Oleh: Relly A Vinata

Zaman Para Pencela

24 Januari 2016 - 09.17 WIB > Dibaca 2917 kali | Komentar
 
Zaman Para Pencela
Ilustrasi - Dantje S Moeis
Bagaimana akan luruh mengguyur permukaan, mempermudah jatuhnya daun kering, menyungkup rekahan urat tanah, sementara aku menyayangi kalian. Jika lantas keniscayaan rahmat ini berulah laksana runtuhnya milyaran tombak petaka, itu karena satu dari sekian tugasku adalah memberi peringatan - Tetes Hujan

Kota ini tengah bersolek. Setindak demi setindak berbenah diri menjulang-julang gedung agar elok nian dikata orang. Seperti tak rela menjadi anak bawang di mata siklus peradaban. Keliru ataupun tidak, anggapan ini berkelindan di pikiran Mudasir yang menyangka imbas budaya metropolitan akan segera menegur kediamannya. Cuma persoalan bersabar menunggu waktu.

Pria rentan masuk angin itu berupaya mendedah lampau lewat cekungan di kedua kelopak matanya. Sejenak teringat oroknya lahir dan mencecap asri tanah ini. Tumbuh sebagai anak pinggiran berbapak pekebun biasa.

Ketika itu ia ingat ada parit kecil yang dialiri air, meliuk di antara hamparan palawija pada sehektare tanah samping rumah. Untuk beberapa alasan, tahun lalu Mudasir menimbun parit itu. Tanah lembap tak menarik minat orang untuk berinvestasi. Pun tak lagi palawija, hanya lahan kosong yang dibiarkan rumput teki dan puteri malu tumbuh liar.

Menyeka peluh leher yang berbilur-bilur merah keunguan, baru saja ia menancapkan patok kayu pada lahan yang berbatas langsung dengan aspal jalan itu. Bagian atasnya dibubuhi susunan aksara kapital tebal: DIJUAL!

Perihal parit, sebenarnya memiliki sejarahnya sendiri. Dulu Mudasir dan teman-teman kecilnya kerap menancap joran di tepiannya. Sepat, Gabus, Lele bersarang di antara ganggang hijau yang tumbuh subur pada alirannya. Itu jauh saat Ociak Ameh memiliki beberapa ekor jawi dan aba-nya masih hidup. Ociak sering berbaik hati menghibah pupuk kandang secara cuma-cuma untuk penyuburan tanah kebun aba Mudasir. Semenjak ociak menjual semua jawi demi mandapat modal membuka usaha kos-kosan, saat itu aba harus memutar otak dan akhirnya memutuskan beralih menggunakan Urea dan Kcl. Tak dapat lagi dijumpai Gabus, Lele atau Sepat pada aliran pekat yang perlahan terkontaminasi residu kimia. Migrasi atau mati ditempat. Beralih zaman, ketika orang-orang kepayahan mencari tempat sampah, mereka mengalih-fungsikan parit itu menjadi kubangan pembuangan plastik, tarompa rusak, dan pampers bayi. Tanpa seizin Mudasir, tentu saja.

Pemerataan pembangunan menjarah hingga rumah Mudasir tidak lagi berada di pinggiran. Sebelah teritis kanan memang masih tersisa lahannya satu hektare itu. Tapi berjarak dua rumah dari kiri, telah berdiri supermarket waralaba. Di seberang dua lajur jalan, tersusun pula pondasi yang lebarnya minta ampun disertai arsitektur rumit beton-beton, rencana pendirian kondominium mewah.

Mau tak mau, waktu mengepung rumah Mudasir menjadi bagian ingar-bingar kota.

Sebelumnya tak pernah terlintas di batok kepalanya ingin menjual tanah. Bahkan ketika aba-nya berpulang, ia sempat melanjutkan usaha perkebunan dengan menanam jagung di musim penghujan, cabai atau kacang panjang saat kemarau tiba. Kalau dulu ancamannya moncik, manso, atau hanya cendawan yang bisa dilawan dengan bermacam pestisida. Sekarang ia tidak bisa berbuat banyak menyadari petak tanah itu dikelilingi bangunan-bangunan. Suplai matahari praktis hanya diperoleh siang hari, sementara pagi sinarnya terhalang ruko tiga lantai di timur dan sore ditelan bangunan di sebelah baratnya. Masa tumbuh lambat dan biaya lamanya perawatan berbanding terbalik pada pendapatan hasil panen. Pernah panennya merugi lantaran menurunnya kualitas sayur yang diproduksi. Hal itu membuat Mudasir tak yakin akan melanjutkan usaha peninggalan aba dan membiarkannya menjadi lahan kosong.

Percakapan dengan Onga Ipen tanpa didasari kesengajaan saat mereka bertemu di kodai Fatimah petang itu membuat Mudasir risau sekaligus tergiur. Ia hendak membeli spray pengusir nyamuk dan Onga Ipen tampak merogoh pemantik menyulut rokok yang baru saja dibelinya.

“Tentu kau masih ingat ladangku di Simpang Tombaran, bukan?”

Mudasir mengangguk. Sebelum menjadi ladang Onga Ipen, wilayah itu dulunya belantara yang tak berani dijarah orang. Bahkan dulu Omak sering mewanti-wanti Mudasir agar tidak melewati tempat itu. Sebab pernah tercerita seorang anak kecil hilang dan desas-desus yang tersebar, jadi mangsa Cinaku yang bersarang di belantara itu.

“Nah, lima minggu lalu seseorang berminat mau membuka lapangan golf di tempat itu. Kau tahu berapa harga beli yang ditawari padaku?”

“Ha, berapa, Onga?”

“Dua em.”

“Alamakjang!”

Onga Ipen tergelak hingga perutnya membuncit satu inchi ke depan. Sementara Mudasir membayangkan gelimang uang dua milyar berjatuhan dari langit menerkam ubun-ubun dan membuat matanya berkunang-kunang.

Setiap jengkal langkah pulang, Mudasir tak yakin yang dibelinya spray anti nyamuk atau spray pengharum ruangan. Pikirannya sepenuhnya tertuju pada lahan di samping rumah dan kata-kata terakhir Onga Ipen. Jika Mudasir berniat menjual tanah, sekarang waktu yang tepat. Mumpung visi pemerintah adalah memajukan kota dan untunglah paradigma kemajuan selalu diidentikkan dengan pesatnya pembangunan. “Kau bisa menjual tanahmu dengan harga selangit Lai, sekarang ini banyak pemain sirkus yang keranjingan,” begitu tutup Onga Ipen.

Semula Mudasir membicarakan niatannya pada Eliya, istrinya. Pada prinsipnya wanita itu selalu mendukung apa pun bentuk keputusan suaminya. Tapi ia menyarankan agar Mudasir terlebih dahulu beroleh izin omak.

“Tanah itu azimat aba-mu,” kata omak saat melipat baju kering di lantai kamar, Mudasir duduk di sampingnya. “Barangkali, elok dikau ziarah ke pusaranya. Mudah-mudahan diberi kemantapan hati.”

Keesokan harinya lelaki itu bersikukuh menapakkan kaki di rumput pekuburan. Di atas nisan aba, ia utarakan segala maksud sekaligus mohon petunjuk.

***

Angsa-angsa hitam berseliweran di pelataran rumah. Belasan jumlahnya. Mudasir melihat seorang lelaki duduk di bangku rotan teras rumahnya. Lelaki itu tampak sedang melempari bulir-bulir dedak pada kerumunan angsa. Setelah diperhatikan dengan saksama, Mudasir cukup yakin lelaki yang duduk di teras depan rumah itu tak lain adalah dirinya sendiri. Mudasir tak habis pikir melihat dirinya yang selayaknya menikmati suasana itu. Seperti tak acuh bagaimana sekawanan angsa hitam itu ada di sana dan dari mana pula asalnya.

Seakan disisir, kerumunan angsa-angsa hitam tersibak membelah dua. Tiga orang bertuksedo memarkir mobil di pekarangan dan gemeletuk kaki mereka melewati belahan itu. Lelaki di teras menyambut dan menyalami satu-persatu. Ronanya semringah. Berbasa-basi sejenak lalu mempersilakan masuk. Tanpa ba-bi-bu satu orang menyodorkan berlembar kertas yang harus ditandatangani. Dua orang lain masing-masing meletakkan koper besar. Bukan satu atau dua, melainkan empat koper. Bukan main!

Mudasir melihat dirinya mengguratkan pena pada kertas-kertas. Sekali lagi bersalaman. Mengucap selamat bagi satu sama lain. Sepakat!

Bagai tersaput bandul waktu, Mudasir menyaksikan fragmen demi fragmen berjalan begitu cepat. Sebuah proyek hotel bintang lima mulai dirancang pada sehektare lahan samping rumah. Pengerjaan tanpa henti siang-malam. Mudasir melihat dirinya dan keluarganya mulai rajin membeli koyo dan obat tidur karena setiap waktu adalah kebisingan. Di depan rumah, angsa-angsa hitam beranak-pinak menjadi puluhan.

Seumur hidup, sumurnya tak pernah kandas. Tapi kali itu ia menyaksikan semua orang berbicara tentang kekeringan. Warga mengeluh bangunan-bangunan bertingkat itu menyedot habis sumber air di rumah mereka. Kemarau berkepanjangan menambah daftar petaka. Mudasir melihat dirinya mulai sering merenung. Ia tampak kusut dan jarang mandi. Semakin banyak orang melintas di depan rumahnya. Dari yang membawa gerobak, sampai mobil box. Menjajakan air bersih.

Orang-orang menjadi lebih rajin berjamaah melakukan doa turun hujan. Ketika doa terkabul, awan menggumpal-gumpal pertanda turunnya hujan deras, semua orang tampak bersukacita. Tanpa menyadari bahwa hujan kali itu menguapkan petrichor racun dan tempias-tempias cela. Air yang ditumpahkan langit itu tak temukan celah meresap. Mereka seperti kesasar dan tersesat. Hanya menggenang dan terus menggenang. Semata kaki, sepinggang dan terus meradang.

Penduduk kota yang semula bersukacita, mengira dibasuh hilang kerontang, beralih menjadi wajah-wajah putus asa diliputi cemas. Menonton barang perabotan hanyut terbawa air. Orang-orang mulai sadar tak ada lagi musim yang berkenan bersahabat dengan kota ini.

Semua orang lupa dengan dirinya sendiri dan memilih saling tuding. Mahasiswa-mahasiswi dengan pelbagai almamater melakukan demonstrasi dan menyebar pamflet. Menuntut pemerintah yang tidak becus menangani bencana yang terjadi. Pemerintah menyalahkan masyarakat yang bebal membuang sampah sembarangan dan mengabaikan anjuran menanam pohon. Masyarakat menyalahkan perusahaan-perusahaan swasta yang mencaplok lahan ulayat mereka. Perusahaan tak sudi disalahkan karena mengantongi izin membangun dan turut mengentas kemelaratan dengan menyediakan lapangan kerja.

Mudasir melihat penduduk kota ini jadi lebih sibuk mencela. Mengutuki setiap musim. Menyesali segenap akibat, alih-alih menanggulangi sebab. Dan semua orang menjadi lebih mudah menemukan alasan untuk tidak bersyukur.

Angsa-angsa hitam kini jumlahnya sudah ratusan atau mungkin ribuan. Berenang di antara rumah Mudasir yang setengah tenggelam. Menyelam, menyembul, mengepak dan bersahutan melengkingkan suara bak sedang menyanyikan dendang. Menyampaikan kabar bahagia. Angsa-angsa itu berputar gasing mengelilingi rumah Mudasir. Terus-menerus dayungan kaki para angsa semakin cepat menggerakan air hingga membentuk lubang pusaran gelap di tengahnya. Mudasir menyaksikan raksasa pusaran air itu trengginas menyedot seisi rumah, dirinya beserta istri dan juga omak yang melolong terjerumus ke dalamnya.

Suara melengking terus bersahutan, menyentak, tindih-menindih dan saat itu juga membangunkannya.

***

Peluh membasahi sekujur tubuhnya. Berpaling ke samping. Dipandangi istrinya yang terlelap pulas. Detik pada jam dinding yang menunjukkan jam duabelas kurang seperempat dilumat oleh suara gerimis di luar sana. Mudasir bergegas turun dari ranjangnya. Bergerak menyibak tirai jendela. Dari sana ia dapat melihat rumput basah pada hamparan lahannya. Sejenak tercenung memandang parit yang masih sedia kala. Mendadak ia tak sabar menunggu datangnya pagi. Ingin segera mencabut patok yang ia tancapkan siang tadi.***

Kuantan Singingi, Januari 2016

Catatan:

Ociak = Bibi
Jawi = Sapi
Aba = Ayah
Tarompa = Sendal/alas kaki
Moncik = Tikus
Manso = Babi
Onga = Abang
Omak = Ibu
Cinaku = Harimau jadi-jadian
Kodai = Warung

Relly A Vinata, Lulusan Universitas Muhammadiyah Riau Fakultas Ilmu Komunikasi. Cerpennya yang tergabung dalam antologi diantaranya, Senja Bersama Siti Nurbaya (Negeri Asap, 2014), Rahim Bumi (Hikayat Bunian, 2015).

KOMENTAR
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 21:31 wib

Ini Alasan Sebagian Caleg Golkar Dukung Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 21:04 wib

Buni Yani Bergabung di BPN Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 20:26 wib

PDIP Apresiasi Tranparansi Laporan Awal Dana Kampanye

Senin, 24 September 2018 - 18:52 wib

Belum Mau Nikah

Senin, 24 September 2018 - 18:40 wib

Telur Jadi Tidak Sehat Bila Dikonsumsi Bersamaan dengan Lemak Jenuh

Senin, 24 September 2018 - 17:48 wib

Ika Surtika Senam Bugar di UIR

Senin, 24 September 2018 - 17:43 wib

Calon Anggota DPRD Inhu Bertambah Jadi 531 orang

Senin, 24 September 2018 - 17:41 wib

Komunitas BIJAK Dilatih Tim Desa Binaan LPPM Unri

Follow Us