MELAYAT WAFAT LEON AGUSTA

Monumen Safari dari Catatan Putih Kiprah Kesastraan

19 Desember 2015 - 22.10 WIB > Dibaca 1959 kali | Komentar
 
Monumen Safari dari Catatan Putih Kiprah Kesastraan
Oleh  H Syafruddin Saleh Sai Gergaji


Innaa lillaahi wa inna ilaiyhi rooji’uun
Sungguh sesungguhnyalah segala-galanya milik dan dari Allaah jua
Dan, kepada-Nya pula niscaya (di)kembali)kan semua-muanya
(Q.S. 2, al-Baqoroh: 156)
Kullu nafsin zaa-ikah al maut
Segala yang bernafsu, bernafas, berjiwa, dan bernyawa
Sentiasa pasti mengalami kematian jua

***
TANGGAL kelahirannya sama persis dengan anak bungsu si kembar kami Safari Al-Hamdan dan Safari Al-Hamdani, 5 Agustus, meski berselesih umur 60 tahun. Namun Hamdan nyawanya hanya beberapa menit saja, kembali ke pangkuan Ilaahi. Dani kini alhamdulilaah telah kuliah semester pertama di UIN Suska Riau. Begitulah sunnatullaah: semua yang bernafsu-berjiwa-ber-nafas-bernyawa pasti akan mengalami dan merasakan mati. (Q.S. 3, Ali ‘Imroon: 185; 21, al-An-biyaa’: 35; 29, al-Ankabuut: 57). Tak ada yang dapat menolak agar luput dari kematian, dan tidak ada yang mengetahui kapan Malaikat Maut menjemput: siap tak siap dia tetap menyergap, muskil berdegil menampik Izroil.

Begitu pulalah bagi diri Ridwan Ilyas. Usia 77,4 dia menghembuskan nafas terakhir. Lahir di Sigiran, Nagari Tanjungsani, Maninjau, Sumatera Barat, 5 Agustus 1938 – wafat di RSUP dr. M. Djamil, kota Padang, Kamis, 10 Desember 2015, pukul 16.20. Warta kematian sastrawan yang dikenal dengan nama pena Leon Agusta itu, dikabarkan melalui pesan singkat oleh Hermawan An kepada saya pada pukul 18.04, meneruskan berita dari putri almarhum, Julia F Agusta yang juga Ketua Leon Agusta Intitute. Jenazah disemayamkan di rumah duka, Bunguih, Taluakkabuang, Padang, sebelum dikebumikan, Jumat. Ketua DPH LAM Riau, YBH Dt. Al azhar pun mengabarinya, karena bagaimanapun kami pernah mengenal mendiang.
Sejak 2011, Leon memang sering gering bahkan beberapa kali dirawat di rumah sakit.

Walaupun begitu dia tak risau dan galau, dia sanggup mengurung murungnya. Semangat bersastranya tak turut surut. Meski usia tua dia tak merasa renta. April 2012 dia hadir pada diskusi “Hubungan Puisi – Jurnalistik” (sempena bedah buku kumpulan puisinya Gendang Pengembara yang baru saja terbit), di Universitas Multi Media (UMN) sebagai pembicara bersama Masri Sareb Putra dosen UMN yang juga penulis yang dimoderatori Ninik M. Kuntarto dosen universitas itu. (Leon memang pernah menjadi wartawan, di antaranya di SKH Haluan, Padang. Tentulah dia paham nian kait kelindan puisi dengan jurnalistik itu). Tahun yang sama, baru saja beberapa hari setelah dirawat di RS Cikini, Jakarta Pusat, malah membacakan puisi-puisinya pada pementasan Teater Puisi “Kapal Penyeberangan Hukla” di Taman Ismail Marzuki, kreasi kolaborasi Afrizal Malna, Jefri Andi Usman, dan Iwang Noorsaid dari kumpulan puisi Leon Agusta Hukla(1979).  Menyampaikan pidato budaya “Kebudayaan Politik Demokrasi Tanpa Budaya Demokrasi” pada acara: ‘Puisi Esai Untuk Indonesia: Pidato Kebudayaan 2013 dan Peluncuran Delapan Buku Puisi Esai yang ditaja Jurnal Sajakyang Pemimpin Redaksinya Jamal D Rahman, 23 Februari 2013. Membacakan puisi bersama bebera-pa penyair lainnya di Taman Budaya Padang pada tutup akhir tahun 2014.

Riau, bukanlah rantau asing bagi Leon Agusta.  Dia peranah menjadi guru di SGB Bengkalis, 1959.  Beberapa masa  di Pekanbaru, yang mungkin menjadi kenangan batin baginya karena di kota ini dia pernah dipenjara 7 bulan entah apa pasal. Di ibukota Provinsi Riau inilah saya mengenal penyair gagah bertubuh jangkung ini, pada penghujung 70-an, karena dia sering bertandang ke rumah Anjang Deghus Idrus Tintin ketika saya bergabung di Teater Bahana. Keluarga handainya pun hingga sekarang masih ada yang mukim di kota bertuah yang konon nakberubah menjadi kota metropolitan yang madani ini.
 
Monumen Kiprah Kesasteraan Leon


Aktivitas bersastra Leon Agusta telah sejak usia muda. Ini terbukti dari buku kumpulan puisinya yang pertama, Monumen Safari,terbit saat berumur 28, pada 1966. Dia bukanlah penyair ping-giran, karena pada 1968 saja dua kali puisi-puisi dimuat di mahajalah sastra Horison – yang dianggap sebagai tolok ukur penilaian kualitas mutualitas (ber)karya sastra (Edisi ke-3, Maret; dan edisi ke-12, Desember). Dia tak hanya menulis puisi tapi juga berteater dengan menjadi Pemimpin Bengkel Teater Padang, 1972. Kemudian terbit pula kumpulan puisi Catatan Putih, 1975.

Sebagai sastrawan yang berprestasi diindaksikan terpilihnya Leon mengikuti International Writ-ing Program diIowa University, Amerika Serikat (1976-1977) – saat dia sebagai anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), yangmenghasilkan kumpulan puisinyaDi Sudut-sudut New York Itu (1977) yangsebagian di antaranya diterjemahkan ke bahasa Inggris. Makin produktif, Leon juga mengarang novel, Di Bawah Bayangan Sang Kekasih (1978). Lantas, Hukla kumpulan puisi (1979), Berkemah dengan Putri Bangau kumpulan puisi anak-anak (1981), dan Hedona dan Masochi kumpulan cerpen (1984). Meski masih tunak bersastra, kemudian tak lagi ada karyanya yang terbit sebagai buku. Barulah pada 2012 terbit kumpulan puisinya Gendang Pengembara. Yang merupakan 200-an puisi-puisi pilihan dari sejumlah buku puisinya yang pernah terbit sebelumnya ditambah denyar beberapa puisi-puisi anyar, berkisar karya antara 1962-2011.

Leon seolah sengaja menerbitkan Gendang Pengembaraitu sebagai “monumen safari di bawah bayangan Sang Kekasih” mengharungi lautan kehidupan dengan “kapal penyeberangan hukla”,  mendendangkan gendang pengembaraan menemukan makna rerahasia semesta menjadi satu “ca-tatan putih” perjalanan sholih memilah dan memilih untuk mengutip ‘Alif Allah’ dari kearifan slektif , yang lantas ditapis menjadi baris-bari puisi yang kholis ikhlas menyikapi hidup pada watas nafas. Saya nyatakan ini dengan asumsi, Leon menyadari pada usia 74 dengan penyakit asma, gula, dan infeksi paru-paru yang mendera tubuhnya sisa usianya tak lama lagi. Dia ingin kepingin meninggalkan kepingan kebijakan itu kepada anak-anaknya, keluarganya, dan semua-muanya – siapa pun dia. Merangkumnya menjadi monumen yang dikagumi tanpa ragum jarum sentimen. 

Mantap dia berucap hidup tak layak tersekap: … Sudah diamanatkan bagiku: mengembara/ Bagi hasratku yang berjalan jauh// Hingga sudah biasa aku berpisah/ Nafas damai dan dan tidur yang nikmat/ Khianat diterima tanpa kesumat…Dia ingin diterima tanpa cacat dan umpat kesu-mat oleh Yang Maha Zat. Pada banyak sajaknya memang terasa resa dan nuansa pengembaraan, terlebih lagi pada puisi berjudul “Mengembara”. Tapi pengembaraan itu ditakarnya dengan kesadaran: Bila sungai-sungai bermuara ke lautan/ Laut manakah muara bagi sungai dalam hatiku/ Bila burung-burung terbang bebas di cakrawala/ Manakah cakrawala tempat mengem-bangkan sayap/Bagi rindu yang menggelepar dalam dadaku/ Bila taman-taman pun juga punya pengasuh/ Siapakah pengasuh jiwaku yang buncah ini ?… (Ya, Kita Memerlukan Kekasih, 1967).

Pada puisinya yang agak lebih baru, saat usia 61, di semakin menakar kesadaran bahwa kehidupan berawal dari kata, yang eksplisit menyatakan penegasan Allaah al-Kholiq: Kun fa ya kun: berapa usia kata-kata/pepatah dan petitih?// Tua betapa pun tak renta/ tak mengenal ajal// …Kata bertahta tanpa aksara/ Bermahkota tanpa raja// … Siapa pun lahir, Tuhan menempatkannya, dengan cahaya/ Di bumi. Kaum dan negeri menimangnya dalam tatanan/
Kata memberi mereka mahkota, menandai jalan ke sorga(1999).

Tulisan ini tentu saja hanya renjisan secebis dari monumen safari gendang pengembara Leon Agusta sebagai catatan putih. Tak cukup meraup lingkup karya-karyanya, namun memadai menyimpai nilai kehidupan almarhum untuk kita mafhumi. Ini pulalah katanya: …Aku ingin mengatakan kau mungkin benar/ Aku mengira kau masih akan menoleh sejenak/Ketika kau melangkah meningggalkan pagar terbuka/ Pagar yang sudah melepasmu dari suatu masa/
Menuju sebuah zaman lain yang belum bernama.

 Khotimah: Warkah Takziyah

 Lama menetap di Jakarta,  Leon Agusta, sepuluh hari sebelum wafat, minta diantar ke Sumbar. Ranah minang tempat darah ibunya tumpah melahirkannya, menjadi bumi peristiratan terakhir oleh qodho dan qodar Allah al-Ghofar. Bergegas dibawa ke rumah sakit pada 04.14 WIB karena nafas Leon Agusta mendadak sontak sesak dan pingsan ke RS Yos Sudarso, dia dirujuk ke RSUP dr. M. Djamil sebab satu paruparunya tak sanggup menahan asmanya yang kambuh, dia pun berpulang dengan tenang ke Rohmatullaah, 16.20. Arwahnya semoga husn al-khotimah, karyanya hendaknya menjadi ‘amal sholih yang bernilai ibadah. Anak-anak yang ditinggalkan meneruskan dengan tulus jejak bijak ayah mereka di lebuh raya sastra. Leon Agusta Institute oleh Yulia F Agusta dengan Lomba Cipta Puisi dan Paga Award menjadi gerakan perubahan di jalan budaya. Paul Agusta pula berkiprah di sinema, dan mengaktifkan laman maya (Facebook) Leon Agusta, Indonesiaan Poet agar “potret” ayah mereka tetap terjepret memancar.

Penyakit bukanlah pembunuh. Bertahun gering barulah terbaring selama-lamanya meninggalkan dunia, karena ajal dah sampai, janji dan tiba. Sebagaimana dinyatakan dengan bijaksana pada baris puisinya: Semua telah dimaafkan, sebab kita pernah bahagia. Berbahagia jualah dia di Barzah hingga “berlayar’ ke Mahsyar, sampai ke tujuan: al-Jannah al-Firdaus:

Allahumagh firlahu warhamhu wa’a fihi wa’fu ‘anhu, wa ja’alhu min ahl al-mushibah min al-shobirin wa al-mukhlishin.Aamiin Yaa Raobb al-‘Alamiin.***

H Syafruddin Saleh Sai Gergaji, dai, sastrawan-budayawan, Koordinator Bidang Agama dan Nilai Adat (AGNA) LAM Riau
 

KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Minggu, 23 September 2018 - 19:53 wib

Ratusan Mahasiswa Belajar Persatuan dan Kesatuan di Riau Kompleks

Minggu, 23 September 2018 - 19:52 wib

Pembakar Lahan TNTN Ditangkap

Minggu, 23 September 2018 - 19:48 wib

Kembalinya sang Primadona

Minggu, 23 September 2018 - 19:47 wib

Disdik Tempati Gedung Eks SMK Teknologi

Minggu, 23 September 2018 - 19:46 wib

Ditabrak Emak-Emak

Minggu, 23 September 2018 - 19:44 wib

Refresh di Waduk Hijau

Minggu, 23 September 2018 - 19:40 wib

Anggur Murah Laris Manis Terjual

Minggu, 23 September 2018 - 17:50 wib

Minta Jembatani GP Ansor-UAS

Follow Us