OLEH IMELDA YANCE

Mama Minta Pulsa, Papa Minta Pulsa Juga

27 Desember 2015 - 00.24 WIB > Dibaca 2010 kali | Komentar
 
Mama Minta Pulsa, Papa Minta Pulsa Juga
BELAKANGAN ini  berseliweran  di     ruang siber  (cyberspace)  (dalam Facebook, Twitter, Instagram, Line, Washapp, Path) meme orang terkenal Indonesia, mulai dari Farhat Abbas, Syahrini, Jokowi, Megawati, hingga (yang gres) Setya Novanto.

Meme perihal Setya Novanto misalnya, mencuat kala ia masih menjabat sebagai Ketua DPR RI menghadiri kampanye calon Presiden Amerika Serikat  (sekaligus pengusaha ternama) Donald J. Trump. Aksinya itu menuai beragam kritik yang dituangkan netizen dalam bentuk meme. Tanggapan lebih seru diperoleh Setya Novanto terkait perpanjangan (ilegal) kontrak karya PT Freeport. Ulah Setya Novanto, yang diduga mencatut nama Presiden Jokowi untuk memperoleh “bagian,” melahirkan beragam meme yang bertema “Papa Minta Saham” (analogi dari kejahatan mama minta pulsa).

Meme-meme tersebut membuat netizen geli. Betapa tidak, ada sebuah meme memuat foto pengemis tetapi berwajah Setya Novanto (memelas) sedang menadahkan tangan berikut tulisan pada bagian bawah: “NASIB AKHIR...!!! PAPA MINTA SAHAM” (meme 1) Sepintas, memang terlihat lucu karena politisi Partai Golkar itu berubah menjadi pengemis kumal. Begitu juga dengan meme yang memuat foto Setya Novanto sedang menelepon berikut tulisan “TOLONG KIRIM PULSA UNTUK ANGGOTA MKD” (meme 2): dulu ada mama minta pulsa sekarang ada Ketua DPR minta pulsa. Apakah sekadar kelucuan?

Apabila dicermati meme tersebut dapat digolongkan sebagai teks humor satire. Fungsi sosialnya barangkali adalah untuk menertawakan kelakuan seseorang (Setya Novanto). Struktur teksnya terdiri atas aspek visual (foto berwajah Setya Novanto dan foto Setya Novanto sedang menelepon) dan verbal (“NASIB AKHIR...!!! PAPA MINTA SAHAM” dan “TOLONG KIRIM PULSA UNTUK ANGGOTA MKD”). Pemaknaan teks itu tentu tidak berhenti sampai di situ. Konteks (sosial, budaya, dan politik) yang melahirkannyalah yang membernaskannya.

Walaupun seperti humor (yang identik dengan kelucuan), teks tersebut lebih ditujukan sebagai sebuah satire untuk menyindir (oknum) pejabat publik yang tidak lagi menjalankan amanah yang diberikan oleh rakyat. Apapun jabatan seseorang, apabila sudah meminta-minta, ia tidak ubahnya seperti seorang pengemis yang meminta recehan di pinggir jalan. Barangkali itulah yang ingin disampaikan oleh si pembuat meme 1.

Meme 2 dapat dinilai orang lebih tajam. Selain si pembuat bermaksud menggambarkan manuver politik Setya Novanto agar para anggota MKD (Mahkamah Kehormatan Dewan) meringankan hukumannya atau tidak menjatuhkan sanksi sama sekali (Berita Satu), juga seperti menyeret MKD. Interpretasi semacam ini dapat dikaitkan pula dengan beragam meme terkait MKD (misalnya, ada meme yang memuat gambar anggota MKD berikut tulisan “MAHKAMAH Konco Dewe”) juga beragam pendapat yang mempertanyakan ketiadaan putusan sanksi dalam sidang MKD terkait kasus papa minta saham itu.

Jokowi, Presiden RI,  pun tak luput dari ulah kreatif netizen. Program Jokowi untuk keluarga miskin Indonesia mulai  dari Kartu Indonesia Pintar (KIP), Kartu Indonesia Sehat (KIS), dan Kartu Simpanan Keluarga Sejahtera (KSKS), justru berujung pada “Kartu Indonesia Sabar.” Dalam meme “Kartu Indonesia Sabar,” terpampang foto Jokowi memegang sebuah kartu merah putih (tangan kanan) dan pelantang (tangan kiri) dan tulisan “Jangan panik, setelah kenaikan harga BBM ini, saya akan meluncurkan kartu baru... KARTU INDONESIA SABAR.” Sungguh itu sebuah teks humor satire sempurna, telak: membuat netizen lain ngakak sekaligus menyuarakan ketidakberdayaan terhadap kebijakan penguasa (sabar). Secara kontekstual, meme itu berakar dari kebijakan Jokowi pada awal pemerintahannya: menaikkan harga BBM. Tak lama berikutnya, masyarakat juga merasakan kenaikan tarif dasar listrik (TDL), dan harga gas pun ikut naik serta sering hilang di pasaran.

 Sindiran-sindiran yang dilakukan oleh netizen dalam bentu meme itu mengingatkan kita pada salah satu fungsi humor dalam kehidupan, yaitu sebagai sarana kritik. Orang-orang yang tidak berdaya untuk melontarkan kritik secara langsung, mencoba cara lain untuk menyampaikannya (Jatiman dalam Suhadi, 1989). Apabila ditilik dari sisi penikmat, meme semacam itu juga dapat membantu dalam menafsirkan fenomena politik yang terjadi dan sebagai media pengganti informasi.

Nah, bagaimana dengan masalah terminologi? Sebagian netizen Indonesia barangkali masih ragu. Apakah meme sudah menjadi istilah bahasa Indonesia atau belum? Setakat ini, istilah itu sepertinya belum tercantum dalam kamus bahasa Indonesia baik versi cetak maupun daring (off line). Dalam bahasa Inggris, meme dilafalkan [miim, meem]. Kata tersebut berasal dari bahasa Yunani mimeme ‘sesuatu yang menyerupai/menirukan.’ Sementara itu, ada lagi bentuk mimema yang dipakai dalam Wikipedia berbahasa Indonesia untuk merujuk pada konsep yang sama.

Di antara meme, mim, meem, mimeme, atau mimema; sepertinya meme lebih popular (dipakai) di kalangan netizen  Indonesia. Bahkan, ada yang tidak rela apabila meme  dilafalkan [me-me]: “Meme jangan dibaca me-me ya, tapi mim”, demikian permintaan seorang netizen. Barangkali karena bentuk itu pada masyarakat tertentu di Indonesia sangat dekat berasosiasi dengan kata untuk konsep alat vital perempuan. Pilihan antara bentuk lafal mim atau mem tidak akrab dalam bahasa Indonesia yang cenderung memilih serapan dari bentuk tulis. Sementara itu, bentuk mimema lebih dekat dengan bentuk asal: mimeme dan tidak pula berkonotasi negatif.***

Imelda Yance, Peneliti pada Balai Bahasa Provinsi Riau

KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 16 November 2018 - 18:00 wib

Menteri Keamanan Siber Jepang Ternyata Tak Mengerti Komputer

Jumat, 16 November 2018 - 17:30 wib

Dua Kecamatan Masih Terendam

Jumat, 16 November 2018 - 17:00 wib

Lutut Istri Disenggol, Nelayan Bacok Tetangga

Jumat, 16 November 2018 - 16:15 wib

Miliki 30 Kg Ganja, Petani Ditangkap

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

BRK Ikut MoU e-Samsat Nasional

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

Formasi CPNS Sumbar Terancam Kosong

Jumat, 16 November 2018 - 15:45 wib

Desa Dituntut Gerakkan Ekonomi Masyarakat Lewat ADD

Jumat, 16 November 2018 - 15:30 wib

Pedagang Belum Tahu Kapan Direlokasi

Follow Us