OLEH DIVANI AISYARA

Budaya dan Propaganda Penguasa

2 Januari 2016 - 23.46 WIB > Dibaca 1055 kali | Komentar
 
Di hadapan panitia Festival Film Indonesia (FFI) tahun 2015 ini, Gubernur Banten Rano Karno sempat memberikan statemennya bahwa dunia film merupakan alat diplomasi kebudayaan pada suatu bangsa. Secara implisit ia pun menggugat karya seni kita yang selama ini terlampau bermain di wilayah emosi hingga membuat pemirsanya hanyut ke dalam kepentingan politis, tidak sanggup berdiri untuk mengambil jarak dari fenomena yang ada. Masyarakat belum mampu bersikap layaknya seorang peneliti atau sosiolog yang memantau suasana kehidupan yang meliputi ruang-waktu, seakan mereka tampil selaku subyek yang hanya berimajinasi dalam pembenaran hipothesis semata.

Misalnya penayangan berpuluh tahun, film pesanan rezim yang berkuasa dengan judul “Pengkhianatan G30S/PKI”. Dari judulnya saja nampak kepentingan politis yang menunggangi dunia seni, sehingga berkutat dalam logika keras dan saklek tanpa hatinurani, hanya mementingkan ego berkesenian yang bersandar pada pernyataan politik dan bukan pernyataan ilmiah. Akibatnya muncullah kebijakan politik yang dikunyah masyarakat sebagai “ekstrim kiri”, kemudian muncul lagi tuduhan baru sebagai “ekstrim kanan”. Setelah pemerintah merasa kepepet dan sepak-terjangnya makin terbaca oleh rakyat, muncul lagi pembodohan baru, yakni “ekstrim tengah”. Konsekuensinya seluruh dunia dan seisi alam semesta ini diklaim sebagai ekstrim semua, jadi yang tidak ekstrim hanya Penguasa Orde Baru saja, seakan mengkultuskan dirinya sebagai sosok yang absolut.

Dengan itu bobot religiusitas dan universalitas dalam karya seni tak pernah mengenai sasaran untuk mencerdaskan rakyat. Wajar saja negeri berpenduduk ratusan juta yang gimah ripah loh jinawi ini, nyaris tak pernah melahirkan karya besar yang diakui dunia. Dan ketika muncul seorang pemuda Banten menulis novel berjudul “Perasaan Orang Banten”, suatu literasi yang diperjuangkan untuk keabadian maka tak lepas dari hujatan caci-maki. Tabiat ini memang pembawaan karakter Orde Baru yang telah mewariskan pera daban hitam-putih, analisis pukul rata, senang bergerombol, dan ujung-ujungnya membangun oligarki kekuasaan partai korporasi yang tiada henti-hentinya.

Dan sebagian seniman pun tak terke cuali, terperosok dalam jenis sastra absurd yang menjadi anutan, terperangkap oleh kegersangan dan ketidakadilan sistem yang diselenggarakan political will selama ini. Bagaimana mungkin mereka dapat nyaman berkarya secara independen, pada saat gurita kapitalisme mengepung keseharian hidup mereka. Bagaimana mungkin mereka sanggup berinovasi secara kritis, kecuali individu-individu yang punya keberanian melawan arus, tekun meneliti dan melanglang buana tanpa batas, serta menembus sekat-sekat primordialisme.

Di dunia perfilman yang merupakan alat diplomasi tersebut, kita bisa melihat bagaimana karakter militerisme Indonesia dibongkar dan ditelanjangi secara serius dalam film The Look of Silence (Joshua Oppenheimer), yang merupakan ciri khas dari tren seni post-modern, agar kebudayaan suatu bangsa sanggup membaca-diri, sadar diri, melangkah menuju metamorfosis untuk suatu jaman pencerahan (aufklaerung). Film ini bukan hanya bi cara soal perikemanusiaan tetapi juga rekonsiliasi (ishlah) untuk mencipta pera daban baru yang lebih damai dan terbuka. Hikmah yang terkandung di dalamnya seakan mengajarkan kita untuk “rujuk” dan berdamai dengan masalalu, hingga kita menjadi enteng dan ringan untuk melangkah ke masadepan (baca: “Pikiran Orang Indonesia”, Fikra Publishing, Jakarta, 2014).

Perbincangan yang terus dipersoalkan kalangan intelektual Amerika saat ini adalah, bagaimana mungkin seorang sutradara yang lebih cenderung pada ideologi sosialisme (begitupun film 12 Years a Slave) bisa masuk dalam kategori perfilman bergengsi, bahkan digolongkan dalam jajaran Oscar yang merupakan penghargaan tertinggi dalam insan perfilman dunia. Di sinilah pangkal persoalannya, bahwa di era post-modern ini semua orang berhak memihak kepada siapa yang lebih mumpuni dan dipercaya, tidak lagi mempersoalkan sekat-sekat ideologis. Sekarang bukan zamannya lagi ribut-ribut soal mazhab atau aliran apa seseorang punya anutan. Tetapi masyarakat dunia hanya akan bertanya seberapa besar kemaslahatan seseorang bagi pembangunan peradaban umat.

Sedangkan film 12 Years a Slave yang diangkat dari novel klasik karya Solomon Northup (1853) mengingatkan kita pada karya sastra berjudul “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu” hasil buah pena Pramoedya Ananta Toer, yang keberadaannya terus membuat polemik di kalangan seniman Indonesia hingga hari ini. Ironisnya, sastra psiko-histori yang kemudian diakui dunia dan diterjemahkan lebih dari 40 bahasa itu justru terhambat publikasinya di negeri sendiri. Hal itu dikarenakan memang tidak sedikit seniman dan budayawan kita yang tersusupi doktrin penguasa yang berpretensi menilai karya tersebut sebagai “biasa-biasa saja”.

Tetapi ketika dipahami motif politik di balik pembentukan citra buruk terhadap figur Pramoedya, serta seniman yang menolak untuk membahas karya-karyanya, ternyata mereka itu tak lepas dari kepentingan-kepentingan big business dan big industry yang seakan tidak menghendaki memasyarakatnya nilai-nilai keindonesiaan kita. Hal ini sudah diprediksi pula oleh penulis novel “Perasaan Orang Banten” dan “Pikiran Orang Indonesia” yang karya-karyanya dihambat dari sisi pemasaran, dan tak lepas dari unsur sentimen pasar, di samping faktor kedekatan penulis muda Banten itu dengan sosok Pramoedya Ananta Toer.

Tetapi setiap penulis dan sastrawan yang memegang-teguh prinsip dan jati-dirinya, tentu akan tetap tegar dan berani mengambil risiko “dimusuhi” oleh kepentingan status quo (neo-kolonialisme). Di sini penulis pun ingin menyumbangkan bantuan morilnya agar tetap yakin dan sabar, karena kreasi-kreasi kalian ibarat memintal benang untuk kain-kain terpilih, hingga pada waktunya sejarah terus bergerak dan melangkah menuju Anda. Selamat berjuang!***

Divani Aisyahara, mahasiswi Universitas La Tansa Mashiro, Banten.


KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

BRK Ikut MoU e-Samsat Nasional

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

Formasi CPNS Sumbar Terancam Kosong

Jumat, 16 November 2018 - 15:45 wib

Desa Dituntut Gerakkan Ekonomi Masyarakat Lewat ADD

Jumat, 16 November 2018 - 15:30 wib

Pedagang Belum Tahu Kapan Direlokasi

Jumat, 16 November 2018 - 15:15 wib

50 Tim Ikuti Serindit Boat Race

Jumat, 16 November 2018 - 15:00 wib

Spesialis Bongkar Rumah Kosong Diringkus

Jumat, 16 November 2018 - 14:45 wib

Disdukcapil Mengajukan Tambahan Tenaga Teknis

Jumat, 16 November 2018 - 14:30 wib

Hasil SKD Cerminan Mutu Pendidikan Indonesia

Follow Us