OLEH ALPHA HAMBALLY

Membaca Puisi, Merasakan Kelam Sejarah Indonesia

17 Januari 2016 - 01.01 WIB > Dibaca 1650 kali | Komentar
 
Puisi-puisi bertema sejarah —entah tokoh atau peristiwa— masih menjadi pilihan bagi pembaca puisi di Indonesia, dan masih hadir di media lokal maupun nasional setiap minggu. Puisi bertema sejarah Indonesia bagi saya seperti semen di antara batu-batu bata, sebagai perekat pertanyaan-pertanyaan yang akan tersusun menjadi sebuah bangunan, tapi saya belum tahu apakah bangunan itu nantinya kokoh atau malah runtuh.

Tentunya sejarah sebelum penjajah datang, masa-masa pergerakan, maupun setelah kemerdekaan menjadi sumur yang tidak pernah kering bagi penyair-penyair dalam berkarya.
Beberapa yang sering muncul dalam puisi yang saya maksud, seperti tokoh-tokoh pada masa pergerakan yang kadang masih dianggap tabu oleh masyarakat hari ini. Di luar ideologi-ideologi yang dibawa oleh masing-masing tokoh, tapi tujuan mereka satu, yakni melepaskan diri dari penjajah.

Misalnya Ahda Imran yang menghadirkan Tan Malaka dalam buku Rusa Berbulu Merah. Triyanto Triwikromo dalam buku Kematian Kecil Kartosoewirjo. Puisi "Sjahrir, di Sebuah Sel" karya Goenawan Mohamad atau puisi pendek Binhad Nurahmad "Komunis Curah Malang  Semaoen".

Penyair-penyair muda juga tidak ketinggalan dengan gaya yang lain. Misalnya Esha Tegar Putra dengan puisi "Thamrin" yang saya kutipkan sedikit baitnya di bawah ini;
“Telah aku cintai pula kota ini, Thamrin. Seperti kucintai kota di pedalaman Sumatra, dengan segala kekurangan dan kelebihan.”

Dari teks "Thamrin"  saya menangkap si "aku" yang datang ke Jakarta, merasakan kejamnya ibukota, tapi membawa Thamrin dalam igaunya. Kenapa Thamrin, bukan yang lain. Kisah tentang Thamrin pernah saya dapat dari novel Jejak Langkah Karya Pramoedya Ananta Toer. Thamrin Mohammad Tabrie, nama lengkapnya, juga salah satu tokoh di balik berdirinya Syarikat Islam. Di mana kemudian berubah menjadi Syarikat Dagang Islam, dan entah kenapa yang diajarkan pada saat saya sekolah menengah lebih banyak catatan sejarah tentang SDI dan Cokroaminoto daripada Thamrin sendiri.

Hal tersebut yang hendak dibawa oleh penyair, agar pembaca mengingat kembali Thamrin sebagai salah satu tokoh pergerakan di masa-masa kolonial, meskipun Pramoedya menulis Thamrin “bersedia memberikan bantuan, asalkan, asalkan, asalkan tak ada sesuatu yang bertentangan dengan hukum yang berlaku.” (Halaman 288: Jejak Langkah). Pada masa itu mungkin Thamrin masih takut dengan pemerintahan Hindia-Belanda, maka puisi Esha Tegar Putra berkesempatan membalas “agar ketakutan demi ketakutan dan bala demi bala hanya datang dan bersarang di mimpi paling buruk.”

Berlanjut ke peristiwa setelah kemerdekaan. Tentang pembantaian PKI. Di dalam puisi Sartika Sari yang berjudul "Kampung Kolam". Meskipun awalnya ketika membaca puisi ini saya tidak sadar bahwa Sartika Sari membawa suatu hal yang mengerikan, yang pernah terjadi;

Mengikuti kakek berjalan menuju ladang di ujung jalan. petani dan warga kampung yang dulu dipenggal kepala, dibenamkan ke kolam atau yang mati
diam-diam tidak datang pagi ini. mungkin sedang sibuk menyiapkan strategi pembalasan, atau penitipan dendam pada anak-anak, tapi bukan pada kakek karena ia masih terus meraba-raba jalan.


Peristiwa yang tidak hanya terjadi di "Kampung Kolam" adalah luka terbesar bangsa. Seolah ada pihak yang menutupi atau apapun itu, yang tidak habis apabila ditulis di sini. Meskipun bukan orang hukum, tapi saya yakin tidak ada hukum yang menghalalkan pembantaian.  
Selanjutnya masih di zaman Orde Baru. Tidak bisa saya bayangkan betapa besar dosa Soeharto. Ketika memahami puisi Ramon Apta "Menggugat Nota Merah" yang bagian awalnya berbunyi, “Bukan maksud kami/Mengumbar puisi merah hati/Tatkala kau beri surat merah ini.//Kami hanya ingin meminta lampu/Untuk menerangi gelapnya matahari/Yang kau curahkan siang ini.”

Sesuatu yang dapat saya ambil dari teks puisi "Menggugat Nota Merah" adalah sebuah bentuk puisi perlawanan. Sambil membayangkan bagaimana dulu Wiji Tukul atau W.S Rendra pada masa Orde Baru.

"Nota Merah",  mohon maaf apabila saya tangkap secara sentimen sebagai simbol. Simbol berkuasanya militerisme di atas kita pada waktu yang lalu, “Namun bila hanya karena panjang sebelah kaki/Lalu kau tuduh kami hendak/ Mengencingi seragam polisi.”, karena dalam puisi tersebut ada kata "kau" dan "polisi".

Sekitar tahun 1983-1985, terjadi peristiwa yang dikenal dengan istilah penembak misterius (Petrus). Mengutip sedikit esai Budiawan di buku kumpulan cerpen Petrus karya Seno Gumira Ajidarma, bahwa militer secara tersembunyi pernah menyatakan perang terhadap kejahatan yang seharusnya menjadi tanggung jawab polisi dan lembaga hukum.

Korban-korban pada peristiwa tersebut menelan lebih dari 10.000 jiwa, karena ternyata bukan hanya pelaku kejahatan yang dimusnahkan, melainkan juga "yang diduga" pelaku kejahatan dan penjahat yang sudah bebas dari pidana. Dan puisi “Menggugat Nota Merah” karya Ramon Apta secara tidak langsung ada di dalam kejadian tersebut. Dalam bait “Tentu kami akan menjadi api/Bagi tikus-tikus busuk/Yang menyesaki lumbung padi.//Dan ketika kau membicarakan harga/Karet penghapus untuk menghilangkan cap jari/Pada bagian kanan bawah surat merah ini” telah menjadi refleksi untuk mengingat kembali Petrus yang terjadi karena alasan ekonomi. Juga menggugat Soeharto, tentunya.

 Kemudian yang terakhir karya salah satu penyair muda Pekanbaru, Boy Riza Utama berjudul "Melipat Hujan: Jugun Ianfu". Puisi deskripsi si "kami" dalam peristiwa pertemuan tidak sengaja dengan seorang tua (mungkin saksi hidup) yang berkata, “Di kampung kami, semua wanita adalah tembang. Kau harus menghapalnya dan boleh juga keindahannya dinikmati bersama”

Jugun Ianfu juga tercatat sebagai kejadian masa lalu yang tidak manusiawi. Di mana perempuan dijadikan budak seks di koloni Jepang, salah satunya di Indonesia. Puisi karya Boy Riza Utama mencari sesuatu dari kesamar-samaran, dua kalimat yang menguatkannya adalah “Di mana gadis kecilnya menukar kerlingan dengan uang” dan “Apakah pada tunggangan Jepang yang kau parkir itu, tersimpan nama adikku? Dikatanya, Aku rindu".

Maksud saya, betapa pahitnya apa yang terjadi di pihak perempuan yang menjadi korban maupun pihak keluarga yang kehilangan, sehingga di puisi tersebut ada dua pertanyaan yang maksudnya sama dari dua orang yang berbeda. Kekejian Jepang yang mau tak mau harus dimaafkan, telah dilipat Boy Riza Utama ke dalam hujan.

***

Puisi-puisi beberapa penyair yang saya sebut di atas bukan ingin bermaksud mengubah catatan sejarah. Catatan-catatan sejarah tetap menjadi ruang kerja sejarawan. Penyair sekadar menghadirkan, secara tekstual yang baik tentunya. Berdasarkan dorongan atau naluri yang dikatakan Freud, ungkapan-ungkapan para penyair ini yang lahir dari sejarah yang kelam. Juga kemanusiaan. Di sanalah tugas sastra, khususnya puisi bergerak dalam ruang-ruang yang seperti itu.

Puisi bertema sejarah ini menurut saya harus dipertahankan. Karena masih banyak sejarah Indonesia —tokoh dan peristiwa— yang belum dihadirkan dan masih dianggap tabu oleh masyarakat. Saya selalu menunggu apabila ada penyair-penyair muda yang memuisikan tokoh-tokoh seperti Cut Nyak Dien, Siti Soendari, Marco Kartodikromo, DN Aidit, dll. Atau perang di Aceh dan Bali yang konon katanya sulit ditaklukan oleh Kompeni.

Namun setelah beberapa waktu lalu Norman Pasaribu menjadi Juara 1 Lomba Cipta Puisi yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta dengan membawa tema homoseksual, saya sedikit ragu apakah tema-tema sejarah masih akan bertahan beberapa tahun ke depan, dan diminati penyair-penyair muda.

 Di mana karya sastra menurut saya adalah cerminan bangsa, apa yang bisa kita bawa dan ceritakan ke dunia. Selain sejarah mungkin penyair bisa menggali tema lokal, kuliner, dll. Karena apabila puisi seperti Norman Pasaribu diterjemahkan, lalu dibaca oleh seorang sastrawan luar, kira-kira menurut anda, apa yang akan dikatakan seorang sastrawan luar tersebut?***

Alpha Hambally, lahir di Medan, 26 Desember 1990. Menamatkan pendidikan di ITS Surabaya. Pembaca dan penulis puisi. Esainya pernah dimuat di Riau Pos. Juara 1 Lomba Menulis Feature di buruan.co (Didukung oleh Balai Bahasa Jawa Barat dan Jual Buku Sastra). Puisinya pernah dimuat di Riau Pos dan Pikiran Rakyat. Termaktub dalam kumpulan puisi Bendera Putih untuk Tuhan Riau Pos 2014 dan Pelabuhan Merah Riau Pos 2015. Kini tinggal dan berkarya di kota Pekanbaru dan bergiat di Komunitas Paragraf.

KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 14:34 wib

145 Perusahaan Ikuti Pameran Listrik Cerdas

Kamis, 20 September 2018 - 14:30 wib

Kemenangan Dramatis

Kamis, 20 September 2018 - 14:24 wib

Transmart Carrefour Gelar Fashion Carnaval

Kamis, 20 September 2018 - 14:21 wib

20 Model dan Ikon Tampil di Pekanbaru Runway 2018 CS Mal

Kamis, 20 September 2018 - 14:11 wib

Pamflet Undangan Diskusi Divestasi Newmont itu Hoax

Kamis, 20 September 2018 - 14:00 wib

Momen Kebangkitan Hendra/Ahsan

Kamis, 20 September 2018 - 13:56 wib

Ayola First Point Promo Kamar selama September

Kamis, 20 September 2018 - 13:43 wib

E-commerce Bebas Asing

Follow Us