OLEH RANTO NAPITUPULU

Perempuan Bernama Butet

19 Desember 2015 - 23.42 WIB > Dibaca 2010 kali | Komentar
 
HUJAN turun amat lebat, sedari tadi, sejak hari menjelang sore. Akibatnya, perempuan itu tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali menyaksikan ribuan rintik hujan yang terhempas di atas tanah. Kadang kala percikan-percikannya tampak bagai titik-titik bulat dari berbagai warna; membentuk ribuan garis melengkung yang kemudian hilang begitu saja. Pada detik yang lain, air yang tercurah dari langit tampak seperti jutaan jarum, menusuk bumi. Ah, hujan…! Tidak salah juga jika banyak orang yang mangatakan, bahwa ia adalah misteri.

Tetapi bagi orang-orang sekecamatan di negeri kecil itu, hujan bukanlah suatu misteri. Hujan yang selalu turun hampir saban hari pada minggu terakhir ini, adalah kepastian; jawaban atas doa-doa panjang yang mereka lengkingkan ke langit. Jawaban atas pertanyaan apakah langit masih punya rahim untuk melahirkan ruh yang bernama hujan.

Bagi perempuan bernama Butet, —anak si ompung yang tinggal di ujung kampung itu, memang, hujan bukanlah misteri. Ia tidak terlalu pandai untuk menguraikan defenisi dari misteri. Tetapi baginya hujan sore itu, juga hujan pada sore-sore sebelumnya, adalah ketidakadilan. Ada banyak langkah yang harus ia tunda setiap kali hujan itu turun.

Seperti sore itu, Butet harus menunda langkahnya bersegera beranjak dari beranda rumah Tuan Baren —manteri satu-satunya di kecamatan itu. Padahal, ayah sebentar lagi sudah harus makan obat. Dan obat itu ada di tangan Butet. Padahal juga, ayah sudah menunggunya segera tiba di rumah, karena ayah hendak segera melanjutkan cerita tentang pertempuran pada masa pemerintahan revolusioner masa dulu. Ayah sudah terlanjur berjanji dalam hati, sebelum ia benar-benar pergi, ia harus menceritakan semua kisah pertempuran itu kepada Butet. Meski ia tahu, sebenarnya Butet tidak pernah berminat pada cerita itu. Bagi perempuan itu, kisah-kisah pertempuran di masa percobaan revolusi dulu hanya akan melukai hati saja. Hanya akan melahirkan rasa sakit saja.

Selain menunda bersegera menjaga ayah, Butet juga harus menunda untuk singgah sebentar di rumahnya —yang tidak begitu jauh dari rumah Tuan Baren, sekadar memastikan bahwa anak-anak dan suaminya sudah berada di rumah. Ya, Butet harus menunda itu. Sebab kalau hujan sudah reda, ia akan segera bergegas menuju rumah ayah. Memberi ayah minum obat, menutupi semua jendela, menyalakan lampu sumbu, lalu duduk di samping ayah; mendengarkan cerita ayah, hingga malam benar-benar rebah.

***

JIKA akhir-akhir ini ada banyak hal yang terasa sebagai ketidakadilan bagi perempuan itu, termasuk hujan sore itu, itu adalah luapan rasa pada sebidang muara di hatinya. Manakala kait kelindan dari banyak hal itu adalah tentang hari-hari tua sang ayah, maka, akan ada banyak hal yang menjadi tidak adil di mata perempuan itu.

Betapa tidak! Ayah punya lima orang anak laki-laki. Semuanya —setidaknya menurut mereka sendiri, adalah orang hebat-hebat. Semuanya orang-orang sukses! Mestinya ayah bisa menikmati hari-hari tuanya sedikit berbeda dari lelaki seangkatannya —yang anak-anaknya hanya bertanam padi di kampung. Mastinya, kalau ayah sakit seperti sekarang ini, setidaknya dirawat di rumah sakit kabupaten. Dijenguk silih berganti oleh anak-anaknya, menantunya, dan cucu-cucunya.

Tetapi tidak demikian yang terjadi. Kelima anak laki-laki ayah entah berada di belantara kota mana. Hari-hari tua ayah hanya mereka serahkan kepada seorang Butet. Hari-hari tua sang ayah yang membesarkan mereka, yang membuat mereka menjadi orang hebat-hebat, hanya mereka serahkan kepada seorang perempuan, yang mereka tahu, juga harus mengurusi anak-anak dan suaminya. Itulah menurut Butet ketidakadilan itu!

Sudah berulang kali Butet meminta, agar mereka menyempatkan diri pulang barang sehari saja untuk melihat sang ayah. Mungkin ayah ingin juga menceritakan kisah-kisah pertempuran itu kepada mereka, atau sekadar bernapak tilas lewat kata-kata; tengtang perjalanan hidupnya dengan orang-orang yang ia cintai.

“Ah! Namanya sajalah orang tua. Sakit-sakitan itu, biasalah.” begitu kata si anak sulung sewaktu ia dihubungi. Kata-katanya enteng saja, seperti asal lepas, seperti tidak ada beban.
“Mengertilah, Ito. Peluang untuk mendapatkan posisi dalam berkarir ini tidak datang sering-sering. Hanya sekali-kali, je! Aku sedang berjuang untuk itu, Ito.” kata si bungsu dari Malaysia. Bah! Lalu, dengan begitu itu, waktu untuk menjenguk ayah yang sakit-sakitan harus dikorbankan?

Yang paling tidak adil itu adalah kata-kata anak ayah nomor dua. Ia malahan menuntut tanggungjawab Butet sebagai anak yang tinggal di kampung; yang dekat dengan ayah, yang sudah mendapatkan ini dan itu dari ayah.

“Masa untuk mengurus orangtua sendiri kamu mengeluh,” katanya lewat telepon selulernya. Entah di negeri mana dia waktu itu. “Tunjukkanlah bahwa kamu adalah anak yang paling disayangi oleh Among, anak yang selalu disanjung-sanjung oleh Among, karena kamu punya perhatian yang besar kepadanya.” katanya.

Butet hanya bisa menelan ludah waktu itu. Andai kata ia mengatakan bahwa kata-kata itu teramat menyakitkan di hatinya, itu tidak ada gunanya; malahan akan kian melukai hatinya saja. Mungkin akan ada lagi kata-kata yang akan lebih melukai.

Posisi Butet dalam hubungan primordial adalah posisi yang harus mengalah; yang secara tersembunyi sebenarnya acap dimarjinalkan. Tampak seperti diberi tempat, tetapi sebenarnya tidak. Ketika sangat dibutuhkan, tempat itu seolah ada. Tetapi ketika persoalan menyangkut hak untuk menguasai, maka tempat itu hanyalah basa-basi semata. Itulah sebabanya Butet hanya diam ketika mendengar kata-kata anak laki-laki ayah. Ibarat dalam satu kerajaan, Butet hanyalah seorang petani; rakyat jelata, dan anak laki-laki ayah adalah para raja.

Hembusan angin dan tempias hujan tiba-tiba terasa menusuk. Dingin sekali! Butet tersentak. Ternyata, sedari tadi ia hanya berputar-putar dalam satu lingkaran kecil di antara percikan-percikan air hujan; di dalam rasa tidak adil atas tuntutan tanggungjawab yang tidak semestinya, dengan dalil: punya kewajiban yang sama.

Tadi, ketika matanya bermain-main dengan titik-titik air hujan, sempat juga berkelebat di ingatannya pada apa yang pernah dikatakan oleh anak ayah nomor tiga, sebagaimana juga dikatakan oleh anak ayah nomor empat.

“Sebagai anak, kita sama-sama punya kewajiban. Juga sama-sama punya hak. Meski sebagai anak perempuan, tanggungjawabmu juga sama dengan kami dalam hal merawat ayah.” katanya waktu itu, ketika Butet coba menghubunginya.

Bagi Butet, itulah kata-kata yang paling absurd, ambigu, sekaligus abu-abu, yang pernah ia dengar dari seorang praktisi hukum. Tidak jelas, apakah itu sebagai bahasa hukum atau sebagai bahasa adat. Sangat absurd! Bahasa-bahasa semacam ini memang acap dihunjamkan dan menjadi bias bagi perempuan dalam tatanan adat penganut paternalisme, seperti yang dialami oleh Butet.

***

DALAM dingin yang tiba-tiba terasa menusuk itu, Butet melihat ayah telah terbujur; berselimut ulos bercorak merah-hitam-putih. Di atas kepalanya ada bakul berisikan tumpukan bulir padi. Ada banyak ranting pohon dan beberapa tanaman perlambang ditancapkan pada tumpukan padi itu. Ada ranting pohon beringin, ada beberapa tajuk pucuk pimping, hanjuang merah, hanjuang hijau, bunga bakung dan beberapa ranting dari jenis pohon tanaman keras.

Butet tahu, dalam adat mereka, semua itu adalah simbol bagi ayah, bahwa ayah pergi sudah menyandang pangkat saur matua. Ayah sudah punya cucu dari semua anak laki-laki, juga dari anak perempuan, dan tak ada lagi anaknya yang tidak menikah.

Dalam dingin yang tiba-tiba terasa menusuk itu, terdengarlah suara gondang ditabuh; membubungkan jiwa-jiwa yang ingin dibubungkan, yang ingin berpesta dengan sang penentu kematian. Kaki-kaki dihentak ke bumi mengikuti rentak gondang, seperti menolak jejak para lelehur saat menaikkan tonggo-tonggo.

Butet berada di antara hingar-bingar suara; merasakan bias berpendar, memercik hingga ke ulu hatinya. Ia memang hanya bagian kecil dari barisan yang memanjang; melengkapi di urutan paling belakang, tidak sama dengan anak-anak ayah yang laki-laki, para menantu perempuan, atau bahkan dengan cucu-cucu ayah dari anak laki-laki.

Lima hari lima malam jenazah ayah disemayamkan. Butet melihat, dari ratusan orang yang datang melayat itu, tidak seorang pun yang tampak berduka. Jika pun ada, itu hanya dalam kata-kata saja. Begitu juga dengan kelima anak laki-laki ayah, tidak seorang pun yang tampak berduka. Malahan mereka tertawa saja adanya manakala memberi salam kepada para pelayat. Sesekali memang hanya melebarkan senyum saja.

Menurut amanah adat, entah kapan itu diamanahkan, kepergian seorang orangtua seperti ayah tidak perlu lagi ditangisi, karena ayah sudah saur matua. Beliau sudah punya cucu dari anak laki-laki dan dari anak perempuan, dan tidak ada lagi anaknya yang belum menikah. Pun kelima anak-anaknya sudah sukses semua di perantauan. Mereka sudah jadi orang. Maka tidak perlu lagi bersedih, malahan haruslah bergembira. Bah!

Pada hari terakhir disemayamkan, saat adat maralaman, tampaklah jelas semuanya. Setiap prosesi penerimaan tetamu yang masuk golongan raja ni tutur, decak kagum para pelayat selalu terdengar. Semua yang didapat oleh kelima anak laki-laki ayah di perantauan, dapat dilihat oleh orang-orang. Para raja ni tutur yang datang melayat sembari menaikkan doa-doa, diberi balasan hormat sembari menyelipkan uang lembaran merah menyala di jari-jemari mereka. Itu adalah kebanggaan. Harga diri. Juga diartikan oleh orang-orang sebagai tanda keberhasilan ayah dalam mendidik anak-anaknya. Dan kelima anak laki-laki ayah sangat senang dengan suara decak kagum yang terdengar itu.

Butet tidak berbuat apa-apa. Ia mengikuti bagian demi bagian dari prosesi pemakaman ayah. Ia tidak menggeliat, meski dengan cara yang paling halus sekali pun. Perempuan itu tahu, bahwa prosesi adat itu tidak salah. Maka ia ikut saja. Yang ia ikuti adalah prosesi adat itu, bukan keinginan kelima anak laki-laki ayah.

Setelah pulang dari pemakaman, semua keturunan ayah naik ke rumah. Dipimpin oleh anak sulung, dimulailah masyawarah. Dimulailah hitung-hitungan perihal biaya; berapa uang yang habis selama ayah disemayamkan sampai dihantar ke pemakaman. Hanya sebentar, hitung-hitungan pun selesai. Semua anak-anak ayah memberi kewajibannya untuk menutupi biaya itu, termasuk Butet.

Setelah hitung-hitungan selesai, musyawarah diteruskan ke pembagian harta peninggalan ayah. Kelima anak laki-laki ayah berbagi. Sawah yang di situ diberikan kepada si ini. Tanah yang di sana diberikan kepada si itu, dan seterusnya dan seterusnya. Hingga selesai, nama Butet tidak terdengar disebut. Dan Butet pun hanya diam, tidak protes. Katanya, itu adalah amanah adat. Entah kapan amanah itu diamanahkan.

***

Hujan sudah reda. Butet segera bergegas. Ia harus cepat-cepat pulang. Ayah sudah cukup lama sendirian di rumah. Seperti yang ia rencanakan saat hujan masih deras, kali ini ia harus menunda untuk singgah ke rumahnya. Itu tidak masalah. Hal seperti itu sudah sering terjadi. Suaminya sangat mengerti terhadap kondisi psikologis Butet sejak ayah sakit-sakitan. Ia tahu, sebenarnya Butet sangat tidak terima dengan apa yang dituntutkan oleh semua anak laki-laki ayah. Tetapi Butet harus merawat ayah. Butet sangat menyayangi ayah.

Degub jantung Butet tiba-tiba menggesa. Ia melihat beberapa orang berkerumun di beranda rumah ayah. Sepeda motor suaminya juga sudah ada di depan rumah itu. Butet menerobos kerumunan orang-orang. Ia langsung masuk ke kamar. Segera ia raih tangan ayah. Ia genggam erat tangan lelaki tua itu, lalu ia cium lembut. Sesaat kemudian, lamat-lamat, tangan itu terasa menjadi dingin, seperti dinginnya tempias hujan.***

Ranto Napitupulu, lahir di Pematang Siantar, 06 Juni 1965, bermukim di Tualang, Siak. Menulis cerpen dan esai di Riau Pos.
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 13 November 2018 - 20:47 wib

Kasus Century, KPK Minta Keterangan Ketua OJK

Selasa, 13 November 2018 - 19:37 wib

Stan Lee Tutup Usia, Para Superhero Berduka

Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Selasa, 13 November 2018 - 17:00 wib

Jalan Rusak Koto Gasib Berbahaya

Follow Us