OLEH TAUFIK IKRAM JAMIL

Minat Baca Makin Ditantang

26 Desember 2015 - 23.56 WIB > Dibaca 1045 kali | Komentar
 
TIDAK berlebihan kalau dikatakan bahwa satu-satunya    hal yang membuat kita tersenyum ketika membicarakan minat baca adalah masih ada saja pihak yang merisaukan perihal minat baca itu sendiri. Dari pribadi sampai lembaga pemerintah, tak terlihat bosan untuk memperkatakannya seperti juga dilakukan Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) Riau awal pekan ini. Pustakawan-pustakiawati dari kabupaten/kota se-Riau dikumpulkan, kemudian setidak-tidaknya dirangsang untuk memikirkan jalan keluar dari kondisi minat baca saat ini.

Suatu keadaan yang memprihatinkan, bukan saja dipandang dari hakikat membaca itu sendiri yakni suatu tindakan komunikasi, tetapi juga sosial ekonomi. Sarana dan prasarana yang belum menggembirakan, termasuk bagaimana menjadikan perpustakaan yang ada merupakan tempat pelayanan publik. Di sisi lain, tantangan minat baca makin besar,  bukan saja karena faktor luaran (eksternal), tetapi juga faktor dalaman (internal). Berbagai saran untuk meningkatkan minat baca terkesan sebagai bayang-bayang.

Disebut sebagai kegiatan komunikasi, dapat dilihat dari pengertian minat baca itu sendiri. Bukankah minat baca merupakan aktivitas yang dilakukan dengan penuh ketekunan dan cenderung menetap? Ini dimaksudkan untuk membangun pola komunikasi dengan diri sendiri agar pembaca dapat menemukan makna tulisan dan memperoleh infomasi sebagai proses transmisi pemikiran untuk mengembangkan intelektualitas dan pembelajaran sepanjang hayat. 

Dimaklumi secara umum, bagaimana rendahnya minat baca Indonesia, hanya satu dalam 1.000 orang. Artinya, dari seribu orang Indonesia hanya ada satu orang saja yang memiliki minat baca sangat tinggi. Bandingkan dengan Amerika yang memiliki indeks membaca 0,45 dan Singapura yang memiliki indeks 0,55. Berdasarkan survei Unesco, budaya baca masyarakat Indonesia berada di urutan 38 dari 39 negara yang paling rendah di kawasan ASEAN.

Tak pelak lagi, kondisi tersebut pada gilirannya berdampak pada wajah sumber daya manusia Indonesia. Umum diketahui, saat ini Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia berada pada peringkat ke-121 dari 187 negara. Indonesia berada jauh di bawah negara-negara tetangga seperti Singapura (peringkat 18), Malaysia (peringkat 64), Thailand (peringkat 103), dan Filipina (peringkat 114). Begitu pula jika kita melihat struktur angkatan kerja Indonesia. Hampir 50 persen yakni sekitar 55 juta pekerja Indonesia hanya tamat sekolah dasar.

Bukan Kambing Hitam

Semoga tidak menjadi semacam kambing hitam jika penyebab rendahnya minat baca tersebut kembali dikemukakan. Tak sedikit yang mengatakan bahwa minat baca Indonesia yang rendah berkaitan dengan sistem pendidikan. Siswa diberi tugas dengan cara menyelesaikan lembaran kerja siswa (LKS), bukan diarahkan pada keragaman bacaan. Ini didukung pula oleh materi pelajaran yang menekankan pada pencapaian teori, bukan pada implikasi.

Kalau tidak hanya sekedar mengerjakan LKS dan mencapai implikasi pembelajaran yang diharapkan, sejauh mana pula perpustakaan dapat berfungsi. Adakah perpustakaan sekolah telah dibina? Secara kasat mata, perpustakaan yang ada pun sebagian besar masih berfungsi sebagai tempat penyimpanan buku, itu pun dengan koleksi terbatas. Tak heran kalau Kepala BPAD Riau, Yoserizal Zen sendiri selalu mengeluh bahwa perpustakaan belum menjadi pusat pelayanan intelektual. Gedung Perpustakaan Soeman Hs, secara fisik malah menjadi ikon Asean yang modern, tetapi pelayanannya masih konvensional.

Lihat pula kualitas guru yang mengajar, belum semuanya mencapai standar, apalagi membandingkannya sebagai insan intelektual. Tidakkah mereka juga sebagaimana umumnya kita semua, memikul predikat sebagai warga yang minat bacanya masih belum menggembirakan?

Di sisi lain, betapa pun hebatnya pemerintah sekarang berkoar-koar sebagai pengusung Trisakti yakni politik berkedaulatan, mandiri dalam ekonomi, dan berkepribadian sendiri, masih menempatkan minat baca sebagai unsur sampingan. Ironis sekali terlihat ketika Mendikbud Anies Baswedan dalam ucapan awalnya sebagai Mendikbud di depan Kepala Dinas Pendidikan se-Indonesia, Desember 2014, menyebutkan reformasi pendidikan Cina yang antara lain menekankan minat baca sebagai langkah strategis. Sayangnya, hal serupa tidak terlihat pada langkah strategis pendidikan Indonesia.

Terlepas dari hal itu, hampir kom pak pula orang mengatakan bahwa minat baca Indonesia yang rendah berkaitan dengan tradisi di negeri ini pula. Pertama, jelas bahwa tradisi mengandalkan lisan, bukan tulisan sebagai subjek keterbacaan. Kedua, sebagian besar keluarga Indonesia tidak membiasakan kegiatan membaca. Terlalu jauh untuk menanyakan perpustakaan keluarga, tetapi pasti jugalah kiranya bahwa sebagaimana guru di atas, bukankah keluarga di Indonesia juga merupakan bagian dari warga Indonesia yang minat bacanya rendah tadi?

Makin Banyak Penyebab

Penyebab-penyebab di atas boleh dikatakan akan mengukuhkan penyebab lainnya. Sistem pendidikan yang ada misalnya, memperkuat posisi minat baca yang rendah, sedangkan minat baca tersebut, memperburuk mutu pendidikan. Gabungan keduanya, akan melahirkan sebab baru lagi yang berkait kelindan dengan sebab-sebab lain. Celakanya, penyebab baru pun berdatangan, sejalan dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi di tengah kondisi minat baca maupun mutu sumber daya manusia tadi.

Kedahsyatan teknologi komunikasi dan informasi yang menjadikan kita hanya sebagai konsumen, antara lain disebabkan kondisi minat baca maupun mutu sumber daya manusia. Pada pertengahan tahun 1960-an, jumlah pesawat televisi di Indonesia hanya sekitar 36.000 unit, kini sekitar 60 juta unit.  Data di atas dibarengi dengan suburnya stasiun televisi.
Sejak tahun 1963, Indonesia dijejal dengan satu saluran televisi yakni TVRI (Orde Lama), baru pada tahun 1990-an (Orde Baru), stasiun televisi pemerintah itu bergandengan dengan RCTI, kemudian disusul TPI, dan SCTV, lalu melonjak drastis melebihi angka300 stasiun dengan label nasional dan lokal sejak 1998 (Era Reformasi). Demikian juga jumlah sambungan internet di Indonesia yang saat ini memiliki 60 juta lebih pengguna internet. Selain itu, pesatnya pertumbuhan komunikasi mobile, tercatat 270 juta pengguna ponsel.

Secara khusus harus dicatat bahwa televisi menempati posisi khusus dalam kanal arus informasi masyarakat Indonesia. Hal ini terlihat dari survei Nielsen Audience Measurement yang direlease 21 Mei 2014. Dilakukan tahun 2012, survei itu menunjukkan bahwa televisi masih menjadi medium utama yang dikonsumsi masyarakat Indonesia (95%), disusul internet (33%), radio (20%), surat kabar (12%), tabloid (6%), dan majalah (5%). 

Ketika dilihat lebih lanjut, ternyata terdapat perbedaan yang sangat menarik antara pola konsumsi media di kota-kota di Jawa bila dibandingkan dengan kota-kota di luar Jawa. Konsumsi media televisi lebih tinggi di luar Jawa (97%), disusul oleh radio (37%), internet (32%), koran (26%), bioskop (11%), tabloid (9%) dan majalah (5%).

Sayangnya, isi (konten) siaran televisi amat memprihatinkan. Penelitian Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Mei-Juni 2015 memperlihatkan bahwa nilai indeks kualitas program siaran secara keseluruhan adalah 3,27, padahal program siaran akan di sebut baik kalau mempunyai sekor indeks minimal 4. Siaran anak-anak termasuk berada pada posisi standar terendah dengan hanya meraih skor 2,87. Sedang kan siaran yang melampaui skor minimal adalah religi (4,23) dan wisata/budaya (4,06).

Peran Mubaligh

Patut diakui bahwa berbagai pihak telah berupaya untuk meningkatkan minat baca. Asma Nadia dan Gola Gong misalnya, membuat rumah baca di berbagai tempat terutama di kawasan masyarakat tidak mampu. Tidak sedikit pula pemikiran menganainya muncul seperti memiliki daftar buku yang direkomendasi seseorang untuk dibaca, menyediakan waktu khusus, bahkan menyi sihkan uang belanja untuk membeli buku walaupun entah kapan waktu untuk membacanya.

Barangkali patut juga dipikirkan bagaimana mengarifi tantangan-tantangan yang disebutkan di atas. Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi misalnya, sama sekali tidak bisa dihambat. Siap tidak siap, suka atau tidak suka, jalur itu akan melanda seluas alam membentang. Ini dikawinkan dengan tradisi lisan, misalnya bagaimana cerita rakyat diolah secara digital, kemudian dimunculkan lagi dalam bacaan.

Harus pula dicari bagaimana menggerakkan minat baca tidak menambah beban materi bagi murid. Keberadaannya bisa dikaitkankelindankan dengan materi pelajaran. Guru akan tampil sebagai pengarah atau perekomendasi buku yang harus dibaca untuk menjawab suatu persoalan. Tetapi hal ini harus ditunjang oleh keberadaan perpustakaan sekolah.

Disadari bahwa tradisi tulis sebagai subjek dari membaca, menjadi ajang kreativitas masyarakat di mana saja. Melayu Riau memiliki pengalaman panjang untuk ini, sehingga dengannya pulalah bahasa Melayu menjadi bahasa nasional di mana-mana, mempertautkan sekitar 300 juta penduduk yang bertebar pada sejumlah negara. Berbaga kreasi tulisan dan membaca dibuat yang memperlihatkan bahwa sebenarnya tradisi setidak-tidaknya dapat dikatakan amat mendukung pencapaian tingkat baca setinggi-tingginya.

Amat penting pula adalah bagaimana melibatkan mubaligh. Pasalnya, minat baca tersebut merupakan ayat pertama dari al-Qur’an yang diturun kan kepada Nabi Muhammaad SAW, Iqra’. Jadi pada hakikatnya, bisa dipahami bahwa membaca adalah mengikuti sunah Nabi atas perintah Allah SWT. Membaca bukan hanya pekerjaan dunia, tetapi lebih mengutamakannya sebagai ibadah, adalah sesuatu yang niscaya.

Tentu, semuanya itu tidak bisa pakai bim salabin saja. Perencanaan diperlukan, begitu pula ketika dilaksanakan diperlukan waktu dan tahapan tertentu. Kecualilah kalau kegiatan ini hanya untuk menaikkan pristise seseorang atau kelompok orang pada suatu masa tertentu. Semoga saja tidak begitulah ya....***


Taufik Ikram Jamil, sastrawan Riau yang telah menghasilkan banyak karya sastra berupa esai, sajak, cerpen, dan novel. Bermasthautin di Kota Bertuah Pekanbaru, Riau.

KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Rabu, 26 September 2018 - 11:26 wib

19 TKI Nonprosedural Dipulangkan Lewat Dumai

Rabu, 26 September 2018 - 11:09 wib

2 Bulan, Beraksi di 8 TKP

Rabu, 26 September 2018 - 10:56 wib

Melibatkan 10 Tenaga Verifikator

Rabu, 26 September 2018 - 10:30 wib

66 Orang Terjaring Razia Malam

Rabu, 26 September 2018 - 10:28 wib

Terpantau CCTv, Maling Dihajar Pegawai Pemprov

Rabu, 26 September 2018 - 10:25 wib

KTP Luar Pekanbaru Bisa Ikut

Rabu, 26 September 2018 - 10:15 wib

STIKes Hang Tuah-FAI UIR Jalin Kerja Sama

Rabu, 26 September 2018 - 10:06 wib

STIKes-STMIK Hang Tuah Tuan Rumah Festival Paduan Suara Se-Riau

Follow Us