OLEH RIKI UTOMI

Membaca Perempuan dalam Sunting

9 Januari 2016 - 22.51 WIB > Dibaca 1087 kali | Komentar
 
Tidak banyak perempuan yang  menulis karya sastra di negeri ini,  termasuk di Riau. Keberadaannya sangat jarang. Apakah dalam kategori cerpen, puisi, novel, atau naskah drama. Dari sedikit itu, tidak banyak yang bisa bertahan bahkan hilang keberadaannya dari geliat dunia sastra. Dalam konteks Riau, penulis/pengarang perempuan cukup memiliki andil dalam peta sastra Riau yang juga telah disinggung oleh pengulas lain. Sebut saja para pengarang senior seperti Tien Marni, Herlela Ningsih, DM Ningsih, Murparsaulian, Kunni Masrohanti, dan Budy Utamy. Lalu disusul yang lebih muda seperti Cikie Wahab, Alvi Puspita, Cahaya Buah Hati, Azizah Masdar, Zurnila Emhar Ch, Jeni Fitriasha, Desi Sommalia Gustina, dan Nafi’ah al Ma’rab (sekadar menyebutkan nama). Mereka pengarang yang terus menguji diri dengan karya-karyanya di kancah persaingan media sastra tanah air.

Lalu, “membaca perempuan” menjadi penting bagi saya setelah menimbang dan menelisik secara saksama sebuah kumpulan puisi karya penyair perempuan Kunni Masrohanti. Penyair Riau ini merupakan salah seorang pengarang puisi perempuan yang produktif. Melalui kumpulan puisinya Sunting, Kunni menapak jati diri sebagai sosok perempuan yang tunak berkarya sastra khususnya puisi. Di satu sisi, profesinya sebagai jurnalis tak menyurutkan langkahnya sebagai penyair sebab puisi selalu terlahir dari “rahimnya” ke tengah-tengah kita.
Buku kumpulan puisi yang berkover khas perempuan: pink (merah muda), sudah terasa auranya mewakili diri penyair yang memang perempuan. Sekaligus kata “sunting” mengarah kepada denotasi makna lugas yang melekat pada jiwa perempuan: “suatu saat (aku) perempuan akan disunting untuk melepas masa lajangnya.” Setakat itu, kumpulan puisi ini menyuguhkan realitas hidup, khususnya yang dihadapi perempuan. Kunni dalam hal ini mengambil substansi tema yang luas. Ia tidak membatasi tema—semacam tema kegemaran yang ada pada penyair lain—dalam puisi-puisinya. Hal itu dilepaskannya dengan segala daya upaya sebagai bentuk proses kepenyairannya.

Maka, tema-tema itu terus berjalan, mengalir, tumbuh, dan berkembang luas sejalan pemikiran penyairnya. Tapi tetap kepada maksud titik tolak keperempuanan sebagai obyek yang ditujukan sang penyair. Beragam tema itu boleh jadi dapat ditelisik dari latar belakang penyairnya yang berprofesi sebagai jurnalis yang setiap waktu bergelut pada masalah riil di tengah-tengah masyarakat (realitas sosial). Tapi, bukankah itu menarik? Tentu saja selama sang penyair lihai memberikan nilai-nilai yang terkandung dalam puisi-puisinya.
Puisi berjudul “Purnama Merindu” tampak memiliki kesan romantik dan memikat. Olahan diksinya sederhana begitu pula temanya seperti tema remaja. Tapi penyair terlihat mampu memilih diksi yang tertib sehingga tidak terkesan mengada-ngada seperti remaja yang dilanda asmara. “Malam berwajah terang/ purnama berpagar bintang/ pungguk telah berdendang/ mata tak henti memandang/ engkau tak jua datang”//.

Perempuan dengan segala realitasnya akan tetap mengharap seseorang sebagai bentuk harapan dalam mengarungi hidup. Karier pada perempuan tak dapat dipungkiri telah menjadi bentuk persaingan yang tak dapat dielak sehingga ia (perempuan) akan menunjukkan eksistensinya. Namun kadang harapan tersebut harus diuji, “hati bimbang/ jiwaku semakin gersang/ malamku kerinduan”//. Namun penyair tidak lepas berharap. Sebagai sosok yang kuat, melewati si Aku Lirik, ia terus maju dengan mengatakan: “… angin bawalah aku terbang/ sampai diantara bintang-gemintang.”//

Berikut dalam puisi “Akulah Perempuan Itu” terkesan kuat menggambarkan ke-Aku-an sang penyair, melewati Aku Lirik, sebagai sosok perempuan yang tak bisa dianggap sebelah mata, aku lirik menunjukkan eksistensinya bahwa ia perempuan yang tidak lemah bahkan mampu menghadapi kenyataan demi kenyataan (baca: hambatan, rintangan, ujian) simaklah, “Akulah perempuan yang kau sebut/ akulah perempuan itu/ perempuan yang kini tersudut/ bertekuk lutut//. Perempuan yang digambarkan penyair tidak serta-merta kokoh atau langsung kuat. Ibarat tokoh Hero ia memiliki rangkaian kisah dalam perjuangannya mencapai puncak keberhasilan dan bukankah dalam konteks riil kehidupan kita juga demikian? Tak ada sesuatu yang didapatkan tanpa usaha kerja keras dan doa. Tak ada kemudahan tanpa kerumitan terlebih dahulu. Dalam hal ini, penyair menyelaraskan ke dalam puisi dengan mengulang-ulang diksi  “puisi” menjadikannya seperti senjata dalam membantu dari ketidakmampuannya itu, “hingga mataku mata puisi/ kataku kata puisi/ langkahku penuh puisi/ jiwaku bermandi puisi/ akulah puisi.”//

Berikut pada puisi “Petuah untuk Anak Gadis” lebih menyuguhkan nasihat kepada perempuan. Bahwa jadilah anak gadis (perempuan perawan) yang tahu diri agar dapat menjadi utuh sebagai perempuan dan mampu kelak menarik perhatian kaum lelaki. Lebih jauh penyair tidak sekadar berbicara hal remeh-temeh semacam itu, tetapi dapat mengarah kepada pentingnya pesan orang tua dalam mendidik anak perempuannya. Dalam realitas hidup, menjaga gadis lebih rumit daripada menjaga bujang. Anak gadis keberadaannya lebih sensitif ketimbang anak bujang, lalu penyair melantunkannya lewat larik, “apalah kau ni,/ macam mana nak belaki/ jangankan urus suami/ jaga diripun kau tak ahli//. Kemudian kesadaran akan nasihat itu berlanjut, “kata mak lagi,/ gadis yang cantik menjaga diri/ bersihkan badan bersihkan hati/ bersolek berbedak bertabur minyak wangi/ harum sepanjang hari/ gadis mana takkan iri hati saat memandang bunga kesturi/ lelaki apapun datang memuji.”//

Pada puisi berjudul “Tahu Apa Kau Tentang Perempuan” penyair seperti mengungkapkan nada pesimis sekaligus nada menantang kepada lelaki. Dapat diartikan sebagai luapan “ejekan” atau memang pertentangan. “tahu apa kau tentang perempuan/ bukankah kau hanya tahu maumu/ sampai dingin semua dari ujung rambut hingga ujung kuku/ masih tak puaskah kau setelah korupsi nafsu//.” Aku lirik seperti mempertanyakan: “jangan macam-macam pada perempuan sepetiku, kau belum banyak tahu pribadiku!” maka ia dengan lantang bertanya: “tahu apa kau tentang Aku!?” kali ini penyair cukup lantang berucap dalam puisinya. Ia melewati Aku Lirik tak ingin disia-siakan karena bukankah perempuan selalu ingin eksis di tengah gemuruh kaum lelaki? Lihatlah emansipasi mereka sekarang ini, perempuan banyak merambah dalam kancah persaingan dalam segala hal.

Terakhir puisi berjudul Sunting yang menjadi tajuk kumpulan puisi ini merupakan puisi yang sangat anggun dan berkarakter. Dalam perspektif tafsiran saya diksi “sunting” memiliki kata dasar sikap perempuan yang telah di”ikat” oleh suatu peraturan resmi pemerintah/agama atau adat/budaya untuk menjadi pendamping hidup bagi lelaki. Namun “sunting” dalam puisi ini seperti mengarah kepada kesan obyek benda yang dipakai oleh perempuan yang terletak di sanggul kepalanya yang menjadi tampak indah di pandang mata sekaligus melambangkan keperempuanannya. Atas dasar itu akan terpesona orang yang akan melihatnya. “hari itu benar-benar telah tiba/ tujuh tangkai sunting/ tak lebih tak jua kurang/ berwarna kuning emas/ kesaksian abadi tak bisa dinafi/ diri tak lagi bernyanyi/ milik tuan mana sebongkah hati ini.”//

Dari semua itu dapat menjadi pijakan bagi saya bahwa penyair mengolah “geliat” kehidupan perempuan dengan segala aspeknya ke dalam puisi. Realitas perempuan memang menjadi dasar ide bagi kebanyakan penulis perempuan, seperti Yanwi Mudrikah melewati buku puisinya Rahim Embun dan Hanna Fransisca Konde Penyair Han. Keduanya penyair perempuan itu dengan giat “melantunkan” perempuan ke dalam puisi-puisinya. Barangkali juga penyair perempuan Riau yang lain, tentu tetap dengan corak khas masing-masing. Tapi yang agak sedikit kurang sreg saya pada buku ini adalah jenis huruf yang bukan seperti biasanya. Sebagai pembaca, saya cukup “terganggu” dari jenis huruf yang dipakai dalam buku ini karena dalam beberapa huruf hampir memiliki kemiripan oleh bentuk “gaya atau style”-nya. Alangkah bagusnya kalau dibuat dalam jenis huruf biasa, sepeti times new roman, arial, atau book antiqua saja sehingga menjadi “terang” dalam kefokusan bagi pembaca. Meskipun hal ini sepele—bagi saya—cukup memberi pengaruh.

Tapi tetaplah bahwa penyair Kunni Masrohanti telah menancap tonggak kepenyairan perempuan Riau yang diperhitungkan di bumi Melayu ini, selain ia kokoh dalam membawa ruh Melayu itu pada puisi, penyair Kunni juga tunak di teater yang membuat puisi-puisinya tampak berwarna. ***



Riki Utomi, penulis lepas. Penikmat sastra dan linguistik. Buku fiksinya Mata Empat dan Sebuah Wajah di Roti Panggang. Sejumlah karya telah dimuat dalam media massa dan bulletin juga dalam antologi bersama. Terakhir 2015 mendapatkan penghargaan Acarya Sastra dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Direktorat Pendidikan dan Kebudayaan DKI Jakarta. Tinggal di Selatpanjang.
KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Jumat, 21 September 2018 - 18:00 wib

Pengelola Diminta Optimalkan Aset untuk Kesejahteraan Desa

Jumat, 21 September 2018 - 17:30 wib

Apresiasi Komitmen Partai

Jumat, 21 September 2018 - 17:00 wib

Warga Dambakan Aliran Listrik

Jumat, 21 September 2018 - 16:30 wib

Real Wahid dan UIR Juara Kejurda Futsal 2018

Jumat, 21 September 2018 - 16:14 wib

Etape Terakhir Diraih Tim Sapura Cycling Malaysia

Follow Us