SAJAK

Sajak-sajak Riki Utomi

20 Desember 2015 - 00.16 WIB > Dibaca 1242 kali | Komentar
 
Bele Kampung

malam jatuh tepat di dinding bibir.
begitu sengit, begitu duri hatinya.
lalu sepanjang dorak, hanya gamang
yang tercipta. menegakkan bulu kuduk,
keok burung malam, sketsa gentayangan.

sepanjang dorak, getar bibir mengalir.
luapan pujian pada semesta memecah.
bele kampung memuai bagai garam
di tiap jengkal tanah.

sepantun penggal tanah, dorak menjamah.
beruntun tanggal bersepah, laluan mencurah.

di ujungnya, bulan tenggelam ke laut.
bele kampung mengawang ke sudut-sudut,
ceruk-ceruk nafas, indap-indap mata.
seleksa dalam batin yang kian terbawa.

seucap sahaja, getar batinmu menggema.
dorak tak ubah cagar agar terkatup dalam bele.
selimutnya marwah, kelambunya doa yang
terbawa, terus terbawa agar hunian hamba
kian hening biasa.

(2015)




Tumu

kami berpuak. beranak-pinak memenuhi
batas gerak. sejauh jalan setapak bakau
menghela. siput dan makohe santapan
yang biasa.

cinta kami terpasung zaman. gemerlap lampu jalan.
makian harapan. lengking kapal-kapal berlabuh.
isapan-isapan lapar biskuit basi adalah tabungan
daripada tandus di tanah sendiri.

di tumu, hari menghilang. di tumu, marwah
begitu asing. tangan-tangan berubah arang.
hinggap dimana-mana. tak terkecuali kelamin kita.
doa hanya dapat singgah di pangkal telinga
lalu nista pada sebuah bungkus mi instan.
kami berpuak, hingga tak berjarak kaki
untuk menapak. seinci demi seinci tanah mengecil
dan nafas kian mahal di tanah ini.

(2015)




Bulang Cahaya
untuk rida k liamsi

bacalah huruf arab melayu
di tubuh layang-layang itu
namamu semakin semerbak
oleh siraman matahari tua
lalu tiba-tiba kau memendam
cinta dari perihnya sengketa.

bugis dan melayu tak ubah
dua sisi keping uang.
menyatu, merajut, memuai
satu pikir-hati.
cakar-cakar begitu bengis
tanpa keris menikammu,
bulang…
untuk memisahkan garis
takdir kita.

aku luka, aku gema, melaut
amukku di luas selat melaka.
melarut asaku setinggi
gunung ledang. menyurut
lisanku tanpa makna tertambat
di hatimu.

bulang cahaya sang jelita
terkurung nasib dua arah.
bugis dan melayu memisahkan
kita yang akan bersatu oleh
cakar kuasa dan amuk yang cela.
tak sampai asaku tuk merajutmu.

(2015)




Baju Kurung Ayah

aku mencari baju kurung ayah. elok cerah
warnanya. kuning keemasan oleh corak
ragam zaman. bilakah terpasang pada tubuhku?
ucapku bernafsu yang hati kadang merayu.

baju kurung ayah lambang kebisuan.
gegap gempita di tiang tampang. menengok
layar agar angin mengibar dan sauh terangkat.
debarnya taklah sampai mengakar pada tubuhku.

aku sangsi, sebab gemuruh zaman telah berubah.
baju kurung terkurung gamang. bersebati hati
yang terus kurang.

setanggi songket melekat pinggang. kian terang
oleh beludru dan giwang. sedap pula duhai
menandang. tapi aku melayu tak berpandang.
membuang zaman yang kekang. mengarah pada
arus congkak bertandang.

ini tanjak, pakailah! sepak segala resah.
ini cekak musang pinjamlah! lekatkan pada
tubuhmu, kau tampak lebih melayu, aku bergeming.
segala segak dan bujuk rayu membuatku miring.
selenting dari resam baju kurung ayah
terbanting sudah.

(2015)




Kempang di Suatu Senja

kemana harus dituju. marcusuar bisu.
kempang membawa kita begitu jauh.
ujung tanah jantan ini telah tak tampak.
barangkali berputar ke merbau atau
ketapang yang gamang.

dimanapaun mike masih dapat bergeming.
laut tentu menyimpan mimpi selain
asinnya. senandung gelombangnya
akan menciptakan puisi yang menemanimu
mengarungi pulang.

tujulah di hati yang gegap. genggam dada
dan tegak kepala. kempang di senja
bersatu pada laut adalah bisikannya pada
air, keruh pesisir, seperti juga hatimu.

(2015)




Golek Sagu

dua kayu sejajar terkapit tubuh sagu.
kau seperti mengendali formula satu.
tapi itu sagu gambaran peluh melayu.

watan berpijak dari pangan itu, katamu.
cukup menampung kenyang sepinggan
direda sedikit seruput kopi dari sisa hari.

sagu yang kau golek itu bagai mendulang
marwah. gelindingnya kau namakan gagah.
isinya kau namakan sanggah. lalu sisanya

hanya harapan segala yang lewat bahwa
dua batang kayu setia pada genggamanmu
untuk menggolek sagu.

(2015)


Riki Utomi, alumnus Prodi. Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UIR. Sejumlah karyanya pernah dimuat dalam media massa Suara Merdeka, Lampung Post, Banjarmasin Post, Serambi Indonesia, Padang Ekspres, Sumut Pos, Babel Pos, Kendari Pos, Inilah Koran, Majalah Sabili, Haluan Kepri, Batam Pos, Haluan Riau, Koran Riau, Metro Riau, Riau Pos dan beberapa bulletin. Bukunya yang telah terbit Mata Empat dan Sebuah Wajah di Roti Panggang. Tinggal di Selatpanjang.

KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 19 September 2018 - 20:21 wib

Kata Nadia Mulya Untuk KPK Terkait Kasus Century

Rabu, 19 September 2018 - 20:00 wib

Siak Undang Sineas dan Produser Film

Rabu, 19 September 2018 - 19:30 wib

Luis Milla Kembali Latih Timnas Indonesia

Rabu, 19 September 2018 - 19:00 wib

13 Oknum ASN Terjerat Kasus Tipikor

Rabu, 19 September 2018 - 18:45 wib

Sembunyi di Lumpur, Perampok Berhasil Ditangkap

Rabu, 19 September 2018 - 18:30 wib

Pelabuhan Tikus Jalur Masuk Empuk Narkoba

Rabu, 19 September 2018 - 18:00 wib

TP PKK Ikut LMSI Tingkat Riau

Rabu, 19 September 2018 - 17:45 wib

Sekda Lantik Pengurus HNSI Tembilahan Hulu

Follow Us