OLEH ANWAR NOERIS

Dulu dan Sekarang

19 Desember 2015 - 22.32 WIB > Dibaca 1134 kali | Komentar
 
Perbincangan sastra Indonesia dalam menyulut semangat kebangsaan sebenarnya telah berdengung lama. Pasca kemerdekaan, karya sastra telah ditulis dan dipelajari oleh masyarakat Indonesia. Toh, meskipun pada waktu itu masih tergolong minor karya-karya sastra di Indonesia. Tapi lubang kecil itu tak bisa menutup kemungkinan masyarakat Indonesia untuk terus bangun dan mempelajari karya sastra.

Para founding fathers kita merupakan pembaca karya sastra yang baik, dari buku-buku sastra barat dan eropa mereka melngkapi kekurangan pengetahuan yang terbatas dari karya sastra yang berada di Indonesia, dari buku-buku itu pulalah mereka menemukan semangat nasionalisme dan perjuangan melawan penjajahan, menghapus bentuk-bentuk penindasan kaunm pribumi. Bahkan ada sebagian dari mereka yang menulis dan mengekspresikan sikap nasionalisme dalam bentuk karya sastra, semisal Muhammad Yamin.

Dalam konteks sejarah tentu kita tidak mau melupakan bangsa yang besar dibangun oleh kesusastraan yang besar dan orientatif. Yunani, sebuah kota kecil yang menjadi kiblat pengetahuan seluruh bangsa dunia, di mana ilmu filsafat dan ilmu-ilmu lainnya berkembang dan membawa perubahan bagi dunia pengetahuan dan kemajuan di Yunani tersebut. Kemajuan itu tentu tidak lepas dari sosok penyair Homerus. Dalam rumusan Batrend Rassel, Homerus adalah sekelompok penyair yang menulis syair-syair kebijaksanaan, ketuhanan, pengetahuan, penyucian batin, yang pada waktu itu telah banyak mengilhami masyarakat yunani untuk terlepas dari masa kelam—kebobrokan.

Kemuadian muncullah Thales, bapak filsafat yang diilhami oleh syair-syair Homerus, Thales sampai berani mengasumsikan subtansi terbesar alam adalah air. Disusul oleh Anaximendros dan Anaximenes dan filsuf-filsuf lainnya, telah mampu memberi jalan terang bagi masyarakat Yunani. Dan samapai kini kota Yunani masih diperbincangkan sebagai kiblat ilmu pengetahuan seluruh dunia.

Jika kita berani melihat kemajuan Yunani, tentunya kita juga mampu menganalisis bangsa Indonesia yang juga tidak kering dari gemerlap kesusastraannya. Pada zaman klonial karya sastra telah matang untuk mengusut persatuan masyarakat Indonesia yang majmuk; beragam etnis dan suku juga agama. Uasaha menyatukan dalam semangat kebangsaan lewat karaya sastra telah ditulis oleh beberapa sastrawan seperti S Hardjosoemarto dan Aman DT Madjoindo dalam roman Rusmala Dewi: pertemuan Jawa dan Andalas (1933).

Student Hidjo (1919) sebuah karya dari Marco Kartodikromo, yang menggambarkan—potret seorang pribumi yang bangkit untuk melawan klonialisme, membentuk keberanian masyarakat Indonesia dengan doktrin kebangsaan yang pada waktu itu karya sastra ini dianggap melawan keras ketentuan-ketentuan klonial. Muhammad Yamin dengan buku puisi Tanah Air (1922) juga memberi stimulasi kesadaran bagi masyarakat Indonesia untuk bersatu demi sebuah kemerdekaan. Nur Sutan Iskandar sebelum proklamasi kemerdekaan juga menulis roman dalam upaya masyrakat Indonesia membidik persatuan dan kesatuan untuk merebut kemerdekaan Indonesia secara penuh dari tangan klonialisme yang di kisahkan dalam Cinta Tanah Air (1944).

Narasi besar kesusastraan Indonesia telah memberi andil semangat nasionalisme, bahwa negara Indonesia yang binneka dan penuh keberagaman pemahaman terus dibina oleh karya sastra, sampai hari ini. Toh, meskipun beberapa persoalan yang tak kunjung reda menyelimuti bumi pertiwi, dari rezim pemerintahan yang otoriter sampai system pemerintahan yang bal-abal, namun karya sastra tetap utuh menjaga kesadaran dan jiwa nasionalisme.

Selama orde baru buku-buku sastra memang agak sepi dan sebagian sastrawan di asingkan. Kebebasan berekspresi di jaga ketat oleh pemerintah—teks-teks sastra yang keras dan bersifat kritik dilarang terbit, bahkan ada yang dibakar. Carut-marut bangsa dan negara bukan malah menyiutkan nyali sastrawan kita untuk menulis karya sastra, tapi dari realitas yang mendesak demikian karya sastra semakin menemukan taringnya memberi pandangan luas bagi masyarakat Indonesia.

Pramoediya Ananta Toer, W. S Rendra, Mochtar Lubis, sampai Wiji Thukul, adalah sebagian kecil dari banyaknya penulis sastra kita yang berjuang memperjuangkan masyarakat Indonesia sejahtera dan maju sebagai bangsa yang makmur. Kesusastraan menjadi strategi liner mengatasi berbagai kecamuk dan amuk sistem di negara ini, berada di bagian terdepan memimpin demokrasi dan hak masyarakat.

Dewasa ini sebenarnya gagasan kesusastraan mengenai kebangsaan masih terus ditulis dan dibaca, masih terus diperjuangkan meskipun kabar itu menunjukkan angka yang cukup rendah. Tapi setidaknya para sastrawan mutakhir kita tidak hendak melupakan pesan Bung Karno “jangan lupakan sejarah”, bahwa negara Indonesia dalam proses kemerdekaan tidak terlepas dari gagasan kebangsaan kesusastraan menyatukan daya krtitis dan keberanian untuk keluar dari jerat klonialisme.

Dulu dan sekarang bedanya hanya kehati-hatian. Kaum sastrawan dulu cukup hati-hati menyikapi realitas, bagaimana realitas yang bobrok tidak hanya disaksikan sebgai sesuatu yang given, tapi benar-benar ditelisik-amati lalu ditanggapi dengan solutif dan argumentatif. Sedang sekarang disitulah cacatnya, kaum sastrawan mutakhir ini hanya focus pada persoalan romantisme dirinya, sementara kasus kebangsaan dibiarkan mengalir membentuk penyelewengan-penyelewengan yang entah.

Kebiasaan apatis terhadap persoalan kebangsaan kesusastraan mutkhir harus kita benahi dengan kesadaran bersama. Kehati-hatian kaum sastrawan dalam menjaga kemakmuran bangsa dan negara patut diasah kembali untuk mendewasakan kesusastraan yang mulai lupa nenek moyangnya.

Perjuangan kesusastraan kita bukan di dalam rumah ditemani secangkir kopi, dan kepulan asap rokok atau menyaksikan istri yang lagi asik melipat baju, tapi di luar, di masyarakat. Mengingat kalau bukan kita siapa lagi? Kalau tidak sekarang kapan lagi?***

Anwar Noeris, mahasiswa Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
aktif berkesenian di Komunitas Kutub Yogyakarta. Tinggal di Yogyakarta. Jln, Parangtritis KM 7,5. No 44 Cabeyan, Sewon Bantul, Yogyakarta.




KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Follow Us