiatan utama dalam filsafat. Meski dikatakan filsafat bertitik pangkal pada pertanyaan (van Peursen, 1980:1), namun pertanyaan itu muncul karena rasa ingin tahu yang dipicu oleh kebutuhan-kebutuhan naluriah dan/atau percikan pemikiran. Memandang langit malam, bintang, dan bulan. Siang matahari. Hujan yang jatuh dari awan, banjir dan kekeringan. Hutan, dan ombak di lautan. Kesedihan dan kebahagiaan. Cinta dan luka hati. Semua itu pada mulanya menimbulkan perasaan heran2), lalu muncul rasa ingin tahu, terbentuklah pertanyaan, dan dalam perenungan berkelindan dengan alam pikiran, hingga [merasa] ditemukanlah sebuah jawaban.

Meski demikian jawaban-jawaban yang diberikan oleh filsafat menariknya tidak dapat didemonstrasikan sebagai benar, karena menurut Bertrand Russel (2002:183-184) segera setelah pengetahuan yang pasti tentang segala subjek menjadi mungkin, subjek ini berhenti disebut filsafat, dan menjadi suatu ilmu pengetahuan tersendiri. Tetapi, walaupun filsafat tidak mampu memberi tahu kita dengan kepastian manakah jawaban yang benar bagi keraguan-keraguan yang muncul, ia justru mampu menunjuk-kan banyak kemungkinan yang memperbesar pemikiran kita dan membebaskannya dari tirani kebiasaan, serta menghilangkan dogmatisme arogan. (Russel, 2002: 186)

Filsafat Melayu [?]


Tulisan ini mengambil judul “Filsafat Melayu”.

Adakah Filsafat Melayu itu?

Bila ada, siapa sajakah yang telah menganjungnya?

Apakah yang telah dibahas, serta bagaimanakah cara membahasnya?

Bagaimana tanggapan dunia?

Dan yang terakhir, adakah kontribusinya terhadap tamadun dunia?

Jawaban dari seluruh pertanyaan di atas mungkin sekali akan mengcewakan kita. Pengetahuan Penulis yang memang terbatas sampai saat ini belum menemukan jejak atau jawaban yang memuaskan untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut.3) Dalam konteks kebudayaan mungkin saja apa yang disebut sebagai kearifan lokal sudah mengandung unsur-unsur filosofis, tetapi tetap saja belum dapat disebut sebagai [sebuah sistem] filsafat secara ketat, baik dalam konteks keilmuan maupun sebagai sebuah aliran.

Tetapi mungkin saja ini bukan karena persoalan sumbernya yang terbatas, mungkin saja ini hanya sekadar persoalan sedikitnya bukti-bukti fisikal, atau kurangnya penjelajahan; atau justru tertutupi oleh manipulasi, atau bahkan distorsi informasi oleh pihak-pihak tertentu. Seperti kita ketahui, hingga menjelang akhir abad XX historiografi dunia dikuasai oleh nyaris sepenuhnya narasi peradaban Barat. Kita di Indonesia barangkali hanya sekitar satu-dua dekade belakangan ini saja mulai terbuka lebar pandangan dan ketakjuban kita akan narasi peradaban Timur.4) Demikian juga dengan persoalan opini. Apalagi di tengah penguasaan teknologi dan sumberdaya media komunikasi dan informasi seperti sekarang ini, perang tidak lagi sekadar terjadi antara pedang dan perisai logam lagi, tidak pula sekadar dalam bentuk “perang ekonomi”, tetapi sudah merasuk ke dalam “perang opini”; seperti yang pernah disiratkan Alvin Toffler puluhan tahun yang lalu.

Hal historiografi alam filsafat, yang termasuk dalam dunia opini, di antaranya dapat kita simak dalam Sejarah Filsafat (Solomon et al, 2002). Penulis harus memberi catatan bahwa meskipun buku itu telah tampak berusaha “merangkul” sejarah dunia Filsafat Timur, bagaimana pun ia masih jua terperangkap dalam pola pikir Filsafat “Barat-Kristen”. Namun, ada catatan yang menarik di dalam bukunya itu (meskipun ini sebenarnya dalam konteks Periode Aksial), di mana Solomon et al (h:6) mengurai bahwa perdebatan di seputar alam-masyarakat telah menjadi medan pertarungan abadi filosofis baik di Timur maupun di Barat, dari ribuan suku dan masyarakat tradisional mulai dari Pafisik Selatan dan sebagian besar Afrika. Itu adalah eksistensi filsafat dalam bentuk yang lain – atau mungkin dalam bentuk yang purba.5)

Selanjutnya beliau menulis: “Banyak masyarakat mempunyai kebudayaan-kebudayaan lisan yang rumit yang menggunakan metode-metode yang lebih intim dan kerap lebih efektif ketimbang tulisan untuk mewariskan pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Menuturkan kisah dengan bertatap muka terasa memikat dan bersifat pribadi .... Para nenek moyang yang hidup dalam masyarakat-masyarakat lisan menyampaikan kebijaksanaan mereka melalui puisi dan lagu” (h:11-12). Ini terjadi karena kemampuan dan budaya baca-tulis belum berkembang, sementara di satu sisi juga dirasakan dunia baca-tulis justru membuatnya menjadi terasa dingin dan berjarak. Sayangnya, ketika kebudayaan-kebudayaan itu lenyap, ide-ide mereka dan segenap peradabannya itu pun lenyap pula. Itulah yang pernah kita alami pada suatu masa dulu (atau mungkin kini masih tetap berlangsung – dalam bentuk lain?).

Kemudian lanjutnya: “Filsafat [modern; Pen.] lebih berminat pada teori sistematis ketimbang sebuah cerita; namun pada saat filsafat meninggalkan narasi historis – manakala ia menghapuskan seluruh gambar dari harapan kita – hasilnya seringkali berupa kumpulan konsep-konsep yang hampa konteks, yang secara keliru diartikan sebagai kebenaran-kebenaran abadi. Sebuah narasi mitologi dapat mencakup kontradiksi-kontradiksi bahkan absurditas-absurditas, tetapi cakupan ini malah menambahkan daya tarik penangkapan kekacauan-kekacauan riil dunia daripada mengurangi kredibilitas dan konsistensinya” (h:29-30).

Dengan demikian Solomon et al ingin mengatakan bahwa mitos juga adalah merupakan narasi filsafat, yang dalam hal-hal tertentu bahkan memiliki kelebihan dibanding filsafat modern.6) Sebagaimana juga dapat disimak dalam Eden in The East Stephen Oppenheimer, di mana di dalam setiap mitos atau cerita rakyat itu dapat kita temukan kearifan dan rahasia-rahasia alam dan kehidupan yang “tersembunyi”. Dan itu banyak terdapat di dalam kebudayaan dan peradaban “kemaharajaan” Austronesia yang terkenal sebagai peradaban lisan itu (karena sedikit sekali tinggalan tertulis, atau bahkan sekadar “tergambar”), di mana rumpun Melayu termasuk di dalamnya [atau bahkan justru merupakan “intinya”?].

Seperti telah digambarkan di atas, di dunia secara umum dikenal ada dua “pengelompokan” besar dalam bidang filsafat [yang akhirnya juga dikotomi peradaban], yang dikenal sebagai “Filsafat Timur” dan “Filsafat Barat”. Filsafat Barat mewakili kebudayaan Eropa (termasuk Amerika, Australia, dan NZ; kecuali suku-suku tempatan seperti Indian, Aborogin, Maori, dll.), sedangkan Filsafat Timur adalah selebihnya. Pengelompokan ini nampaknya hanyalah bersifat simplifikasi, cenderung mengikuti pandangan politis, yang mungkin juga mengikuti prasangka-prasangka primordial. Namun ini juga nampaknya tidak lepas dari perasaan superioritas dari apa yang menamakan dirinya Barat, meskipun Solomon ataupun van Peursen telah mencoba menjelaskan perbedaannya secara epistemologis.

K Bertens guna penyusunan bukunya itu (1981:7) telah mengelompokkan filsuf-filsuf Barat yang akan dibahasnya dalam kerangka wilayah bahasa di mana mereka hidup dan berkarya, juga dalam perspektif nasionalisme. Beliau selanjutnya membaginya atas: filsafat Inggris, Jerman, Perancis, AS, Blok Komunis, Italia, dan Spanyol. Alasannya adalah bahasa selalu mengakibatkan isolasi terhadap wilayah-wilayah bahasa yang lain (1981:9). Berkaca dari Bertens, apa yang disebut sebagai Filsafat Timur mungkin juga dapat diperlakukan seperti itu (sudah mulai dikenal: filsafat Cina, India, Jepang; atau juga berkelindan dengan konteks agama seperti filsafat Islam, Hindu, dll.). Maka barangkali kita dapat memperkenalkan Filsafat Melayu. Dalam konteks ini, sebaran antropologis bahasa dan puak Melayu (d/a Austronesia) yang sangat luas meliputi separuh permukaan bumi itu memberikan peluang yang sangat besar untuk menemukan dan mengangkat mutiara-mutiara filosofi/filsafat Melayu sedunia. Tujuan ini di samping akan menyusun semacam senarai mutiara kearifan Dunia Melayu, juga cerlang-cemerlang yang ditemukan barangkali selanjutnya dapat diberdayakan untuk memajukan tamadun Dunia Melayu itu sendiri. Pembahasan buku TE secara ringkas itu barangkali dapatlah dianggap sebagai [salah satu] langkah awal.



Quo Vadis?

Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, TE di dalam bukunya itu mengklaim bahwa kebudayaan Melayu pada dasarnya telah menggalakkan orang untuk berpikir, dengan menggunakan akal dan hati nuraninya secara cermat. Mengenai kemampuan daya pikir orang Melayu ini, tulis TE pula: “Kesedaran (sic!; demikian juga dengan beberapa persoalan dialek/tipografis lainnya – Pen.) ini menyebabkan mereka menjadi orang yang ‘tahu diri’, ... yang menumbuhkan dan mengembangkan pola fikir yang berwawasan luas, ... yang mampu merumuskan rancangan yang bernas, yang bermanfaat bagi kehidupan pribadi mahupun kehidupan berumahtangga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kesedaran ini pula yang menyebabkan lambat laun orang-orang Melayu memiliki pengalaman yang luas, yang menempa dan mencanai mereka menjadi orang-orang yang arif, bijaksana dan piawai dalam berfikir.” (KPM: 2). Menurut beliau pula ini erat kaitannya dengan wawasan berfikir orang Melayu yang luas dan menyeluruh, yang tidak hanya sekadar memikirkan hidup di dunia ini saja, tetapi juga kehidupan di akhirat; yang tidak sekadar memikirkan diri sendiri belaka, tetapi juga memikirkan kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara, serta alam sekitarnya; sehingga menyebabkan mereka mampu menempatkan dirinya sebagai makhluk Allah yang dijadikan “khalifah” di muka bumi ini (KPM: 28).

Klaim seperti ini bila dibawa ke gelanggang yang lebih luas bisa saja menimbulkan sanggahan, perdebatan, atau setidak-tidaknya pertanyaan. Orang-orang akan bertanya-tanya, dengan klaim itu apakah yang telah dihasilkan dan diwariskan tamadun Melayu [Riau] bagi dunia, atau siapakah peneraju pemikiran Melayu yang telah turut menyusun rangkaian mosaik peradaban dunia. Atau setidak-tidaknya jejak apakah yang telah dirintis dunia Melayu sehingga menjadi salah satu tapak utama kebudayaan dunia. Pertanyaan yang memerahkan telinga ini mungkin dapat lagi ditambah dengan pertanyaan “usil” bahwa apa-apa yang telah dipaparkan TE di dalam buku ini (seperti terutama dapat dilihat di halaman 28-32) sebagai kearifan (kelebihan, kemampuan, dan keunggulan-keunggulan) orang Melayu7) sesungguhnya dapat juga ditemukan pada bangsa-bangsa/tamadun lain, bahkan dengan beberapa di antaranya dengan capaian yang lebih tinggi.

Pertanyaan atau pernyataan [otokritik] semacam itu bukan tidak pernah muncul ke gelanggang terbuka. Jauh sebelum ini Mahathir bin Mohamad telah melansirnya dalam The Malay Dilemma (1970; sebelumnya juga telah muncul dalam sejumlah tulisan lepas dan orasi beliau). Atau dalam suara yang lebih garang – kalau kita ingin menganggap Indonesia adalah merupakan bagian dari tamadun Melayu – Mochtar Lubis dalam Manusia Indonesia (2001; yang berasal dari ceramah 6 April 1977).

Dalam konteks Melayu Riau sendiri, kita dapat melihatnya misalnya dalam tulisan Sudarno Mahyudin dalam “Pelestarian dan Pengembangan Budaya Berpikir Melayu” (dalam Alam Melayu, h:156) yang mengritik lemahnya etos berpikir sebagian besar generasi muda Melayu, sehingga mengakibatkan “jongkoknya” etos kerja mereka. Selanjutnya tulis beliau pula: “Banyak orang Melayu kini tidak memahami dan mengamalkan budaya berpikir itu dalam kehidupan keseharian mereka, menyebabkan budaya berpikir di kalangan sebagian besar orang Melayu tidak berkembang, menyebabkan wawasan berpikir mereka menjadi amat sempit” (ibid, h:158).

Sementara itu, dalam nada yang lebih pekat, Hasanuddin WS dalam “Pemeliharaan dan Pengembangan Budaya Melayu” (dalam Alam Melayu, h:132-133) menyatakan keprihatinannya tentang tidak munculnya ketokohan dan kepeloporan orang Melayu di tingkat nasional dalam hal pengendalian penggunaan bahasa Indonesia, baik di dalam bidang pendidikan, pemerintahan, pers, maupun di dalam karya sastra. Juga tidak muncul dalam forum-forum nasional, seperti kongres bahasa, kongres kebudayaan, atau berbagai festival dan forum pertemuan nasional lainnya.8) Secara ironis bahkan beliau mengatakan bagaimana akhirnya orang Melayu hanya duduk-duduk di tepi gelanggang penggunaan bahasa Indonesia, menonton orang-orang sekitar menggunakan dan mengatur bahasa Indonesia sesuka hatinya. Padahal Bahasa Indonesia itu lahir dari rahim Bahasa Melayu.

Paparan Hasanuddin ini pun mendapatkan dukungan secara historiologis dari Maman S Mahayana, seperti dapat dilihat dalam tulisannya “Menggugat Sejarah, Menggugat Jakarta: Catatan Perjalanan Melayu, Kegelisahan Cerpen Riau Kontemporer” (dalam Pertemuan dalam Pipa, h: 267-337).9) Maka layaklah pertanyaan ini menjadi cabaran: “Melayu, Quo Vadis?”, atau malah hanya menjadi cibiran: “Quid?”.

Di samping itu dunia kemelayuan10) pun saat ini sepertinya dalam keadaan yang tidak menggembirakan. Terjadi degradasi di banyak sektor; baik itu karena pengaruh eksternal, internal, atau kelindan di antaranya. Dan dalam banyak keadaan, orang Melayu Riau mengalami banyak tekanan, seperti mulai kehilangan jatidirinya. Segala nilai-nilai kearifan yang konon ranggi itu seperti entah hilang ke mana, sementara saat yang bersamaan orang-orang Melayu seperti terpecah-belah, atau setidak-tidaknya tersegregasi. Dalam bahasa TE: “... walaupun nampaknya orang Melayu Riau tetap ‘bersatu’ tapi hakikatnya bersatu dalam wujud yang semu, yang goyah kerana ‘persatuan’ itu lebih banyak dimulut daripada kenyataannya.” (KPM: 147).

TE pun melalui bukunya itu telah mengungkapkan persoalan yang memprihatinkan ini, dengan nada kepedihan yang mendalam, bahkan kadangkala dengan nyaris berupa amarah. Menurut beliau hal kebendaan telah dijadikan tujuan hidup dan tumpuan kejayaan, bahkan hingga menyangkut status sosial orang Melayu. Nilai-nilai agama dan budaya secara sadar atau tidak, kian hari kian diketepikan, terabai dan dilupakan (KPM: 18). Beliau juga mengatakan bagaimana orang-orang Melayu terkini semakin banyak yang kehilangan nilai-nilai asas budaya yang seharusnya menjadi jatidirinya. Rasa kebersamaan dan kegotong-royongan menjadi longgar, hidup menjadi nafsi-nafsi, keberhasilan seseorang dinilai hanya dari sejauh mana keberhasilannya mengumpulkan harta dan kekayaan atau mendapat kedudukan tinggi dalam pemerintahan. Nilai-nilai timbang rasa, tenggang rasa dan budaya “seraya menyeraya” mulai pupus (KPM: 18-19).

Dalam kehidupan berpolitik pula, dalam konteks etika politik, TE memandang sebagian politisi yang memegang jabatan penting sudah berkelakuan yang tidak sesuai lagi dengan tatanan nilai budaya Melayu. Kesantunan berpolitik dan berbudi bahasa, kearifan budi pekerti dan perilaku mereka sudah terabaikan, sehingga terjadilah tindakan dan perangai yang tidak wajar, seperti saling cerca mencerca, maki memaki, .... Padahal, perkataan dan perilaku yang tidak senonoh serta saling membuka aib malu itu hakikatnya dipantangkan oleh adat-resam Melayu dan dilarang oleh ajaran Islam (KPM: 24). Uraian TE semacam ini barangkali oleh sebagian orang masih dianggap terlalu lunak, karena TE belum (barangkali sengaja tidak) menyentuh kepada persoalan yang lebih mendalam dan barangkali lebih vulgar lagi.

Sementara itu menurut TE dalam bidang ekonomi kita juga sudah mengalami masalah yang besar akibat perubahan dan pergeseran nilai-nilai budaya itu. Nilai-nilai pemikiran Melayu yang mengarahkan orang untuk menjadi pelaku ekonomi yang baik dan terpuji, telah berpaling tadah ke arah ketamakan dan keserakahan (KPM: 25).



Menganjung Teraju

Di samping ada 22 ungkapan yang berhubungan langsung dengan kata pikir, di dalam Lampiran (KPM: 295-339) kita juga dapat menemukan 727 ungkapan, baik yang berhubungan langsung maupun tidak dengan makna kata pikir itu! Suatu jumlah yang barangkali menakjubkan, dan mungkin benar-benar menggambarkan tradisi berpikir orang Melayu. Bagaimana dengan masyarakat Yunani Kuno? Apakah mereka juga memiliki uangkapan yang sedemikian banyak jumlahnya itu?

Namun, bagi Sudarno Mahyudin, walaupun orang Melayu [dikenal] memiliki etos berpikir yang kuat, tetapi kalau budaya berpikir itu tidak berkembang, maka yang terjadi adalah kekerdilan dalam menggunakan akal, sehingga sudut pandangnya sempit. Selanjutnya terjadi pula pemborosan potensi berpikir yang ujungnya tindakan yang tidak efektif, sehingga berkesan tidak rasional (dalam Alam Melayu, h:163). Pendapat Sudarno ini jelas sejalan dengan TE yang menguraikan bahwa untuk menghadapi situasi dan kondisi yang penuh cabaran ini, di mana terjadi perubahan dan pergeseran nilai serta terpesongnya perilaku ke arah yang tidak baik, sudah saatnya orang Melayu melakukan “mawas diri”, yakni merenung apa yang terjadi, dan bagaimana mengatasinya di masa hadapan (PKM: 27).

Maka, kalau memang berpikir adalah merupakan salah satu tradisi yang baik dari orang Melayu, tentu ia juga menjadi salah satu kekuatan dari kebudayaan Melayu. Karena itu tradisi ini harus digalakkan lagi, dinaikkan dalam suatu anjungan teraju yang tinggi, diberi kesempatan dan keleluasaan untuk mengembangkan dan memberdayakan serta mengenalkan diri dan buah pikirannya, serta didukung dengan segala fasilitas dan sarana yang memungkinkan. Maka tradisi diskusi dan adu argumentasi, menghidupkan opini yang bernas dan esai yang cerdas, atau dalam bahasa Marhalim11) “pertelagahan intelektual” perlu kiranya dimarakkan kembali; barangkali semacam tradisi di Rusydiah Klub atau semacam itu. Namun yang juga tak kalah penting dari itu [sebagai permulaan barangkali], kembali mengutip Sudarno “orang Melayu harus menyadari bahwa mereka memang tertinggal bila dibandingkan dengan etnis lain yang sudah maju. .... Kesadaran itu hendaklah membuat orang Melayu berpikir dan berjiwa besar, menyusun strategi menuju masa depan yang gemilang dan berjuang untuk mewujudkannya” (dalam Alam Melayu, h. 156-157).

Di dalam bukunya itu TE juga memberikan beberapa solusi untuk menghadapi cabaran dan masa depan Melayu. Di antaranya beliau mengatakan dalam nada yang kontemplatif: “Seandainya orang-orang Melayu itu12) mau berfikiran dengan jernih dan jujur dalam melihat kenyataan, barangkali sejak dini akan diupayakan untuk memperbaikinya. Tetapi, kerana selalu mencari ‘kambing hitam’ ke pihak lain, mereka secara sadar atau tidak, semakin terjebak ke dalam ‘pertarungan sekandang’ yang kian hari kian ‘melumpuhkan’ persebatian Melayu itu. .... Akhirnya energi habis di sana, dan peluang itu dimanfaatkan orang lain. Seperti kata pepatah: ‘kapal pecah, hiu yang kenyang’ (KPM: 147-148). Bila cuai dan abai dalam menghadapi berbagai cabaran serta lalai dalam mengatasi perubahan dan pergeseran nilai dan perilaku itu maka tak mustahil akan timbul penyesalan yang berkepanjangan di kemudian hari (KPM: 27).

Akhirulkalam Penulis kutipkan:

Bergegaslah menuju tangkaimu kembali
demi menghisap madu pendar cahaya kehidupan.
Atau angin akan membawakan kepadamu
mawar layu kusam tanda ketidakberuntungan.13)
Payungsekaki, 05-06-15.

Oleh :  Gde Agung Lontar




KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Rabu, 26 September 2018 - 12:54 wib

Smartfren Hadirkan Voucher Super 4G Unlimited

Rabu, 26 September 2018 - 12:46 wib

JPO Ditutup

Rabu, 26 September 2018 - 12:30 wib

5.131 Hektare Lahan Telah Terbakar

Rabu, 26 September 2018 - 11:55 wib

Dilabrak Istri Pertama

Rabu, 26 September 2018 - 11:26 wib

19 TKI Nonprosedural Dipulangkan Lewat Dumai

Rabu, 26 September 2018 - 11:09 wib

2 Bulan, Beraksi di 8 TKP

Rabu, 26 September 2018 - 10:56 wib

Melibatkan 10 Tenaga Verifikator

Rabu, 26 September 2018 - 10:30 wib

66 Orang Terjaring Razia Malam

Follow Us