Oleh : Indah Noviariesta

Sastra dan Keseimbangan Kosmik

24 Januari 2016 - 10.59 WIB > Dibaca 880 kali | Komentar
 
Sastra dan Keseimbangan Kosmik
Kalangan jurnalis patut bersyukur atas kemenangan seorang jurnalis wanita asal Belarusia yang meraih hadiah nobel di bidang kesusastraan beberapa waktu lalu. Namanya agak asing bagi sebagian jurnalis Indonesia, yakni Svetlana Alexievich, seorang wanita yang esai-esainya dikenal berani dalam menyuarakan ketimpangan dan ketidakseimbangan kosmik dalam tata dunia modern ini. Beberapa tahun lalu (2013) seorang cerpenis wanita asal Kanada, Alice Munro juga dianugerahi nobel kesusastraan. Meskipun perlu diakui bahwa dari 111 laki-laki peraih nobel sastra, jumlah wanita memang baru mencapai angka 14 orang sejak pertama kali diturunkan penghargaan tersebut pada tahun 1901.

Krisis kemanusiaan yang melanda manusia modern adalah pengamatan paling menarik dalam esai-esai Alexievich, dia pun memiliki dokumentasi yang akurat pasca peristiwa bocornya reaktor nuklir Chernobyl di Belarusia pada tahun 1986 lalu. Esai-esainya dikenal sangat menggugah imajinasi dan cita-rasa berpikir hingga membangkitkan orang pada kepekaan dan kepedulian terhadap nasib anak-anak manusia di zaman post industrial ini.

Masih sehaluan dengan karya-karya sastra hasil gubahan wanita asal Chili, Gabriela Mistral yang sering menampilkan sisi-sisi gelap kapitalisme dari sudut pandang antropologis, hingga ia tergolong sastrawati yang sangat dihormati bangsa-bangsa Amerika Latin. Bahkan Presiden Allende pernah menawarkan kewenangan khusus kepada sastrawati ini, dengan mempersilakannya membuka konsulat kebudayaan di negeri manapun, atas biaya pemerintahan Chili.

Berbeda dengan jenis sastra absurditas yang berkembang di Eropa pasca perang dunia pertama, Alexievich mengetuk hati dan kepedulian manusia akan rasa tanggung jawabnya kepada nilai-nilai kemanusiaan, yang justru dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Salah satu penggerak hak asasi manusia yang juga pernah dianugerahi nobel tak lain adalah Winston Churchill (1953) yang pada waktu itu sangat dikenal dengan artikel-artikelnya yang sarat imajinasi di koran-koran Inggris. Di sini lagi-lagi kita dibangunkan oleh kenyataan bahwa para jurnalis dan wartawan rupanya masih sehaluan dengan karya-karya sastrawan, bahwa di abad transformasi ini, perbedaan karya sastra dengan esai hanyalah soal teknis pengungkapan saja. Kini dunia sastra pun tak terlampau membatasi diri dalam penceritaan suatu riwayat yang dikarang, tetapi sekaligus mengartikan realitas kehidupan, serta menyoroti kebudayaan dan kelembagaan, membandingkan citra dunia dengan tetap memanfaatkan simbol dan alegori.

Gugatan paling serius yang diungkap Alexievich terutama peran kaum penguasa yang dominan pasca perang dunia, khususnya setelah para penguasa Eropa melepaskan kuku-kuku tajamnya di bumi jajahan mereka di Asia-Afrika. Keserakahan kaum feodal yang mengambil keuntungan dari iklim eksploitasi manusia atas manusia lain. Ketidakadilan struktural yang masih belum diakui secara jujur oleh kaum birokrat dan penguasa, baik nasional maupun lokal. Mereka masih gemar dengan gaya hidup hedonis, cari selamat sendiri-sendiri, yang penting gue senang dan wani piro untuk menyenangkan aku, keluarga dan kroni-kroniku. Iklim kebudayaan imperialisme yang menggeser kearifan lokal hingga para penanggung jawabnya seakan lepas tangan dari ulah yang sebenarnya secara sistemik adalah ciptaan mereka sendiri.

Karya jurnalistik yang brilliant inilah yang mengakibatkan para nominator dari kalangan sastrawan dunia harus mengakui kehebatan daya imajinasi Alexievich. Para nominator tersebut tak lain adalah penulis-penulis besar abad ini, di antaranya Haruki Murakami (Jepang), John Banville (Irlandia), bahkan dua sastrawan besar Amerika Joyce Carol dan Philip Roth terpaksa harus mengakui kehebatan daya analisis dari jurnalis asal Belarusia tersebut.

“Pada akhirnya manusia modern harus menyadari bahwa semua yang tercapai oleh kekuatan otak, tidak harus semuanya boleh dilakukan sekehendak hatinya,” kata-kata dari Einstein inilah yang menyiratkan pesan keseimbangan kosmik yang banyak disuarakan Alexievich. Ada rambu-rambu tertentu demi kedamaian dan kemaslahatan hidup umat manusia di muka bumi ini. Bila rambu-rambu itu ditabrak juga, bisa terjadi chaos seperti yang terjadi dalam peristiwa bocornya reaktor nuklir Chernobyl. Karena toh bagaimanapun, sehebat-hebatnya penemuan sains dan teknologi yang diprakarsai kecerdasan otak dan intelektual manusia, tetap saja pelaku operatornya adalah manusia yang punya keterbatasan dan kekhilafan yang melingkupi dirinya.

Alexievich melihat fenomena dengan kacamata seorang jurnalis wanita, sambil menghimpun data dan fakta yang akurat, kemudian dituangkan ke dalam esai yang membangkitkan gelora emansipasi dan kesadaran rakyat Belarusia. Hampir serupa dengan cara kerja penghimpunan data dari seorang tokoh Erin Brockovich dalam film garapan Steven Soderbergh. Tak urung film yang sarat keberanian untuk menggugat perusahaan raksasa yang membuang limbah sembarangan itu menyabet beberapa piala Oscar, terutama untuk aktris wanita terbaik yang diperankan Julia Roberts.

Karena keberaniannya dalam menyuarakan kebenaran, Alexievich pernah beberapa kali terancam keselamatannya hingga terpaksa harus hidup di pengasingan selama sepuluh tahun lebih (Italia, Prancis dan Jerman) sampai kemudian ia pun pulang ke Kota Minsk, Belarusia. Karya-karyanya banyak tertuang dalam koran-koran lokal, bahkan karyanya yang terkenal setelah bertahun-tahun menghimpun data korban perang dunia II (War’s Unwomenly Face) baru diterjemahkan ke bahasa Inggris pada tahun 1988. Padahal karya tersebut sudah terpublikasikan secara terbatas, dan memang tak pernah diakui oleh pemerintahan lokal di negerinya sejak tahun 1985.

Dalam War’s Unwomenly Face secara eksplisit dijelaskan bahwa korban-koban perang dunia II tak lain dari kaum lemah dan tak berdaya, di antaranya para wanita dan anak-anak, yang secara struktural belum terangkat nasib hidupnya di suatu era yang dinamakan post-modern ini. Ribuan korban perang di tempat pengungsian berhasil diwawancarai, hingga kemudian didokumentasi dengan baik, layaknya pekerjaan penulis buku “Pikiran Orang Indonesia” yang berhasil mewawancarai para tapol yang di penjara tanpa proses pengadilan di masa Orde Baru dulu.

Saat ini, karena penguasa dan pengambil kebijakan publik — baik lokal maupun nasional — terlampau sibuk mementingkan urusan pribadinya dalam mengejar target kekuasaan, kekayaan dan popularitas, nasib ribuan tapol di negeri ini pun belum sempat direhabilitasi. Biaya politik untuk melanggengkan status quo sangat tidak sebanding dengan biaya ekonomi untuk mengangkat harkat dan martabat mereka dari keterpurukan zaman akibat perang yang dikobarkan para penguasa yang notabene diselenggarakan kaum lelaki.

Di sinilah peran dan tanggung jawab semua pihak, terutama kalangan intelektual untuk menyuarakan fenomena yang terjadi, serta pengangkatan harkat dan martabat ke taraf yang lebih memanusiawikan manusia. Bahwa kemudian Alexievich memboyong uang senilai 15 milyar dari penganugerahan nobel, hal itu adalah keniscayaan sejarah atas dedikasi dan kreativitasnya yang cemerlang. Meskipun di masa-masa aktifnya sebagai penulis di koran-koran lokal, ia hanyalah wartawati yang penghidupannya relatif kekurangan, hingga sempat menjadi guru untuk biaya tambahan bagi keluarganya. Namun pada akhirnya Tuhan menjanjikan kesuksesan itu bagi siapapun yang berjuang dan istiqomah di jalan kebenaran dan keadilan. (*)


Indah Noviariesta, (alumni Untirta Banten dan aktivis Gerakan Membangun Nurani Bangsa)

KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 20:34 wib

BPJS TK Beri Penghargaan pada Tiga Perusahaan Terbaik

Kamis, 20 September 2018 - 19:00 wib

Olahraga Bangun Peradaban Positif

Kamis, 20 September 2018 - 18:43 wib

TGB Blak-blakan Bicara Tudingan Gratifikasi

Kamis, 20 September 2018 - 18:38 wib

AS Potong Bantuan Dana bagi Palestina

Kamis, 20 September 2018 - 18:30 wib

Polres Gelar Apel Pasukan Operasi Mantap Brata

Kamis, 20 September 2018 - 18:24 wib

Ketua Ombudsman RI Gelar Kuliah Umum di Unri

Kamis, 20 September 2018 - 18:00 wib

Sah, BPI Kerjasama dengan Negeri Istana

Kamis, 20 September 2018 - 17:39 wib

Dimsum, Chinese Food Yg Menggugah Selera

Follow Us