Tim Redaktur "Alinea" Balai Bahasa Provinsi Riau

Agus Sri Danardana

24 Januari 2016 - 09.21 WIB > Dibaca 1517 kali | Komentar
 
Agus Sri Danardana
SIAPA yang tak kenal Agus Sri Danardana? Kalau pertanyaan itu diajukan kepada kalangan yang bersentuhan dengan persoalan budaya, sastra, dan/atau bahasa di Riau, pastilah mereka mengenal nama itu. Telah hampir tujuh tahun Pak Danar (demikian beliau disapa) menakhodai kapal bernama Balai Bahasa Provinsi Riau. Telah hampir tujuh tahun pula pria gondrong ini memberi warna, terutama, pada dunia bahasa dan sastra di Riau. Telah tujuh tahun pula “ahli hisap” ini menebar benih persahabatan, menjadi teman curhat, menjadi lawan berdebat, menjadi mentor, menjadi guru tanpa menggurui, bahkan menjadi objek bully-mem-bully tanpa sakit hati.

Banyak pihak yang menyayangkan kepindahan beliau ke Sumatera Barat untuk mengemban tugas sebagai Kepala Balai Bahasa Sumatera Barat. Berikut ini kami cuplikkan untuk pembaca “Alinea” (kolom yang digagas oleh Agus Sri Danardana bekerja sama dengan Riau Pos sejak 2013) beberapa curahan hati Orang Riau tentang Agus Sri Danardana.

Adalah Boy Riza Utama, Pemenang I Lomba Menulis Esai Berbahasa Indonesia dalam kegiatan Bengkel Sastra se-Provinsi Riau 2015 menarasikan (dalam facebook) perjumpaannya dengan Agus Sri Danardana saat diutus mewakili Riau dalam kegiatan yang hampir serupa, tetapi untuk tingkat nasional di Jakarta.

“Mengapa esai saya yang memenangkan lomba ini, Pak?” kata saya kepada “Sesepuh” itu. “Saya tak melihat sebuah tulisan dari isinya, tapi dari cara menyajikannya. Kalau baik penyajiannya, isinya akan mengikut sendiri,” jawabnya. “Kamu harus lebih banyak lagi baca esai dari pengarang-pengarang dan penulis-penulis hebat. Goenawan Mohamad misalnya. Lihat bagaimana ia menulis “Caping” (Catatan Pinggir).”

Di Balai Bahasa Provinsi Riau sore itu saya bersama May Moon Nasution, dan “Sesepuh” itu (Agus Sri Danardana) terus mengembuskan asap rokoknya ke udara sambil bercerita tentang para penulis yang pernah ditemuinya (hidup-hidup) dan karya-karya mereka. Pengumuman pemenang acara Bengkel Sastra, yang ditaja Balai Bahasa besutannya, sudah lama usai. Piala telah diserahkan, juga uang tunai. Namun, saya begitu pula May Moon sepertinya, masih “belum selesai”. Ada “perhitungan” tak kasat mata yang sayang dilewatkan: bercakap (sekali lagi) dengan mantan Kepala Kantor Balai Bahasa Provinsi Lampung ini.

May Moon antusias sekali mendengar cerita tentang Sutardji; sementara saya mencuri dengar bagaimana kharisma seorang Rendra (alm). “Tardji itu kalau baca puisi sambil mabuk, nggak tahu beneran apa pura-pura,” kata dia. “Bukunya (O Amuk Kapak) di tahun-tahun itu, sangat ramai dibincangkan. Puisinya begitu sih.
....

Di Pekanbaru, hari ini, saya mendengar kabar itu akhirnya: Agus Sri Danardana jadi dipindahtugaskan ke Padang, Sumatera Barat. Dari laman Riaupos.co saya baca lagi kabar itu. Ia memang pergi, ternyata. Dulu ia sempat bercerita kepada saya dan May Moon tentang masa pensiunnya yang tak lama lagi. “Kalau pensiun nanti, mungkin saya ke Sragen,” kata dia. “Tapi maunya pensiun di Riau saja.”

Saya tak melihat keraguan di matanya. Tujuh tahun yang lalu ia ke mari dan segalanya meninggalkan jejak yang indah. Balai Bahasa kembali ke jalur yang diharapkan. Terlalu banyak jasa dan orang-orang yang sudah ia besarkan. Tapi ia selalu begitu: rendah hati dan sebisa mungkin mengambil jarak dari pujian. “Semoga kalian jadi orang besar nanti,” pesan dia suatu waktu.

Hingga hari ini saya masih ingat bagaimana kami ngopi ketika malam tahun baru. Ada Pak Hary B Koriun juga, serta kawan-kawan di Komunitas Paragraf. Kami berbincang hangat soal Lekra, Peristiwa ’65 dan ia kokoh sekali menghadapi argumen seorang muda yang gila jawaban seperti saya.”

Ketua PWI Riau, H Dheni Kurnia menilai Balai Bahasa Provinsi Riau di bawah kepemimpinan Danardana telah berperan aktif memperbaiki bahasa media massa serta memberikan penghargaan pada Media massa di Riau termasuk para jurnalisnya. Dheni menilai “Pak Danardana tidak alergi kritik, dan dia terus membina hubungan yang baik dengan para seniman, sastrawan, budayawan, dan media. Mereka respek dengan apa yang dikerjakan Balai Bahasa Riau saat dipimpin Pak Danardana” (Riau Pos.co, 17 Januari 2016).

Ketua Sindikat Kartunis Riau (Sikari) Furqon LW pun melihat sosok Agus Sri Danardana sangat “membumi.”

“... meskipun Agus Sri Danardana seorang pejabat dan memimpin lembaga sebesar Balai Bahasa Provinsi Riau, namun dalam berbagai kesempatan tak memperlihatkan dirinya seorang pejabat. Danardana sangat merakyat, mau bergaul dengan semua kalangan seniman tanpa pandang bulu.

Meski Balai Bahasa cenderung mengurus masalah kebahasaan dan kesusasteraan, namun Danardana juga peduli dengan cabang-cabang budaya lainnya, salah satunya kartun, yang selama ini jarang dilirik oleh pejabat pemerintah.

“Suatu kali, Majalah Sikari ulang tahun pertama, dan beliau datang memberi kami suport agar kami terus berkarya,” ujar Furqon.

Furqon merasa terkesan dengan pendekatan yang dilakukan Danardana kepada pekerja seni dan budaya (sastrawan, musisi, teter,  kartunis, pelukis, dll.) di Riau. Di hampir setiap kegiatan seni, jika sedang berada di Pekanbaru, Danardana mengupayakan untuk datang dan selalu membaur dengan membuang atributnya sebagai pejabat.

Setelah bercerita tentang dunia seni rupa Riau, Danardana langsung mengapresiasinya dengan memasukkan dalam salah satu program di Balai Bahasa, yakni lomba membuat poster tingkat SLTA se- Riau. Itulah untuk pertama kalinya, kata Furqon, Balai Bahasa Provinsi Riau mengadakan lomba senirupa, padahal domain yang menjadi kajian utamanya adalah bahasa dan sastra.

“Menurut saya, itu sebuah perhatian yang luar biasa karena saya tahu Pak Danardana sebenarnya terkesan memaksakan karena memang susah mencari celah senirupa masuk dalam program Balai Bahasa. Tetapi beliau mau mengupayakannya,”

Gaya bergaul Danardana yang membaur dengan siapapun itulah pelan-pelan “menyadarkan” banyak orang, termasuk kalangan seniman, bahwa Balai Bahasa Provinsi Riau itu ada dan eksis. Sebab, sebelumnya banyak orang yang tidak tahu tentang eksistensi Balai Bahasa Provinsi Riau tersebut.

....

Furqon menganggap, meskipun bagi orang lain apa yang dilakukan Danardana itu hal yang biasa, tetapi baginya itu sangat luar biasa dalam ikut membangkitkan iklim kreatif di Riau. Bukan hanya dalam konteks sastra dan bahasa, tetapi juga di cabang-cabang kesenian lainnya.
Marhalim Zaini, satrawan sekaligus staf pengajar sastra dan teater di Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) dan FKIP Universitas Riau (UIR) kepada Riau Pos.co (17 Januari 2016 melihata keberhasilan Danardana.

“Pak Danardana berhasil menaikkan kinerja lembaga yang dipimpinnya. Banyak hal yang sudah dilakukannya yang sebelumnya tak dilakukan oleh pimpinan Balai Bahasa Provinsi Riau sebelumnya.”  

Selain itu, sejak menggantikan Drs Agus Halim enam tahun lalu, Danardana telah menjadikan Balai Bahasa Riau sebagai lembaga yang sangat terbuka terhadap sastrawan dan budayawan Riau. Dia membuka lebar-lebar pintu kantornya untuk kegiatan apa saja sejauh itu untuk kreativitas seni, sastra, bahasa, dan kegiatan kebudayaan lainnya. Dalam hampir semua kegiatan yang dilakukan Balai Bahasa Riau, sastrawan dan budayawan Riau dirangkul dan dilibatkan.

Dengan terobosan-terobosan yang dilakukannya, Balai Bahasa Riau mulai dikenal masyarakat. Sebelumnya, banyak orang menganggap Balai Bahasa Riau sebagai lembaga di bawah Universitas Riau (Unri) karena tidak banyak melakukan kegiatan.

“Selama beliau memimpin, banyak karya berupa buku dan karya lainnya diterbitkan dan diselenggarakan. Ini tak pernah saya temui sebelumnya. Dan semua kegiatan itu melibatkan seniman, sastrawan, dan budayawan Riau,” ujar Marhalim.”***

Terima kasih Pak Danar. Selamat jalan. Semoga tetap berkarya dan berbinar di hati banyak orang.

    


KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 20 November 2018 - 14:00 wib

TP PKK Berikan Penanganan Stunting di 10 Desa

Selasa, 20 November 2018 - 13:30 wib

Bupati Launching Aplikasi Sipedih

Selasa, 20 November 2018 - 13:00 wib

Tunggu Kepastian Pelantikan Plt Gubri

Selasa, 20 November 2018 - 12:30 wib

Rp772,5 Juta Beasiswa Belum Disalurkan

Selasa, 20 November 2018 - 12:00 wib

4 Kabupaten Masih Terendam Banjir

Selasa, 20 November 2018 - 11:48 wib

Pedagang Pasar Rumbai Minta Pembayaran Kios per Hari

Selasa, 20 November 2018 - 11:27 wib

Haul Marhum Pekan Ingatkan Sejarah Pekanbaru

Selasa, 20 November 2018 - 11:26 wib

AirAsia Pindahkan Penerbangan ke Terminal 2

Follow Us