SAJAK

Sajak-sajak Irham Kusuma

20 Desember 2015 - 00.10 WIB > Dibaca 1567 kali | Komentar
 
Kematian Laut

Bagaimana rasanya asin dan rasanya terbang di atas permukaan. Ke mana arah mercusuar atau tubuh payah memendam pasir. Siapakah tahu surga ada di mana, matahari panas dan bulan dingin sempoyongan, rindu buta masa silamku memeras? Atau kapan mata angin pulang tabah melepas punggung legam (sebab karang terumbu, sirip ikan hiu memotong bunga padi). Siapakah tahu neraka ada di dalamnya, terdapat kanjut pisang dan sebatang bambu apabila paham birunya langit. Mungkinkah ini hidup tenang setangkai mawar seperti rajungan dan caladi batu?

Oh tolong hentikan kebenaran dunia.

2014




Melihatku

Hidup dengan cinta seperti ini adalah kemboja. Maka hidup dengan kesakitan adalah kamelia. Meski aku hanyalah kekosongan. Tolong jangan beri aku kusuma. Aku muak, pada cinta begini hidup dari satu luka. Atau hidup akan kutegak dari nadiku terdapat cemara, biota laut serta muka purnama. Aku muak pada cinta begini. Pada hari, pada kasuari. Terbang aku dan jangan lagi menjelma kuning belati. Mengerti? Karena aku bertanya = aku selipkan satu jendela. Matahari, pelangi adalah peristiwa gelap yang masuk pada jati. Di sini, di dalam puisi.

2014




Belati

Hidup yang tumbuh dari sebuah perayaan. Kedalam tubuh ialah bermata kaki, barangkali batu. Dan mati dari satu keadaan ialah peristiwa yang payah, barangkali meledak dari sanubari batu menjadi perayaan-perayaan. Sebagai kaki, tubuh biru-laut yang melihat dengan cuaca menjadi hidup. Pada bongkahan melintas kedalaman halmahera dan kemarau terpanjang. Sebagai kaki yang patah. Sebagai ekor-hitam terkadang. Barangkali hidup yang tumbuh suatu kali enggan pulang di balik matahari serupa tanah tertua dan tak lagi ragu.

Yaitu aku dan kamu kerap dibunuh dan inginkannya lagi.

2014




Sumsum Jantan

Aku tidak punya hujan, dalam tubuhku hujan
tidak berkembang. Aku muntah satu guci darah.
Luka tidak pernah hilang dalam tubuhku. Lalu
aku teriak pada langit, langit menjilat kupingku
dari sebuah menara. Hujan turun adalah darah,
langit (menara tidak ikut mencintaiku.) Sebagai
laki-laki aku sering pergi, sebagai cuaca bulan
mencintai adalah cara menyenangkan. Seiring
waktu, aku melihat rembulan. Cinta tak mudah
dipahami dari pusar kuda. Aku minum, puting
kuda dan darah tidak mencuri guci darah batu.
Keras dari satu sisi luka. Ataukah cinta sekeras
batu ? Hujan dan cinta ? Aku dan hujan seperti
batu ? Kasih sejati dari sebuah menara, berteriak
sekuntum kembang tidak punya hujan dan aku.
Aku berpikir bahwa Tuhan mungkin setinggi itu.
Terbang dari dua sisi gunung dan sungai-sungai
tahu kemana aku tiada. Aku inginkan rembulan
sebab aku mungkin tiada. Menari-nari, berjalan
pada kepastian yang bukan milikku kembali.
Apakah aku akan berakhir dan terlahir? Hujan
(akan mengajariku tumbuh perlahan.) Punggung
yang bertahan dari debu di atas kaki berjalan aku.
Aku tidak punya, dalam tubuhku tidak mudah
dipahami bernama pusar kuda menjilat lagi.

2014




Ibu

Darah dagingmu lepaskan seribu
tahun, menari terpana pada lautan.

Hanya akan dipersembahkan pada
wajahnya saja. Daun dari matahari

ini, betina yang menari pada airmata.
Sedangkan perhatianmu ditinggalkan

yang menanti. Maka berjalan jadi
tanah jadi menara-jadi apa yang

kamu inginkan. Kamu jadi terbiasa
untuk tidak berkata sepi untuk yang

akan hilang dan merasa menang
pada malam.

2014




Ziarah

Segalanya telah menjadi doa
bagi setiap perjumpaan dengan

teriakan ringkik punggung
penziarah. Seolah setiap langkah

menjadi jejak nubuat. Langit
berbekas kepanikan ruh dari

apa yang kita rumuskan pada
pertanyaan. Karena jalan dan

bunyi telah ditanamkan dalam
tubuh kita.

2012




Kehilangan

Cinta, pengorbanan sekaligus dendam.
Dengan waktu yang berkedip menemui
jantung seseorang. Menyembunyikan

waktu dari balik dunia. Perjalanan yang
selalu punya caranya sendiri. Biarpun
suatu kali aku rindu itu ombak,

darah-darah. Dimana malaikat berlabuh
tanpa cinta tanpa dendam. Seseorang
tanpa dunia lebih manis dari perasaan.

-di pantai baron, 2013




Karangan Bunga

Kepada wanitaku, tanpa waktu dan hujan
kamu bawa aku berteriak seribu karangan

bunga. Kamu di musim perubahan, gugur
untuk terlahir sebab makan api dan aroma

cinta. Kali ini tidak ada aku mencari sajak
pengorbanan. Kepadamu kapulaga seperti.

Setiap kepak burung ara dengan bertubuh
lebih cepat. Dari kamu di waktu ini, sedang

menulis yang perayaan milik aku dan kamu
saja.

-di hutan djuanda, 2014


Irham Kusuma, lahir di Bandung pada tahun 1995. Mahasiswa Jurusan Kimia, Universitas Jenderal Achmad Yani, kini aktif berkarya di kota kelahirannya. Puisinya termuat dalam antologi Fragmen Perjamuan: Temu Sastrawan Fokus Sastra (2014), dan Bendera Putih Untuk Tuhan ( Puisi Pilihan Riau Pos, 2014).


KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 13:30 wib

Harga Emas Kembali Stabil

Selasa, 18 September 2018 - 13:30 wib

SMA Santa Maria Unggulkan Tim Putra

Selasa, 18 September 2018 - 13:20 wib

Subsidi Energi Membengkak

Selasa, 18 September 2018 - 13:00 wib

Bersihkan Sisa Banjir, Belajar Ditunda

Selasa, 18 September 2018 - 13:00 wib

Syamsuar, Gubernur Riau Terpilih Siap Dukung APPSI

Selasa, 18 September 2018 - 12:50 wib

Ulama di Ranah Minang Tolak Aturan Pengeras Suara Masjid

Selasa, 18 September 2018 - 12:42 wib

Kakek 11 Cicit dan 31 Cucu Nikah Isbat

Selasa, 18 September 2018 - 12:30 wib

Mahasiswa Tuntut Stabilitas Rupiah dan Pengelolaan Blok Rokan

Follow Us