SAJAK

Sajak-sajak Kamil Dayasawa

17 Januari 2016 - 10.56 WIB > Dibaca 1952 kali | Komentar
 
Kidung Batang-Batang

Tinggal kedip mata di remang malam
Jalan tak lagi panjang, hanya sejengkal ke pelabuhan
Di dadaku ratusan gelombang bersatu
Membentuk menara waktu

Pesisir semerbak bangkai ikan
Perahu-perahu terayun rindu larung
Kasur pasir terhampar di kamar lengang
Legung bersandar pada dinding pualam

Tanah buaian dirampas kemarau panjang
Tangan-tangan rapuh terentang di bawah matahari siang
Sebagai lelaki aku bekerja
Sebagai perempuan akusetia

Di punggungku semua jalan tak pernah buntu
Sawah dan ladang, laut dan bukit
Segala sakit akan tumpas di mata celurit
Semua duka akan sirna di ujung doa

Ambil bajak gemburkan tanah, kuburkan setiap resah
Tembakau-padi telah berjanji, memberi napas paling puisi
Gadis-gadis peniup api tungku
Tetap setia mengukus jiwa yang layu
Biar mata pedih bibir ngilu

Angkat jangkar layarkan sampan
Lihatlah ketabahan ombak lautan
Berhilir dari tengah samudera ke tepi pantai
Hanya untuk mengirim kabar, tentang nelayan kedinginan

Bila malam cukup terang
Kuhampar tikar pandan, kukenang wajah moyang
Keriap daun siwalan sayup-sayup bagai tangisan

Bintang nenggala hijrah ke selatan
Isyarat langit segera hujan
Musim menebar pujian
pada garam, tembakau, padi
yang menyimpan hangat napas petani

Tubuhlegam dilumuri batu kapur
Tampak pucat bagai mayat
Melangkah di jalan-jalan aspal
Lambaikan tangan padaku:
Ibu yang takut pada gincu
Ayah yang pantang memuja seberang

Banyak kusaksikan rumah megah
Pagar menghadang begitu gagah
Seolah berkata pada pejalan
: Beri jarak sejauh sumur dan bulan

O, langit malam
Kenapa tak kudengar lagi suara bocah mengaji
Langgar-langgar dipungut sunyi
Jam bintang. Jam matahari
Hilang dari langit puisi

Pecinan berdoa di kubur leluhur:
Jumat pagi-Jumat senja
Kembang kamboja gugur bersama

Titian batang kelapa di sungai kecil
Ibarat legam lengan petani
Air mengalir biarkan ke hilir
Riciknya adalah nada-nada zikir

Nyabakan purnama membakar dupa
Ruh batu-batu moksa
Penandak berdiri tegak di hulu makam
Para Bajing menangkap angin di cungkup lengang

Kembang tujuh rupa kutebar sepanjang jalan
Angin ganas menampar daun-daun ketapang
Anak-anak layangan lari menggiring malam
Berselempang angan, nasib buruk, yang terus memanjang

Tapi kutahu pagi akan jelang
Seiring cericit burung pada dahan
Seperti jalan yang tak panjang
Akan melahirkan ribuan cabang

Piyungan, 2015


Sepasang Sapi

1/
Di muka kandang sering kusaksikan gelisah sapi sepasang
Lenguh panjang bagai nyanyian mengusik lelap nurani ladang
Dua-tiga burung jalak hinggap di atap, siulnya serupa ratap
Bau kotoran menyerbu hidung, pada angin siang aku berlindung

Mungkin tampar di lehernya terlalu erat mengikat
atau seikat rumput hijau tak lagi memberi hasrat
Siang dan malam tak memberinya pemandangan bintang
Walau di sepasang matanya selalu kulihat taburan kekunang

Seperti matamu di malam-malam panjang
terangi kelam hidupku yang malang

2/
Karena itu sering kubayangkan
Kita sebagai sepasang sapi dalam kandang
Berlindung dari panas dan hujan di bawah satu atap
Jam berdentang tahun memanjang tak bisa saling dekap

Seperti ada dinding gaib pemisah raga
Berulangkali coba dirobohkan tapi tak bisa

Bila tiba waktu gembala datang membawamu  
dikawinkan dengan pejantan
dipaksa hamil dengan cara perkosaan
Aku yang terperangkap dalam senyap
melihat langkah kakimu terasa begitu berat

Bila aku berontak, benturkan tubuh pada palang, tiang pancang
Orang-orang akan datang merubuhkanku di tanah lapang
Kilat mata pisau di tangan legam akan merobek leherku
Bersama aum penghabisan yang panjang

Di muka kandang sering kusaksikan gelisah sepasang sapi
Seperti gelisah kita menghitung hari

Piyungan, 2016



Napas Petani

Napasmu hangat angin kemarau berdesau harum tembakau
Tanah kerontang pantang tumbuh pohon sebatang
Kauhujani keringat kuning, air mata doa yang bening
Kembang-kembang putih kuntum, daun-daun mekar
Mata cangkul bicara pada akar ihwal panen dan penantian

Di sudut sawah kau lelah, rumput liar menjangkau betismu
Kawanan burung terbang ke arah senja penghabisan
Kaupandang dengan mata nyalang, kelam musim hilang

Sebab hujan tak pernah bisa menghapus kenangan
Pada angka-angka kalender musim tanam
Kauhentakkan kaki ke bumi tiga kali
Belalang-belalang kecil berlompatan
Menjangkau tanganmu yang legam

Piyungan, 2015


Sajak Tahun

Getar suaramu di hulu malam
Menuntunku ke tengah padang
Deretan pohon-pohon panjang
Bagai orang-orang dari masa silam

Tak ada suara petasan kecuali di kejauhan
Juga lengking terompet yang malang
Tanah pasir berdesir dihempas angin bukit
Bintang-bulan khusuk mengeja firman
Kulitku remang saksikan khotbah rumputan

Piyungan, 2016



Burung Malam

Pada jejak langkah entah keberapa
Kaubenturkan tubuh pada menara
Lampu-lampu kota padam, bulan tak datang
Jauh di selatan sekumpulan lelaki berbaju hitam
Menyanyikan himne di bawah patung pangeran
Burung-burung malam di dahan, mendekap sayap
Sepasang matanya bagai jendela setengah terbuka

Jam kota berdentang membangunkan bunga-bunga
Kursi-kursi beku runduk punggung pedagang kakilima
Memenuhi sudut-sudut lengang, menunggu, entah siapa

“Beri aku lilin, beri aku angin,” desismu.

Ketika sampai di simpang empat, kau sadar tak punya alamat
Berulangkali menunjuk-tunjuk ke segala penjuru
Senyap derap waktu mengintai dari ujung pilu
Guguran daun beringin menyapamu
Kerisik suara: Namaskara!

Piyungan, 2015



Kidung Perkabungan
-Maktum Jauhari

Dari seberang kudengar kabar kau pulang
ke muasal rahim paling kadim
penjara sukma tanpa kisi dan jendela
ruang hampa tempat lupa bau cuka

Usia memang bukan hitungan angka pada almanak
Kutahu karena bagiku kau seorang bijak
Dan telah kusaksikan ribuan tapak jejak
abadi, melebihi kata dalam sajak

Masih kudengar getar suaramu syahdu
Memantul dari kedalaman ruang dan waktu
Kadang luruh di muara subuh
Tuntun aku ke dunia ruh

Kau bagai kubah hijau, jadi suar nelayan pulau
kompas bagi ribuan perantau
Matamu matahari, tanganmu batang pohon jati
Dadamu lapang tanah ladang
Setia mendekap setiap yang sesat
mencari alamat para malaikat

Sekali kau bicara, magma dadaku nyala
Sekali kau tiada, musim penghujan tiba
Umpama sebuah gema, kau bukan suara,
gong atau angin. Tapi tangan yang setia mengabarkan
keindahan nada-nada semesta

Selamat jalan, Tuan. Semoga sampai di pelabuhan
Bagimu kuhaturkan salam, setakzim batu-batu nisan

Piyungan, 2016


Kamil Dayasawa, lahir di Sumenep, 05 Juni 1991. Alumni PP. AL-AMIEN PRENDUAN, Sumenep dan Mahasiswa Sejarah dan Kebudayaan Islam, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya-UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Puisinya termaktub dalam antologi: Estafet (2010), Akar Jejak (2010), Memburu Matahari (2011), Sauk Seloko (2012), Ayat-Ayat Selat Sakat (2013), Bersepeda ke Bulan (2014), Bendera Putih untuk Tuhan (2014) dan Pada Batas Tualang (2015).
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 14 November 2018 - 13:15 wib

DPRD Siapkan Rp200 M untuk Sekolah Gratis

Rabu, 14 November 2018 - 13:00 wib

Dua Gedung Penegak Hukum Belum Kantongi Izin Lingkungan

Rabu, 14 November 2018 - 12:53 wib

Kulit Cerah dengan Sapuan Warna Cokelat

Rabu, 14 November 2018 - 12:50 wib

Dewan Ditantang Puasa SPPD

Rabu, 14 November 2018 - 12:48 wib

Disdik : Pagar Dibangunan Komite

Rabu, 14 November 2018 - 12:48 wib

Khawatir Kuota Premium Tidak Cukup di Riau

Rabu, 14 November 2018 - 12:32 wib

Pasien RSJ Bisa Gunakan Hak Pilih

Rabu, 14 November 2018 - 12:30 wib

Kontraktor Diminta Menggesa Pengerjaan

Follow Us