Oleh: Encep Abdullah

Jenaka Peribahasa

6 Desember 2015 - 10.40 WIB > Dibaca 2597 kali | Komentar
 
Rasanya, sebagian besar masyarakat Indonesia mengenal Cak Lontong. Komedian bernama asli Lies Hartono ini mulai populer secara nasional setelah menjadi bintang di Republik BBM dan kemudian tampil pula di Stand Up Comedy Show, serta Indonesia Lawak Klub. Dia kerap tampil dengan ucapan khasnya, yaitu “Salam lemper” dan “Mikir”.

Menurut Rafikalia dalam tulisannya “Kumpulan (72) Humor Cerdas Cak Lontong”, komedian ini terkenal karena lawakan yang lucu dan mengena tanpa menjelek-jelekkan dan merendahkan pihak lain. Lawakannya sederhana dan disampaikan dengan bahasa baku terstruktur, tetapi mengandung logika absurd yang menantang pendengar untuk berpikir.

Selain itu, Cak Lontong juga menggunakan peribahasa sebagai bahan lawakannya. Uniknya, beberapa peribahasa tersebut dibuat atas kreativitas Cak Lontong sendiri. Beberapa peribahasa jenaka Cak Lontong yang didapatkan dari internet sebagai berikut (1) setinggi tingginya bangau terbang, akhirnya terbang juga; (2) bersatu kita teguh, berempat kita lima; (3) sepandai pandai tupai melompat, kalau ngantuk ya tidur juga; (4) malu bertanya, kapan jawabnya?; dan (5) Ada gula, ada semut, ada apa lagi? (6) Air beriak tanda ada orang tenggelam; (7) Di mana bumi dipijak, di situ mau ngapain?; (8) Buah jatuh tidak jauh, kok; (9) Bagai kacang lupa gak dimakan; (10) Maling teriak maling lain dengar gak?; (11) Bagai musang berbulu, dicukur malah lebih kere; (12) Dalamnya laut, siapa tahu dapat di duga dalam hati; (13) Bukan salah bunda mengandung, tapi bapak bisa saja salah; (14) Ada asap, ada ape?; (15) Kasih ibu sepanjang masa, kasih anak enggak?; (16) Seperti padi, kian berisi kian dan terima kasi; (17) Setali 3 uang seperak 2 perak apa namanya?; dan (18) Mencoreng arang di muka sendiri masa gak boleh? (http://ramadhanlmzero.blogspot.com/). Peribahasa tersebut tidak ada sebelumnya di media. Jadi, diprediksi “peribahasa”  tersebut benar-benar dikreasikan oleh Cak Lontong.

Sesungguhnya, “peribahasa” sejenis ini cukup banyak di dunia maya, walau tidak dapat dilacak pembuatnya (anonim), seperti  (1) setinggi-tingginya bangau terbang, akhirnya jadi kecap juga; (2) bersatu kita teguh, bercerai kawin lagi; (3) sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jadi sate juga; (4) malu bertanya, jalan-jalan; (5) ada gula ada semut, ih gila gua imut.


Hal ini menandakan bahwa sebenarnya masyarakat kita cukup dekat dengan peribahasa. Namun, barangkali masyarakat kita merasa jemu dengan keseriusan makna peribahasa tersebut atau malah mereka tak mengerti maksudnya. Oleh karena itu, peribahasa yang awal mulanya merupakan sebuah nasihat, teguran, dan sindiran, kini menjadi alat kreativitas seseorang sebagai lawakan tertentu. Tentu saja, hal demikian sah-sah saja. Kreativitas tersebut memberi peluang dan ruang agar masyarakat mencintai peribahasa. Akan tetapi, alangkah baiknya sebelum mengenal peribahasa yang sudah diplesetkan tersebut, masyarakat harus mengenal peribahasa yang “asli” terlebih dahulu.

Peribahasa dapat dibagi atas beberapa jenis, di antaranya (1) perumpamaan (contoh: bagai air di atas daun talas), (2) ungkapan (contoh: anak emas, buah tangan), (3) pepatah (contoh: lempar batu sembunyi tangan), dan (4) bidal (contoh: berbicara pelihara mulut).

Nah, pengkreasian jenis peribahasa tersebut memang beragam. Ada yang mengkreasikan dalam bentuk tak jelas (seperti Cak Lontong), pantun, atau parodi. Ada hal yang harus diingat bahwa peribahasa bukan pantun dan pantun bukan peribahasa. Perhatikan beberapa contoh berikut (1) air beriak tanda tak dalam/orang teriak tanda tenggelam; (2) berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian/mantan sudah ke penghulu, saya masih sendirian; (3) ada gula, ada semut/ ih gila, saya imut.

Peribahasa (1) memenuhi syarat sebagai pantun, tepatnya pantun kilat (karmina). Peribahasa (3) bila baris awal sebagai sampiran, ia memenuhi syarat, tetapi bagian isi tidak memenuhi syarat karena kurang dari delapan suku kata. Peribahasa (2) tidak termasuk peribahasa, tetapi pantun. Jadi, masyarakat harus lebih berhati-hati untuk menentukan berbagai plesetan yang dijumpai karena bisa berupa jenaka peribahasa/jenaka pantun atau parodi peribahasa/parodi pantun!

Pada saat berjalan-jalan di Kota Serang, saya dan istri membaca tulisan mending tersesat daripada nanya di sebuah baliho. Kami tertawa terbahak-bahak. Istri saya bertanya, “Benar tidak tulisannya?” Menurut saya, yang menarik itu bukan tulisannya, melainkan foto/gambar yang mendukung tulisan (peribahasa) itu. Di baliho tersebut terdapat tiga orang yang sedang barangkali tersesat di sebuah lapangan luas. Mereka entah hendak pergi ke mana. Sepertinya, mereka senang dengan ketersesatan itu sehingga peribahasa yang tertulis mencerminkan apa yang digambarkan.

Keesokan hari, pada saat saya mengajar di kelas XI, siswa menjabarkan presentasi disertai catatan kaki. Namun, di akhir presentasinya yang berupa power point, tepatnya sebelum memulai sesi tanya jawab, mereka mengakhiri presentasi itu dengan peribahasa: malu bertanya sesat di jalan, banyak bertanya bertambah wawasan. Beuh… kamu namai peribahasa atau pantun (karmina) itu, Nak?

Baik, saya akhiri dengan sebait pantun berikut.

Jalan-jalan ke Negeri Jiran
Tak disangka bertemu Aura Kasih
Cukup kiranya demikian
Saya ucapkan terima kasih

Tabik!


KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 20 November 2018 - 11:27 wib

Haul Marhum Pekan Ingatkan Sejarah Pekanbaru

Selasa, 20 November 2018 - 11:26 wib

AirAsia Pindahkan Penerbangan ke Terminal 2

Senin, 19 November 2018 - 19:09 wib

Duit Korupsi Amankan Kasus Istri

Senin, 19 November 2018 - 18:47 wib

Teken Petisi, Selamatkan Nuril

Senin, 19 November 2018 - 17:00 wib

Kejari Kuansing Terima Penghargaan Terbaik Se-Riau

Senin, 19 November 2018 - 16:30 wib

Laga Kambing, Satu Tewas Satu Kritis

Senin, 19 November 2018 - 16:00 wib

Pemkab Ingatkan Perusahaan

Senin, 19 November 2018 - 15:30 wib

Bupati Buka Kejuaraan Panahan

Follow Us