OLEH KEN HANGGARA

Maria Pergi ke Neraka

9 Januari 2016 - 23.16 WIB > Dibaca 1967 kali | Komentar
 
Terpaksa, kali ini, sayalah yang   harus geser tempat duduk. Saya   sudah suruh Maria geser, tetapi dia tidak mau. Dia, masih dengan boneka babi di tangan kiri, terus menerus berbisik entah kepada siapa. Sementara antrean mengular, ia asyik berdialog tunggal. “Wahai setan, hidupkan... Hidupkan anjing-anjing yang dulu mau mengejarnya!”

Saya, demi apa pun, tak merespon kegilaannya. Dari pertama kami bersama, saya tahu Maria sudah sinting dan suka berbisik sendiri; kadang kepada setan, kadang pula pada malaikat. Jika orang bertanya kenapa kamu tidak berbisik pada Tuhan, anak itu jawab: Tuhan tidak ada.
Ibu berkali-kali bilang, “Jangan ganggu Maria! Bereskan dulu otaknya kalau kamu mau ajak main!”

Saya berpikir soal robot mainan yang tidak mungkin bisa dibereskan. Saya pernah dibelikan robot oleh Bapak di hari ulang tahun kesembilan setahun lalu, dan itu rusak di tangan Maria. Saya sudah peringatkan dia bahwa itu punya saya. Saya lelaki, maka saya main robot. Dan kamu, Maria, kamu perempuan, maka kamu main boneka. Tapi dia tak mau dan melawan. Dia rebut mainan robot-robotan saya dan membantingnya sehingga rusak.

Ibu putuskan, otak anak ini rusak, paham? Saya mengangguk. Tapi saya tidak bisa menahan diri untuk tidak membayangkan, suatu hari nanti, saat Maria sedang tidur, saya diam-diam masuk kamar dan membawa gergaji. Saya gergaji tempurung kepalanya, lalu saya perbaiki otak Maria. Siapa tahu ia tidak lebih rumit dari sebuah robot.

Niat itu memang sesekali muncul dan menganggu tidur saya. Sampai mimpi buruk beberapa kali menyambangi berupa genangan darah di kamar Maria dan tempurung kepala itu kambang persis perahu di tengah danau keramat. Saat bangun, saya kira saya memang harus melakukannya. Saya bayangkan Maria benar-benar sembuh dengan cara ini. Saya tidak tahu cara apa lagi yang bisa dilakukan demi membereskan otaknya yang rusak.

Maria sungguh kacau dan membikin repot banyak orang. Di rumah, tidak ada yang mau berteman dengannya selain saya. Melihat Maria, bahkan anjing-anjing peliharaan Om Rudolf, tetangga kami, tidak sudi dekat-dekat. Mereka semua tertunduk-tunduk dan lari ke tempat jauh. Saya tahu anjing-anjing itu lumayan galak kepada saya dulunya; pernah saya dikejar sampai beberapa ratus meter. Maria yang bodoh dan tolol mencoba melindungi saya dari mereka.

Katanya, “Anjing-anjing neraka, pergilah!”

Dia ambil berbongkah batu dan menyikat empat anjing itu. Satu di antaranya mati dan lainnya menyerang. Tak kalah gesit, Maria buru-buru mengambil pisau di saku dan melempar persis ke jidat satu ekor anjing, yang kemudian kejang-kejang dan ikut mati. Dua anjing tersisa, sejak itu, entah kenapa, seperti dirasuki roh pengecut bila melihat saudaraku yang gila lewat. Tetapi itu harus dibayar dengan rusaknya relasi antara Ibu dan Om Rudolf. Padahal, kami serumah tahu, kepada lelaki itulah kadang Ibu berutang beras.

“Kamu anak sial! Anak sial!” teriak Ibu sambil memukuli pantat Maria. “Kenapa kamu bunuh sih anjing-anjing itu!”

“Itu anjing-anjing setan, Ma! Anjing setan!” sahut Maria; ia menangis keras-keras.

Saya menutup kuping karena tidak tahan. Bila anak itu menangis, dunia berguncang. Segala perabot di ruangan tengah seperti bergetar oleh suara kencang Maria. Saya tidak tahan dan takut rumah kami sewaktu-waktu roboh.

Di sekolah, pernah Ibu dimarahi kepala sekolah gara-gara Maria menggigit kuping seorang siswi hingga nyaris putus. Masalahnya sepele: siswi itu tidak sengaja meludah dan kena sepatu Maria di halaman kelas. Ia sudah minta maaf, saya tahu itu. Tapi anak sinting itu tetap tidak terima dan mengajak duel. “Ayo, mau neraka? Anjing setan!” Lalu terjadilah insiden itu. Untunglah orangtua siswi itu mau berdamai. Kalau tidak, bisa-bisa Maria di penjara.
“Dia tidak mungkin di penjara. Dia itu gila,” kata teman saya.

“Kamu juga gila, ya?” sahut teman lainnya.

“Tidak. Saya tidak gila. Saya waras,” kata saya.

Mereka tidak percaya dan bilang saya juga gila, tetapi dari jenis lain. Kalau Maria gila dari jenis terang-terangan, tidak segan melukai, atau bahkan mungkin membunuh musuhnya—karena itulah tak ada yang sengaja bikin masalah dengannya—maka saya pengidap kegilaan dari jenis munafik.

Seorang teman tertawa mendengar teori serampangan itu; ia bertanya: “Gila dari jenis munafik itu yang gimana, sih?” Pengaju teori jawab: gila itu adalah gila yang bisa membunuhmu di saat tidur.

Mereka tertawa dan mulai membahas kerangkeng untuk saya dan Maria. Mestinya sekolah tidak menerima kami di kelas yang dihuni anak-anak normal. Mestinya—begitu kata mereka lagi—saya dan Maria diletakkan di gudang sekolah yang kotor dan penuh tahi tikus, dan dipasung di sana sampai mati. Kalau kami yang mati, menurut salah satu temanku, tidak masalah. Toh juga gila. Mati tidak mati, sama-sama bikin repot.

Saya diam dan tidak membalas ucapan mereka. Tetapi, di dalam dada ini tumbuh ular berbisa, juga anjing-anjing liar yang menggeram dan siap menerkam siapa saja di malam hari. Hewan-hewan itu jahat dan dada saya mendadak penuh oleh rasa sakit.

Saya tidak tahu apakah benar hal-hal semacam ini juga gejala kegilaan. Tidak, saya tidak bicara pada Ibu karena takut melukai hatinya. Di rumah juga tidak ada orang lain selain Ibu dan Maria. Bapak kami mati beberapa bulan lalu, dengan cara yang sangat aneh: dibunuh siluman anjing. Kami—saya dan Ibu—tentu saja tidak berpikir sejauh itu. Tapi Maria sangat yakin dan berusaha membuat saya percaya juga bahwa Bapak mati di tangan siluman anjing.
“Anjing itu keluar dari sumur, kamu tahu? Sumur di belakang rumah kita. Di sana, di bawah sana, di dasar sumur yang gelap dan hitam, ada neraka jahanam. Kita jangan main dekat situ. Nanti kecebur dan masuk neraka!” kata si gila yang buat saya ketakutan setiap malam. Saya takut, sesuatu memang benar-benar keluar dari lubang sumur dan menerkam kami satu per satu: Ibu, Maria, dan saya!

Dan besoknya, kami sekeluarga ditemukan tewas. Tidak ada tangisan, karena di sini tidak ada simpati. Maria terlalu sering membuat kekacauan.

***

Saya membayangkan suatu hari Maria sembuh karena usaha saya mengoperasinya: membuat otak anak itu beres. Mungkin, dengan sebilah gergaji, saya lepas tempurung kepala anak itu, lalu saya ambil otaknya dan membawanya ke bengkel. Di gudang ada alat bertukang. Saya bisa mencari bagian-bagian yang putus di otak itu, semacam kabel atau entah apa, dan saya selotip itu, hingga Maria waras. Lalu dia mendatangi rumah tetangga kami satu-satu dan minta maaf dan tentu saja bilang, “Saya sudah waras!”

Dunia akan berbeda dan tidak ada lagi anjing-anjing setan.

Oh, ibu pasti senang mendengarnya!

Tapi setiap masuk kamar Maria dan melihat wajah tololnya menganga oleh mimpi yang entah apa—saya sering menduga anak itu bermimpi mermeluk anjing-anjing dari neraka—saya pikir Maria bisa mati akibat usaha saya. Kalau dia mati, saya tentu bisa ditangkap dan di penjara, karena saya waras. Ibu akan sedih dan jadi sebatang kara. Dan para tetangga bersorak, “Hore!”

Saya jadi bimbang dan sedih. Bimbang mengambil keputusan ini atau tidak. Sedih karena tahu hari-hari Maria tidak akan berbeda kalau saya tidak mengambil risiko: di rumah, di sekolah, di tempat umum, di mana-mana, ia bikin kacau dan malu. Saya dan Ibu yang menelan akibat, sedang si sinting itu tidak sadar; ia akan terus berbisik entah pada siapa dan terus menari dan bernyanyi dengan boneka babi di tangan. Ia akan begitu sampai kiamat, kalau dia tidak mati. Dan barangkali Maria akan selamanya begitu saat kelak, suatu hari nanti, ia mati dan pergi ke neraka.

Suatu malam Maria mendobrak pintu kamar saya dan berbisik-bisik bahwa di luar sana, dari sumur, keluar seekor siluman. Saya tidak percaya. Dia menarik saya dan menjerit-jerit. Ibu mati dibunuh anjing laknat, katanya. Saya ke kamar Ibu. Di sana Ibu sudah mati; kamar banjir darah dan lehernya koyak-moyak sebagaimana habis diterkam anjing. Mengambil senter, saya cari-cari anjing itu ke sekeliling rumah, tapi tak ketemu.

“Di mana anjingnya?” tanya saya pada Maria.

“Tidak tahu... Ngg... Tidak tahu.” Ia menggeleng gugup.

“Kamu yang benar dong! Di mana sih?!”

Maria tidak menjawab dan lari. Saya kejar dan saya guncang tubuh gendutnya. Dia bilang, “Kamu anjingnya! Kamu!” Saya jengkel dibilang anjing. Tetapi dia saudara saya. Saya tidak akan melukai. Maria bergidik dan mengusir saya dari kamarnya. Ia menjerit tak keruan sampai tembok kamar nyaris roboh ketika mendorong tubuh saya yang basah oleh keringat. Ia menarik kedua tangan cepat-cepat dan memandangi warna merah di telapaknya.

Saya baru sadar, tubuh saya bukan basah oleh keringat, tetapi darah. Maria terus berteriak, “Kamu anjingnya! Kamu!”

Saya ke dapur dan melihat gergaji itu berlumur darah. Saya minta maaf pada Maria dan memohon agar diizinkan membereskan otaknya. Dialah yang membunuh Ibu, bukan saya. Dialah anjing silumannya, bukan saya.

Dada saya mendadak sakit luar biasa. Ular berbisa dan anjing-anjing liar yang siap menerkam siapa saja di malam hari itu menyeruak entah dari mana. Mereka mengepung kami dari berbagai arah. Maria menutup kuping dan menangis sesenggukan. Saya ambil gergaji, tapi telat. Anjing-anjing lebih dulu merubung saya dan ular berbisa mematuk jidat Maria berkali-kali. Anak itu roboh. Tak lama, darah mengucur deras dari leher saya. Saat itu, saya dengar ibu berkata, “Jangan ganggu Maria! Bereskan dulu otaknya kalau kamu mau ajak main!”

***

Dia, masih dengan boneka babi di tangan kiri, terus menerus berbisik entah kepada siapa. Sementara antrean mengular, ia asyik berdialog tunggal. Tapi di sini, orang tidak peduli. Semua saling berbisik. Saya tidak tahu bagaimana kami kemari. Kepada orang di ujung antrean, ketika saya dan Maria sampai depan, di dekat dua buah pintu, saya bertanya: “Di mana, ya, Om?” Ia tak menjawab dan menuding pintu itu. Di sana tertulis: ‘Surga’ dan ‘Neraka’.***

Gempol, 3-12-15

Ken Hanggara, lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, dan esai. Karya-karyanya tersebar di berbagai media lokal dan nasional.
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 21:31 wib

Ini Alasan Sebagian Caleg Golkar Dukung Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 21:04 wib

Buni Yani Bergabung di BPN Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 20:26 wib

PDIP Apresiasi Tranparansi Laporan Awal Dana Kampanye

Senin, 24 September 2018 - 18:52 wib

Belum Mau Nikah

Senin, 24 September 2018 - 18:40 wib

Telur Jadi Tidak Sehat Bila Dikonsumsi Bersamaan dengan Lemak Jenuh

Senin, 24 September 2018 - 17:48 wib

Ika Surtika Senam Bugar di UIR

Senin, 24 September 2018 - 17:43 wib

Calon Anggota DPRD Inhu Bertambah Jadi 531 orang

Senin, 24 September 2018 - 17:41 wib

Komunitas BIJAK Dilatih Tim Desa Binaan LPPM Unri

Follow Us