CERPEN JUMADI ZANU ROIS

Tuli

2 Januari 2016 - 23.55 WIB > Dibaca 1887 kali | Komentar
 
Aku hanya bisa berdoa. Sebagai teman yang paling dekat dengannya, hal ini aku rasa sangat wajar. Bahkan bisa dikatakan harus. Setidaknya, dengan mendoakannya semoga bisa mengurangi sakit yang dia hadapi. Meski dalam hatiku masih bertanya, kenapa tiba-tiba ia jatuh sakit.  Padahal dulu, aku mengenalnya sebagai orang sangat menjaga kesehatan. Dari mulai menjaga kesehatan tubuh bagian luar, seperti kulit, kuku, dan bagian-bagian yang lain. Sampai bagian tubuh bagian dalam. Maka tak heran, kalau setiap minggu dia selalu membeli vitamin. Dan aku, selalu diberinya.

Aku masih ingat. Suatu waktu, aku pernah memperolok sifatnya itu.

“Kalau dah waktunya mati, mati juga, Man. Vitamin selaut pun tak akan ada gunanya” kataku.

“Kehendak Tuhan memang tak ada yang bisa mencegahnya, Lim. Setidaknya aku hanya berusaha, kalau nanti kehendaknya Tuhan berkata lain, itu hal lain lagi. Lagi pun, aku bukan takut sakit atau mati, aku hanya berjaga-jaga” jawabnya.

Azman. Itulah nama temanku tadi. Aku berteman baik dengan beliau. Sejak kecil lagi. Kami tetangga dikampung. Sejak tingkat Sekolah Dasar, sampai Sekolah Menengah Atas kami satu sekolah.

Sempat kami hampir berpisah setelah tamat SMP, dia ingin melanjut kesekolah Agama ke Ibukota kecamatan. Tapi takdir berkata lain. Gelombang musim utara pada waktu itu, telah menenggelamkan Ayahnya, sekaligus harapannya. Sebagai nelayan, Ayahnya menimba maut ditengah laut. Tinggallah ibunya yang menjadi tulang punggung keluarga. Dan dia, sebagai anak pertama dari lima bersaudara, tak mau memaksa kehendak dan cita-citanya. Padahal, bersekolah di Sekolah Agama adalah cita-citanya. Akhirya di mengambil sekolah umum, yang ada dikampung kami.

“Kalau aku bersekolah di kecamatan, aku hanya akan menambah beban Emak aku saja, Lim.”

Jelasnya kepadaku waktu itu. Dikelopak matanya, aku lihat ada genangan air. Dia seperti ingin menangis.

“Setidaknya, dikampung aku juga bersekolah. Melaksanakan keinginan Almarhum Bah. Bah sangat ingin melihat anak-anak bersekolah. Walau hanya tamat SMA,” tambahnya lagi.

Sejak Ayahnya meningal, Azman ikut membantu Emaknya untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Menyisihkan sebagian penghasilan untuk kebutuhan sekolah mereka Lima beradik. Sebarang kerja dibuat Azman. Pada musim panas, dia menyadap getah. Bagi hasil dengan Atan Punak sebagai pemilik kebun. Saat musim hujan pula, pekerjaan lain ada saja yang dibuatnya. Kadang menebas kebun orang, membantu orang membangun rumah, sampai kadang dia mau menyapu laman rumah orang. Asal mendapat upah.

Azman memang terkenal rajin dikampung kami. Maka tak heran, orang-orang tua dikampung kami suka sangat senang dengannya. Bahkan beberapa orang dikampung kami, sengaja menyediakan pekerjaan untuknya.

“Kalau musim hujan nanti, suruh Azman menebas getah belakang rumah tu Ros,” kata Atah Mat kepada istrinya, Ros.

“Iya Juga tu, Bang. Dapat juga membantu duit sekolah dia."

***

Malam ini, semua kenangan semasa kecil bersama Azman muncul dibenakku. Tak ada satu pun hal buruk tentang sahabat karibku itu. Dia begitu baik. Baik sekali. Hampir saja dia menjadi manusia sempurna. Oleh sebab itu, aku sangat betah berteman dengan beliau. Dia juga satu-satu teman yang dipercayakan orang tuaku untuk berkawan.

“Pokoknya, kalau engkau dengan Azman, aku baru berani melepas engkau merantau. Karena aku sendiri, tak percaya dengan engkau,” ayah mengingatkanku sewaktu ingin berangkat ke Ibukota Provinsi untuk melanjut kuliah. Begitu pula Azman. Dia melanjut kuliah dijurusan Ilmu Pemerintahan. Mendapat Beasiswa dari Kabupaten berkat prestasinya selama sekolah. Sedang aku, mengambil jurusan Ekonomi. Kami satu perguruan tinggi.

Selama kuliah, aku hanya tinggal dengan Azman. Selain itu merupakan pesan orang tuaku, aku juga ingin membantu Azman. Agar Azman tak mengeluarkan biaya sewa rumah. Karena kontrakan yang kami diami, dibayar sepenuhnya oleh orang tuaku.

Semasa kuliah pun, sifat rajinnya itu terus dibawanya. Setiap hari, ada saja kerjaan yang dibuatnya. Dari pekerjaan didalam kampus, sampai diluar kampus. Tak jarang aku hanya bertemu dengannya kala subuh, berpisah lagi ketika pagi. Meski begitu, dia tidak pernah absen dengan mata kuliah.

“Untuk apa engkau penat-penat lagi kerja, man? Bukankah biaya kuliah engkau sudah ada yang memberi? Bahkan lebih?” tanyaku suatu waktu.

“Selagi tuhan memberi kita rezeki, kenapa ditolak,” jawabnya. Sambil mengulurkan selembar uang seratus ribu kepadaku.

“Ni, aku dapat rezeki tadi. Jangan ditolak. Anggap saja itu rezeki engkau,” katanya memaksa.
Azman memang baik. Sangat baik.

***

Kini sudah sepuluh tahun kami berpisah. Sejak dia selesai kuliah, dan memilih pulang kampung. Sedang aku saat itu, masih berkutat dengan buku-buku untuk menyelesaikan skripsiku. Selesai pun aku kuliah, aku tak juga pulang kampung. Karena mendapat pekerjaan di kota lain. Serta mendapat jodoh disana. 

Sejak saat itu kami hanya berkomunikasi dengannya melalui Handphone. Semua hal tentang kampung aku dapat darinya. Dari hal-hal yang menyenangkan, sampai hal-hal yang menyedihkan. Tapi lebih banyak dia menceritakan hal yang menyedihkan.

“Orang kampung kita ni, macam tak jera, Lim. Setiap waktu dibengak, para calon anggota Dewan tu. Setiap kali nak mencalon, entah darimana asal-usulnya, datang semua kekampung kita ni. Nak mintak suara. Kalau dah menang, tak satu pun datang lagi,” jelasnya dengan nada emosi.

“Dah paham aku tu, Man. Tak di mana-mana tu. Semua sama,” jawabku.

“Aku dah sering mengingat. Kalau nak pilih calon, pilih yang betul-betul berniat nak membantu,” tambahnya lagi.

“Bagusnya engkau yang mencalon, Man. Aku rasa engkau, besar kemungkinan bisa menang. Engkau bisa pegang beberapa desa tetangga. Aku rasa, minimal engkau bisa pegang lima desa. Itu sudah cukup, Man,” usulku menjawab keluh kesah sahabatku itu.

Beberapa saat Azman terdiam. Handphone masih menempel di telingaku.

“Itulah rencananya, lim. Pemilihan tahun ini aku ingin mencalon rencananya. Tapi, aku tak cukup banyak biaya, Lim. Tak tahulah aku nak cari duit kemana. Politik itu harus banyak duit, Lim. Tak cukup dengan orang kenal kita orang baik sebagai orang baik saja.”

“Masalah itu jangan engkau Risau. Apa pun yang engkau perlu, selagi aku bisa bantu, aku bantu.”

Sejak itu, aku bertekat membantu sahabatku itu. Dari mulai biaya, sampai mengenalnya dengan para pengurus partai. Kesibukanku, membuat aku harus membantu Azman lewat Hp. Aku tak sempat bertemu dengannya. Sampai aku mendengar dia menang di pemilihan. Dan duduk sebagai Ketua di Komisi V. Mengurus pembangunan daerah tertinggal.

Kemenangan Azman, juga merupakan kebahagian buatku. Bukan aku karena berharap Azman membalas kebaikanku, tidak sama sekali. Lagipun,apa yang telah aku lakukan tak seberapa dibandingkan yang dibuat Azman kepadaku. Hanya sekali ini Azman menerima pertolonganku. Sebelumnya, sejak kecil lagi, Azman tak pernah meminta kepadaku, bahkan sering menolak pertolongan dariku.

Mendapat kabar kemenangan Azman, melalui SMS. Azman menyampaikan itu langsung kepadaku.

“Kepada sahabatku, Salim. Semua kebaikan tulus yang engkau berikan kepadaku, telah menjadi dikabulkan oleh Tuhan. Dari sekian banyak hal yang paling berharga dalam hidupku, pertolonganmu, adalah salah satunya. Semoga kemenangan ini, langkah awal kita untuk menjadikan kampung kita lebih maju lagi. Kehadiraanmu saat pelantikan nanti, sangat aku harapkan.”

“Amien. Maaf, Sahabat. Aku begitu banyak pekerjaan dalam tiga bulan kedepan. Semoga engkau tak berkecil hati,” aku membalas SMS dari Azman.

***

Itu terakhir kali aku berkomunikasi dengan Azman. Aku sempat menaruh curiga, jangan-jangan dia sangat marah karena aku tak bisa menyisakan waktu untuk datang dipelantikannya. Beberapa kali aku menghubungi Hp-nya. Tapi tak lagi aktif. Meminta kepada kerabatku dikampung, satu pun tak ada yang punya nomor Hp nya yang baru. Hingga sampai jangka waktu satu tahun lamanya.

***

Barulah malam ini, aku mendapat kabar dari Mintan. Teman sepermainan kami dikampung. Kata Mintan, Azman sedang sakit. Tiba-tiba dia menjadi tuli. Oleh sebab itu, dia lebih sering kekota-kota besar. Dari pada balik kekampung.

“Dari mana engkau tahu kalau dia sakit tuli?” tanyaku bergegas.

“Buktinya, dia tak lagi mendengar apa yang kami sampaikan. Semua apa yang kami cakap dia diam saja. Sampai-sampai nak berjumpa pun susahnya mintak ampun. Sejak dia menjadi Dewan, baru satu kali dia balik kampung. Itu pun karena menjemput emak dan adik-adiknya untuk tinggal dengannya di Kota Kabupaten,” jelas Mintan.

Aku betul-betul terhenyak. Lesu. Kulepaskan HP dari tangan. Dan membiarkan tergeletak diatas sofa. Sambil mendoakan Azman. Semoga cepat sembuh.***

Ruangsempit, Desember 2015.


Jumadi Zanu Rois, lahir di Kepulauan Meranti dan jebolan Akademi Kesenian Melayu Riau ini aktif menulis sastra dan teater. Bermastautin di Kota Bertuah Pekanbaru.
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 19 September 2018 - 13:00 wib

Dominasi Kandang

Rabu, 19 September 2018 - 12:30 wib

Epson Luncurkan Proyektor EB-L510 U dan EB L-610U

Rabu, 19 September 2018 - 12:22 wib

Aura Kasih, Tak Kuat Jauh dari Pacar

Rabu, 19 September 2018 - 12:19 wib

Bingbing, Tersangkut Kasus Pajak dan Ditinggal Fans

Rabu, 19 September 2018 - 12:00 wib

TP PKK Bengkalis Wakili Riau ke Tingkat Nasional

Rabu, 19 September 2018 - 11:50 wib

Pencairan Tunda Bayar Prioritas

Rabu, 19 September 2018 - 11:25 wib

11 Pejabat Kembali Dilantik

Rabu, 19 September 2018 - 11:00 wib

JPO Makan Korban Jiwa

Follow Us