SAJAK

Sajak-sajak Marsten L Tarigan

27 Desember 2015 - 00.32 WIB > Dibaca 1219 kali | Komentar
 
Orang Asing dan Natal

/1/
Misalnya tubuhku adalah kampung
di mana akan kau inapkan mimpi-mimpimu
tentang kado juga pohon-pohon cemara
yang memberimu sejuk malam natal
Sementara orang-orang di sini melulu saja
memangkas barisan tengkaras makna
sebab ada yang mereka duga
bahwa sejarah bukan lagi sebuah petuah

Bertahun-tahun makna sembunyi di dalamnya
seperti dirimu lari-lari di antara helai daun jarak
Sungguh kita tak tau, berapa lama telah mencari,
berapa rambut telah tumbuh sendiri. Hingga
bulan natal datang lagi, kita buka kembali
halaman-halaman yang menyimpan lagu lama

/2/
Bayangan kereta rusa membawa kita ke sini
bersama kegelisahan yang lahir berulangkali
yang begitu mahir merajai diri. Malam kudus
yang kita inginkan, sebentar juga akan pergi
meninggalkan kita di halaman-halaman alkitab
di antara perjanjian baru dan perjanjian lama

Mungkin belati neraka atau hatilah
membuatku bersujud pada yang berdiam diri
Namun kau pula kekasih telah jadi orang asing
menggarisi setiap jengkal langkah pendaki
kemudian lari-lari sendiri


Pada Sebuah Suasana

Sepertinya kulihat kuda-kuda liar
berjalan tenang di antara binatang lain.
Perlahan-lahan panorama ini bergerak,
                pelan sekali
membawaku pada sebuah suasana,
tikai yang memaksaku menulis dengan cermat,
yang mana cinta, yang lain hasrat belaka.

Sementara dirimu masih kuduga-duga
: apakah sedang kukerik rambut sendiri
atau mestikah kutebang leher yang tegak berdiri.
Tapi kuingat gambar pohonan di tanganmu,
bergaris-garis bebaris kasih. Mungkin bagimu
mirip gula-gula: kucuri rasa manis
meski rupa gabus berulang kali
menjebakku begitu halus.

Tiba-tiba beberapa malaikat
dengan sayap dari tajam belati
datang dari sejarah dan ketinggian,
memukul-mukul dada yang selalu kujaga
dengan rasa bahaya.
Mereka semua mencurigai janjiku padamu,
pengakuan yang tak pernah kau baca,
bahwa kepadamu akan kuberikan negeri ini
yang kudiami sebagai penyair dan orang asing.

Kemudian kuhadirkan lagi jibaku dengan diri
yang belum selesai sampai selama ini. Lantas
kusaksikan bintang-bintang mendatangiku
serupa peziarah, sebagai risalah puisi pertama.
 

Terbangun dalam Mimpi Buruk

/1/
Nalarku dibunuh kalimat-kalimat
Dengan maknanya yang tak pernah kukenal.
Seolah penyucian atas sebuah kesalahan masa lampau.
Sementara kau tau lumpang masih deras memapas
Untuk sekedar mencari keculasan dalam napas,
Yang rasanya segera ingin lekas-lekas kulepas.

Aku terbangun dalam mimpi buruk
Dan bisik-bisik bunyi makna yang tersembunyi.
Di sana aku melihat diriku sendiri berkaca,
Yang lain melukis kau dalam berbagai rupa,
Sementara itu kulihat kau membiang asap dupa.
Lantas kuucapkan mantra putih tulang,
Ada yang memanggil cintamu pulang.

/2/
Aku terbangun dalam mimpi buruk.
Ada tanda yang tanggal dan tertinggal di jalanan,
Bisik-bisik maut dan juga marahnya sang pencipta.

Aku memanggil cintamu kembali
Yang telah pergi dari ujung-ujung dupa
Ke surga penuh angsana yang tembus makna.
Malaikatnya tetap pergi mencari seseorang
Yang telah berdusta pada bahasa,
Meski sebenarnya dengan membuka mata
Adalah mulanya dosa yang nyata.

/3/
Aku terbangun dalam mimpi buruk,
Muncul gambar seseorang tergantung
Telanjang, suaranya srigala rindu mengaung.
Ada binatang yang mencercap dari lipat rahangnya,
Lalu mengejar aku sampai pada satu kelana.

Masih kudengar dia menyanyikan lagu-lagu perlawanan
Tentang adat-istiadat yang kaku dan gaya kepemimpinan
Tiba-tiba sejengkal lumpang menancap di dadanya.
Tak ada titah yang semestinya membuatku gamang
Atau yang mengikatku dengan ketirah bersulur merah.
Lalu pelan-pelan aku menimang keluhku sayang.
Hanya igau yang lepas berulangkali.
Barangkali ia selamanya terjerat di sana,
Mungkin pula aku akan menghilang
Atau terbangun lagi dalam mimpi buruk pula.


Asmaranya di Laut

Lanjai kakimu tenggelam dalam perahu
yang terisi penuh lipatan-lipatan hati lelaki.
Seperti juga matahari menyatu bersama,
tak siapapun tau ke mana arah barat.
Hanya pada kayuhan lenganmu
tersimpan harapan soal sarapan yang dinanti,
tersedia dengan sebakul kabut subuh
yang membawamu pulang
bersama ikan-ikan yang malang.

Ke ruangan basah kau melesap
dengan kayu pahatan sendiri,
benang plastik rajutan kasih,
kemudian mengarung
ke dalam luasnya hati seorang ibu.
Kau singkap takdir mereka yang lahir di laut,
yang tumbuh di balik karang.
Siapa yang mengerti soal kasmaran
bila hidup ini lupa berkeliaran?

Searah ombak kau tempuh jalan yang basah,
dikandungnya anak-anak batu.
Namun halus-kasar tubuh mereka
bisa pula menggiringmu pada belukar palsu
yang menghisap kenangan pernikahan
dan hasil persetubuhanmu.
Lantas sekayuh membuatmu
menjadi doa dan penghidang murka.

Lakon ini pula
bakal membawamu ke sebuah lapang dada,
rohani yang menuntun penciumanmu
pada lekuk lengkung gigir tubuh istrimu
atau anak-anak yang kau didik jadi kayu.
Sebab bila cuma rasa asin yang kau bawa pulang,
menggoda adalah satu-satunya cara.


Boots dan Natal 1

Aku akan ada di rumah pada malam natal,
membawa pulang sepatu boots yang kau pakai
berjalan bersama zaman dan perlawanan.
Lihatlah! Hatiku begini sedih bila kau lupa
memikat lelaki lain dan menangis di hadapan kaca.

Oh maafkan aku yang berlebihan ini,
yang mengarang cerita jika ada yang kulupa.
Tapi akan tetap kubawa pulang sepatu boots itu,
meski sekarang baru kuingat bahwa dia
hanya mengantarmu ke hutan-hutan angsana
atau sekedar berkelana di atas panggung drama.

Kubuatkan rak khusus tempatnya terpajang
dari harapanku memperistrimu, serentak
mengembalikanmu pada kelegaan ruang
yang dibangun dari tulang-tulang.
Namun jangan dulu kau bermegah diri,
sebab masing-masing kita adalah juara kedua.

Apakah ini tentang pencinta pohon cemara,
sepatu boots, atau aku yang lupa
tentang cerianya anak manusia bila berdua?
Biarlah sayang, akan kubawa pulang
sepatu bootsmu dan malam natal segera datang.


Marsten L. Tarigan, lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara, 23 februari 1991. Sekarang tinggal sementara di Semarang. Bergiat di Regu Kesenian Cengos dan Komunitas Kandang Singa.


KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 15 November 2018 - 19:45 wib

Telkomsel Hadirkan Kerja Sama Non-Tunai dengan Adhya Tirta Batam

Kamis, 15 November 2018 - 18:35 wib

Ingin Bahasa Indonesia jadi Bahasa Internasional, APPBIPA Riau Terbentuk

Kamis, 15 November 2018 - 17:59 wib

Lagi Berenang, Bocah Tewas Diterkam Buaya

Kamis, 15 November 2018 - 17:00 wib

3 Pemain Timnas Dapat Tawaran dari Klub Luar Negeri

Kamis, 15 November 2018 - 16:15 wib

BPN Komit Realisasikan Program PTSL 2018

Kamis, 15 November 2018 - 16:00 wib

Sabhara Gagalkan Rencana Tawuran Sekelompok Pemuda

Kamis, 15 November 2018 - 15:45 wib

Pembangunan RSUD Indrasari Terlambat

Kamis, 15 November 2018 - 15:30 wib

BNNK Ringkus Pengedar Antar Provinsi

Follow Us