SAJAK

Sajak-sajak Anju Zasdar

17 Januari 2016 - 10.51 WIB > Dibaca 1056 kali | Komentar
 
Mencatat Sisa

1.
genangan air hujan
membentuk sebuah jalan
­—di dinding kamar
ada serangga, susah
payah membawa tubuhnya
ke tempat paling aman
tapi waktu terlampau gesa
untuk sesuatu yang tiba-tiba

2.
ketika itu bulan hampir raib
dan fajar segera tiba
kau putuskan, bersandar
pada dingin yang menawan
lalu kau berbagi gigil
pada bangku di halaman
pada rumput basah selepas hujan

setiap detik adalah hari lalu
hari depan dengan jantung membiru
demikianlah waktu, selalu kemas
untuk sesuatu yang tak tuntas



tabur bunga
—untuk Syamsidar

suaramu jauh menekan ke dalam dada
seperti angin menyentak dedaun basah
serupa kafilah menetak pada purnama

karena itulah, aku menjengukmu
perempuan yang melahirkan
anak-anak waktu

maka, sebagai fajar
yang kerap gemetar
aku datang, bersama
rindu yang berlari
dari kegelapan sepi
membawa sepotong langit
sebagai persembahan
tidur panjangmu

ketahuilah,
bahwa segenggam cintaku ini
tak berkurang sekedip mata
selalu merekah bagai senja
seperti wangi makammu
penuh bunga-bunga



pesan perawat

sepulang dari klinik 24 jam
ia ingat kembali pesan perawat

setelah ini, mulailah bangun pagi
hindari rokok dan juga kopi
jadilah malaikat bagi diri sendiri

bila senja telah tiba
tutup semua pintu
dan jendela
—termasuk telinga
biarkan mulut tetangga
mencatat namanya
dalam daftar dosa

ketika pagi menjelang
mandikan tubuhmu
dengan air hangat
sebab malam yang kau lewati
demikian dingin dan berat

setelah itu, bayangkanlah sesuatu
semisal aku tak lagi di sisimu



rumah hijau

kau menyusun kita demi kita
menyisihkan sejumlah kata sia-sia
agar esok, dan akan datang
kita lebih belajar bimbang, katamu

“resahmu resaku juga, bukan?”

namun sejauh mana kita itu bertahan
saat alam benar-benar dingin
seluruh kata berubah bentuk berubah warna
bahkan pada kita yang semula kata percaya

“resahku resamu juga, bukan?”

barangkali,
kata hanya mencoba kita
kita hanya berlagak bimbang
pada esok, dan akan datang




perintah majikan

jembatan layang waktu dini hari
kilau lampu menyorot tubuh sepi

di bawah langit hitam pukul tiga
pencabut nyawa menjalankan titah

“sudah waktunya pulang, tuan,” kata
pencabut nyawa kepada buruannya.

tak ada saksi mata, hampa semesta




gadis cantik

dan bulan haru—melindap
pada sepasang langit gelap

gadis cantik bersahaja
dirisak bimbang matanya basah
ditenung bayang hati tersepah
cuma sisa kulai langkah

pagi hari hujan turun
menabik rumput purun
gadis cantik diam saja
menerima kehendak dewa




rahasia kecil

cinta yang besar bermuala dari pertemuan yang kecil
lalu senja membungkusnya, dari rahasia ke rahasia


Anju Zasdar, lahir di Pekanbaru, 13 Mei 1983. Menikmati dunia sastra sambil terus belajar menulis. Bergiat di Komunitas Paragraf dan menetap di Pekanbaru.


KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 21 November 2018 - 15:54 wib

Prabowo Pasti Tepati Janji Tuntaskan Masalah Honorer K2

Rabu, 21 November 2018 - 15:50 wib

Tim Kampanye Jokowi Manfaatkan Popularitas Djarot

Rabu, 21 November 2018 - 15:45 wib

Dewan Rekomendasikan Cabut Izin PT MAS

Rabu, 21 November 2018 - 15:30 wib

Gunakan Sampan, Kapolres Jangkau Lokasi Banjir Temui Warga

Rabu, 21 November 2018 - 15:00 wib

APBD 2019 Rp1,47 T

Rabu, 21 November 2018 - 14:45 wib

Fokus Siapkan PK, Nuril Minta Perlindungan LPSK

Rabu, 21 November 2018 - 14:42 wib

141 Kades Tersangka Korupsi

Rabu, 21 November 2018 - 14:39 wib

Jadwal Pemeriksaan Kesehatan JCH Sesuai Konfirmasi Diskes

Follow Us