OLEH NOVALDI HERMAN

Ledakan Kembang (Api) Gula Nenek

17 Januari 2016 - 01.33 WIB > Dibaca 2009 kali | Komentar
 
Tangan kiri saya digenggamnya   erat- erat, sementara di sebelah  lainnya saya asyik memegang tangkai kembang gula yang warnanya merah muda mempesona. Manis memang, sesekali saya gigit agak besar dari ukurannya yang aduhai lebar itu. Setiap kali saya tawari, Nenek selalu saja mengelak enggan.

Agak lelah kaki kami melangkah. Nenek lelah karena memang untuk ukuran usianya, ia tak akan sanggup berjalan sesuka hati tanpa berhenti dari pasar ke rumah kami yang jaraknya dari bakda Ashar hingga menjelang Maghrib bila ditempuh berjalan kaki itu. Saya lelah karena memang ingin bermanja-manja dengannya. Sebabnya nenek selalu baik, bahkan ketika berhadapan dengan saya yang kerjanya mengeluh saja.

“Nek. Kita duduk sebentar di kursi itu, mau ya?” ajak saya yang berpura-pura letih. Dada saya naik-turun bak Usain Bolt selesai berlari setengah mati di Olimpiade Beijing. Tepat di sebuah bangku berlapis cat putih yang agak kusam di bagian kaki-kakinya. Mungkin terpaan lanyah atau bercak pasir yang lanting oleh air hujan.

Nenek tersenyum. Duga saya, ia tahu lelah itu hanyalah pura-pura. Mungkin pula ia sendiri ingin sedikit menghabiskan waktu romantis dengan saya cucunya di bangku tepi jalan itu. Sore hari yang begitu indah.

Ia hanya mengangguk. Jawaban itu sudah cukup sebagai tanda setuju darinya. Tangan kiri saya di genggamannya ditarik perlahan untuk berjalan mendekati kursi itu. Sejurus, kami telah duduk.

Nenek menatap saya sembari tersenyum sendu. Sesekali dibenarkannya kepang dua dari rambut saya yang terbilang panjang untuk seorang gadis yang telah beranjak remaja. Saya abai, tetap saja asyik menikmati kembang gula yang dibelikannya. Masih saya tawarkan padanya, Nenek kembali menggelengkan kepala.

Benar memang, sedari kecil saya sering diajak berjalan-jalan ke pasar oleh nenek. Hanya saja setiap kali melalui pedagang kembang gula dan saya merengek kepadanya, nenek enggan jua membelikan. Entah apa sebab, hanya saja kali ini ia berlunak hati menawar satu batang kembang gula dan memberikannya pada saya. Hari ini nenek begitu berbeda.

“Nek? Hari ini nenek baik, kenapa membelikan Dina kembang gula?” tanya saya memecah suasana.

Bibirnya menciut, dahinya mengerut. Duga saya, ia tengah berpikir keras tentang apa alasannya. Saya tak memaksa, sekali saja bertanya itu sudah cukup. Tak dijawabnya pun tak jadi soal.

“Dina,” jawabnya pelan. “Benar mau tahu alasan nenek tak pernah membelikan kembang gula untuk Dina selama ini?”

Saya mengangguk cepat mendengar ujarannya itu. Saya pesongkan badan sedikit menghadapnya. Mencoba khidmat mendengar baik-baik.

“Nenek bukan tak mau membelikan. Hanya saja nenek punya kisah pahit setiap kali membeli kembang gula. Biar nenek ceritakan satu per satu. Mau mendengarnya?

Lagi-lagi saya mengangguk cepat. Tak saya potong ucapannya dengan sepatah kata jua. Nenek menghela nafas. Ia benarkan gamisnya sesaat, lalu menyambung kembali kisahnya.
“Semasa nenek bersekolah dulu, ayah nenek jadi seorang guru. Baik ia, mengajak nenek bertemu Bapak Presiden di Cikini. Diajak hendak melihat hari ulang tahun perguruan tempatnya bekerja. Untuk ajakannya, dibelikannya nenek sebatang kembang gula. Manis, itu hari pertama nenek mengecap makanan berbentuk busa itu.

“Namun aduhai! Saat itu meledak satu suara keras. ‘Bom!’ begitu kakek buyutmu dan nenek dikejutkan bunyinya. Takut, kembang gula itu hampir jatuh dari genggaman. Usut punya usut, ayah nenek berkata kalau itu bom yang meledak untuk mengancam Bapak Presiden kita.”

“Nek,” gugup saya. “Apa nenek waktu itu tak apa-apa?”

“Ya. Tak apa-apa. Itu kisah pertama nenek dengan kembang gula. Tak semanis rasanya. Ada lagi yang lain. Dina masih mau mendengarnya?”

Lagi-lagi saya mengangguk. Saya masih diam, menunggu terusan ceritanya.

“Agak besar, tahun tujuh enam kalau nenek tidak salah ingat. Nenek pindah ke Padang setelah menikah dengan kakekmu, Din. Nenek yang tengah dibawanya berjalan-jalan di alun-alun kota dibelikan setangkai kembang gula. Tapi sebentar saja, tiba-tiba dentuman keras berbunyi saat kami melintasi sebuah masjid. Gemetar tangan nenek,  kembang gula itu terlepas dan jatuh  ke tanah.”

Saya masih menyimak, tak sepotong kata pun menyelanya.

“Tahun delapan lima pula, nenek pindah ke kampung buyutmu, Din, di Banyuwangi. Ibumu yang mulai beranjak remaja hendak menyantri di tempat ustazah kenalan nenek. Satu malam saat nenek mengantarkan ibumu ke pesantrennya, nenek sempatkan membelikan setangkai kembang gula. Seumuran kamu kalau tidak salah, ia nikmati makanan manis itu sambil menunggui bus. Tapi, aduhai! Kami terkejut mendengar ledakan keras. Api meluber dari jendela sebuah bis besar. Cerita banyak orang, itu karena kejadian di Tanjung Priok. Nenek juga tak tahu maksudnya. Nanti kamu carilah di rumah tentang kejadian itu, Din.”

Saya terdiam. Saya coba raih tangan nenek, tapi ia mengelak. Nafasnya masih ditarik perlahan. Lalu dengan masa diam beberapa detik itu, ia kembali menyambung ceritanya.
“Ulah tukang ledak di bis malam itu, ibumu tak jadi disantrikan. Nenek dan ibumu kembali, kami lagi-lagi ke ibukota ini. Ibumu masih sering takut. Olehnya, nenek sering mengajaknya jalan-jalan seperti ini keliling kota. Satu sore pula, nenek belikan lagi ibumu kembang gula. Untung takutnya berangsur-angsur hilang, dikecapnya jua sedikit-sedikit.

“Tapi lagi-lagi, aduhai! Sesal nenek mengajaknya sore itu berjalan-jalan ke kota. Hotel Presiden, saat tepat di depan sana nenek dan ibumu melihat roket ditembaki oleh orang asing. Cerita orang-orang yang menembak itu orang Jepang. Ditembakinya gedung-gedung kedutaan yang ada di sekitar sana. Berlarian kami berhamburan meninggalkan tempat itu. Kembang gula di genggaman ibumu, tak ada lain selain jatuh ke tanah. Tangannya yang halus gemetaran sebab takut. Sejak itu nenek tak lagi mau membeli satu pun kembang gula untuk siapapun.”

Saya dengar keluh nenek. Semakin saya dengar, semakin iba rasanya tiap cerita-cerita itu. Saya tahu, bukan salah nenek membeli kembang gulalah api-api itu meledak.

“Nek,” seru saya.

 “Usahlah nenek mencemaskan itu. Tak semua disebabkan kembang gula nenek. Ayo, nek, kita pulang. Rumah sudah dekat. Biar Dina carikan kabar kalau tak semua api-api yang meledak itu tersebab kembang gula dari nenek.”

Nenek tersenyum. Ia pegang tangan saya, terasa agak dingin.

“Pulanglah, Din,” ia menyeru. “Nenek tunggu di sini. Biar nenek pegangkan kembang gulamu. Ke rumahlah, lalu carikan nenek kabar api-api yang meledak lainnya yang bukan dari kembang gula.”

Saya anggukkan kepala, lalu lekas berlari ke rumah. Saya bongkar semua tumpukan majalah dan koran, teliti satu per satu kejadian api-api yang meledak dari tahun ke tahunnya.

“1991, anak buah gerilyawan Fretilin, Kay Ralla Xanana Gusmao meledakkan bom di Demak, Jawa Tengah. Krisis di Timor Timur memuncak pada peristiwa Santa Cruz, di Dili. Satu Hotel turut diledakkan di Surabaya.”

“Januari 1998, bom meledak di rumah susun Senen, Jakarta. Di tahun yang sama tempat parkir kendaraan di sebuah plaza di Jakarta Pusat diledakkan. Sejumlah mobil rusak berat.”

“1999, pusat perbelanjaan di Jalan Sabang, Jakarta Pusat diledakkan.”

“12 Oktober 2002, bom meledak di sebuah klub malam. Dua restoran di Jalan Legian, Kuta, Denpasar, Bali hancur, menewaskan 187 orang dan 385 luka-luka.”

“5 Agusutus 2003, bom meledak di komplek perhotelan Jakarta. Pelakunya, Asmar Latin Sani, mengendarai mobil berisi bahan peledak. Model bomnya menggunakan bahan campuran organik dan anorganik. Korban  tewas 14, dan luka-luka 156.”

“10 September 2006, bom meledak di Kedutaan Besar Australia, Jakarta. Jumlah korban sekitar 6 sampai 9 orang. Korban yang tewas satpam kedubes dan pemohon visa.”

“1 Oktober 2005, bom meledak di Kuta Bali. 22 orang tewas dan 196 orang luka-luka. Bom meledak di tiga tempat.  Tragedi ini disebut Bom Bali II.”

“17 Juli 2009, bom meledak di komplek perhotelan di Jakarta. Ledakan bom merupakan yang kedua kalinya setelah 2003. Sembilan korban tewas dan puluhan luka-luka.”

“April 2015, empat orang cedera akibat ledakan di pemukiman padat penduduk di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu petang itu. Ledakan terjadi di dalam sebuah rumah bedeng dari papan dan triplek di sudut sebuah lapangan di belakang Gang Kayu Mati, Jalan Jatibunder, Tanah Abang, sekitar pukul 15.00 WIB.”

“Juli 2015, bom meledak di sebuah mall di Tangerang, Banten.”

“28 Oktober 2015, bom kembali meledak di sebuah mall. Saksi mata menerangkan ada suara ledakan pada pukul 12.05 di dalam toilet kantin karyawan di lantai LG. Polisi menangkap seorang pelaku tunggal.

“November 2015, ledakan terjadi di Jalan Raden Inten, Duren Sawit, Jakarta Timur, pada Senin (16/11) dini hari WIB. Berdasarkan keterangan sejumlah saksi mata kepada aparat, ledakan berlangsung di seberang Gedung Senam pada pukul 03.30 WIB. Diduga pelaku memakai granat tangan.”

Saya kumpulkan semua. “Nenek harus melihat ini,” ujar saya dalam hati. Berharap ia tak lagi menyalahkan kembang gulanya menjadi pemicu api-api yang meledak itu.

Saya berlari, hendak lekas menyusul nenek. Sepintas lalu saya melewati televisi. Ia tengah menyala. Saya lihat sepintas, aduhai! Saya berhenti. Saya saksikan seksama apa yang diberitakannya.

“Sebuah ledakan kembali terjadi. Kali ini ledakan skala sedang terjadi di taman kota. Diduga merupakan aksi bunuh diri. Selain pelaku, seorang wanita baya ikut menjadi korban dalam kejadian tersebut. Sebatang kembang gula terlihat terlempar di sekitar lokasi kejadian.”***

Pekanbaru, 15 Januari 2015

Penulis merupakan alumni Hubungan Internasional, Universitas Riau. Memiliki minat dalam kajian sosial dan politik. Juga menggemari karya sastra fiksi, terutama cerita pendek (cerpen) dan novel. Beberapa cerpennya diikutkan dalam beberapa perlombaan tingkat daerah dan nasional serta dibukukan.


KOMENTAR
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 13:30 wib

Jessica Raih Emas Kejurnas Piala Panglima

Senin, 24 September 2018 - 13:23 wib

Nasabah BRI Juanda Dapat Xenia dari Simpedes

Senin, 24 September 2018 - 13:16 wib

Paripurna Molor 6 Jam, 11 Anggota Dewan Bolos

Senin, 24 September 2018 - 13:00 wib

Joshua Penuhi Janji

Senin, 24 September 2018 - 12:55 wib

Setujui Tobasa Jadi Toba

Senin, 24 September 2018 - 12:31 wib

12 Jamaah Haji Nagan Belum Kembali

Senin, 24 September 2018 - 12:30 wib

Marquez Juara di Aragon

Senin, 24 September 2018 - 12:30 wib

Flyover Ditunda

Follow Us