OLEH WAMDI JIHADI

Mata Air Literasi

19 Desember 2015 - 22.46 WIB > Dibaca 1657 kali | Komentar
 
Sekarang ini tengah digalakkan Gerakan Literasi Sekolah. Gerakan ini dicanangkan oleh  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Gerakan yang diharapkan dapat mendidik budi pekerti siswa ini tidak hanya berupa kegiatan membaca, tetapi juga menulis.

Pemilihan bahan bacaan (yang kemudian diharapkan dapat diresepsi lebih lanjut oleh siswa) merupakan salah satu persoalan dalam Gerakan Literasi Sekolah. Akan tetapi,  sesungguhnya, di sekitar kita banyak bahan yang dapat dipergunakan di dalam kegiatan tersebut, baik secara langsung atau tidak langsung. Salah satu sumber yang tak kunjung kering sebagai mata air literasi adalah Alquran. Hal itu diperlihatkan oleh beberapa sastrawan dan ulama berikut yang menjadikan Alquran sebagai inspirasi dalam berkarya.

Pada 2004,  para penggiat dan pecinta sastra dikejutkan dengan kemunculan sebuah novel karya anak negeri ini yang berjudul Ayat-ayat Cinta (sekarang bahkan sudah muncul Ayat-Ayat Cinta 2).  Sebagian pengamat menyatakan bahwa tokoh novel ini tidak realistis, tidak menginjak bumi, dan cenderung terlihat seperti manusia separuh malaikat. Akan tetapi, dalam waktu tiga tahun, novel yang lahir dari tangan Habiburrahman El-Shirazy ini telah dicetak sebanyak 160 ribu eksemplar; sebuah capaian sastra Islam yang butuh waktu lama untuk menetaskannya kembali.

Di beberapa forum Kang Abik, panggilan akrab Habiburrahman El-Shirazy, mencoba memaparkan bahwa bukanlah suatu yang  mustahil didapati orang-orang yang memiliki tipikal seperti Fahri atau Aisha yang  suka membantu orang lain, bertoleransi, tidak berjabat tangan dengan yang bukan mahram, dan merelakan suami untuk menikah kembali dengan perempuan lain.

Namun di dalam sebuah masyarakat yang dalam kesehariaannya nilai-nilai Islam telah tercerabut, seolah-olah Islam menempati satu lembah dan mereka berada di lembah yang lain sehingga sikap atau gaya hidup tokoh-tokoh yang berada dalam novel tersebut adalah kemustahilan.  Masyarakat  terbiasa membaca buku-buku atau novel yang pemerannya seringkali melanggar aturan-aturan Allah sehingga merasa “aneh” ketika disuguhi penokohan yang Islami.

Ide penulisan novel Ayat-Ayat Cinta yang fenomenal tersebut berawal dari pembacaan, pemahaman, dan penafsiran Kang Abik terhadap Surat Az-Zukruf, ayat 67 dan  Surat Yusuf yang di dalamnya terdapat kisah cinta yang universal dan sangat indah. Bagi Kang Abik,  Alquran merupakan sumber inspirasi terbesar sehingga menelurkan berbagai karya yang banyak diminati.

Selain Habiburrahman El-Shirazy, Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal dengan panggilan Buya HAMKA   juga mendasari karya-karya fiksi dan nonfiksinya pada bulir-bulir hikmah Alquran. Selain dikenal sebagai seorang ulama –ketua Majelis Ulama Indonesia pertama–  HAMKA juga merupakan seorang penulis yang produktif. Sepanjang 73 tahun usianya telah banyak karya yang telah beliau hasilkan: Tasawuf Modern, Falsafah Hidup, Mandi Cahaya di Tanah Suci, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka’bah, dan sebagainya.

Karya beliau yang sangat fenomenal adalah Tafsir Al-Azhar, sebuah tafsir Alquran 30 juz, yang beliau tulis pada 1964 saat mendekam dalam penjara di masa pemerintahan Orde Lama. Seperti diungkapkan Irfan  dalam buku biografi Buya HAMKA yang berjudul Ayah, HAMKA justru bersyukur karena dipenjara.

"Dendam itu termasuk dosa. Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa semua itu merupakan anugerah yang tiada terhingga dari Allah kepada saya sehingga saya dapat menyelesaikan Kitab Tafsir Alquran 30 Juz. Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya untuk mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan itu.”

HAMKA memahami betul, usia manusia sangat terbatas. Akan tetapi, cita-cita dan harapannya  yang tidak  “bertepi” membuatnya  harus menyambungnya melalui tulisan dan karya yang masa bertahannya lebih panjang dari gedung-gedung dan monumen.

Banyak ulama Islam yang merasa pentingnya menulis. Selama empat puluh tahun, Muhammad bin Jarir ath-Thabari selalu menulis sebanyak empat puluh lembar setiap harinya. Setelah empat puluh tahun, dia telah menulis hampir lima ratus delapan puluh empat ribu  lembar. Lihat pula Imam al-Baihaqi yang telah menulis seribu juz dengan mengandalkan tangan semata: menyusun huruf demi huruf. Dia harus berpuasa 30 tahun untuk menyelesaikannya.

Ibnu Aqil yang hidup di abad ke-6 Hijriyah menulis dua ribu jilid kitab dengan tangannya sendiri, sedangkan Al-Hafidz Ibnu Asakir menulis kitab Tarikh Damsyiq sebanyak delapan puluh jilid. Lebih dari empat ratus karangan dalam berbagai disiplin ilmu telah ditulis Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Adapun gelar Imam As-Suyuthi adalah “Anak Kitab” karena ibunya melahirkannya di perpustakaan. Setelah besar ia dijuluki “Bapak Kitab” karena memang lebih kurang enam ratus karya yang dihasilkannya.

Pada Perang Badar yang terjadi pada tahun ke-2 Hijriyah, kemenangan berpihak pada kaum muslimin dan mereka berhasil menawan 70 orang musyrik. Berbagai usulan dilontarkan untuk menangani nasib para tawanan tersebut. Usulan yang diterima berasal dari Abu Bakar yang meminta tebusan empat ribu dirham bagi yang mampu, sedangkan bagi yang tidak, harus mengajar membaca dan menulis anak-anak Madinah sebanyak sepuluh orang pertawanan. Nabi Muhammad SAW menerima usulan Abu Bakar tersebut karena sadar betapa besarnya pengaruh kemampuan baca-tulis bagi keberlangsungan perjuangannya ke depan.

Di dalam Alquran, pentingnya baca-tulis ini tergambar dari ayat pertama yang turun, yaitu “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan” (Al Alaq: 1). Di dalam ayat ke-4 pada surat yang sama disebutkan “yang mengajarkan (manusia) dengan perantaraan qalam.”  Pada surat Al Qalam, kembali ditekankan akan hal ini “Nun. Demi qalam dan apa yang mereka tulis.”

Kita telah tiba di hulu, di tempat mata air dari sungai peradaban terpancar. Dari sinilah semua kebijaksanaan bermula, kearifan berawal dengan penuh ketinggian bahasa dan kejernihan hikmah. Kalau mau minum, minumlah dari mata air ini dan hiruplah tanpa jeda. Siapa pun yang meneguknya tidak akan pernah kering inspirasi.***

KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 13 November 2018 - 20:47 wib

Kasus Century, KPK Minta Keterangan Ketua OJK

Selasa, 13 November 2018 - 19:37 wib

Stan Lee Tutup Usia, Para Superhero Berduka

Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Selasa, 13 November 2018 - 17:00 wib

Jalan Rusak Koto Gasib Berbahaya

Follow Us