OLEH BAMBANG KARYAWAN YS

Bujang Gadi

27 Desember 2015 - 00.10 WIB > Dibaca 1927 kali | Komentar
 

Aku lelaki. Tapi aku tak peduli dengan makna kejantanan. Tak penting bicara maskulin. Tak perlu bicara kegagahan. Bagiku menampilkan sebuah totalitas dalam berperan adalah sebuah ke­ha­rusan. Tampil sebagai bujang gadi me­nuntut kemampuan seni peranku. Berperan dalam sebuah rangkaian randai. Tradisi berseni peran yang merakyat namun tak kalah hebatnya juga bila tampil di gedung teater yang megah. Setiap tubuh ini bergerak, selalu saja menimbulkan jejak mata. Mata ini meresapi setiap gesekan piual biola, hendakan gondang dan tiupan lapri serunai. Menghirup nada-nada harmoni sebagai pembangkit rasa percaya diri untuk tampil seutuhnya.


“Apa kau menikmati menjadi bujang gadi?”


Pertanyaan yang sering kudengar dari teman atau penonton yang melihat totalitas penampilanku.


“Menikmati?” Ada dua kutub yang saling tarik  dalam partikel diriku, antara mengiyakan atau menidakkan. Akupun tak berani menjawab. Seiring waktu akupun menjadi ragu dengan pilihanku.


“Sudahlah tuh asyik aja menjadi bujang gadi, lama-lama hilang kejantanan kau tuh!” Orang-orang di sekitarku menyudutkan dan memberi stigma bahwa menjadi bujang gadi tak ada gunanya.


Namun pilihan atas kesukaan itu semakin merasuk dan turut mengalir energinya ke dalam aliran tubuhku. Apalagi ketika tepukan tangan dan tawa penonton menyambut penampilan lucuku. Persebatian kebiasaan dan kenikmatan menjalani peran membuat aliran darahku tarik ulur. Tarik ulur untuk bersikap jantan atau keperempuanan menjalani peran sebagai bujang gadi.


Kebaya, kain panjang, rok, gaun, dan selendang yang sering menemaniku berperan selalu kuhirup aromanya. Aroma yang mampu menjalari seruput darah yang tak mampu kutahan desir nikmatnya.


Energi sensasi itu semakin meningkat saat aku dan kawan-kawan membentuk lingkaran dengan saling mengelilingi. Berjoget saling mendendangkan senandung-senandung Melayu. Senandung berpantun yang memiliki makna mengakar ke bumi Randai ini.

Kenikmatan yang kujalani menjadi menguap ketika menjalani realitas kehidupan. Gamang ingin menikmati sensasi itu kembali setiap selesai berandai.  Apakah aku putuskan saja untuk menjadi bujang gadi yang sebenarnya bukan sementara dan sesaat.

Dalam kamar sunyiku, aku pandangi kebaya, kain panjang, rok, gaun, dan selendang yang bisa kupakai untuk mentas Randai. Tangan kujulur untuk kuletakkan di tempat tidurku. Kupakai semua itu dengan rasa yang beda. Kupandangi diri ini di depan cermin yang kusam.


“Cantik …” Ucapan spontan yang keluar dari mulut lelakiku.


Mulut lelaki yang biasanya bernada tenor kini kurasa perlahan berubah menjadi sopran. Kubelai kebaya yang kukenakan dengan segenap hati. Kunikmati sedalam hati. Bisakah kenikmatan ini kulanjutkan?


“Bisa …” suara bernada kombinasi tenor dan sopran menyebar di sudut dinding papan tua rumahku.


Terkejut aku dengan bayangan dalam cermin mengatakan itu. Kucari sumber suara. Kosong. Hanya dinding rumah berpapan dan cermin kusam yang dingin. Entah gelisah, entah takut. Kularutkan dalam tidur. Tidur lelap yang menggelegakkan perlawanan hormon kelelakianku dan hormon imajinasiku. Tidur yang terasa panjang karena endapan pikiran berkecamuk dengan pergulatan hormon.


Sepanjang hari bersama waktu dan teman-teman sepergaulan yang biasanya kujalani dengan biasa, kali ini terasa ada aroma lain. Aroma yang menggiringku menjadi seperti perempuan.


“Ada apa kau, bujang gadi?” Sapa teman lelakiku saat aku menatapnya berlama-lama.


Sebuah ucap istighfar keluar dari mulut dustaku. Antara takut dan nafsu menarik lintasan niat-niatku. Pementasan Randai kembali mengundang kelompok kami. Aku diminta kembali menjadi bujang gadi.


“Kali ini kita benar-benar harus maksimal. Ini penampilan penghormatan karena petinggi di daerah ini hadir,” ujar pelatih gerak sekaligus sutradara sanggar randai kami. Aku diingatkan untuk tampil seperti penampilan sebelum-sebelumnya.


“Ingat,  bujang gadi adalah salah satu kunci randai kita!” Pujian itu membuatku semakin mengokohkan keyakinan akan pilihanku. Untuk tampil maksimal kali ini, selain malam minggu, aku bersama teman-teman menambah malam latihan di tengah lapangan ditemani bulan separuh.

Tinggi la Bukik si Batu Rijal

Tompek Batanam Si Sudu-sudu

Abang Kan Poi Adiak Kan Tinggal

Bajawek Solam Kito dahulu


Itulah  salah satu pantun  handalan sanggar kami yang bercerita tentang Ali Baba dan Fatimah Kayo. Akulah yang dituntut menghidupkan suasana gelak penonton. Kuselalu mengeluarkan segenap hati dan rasa agar ada aura alami dalam setiap penampilanku.


Ya. Ini pilihan terbaik. Aku akan terus menjalani hidup sebagai bujang gadi dengan sepenuh hati. Kembali malam-malam jantan kulalui, bujang gadi dalam randai menjadi primadona panggung. Elu-eluan untuk penampilanku tak habis dilontarkan sampai keesokan harinya. Apalagi ketika penonton menanti-nanti sindiran-sindiran apa yang akan kulontarkan dengan kelucuan yang alami. Namun ternyata ada seseorang yang dengan suara batin terlembutnya menolak pilihanku menjadi seorang bujang gadi. Ya, hanya suara batin, bukan suara berkata-kata penolakannya. Dia adalah emakku.


“Bicaralah mak, mengapa hanya diam selalu. Bujang perlu penjelasan dengan kata-kata, mengapa setiap bujang bermain randai, emak selalu terlihat tak suka.” Emak tetap diam.


“Sampai kapan mak, nak diamkan Bujang macam nih. Bujang tak ngerti salahnya dimana bila mak mendiamkan  seperti ini?”


“Baik ... Mak hanya bisa bilang. Emak tak suka Bujang berandai dengan berlebihan. Mak malu, banyak yang membicarakan Bujang tuh laki-laki atau perempuan?” Jawaban emak membuatku semakin mengecil dan menyudut di pojok terdalam. Suara-suara batin terdalam memintaku untuk menutup telinga atas ucapan emak. Durhaka? Entahlah!


Kucoba mengumpulkan segenap keberanian untuk melawan kepatuhan. Berlari dari orang-orang yang menghalangi walau mereka termasuk orang-orang yang menyayangiku. Aku tidak ingin menumpuk dosa, lebih baik membawa kaki dan badan ini ke mereka yang sepaham denganku. Aku tidak ingin mengeluarkan kata-kata bentakan atas pilihanku. Segenap darah ini melegak dingin saat kubergabung dengan teman-teman yang sangat mendukungku berandai. Tidak memasalahkan “keanehan” atas penampilan diriku.


“Jadilah dirimu sendiri,” dukung teman-temanku. Kalimat yang membuatku semakin menguatkan diri untuk menjadi diriku sendiri sebagai Bujang Gadi.


Sejak itu, dari penampilan Randai yang kuikuti dari desa ke desa merambah ke kota dan bahkan negeri jiran. Gelimang pujian tertuju pada penampilanku. Aku sangat menikmati. Bertahun-tahun menggeluti seni dari panggung ke panggung membuatku keasyikan bersebati menjadi darah yang telah mendaging sebagai bujang gadi. Beragam penghargaan kuterima sebagai pelakon seni yang tunak dengan profesinya.


Namun sepertinya selalu saja ada kilatan mata tajam yang aku tidak tahu berasal dari mana setiap penampilanku. Hanya sesaat dan sekilas. Namun sempat membuat sepersekian detik penampilanku terganggu dengan kilatan mata itu. Penasaran menghinggapi segenap tingkah dan energiku. Kilatan-kilatan itu mulai mengganggu penampilanku. Sampai akhirnya aku ditikam oleh kilatan itu sehingga aku tidak ingat apa yang harus kulakukan saat giliran aku tampil. Aku hanya diam, lupa skenario dan gerak. Kilatan mata itu membelenggu kakiku.

“Bujang, pulanglah.” Lirih suara itu, suara emak yang sangat kukenal. Aku pun mematung.***

Bambang Kariyawan Ys, Guru Sosiologi SMA Cendana Pekanbaru. Aktif bergabung di Forum Lingkar Pena Riau. Telah menerbitkan buku kumpulan cerpen “Numbai” dan beberapa buku kumpulan puisi, novel, dan pendidikan. Peserta undangan MMAS (Membaca, Menulis, dan Apresiasi Sastra) Kemdiknas 2010, Penerima Anugerah Sagang 2011, Nominator Anugerah Sagang 2012-2014, Nominator Anugerah Pena 2013, dan Peserta Ubud Writers and Readers Festival 2014.
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 19:30 wib

Masyarakat Mesti Bijak Gunakan Medsos

Selasa, 18 September 2018 - 19:00 wib

Sosialisasi SPIP Capai Maturitas Level 3

Selasa, 18 September 2018 - 18:41 wib

Lima Keuntungan Menggunakan Aplikasi Kasir Online Kawn

Selasa, 18 September 2018 - 18:30 wib

8 Kecamatan Ikuti Iven Pacu Sampan

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Komunitas Muda Madura Siap Menangkan Jokowi

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Perusahaan Diminta Peduli

Selasa, 18 September 2018 - 17:30 wib

Rider Berbagai Provinsi Bakal Ramaikan Jakjar 5

Selasa, 18 September 2018 - 17:22 wib

AJI Pekanbaru Kirim Delegasi ke Festival Media 2018 di Pontianak

Follow Us