SAJAK

Sajak-sajak Eddy Pranata PNP

3 Januari 2016 - 00.39 WIB > Dibaca 1249 kali | Komentar
 
Sekeranjang Cahaya untuk Devi Mei
- RM*
 
ke lembah tlewah jua ini malam
menapaki jalan setapak gelap berbatu
dengan cahaya handphone
menuju rumah kecil berdinding bambu berlantai tanah
dada bergemuruh
kang dartim sang penakik getah pinus
dengan empat anak dan istri bertubuh pipih
dan perempuan kecil berdada batu; si sulung bernama devi mei— ia
berangkat sekolah dengan langkah lelah dan wajah
tertunduk
seluruh biaya sekolah belum bayar
tak bisa melihat rapor
tetapi devi mei ingin tetap sekolah
matanya mengerjap basah
kalian sedang di mana?
mungkin di rumah megah
atau sedang liburan ke bali
sekali waktu datanglah ke lembah tlewah
ke rumah kecil berlantai tanah
tetapi jangan malam ya
karena jalan setapak ke situ gelap
tidak usah bawa buah atau makanan lainnya
bawa saja sekeranjang cahaya yang keluar
dari dalam hati
untuk keluarga devi mei!

Cirebah, 27 Desember 2015
 

Sayap Pagi
 
siapakah yang mengantar sayap pagi di halaman rumahku
penuh luka kecil dengan bilur ungu
 
mungkin kekasihku yang iseng saja mengantarnya
sebagai isyarat agar aku segera mengingatnya
 
ia sudah sangat rindu dan aku segera menemuinya
lalu mengecup keningnya, sekali saja
 
o, sayap pagi.
 
Cilacap, 24 Desember 2015
 
  
Kelopak Mawar
 
beberapa kelopak mawar gugur
seseorang memungutnya seraya membendung isaknya
sepertinya aku pernah melihat seorang itu
apakah dia dirimu, chin
seorang yang sangat lama tidak bersua
seorang yang bisa jadi sudah tak mengenalku lagi
ingin rasanya aku menyapanya
tapi sejurus kemudian telah berkelebat menghilang
dan beberapa kelopak mawar gugur lagi
aku memungutnya untuk menyegarkan seluruh
kenangan.

Cilacap, 21 Desember 2015
 
 
Bayangan Siapa
 
bayangan siapa yang akan muncul ketika matamu
kaupejamkan
kuharap bukan seorang pelaut yang tengah dilambungkan gelombang
dan terdampar di runcing karang.
 
Cilacap, 19 Desember 2015
 
 
Telentang di Atas Sampan
 
diam-diam kukayuh sampan ke selat
ombak kecil mengayun sampan
di tengah selat aku berhenti mengayuh
perlahan aku terlentang
aku melihat langit, awan berarak-arak
diriku kosong, hati-jiwaku kosong
ombak mengayun-ayun sampan, awan berarak-arak
langit biru muda!
 
entah untuk berapa lama— aku terlentang di atas sampan
terayun-ayun gelombang; melayari langit
: diriku kosong, hati-jiwaku kosong
awan tipis berarak di langit biru tua!
 
Cilacap, 18 Desember 2015
 

Sajak Kanak-kanak
 
perempuan itu sangat penyabar, lembut tutur katanya
dan aku sudah sangat lama jatuh cinta
sejak masih kanak-kanak kita sering bareng berburu capung
jalan kaki ke ladang yang jauh
berhujan-hujan mandi di kali
pergi-pulang sekolah jalan kaki
bahkan sering pula nonton lengger atau wayang kulit
tapi ia tak pernah menyukai aku
aku bertepuk sebelah hati
tapi aku entah mengapa tetap mengharapkannya
aku sangat suka puisi-puisinya yang imajis
aku ingin berdendang bersama atau setidaknya menghadiri acara sastra
dan baca puisi berdua!

Cilacap, 16 Desember 2015
 


Senyum Tipis
 
alangkah bersyukurnya aku sore ini
usai menebar jaring di selat yang senatiasa penuh debur
di ceruk pantai aku bertemu dengan seorang penyair yang begitu bersahaja
ia sedikit bicara, tak pernah baca puisi di pentas-pentas
ia hanya menulis dan menulis dan sesekali
memublikaskannya di media massa
puisi-puisinya nyaris semua sederhana, tapi beberapa ada yang kuat dan tajam
aku ingin sekali berlama-lama berdialog dengannya
tapi rupanya ia tidak begitu suka bercerita-cerita
ia naik ke atas sampan yang sudah berlumut
dikayuhnya pendayung membelah selat
hanya tersenyum tipis saja ia kepadaku.
 
Cilacap, 16 Desember 2015
 


Rumah Sajak
 
ruang ini hanya beberapa saat menjadi milik kita
kita tuliskan sajak sebanyak-banyaknya
lalu kita berpisah; kau ke barat aku ke timur
kita bertemu lagi di ruang yang lain
kita tulis lagi sajak sebanyak-banyaknya
lalu kita berpisah lagi; kau ke utara aku ke selatan
kita bertemu di ruang yang lain lagi
kita tulis lagi sajak sebanyak-banyaknya
kita satukan sajakku dan sajakmu
kita jangan berpisah lagi
kita jadikan seluruh sajak yang sudah kita tulis
menjadi rumah; rumah kita
rumah yang terbuat dari sajak-sajak!
 
Cilacap, 16 Desember 2015
 
 

Kukayuh Pendayung
Sampan Cahaya

 
angin malam tidak baik untukmu, kekasih
apalagi ombak memecah membasahi wajah dan tubuh
 
jangan kautolak jubahku untukmu, jubah kasih
o. lihatlah di kejauhan sana mercusuar menyala
kita hendak ke sana ke pulau kecil yang indah serupa percikan sorga
 
dan engkau memelukku sangat erat
kukayuh pendayung sampan cahayaku dengan sepenuh jiwa
sepenuh langit dan laut!
 
Cilacap, 15 Desember 2015
 
Eddy Pranata PNP, sekarang tinggal Cirebah pinggiran Banyumas, Jawa Tengah. Lahir 31 Agustus 1963 di Padang Panjang, Sumatra Barat. Sehari-hari beraktivitas di Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap. Buku antologi puisi tunggalnya Improvisasi Sunyi (1997) dan Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara (2012). Puisinya juga terhimpun dalam sejumlah antologi: Rantak-8 (1991), Sahayun (1994), Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Antologi Puisi Indonesia (1997), Puisi Sumatera Barat (1999), Pinangan (2012), Akulah Musi (2012), Negeri Langit (2014), Bersepeda ke Bulan, dan lain-lain. Puisi-puisinya juga dipublikasikan di Horison, Indo Pos, Suara Merdeka, Padang Ekspres, Riau Pos, Lampung Pos, Singgalang, Haluan, dan lain-lain.



KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 16 November 2018 - 16:15 wib

Miliki 30 Kg Ganja, Petani Ditangkap

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

BRK Ikut MoU e-Samsat Nasional

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

Formasi CPNS Sumbar Terancam Kosong

Jumat, 16 November 2018 - 15:45 wib

Desa Dituntut Gerakkan Ekonomi Masyarakat Lewat ADD

Jumat, 16 November 2018 - 15:30 wib

Pedagang Belum Tahu Kapan Direlokasi

Jumat, 16 November 2018 - 15:15 wib

50 Tim Ikuti Serindit Boat Race

Jumat, 16 November 2018 - 15:00 wib

Spesialis Bongkar Rumah Kosong Diringkus

Jumat, 16 November 2018 - 14:45 wib

Disdukcapil Mengajukan Tambahan Tenaga Teknis

Follow Us