ESAI BUDAYA

Melayu dan Pendidikan Karakter

7 Februari 2016 - 00.42 WIB > Dibaca 1951 kali | Komentar
 
Oleh Griven H Putra

Kekayaan khazanah budaya Melayu memang terpumpun dalam banyak bentuk, kongkrit maupun abstrak. Di antara kekayaan yang abstrak tersebut termasuk nilai. Melayu memiliki budaya tutur penuh dengan muatan nilai, termasuk nilai pendidikan karakter. Pendidikan karakter tersebut dapat juga disebut sebagai akhlak dalam literatur Islam.

Menurut Akramullah Syed (2011), akhlak merupakan istilah dalam bahasa Arab yang merujuk pada praktik-praktik kebaikan, moralitas dan prilaku yang baik. Istilah akhlak sering diterjemahkan dengan prilaku islami (islamic behaviour), sifat atau watak (disposition), prilaku baik (good conduct), kodrat atau sifat dasar (nature), perangai (temper) etika atau tata susila (ethics), moral dan karakter. Semua kata tersebut merujuk pada karakter yang dapat dijadikan suri teladan yang baik bagi orang lain. Di sinilah yang dinmaksudkan Allah Swt dalam ayat: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS:33:21).

Menurut Muhammad Yaumi (2014), ayat tersebut memberi gambaran bahwa Nabi Muhammad Saw merupakan teladan utama (khuluqin aziem) dalam berbagai hal karena memiliki sifat, perangai, watak, pikir, bersikap dan bertindak.

Untuk mencapai akhlak yang tinggi (khuluqin azhim) maka keenam budi pekerti tersebut mesti disucikan agar dalam setiap pelaksanaannya dapat mencerminkan akhlak yang agung. Orang-orang terbaik yang telah disucikan akhlaknya sehingga menjadi manusia paripurna yang dapat memengaruhi karakter-karakter manusia pada umumnya menjadi karakter-karakter terbaik.

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak manusia.” (Riwayat Malik). Menurut hadits ini, bahwa kehadiran Rasulullah Saw adalah untuk memperbaiki, menumbuhkan atau mengembangkan akhlak mulia. Bahkan indikator kesempurnaan iman seseorang adalah keagungan akhlaknya, seperti hadits berikut: “Orang mukmin yang paling sempeurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (Riwayat Abu Dawud, Ahmad, dan at-Tirmidzi).

Keagungan kepribadian Rasulullah terintegrasi dalam prilaku dan aktivitas keseharian yang tergambar dalam empat sifat, shiddiq (benar), amanah (benar-benar dipercaya), tabligh (informatif, menjadi informasi yang benar), dan fathonah (bijaksana). Keempat sifat inilah yang menjadi payung besar dalam pendidikan karakter dan budaya bangsa yang menjadi intisari pendidikan karakter, artinya nilai-nilai pendidikan karakter merupakan perwujudan dari empat sifat dan karakter Rasulullah Saw sebagaimana tergambar di atas.

Tujuan pendidikan nasional jelas telah meletakkan dasar dasar yang kuat dalam menopang pembangunan karakter dan jati diri bangsa. Namun penyelenggaran pendidikan telah mengalami degradasi yang sangat mengkhawatirkan, di mana nilai-nilai kearifan lokal telah terbungkus oleh kuatnya arus pendidikan global, kecerdasan pribadi intelektual menjadi ukuran yang lebih dominan untuk menentukan keberhasilan dalam menentukan keberhasilan dalam menempuh pendidikan, dan upaya penyeragaman kemampuan telah membelenggu tumbuh dan berkembangnya keragaman kemampuan sebagai pencerminan beragamnya kekayaan budaya bangsa.

Ketika masa pemerintahan SBY jilid II, Menteri Pendidikan Nasional Prof M Nuh melakukan terobosan melakukan upaya pendidikan karakter di Indonesia. Yaitu gerakan nasional dalam menciptakan sekolah untuk mengembangkan peserta didik dalam memiliki etika, tanggung jawab dan kepedulian dengan menerapkan dan mengajarkan karakter-karakter yang baik melalui penekanan pada nilai-nilai universal. Pilar pendidikan karakter tersebut adalah olah pikir (kognitif), olah rasa (afektif), olah hati (spritual) dan olah raga (psikomotor). Nilai-nilai karakter harus terintegrasi dalam empat pilar tersebut.

Kenapa perlu pendidikan karakter diimplementasikan dalam konteks pendidikan?
Pertama, dampak arus globalisasi. Kedua, penyempitan makna pendidikan yang seolah hanya diarahkan untuk cerdas individual, kering spritual. Ketiga, pendidikan didominasi dalil dan norma barat. (Alwasilah, 2009).

Sumber nilai karakter budaya bangsa: pertama, ajaran agama; kedua, Pancasila; ketiga, budaya; kelima tujuan pendidikan nasional. (Sesuai dengan UU No.20 Tahun 2003, pasal 3 berbunyi: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”
18 nilai-nilai budaya dan karakter bangsa tersebut menurut penelitian Yaumi dan Syahid, 2013, hanya 5 yang terwujud dalam pelaksanaan pembelajaran, dan hanya 4 yang terbangun dalam kegiatan ekstar kurikuler.

Sampai saat ini, publik memandang pendidikan karakter yang dicanangkan Prof M Nuh belum berhasil, seperti meningkatnya tawuran pelajar, dekadensi moral, dihinggapi penyakit narkoba dan lain sebagainya.

Menurut Muhammad Yaumi (2014), terbatasnya nilai-nilai karakter yang terintegrasi dalam pelaksanaan pembelajaran, paling kurang disebabkan dua hal, yaitu. Pertama, ketiadaan mata pelajaran/kuliah pendidikan karakter tersendiri. Kedua, kesulitan guru dalam memahami strategi pengembangan bahan ajar yang mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam setiap aktivitas pembelajaran. Sementara menuruit Guru Besar Emeritus Universitas Negeri Jakarta, HAR Tilaar, sebagaimana dikutip http.edukasi.kompas 26/09/2011 mengkritisi pendidikan karakter yang tidak memiliki konsep yang jelas. Pendidikan karakter di Indonesia mestinya berdasarkan kebudayaan Indonesia yang multikultural.

“Pendidikan karakter Indonesia semestinya dengan mengembangkan nilai-nilai yang kita sepakati bersama yang mempersatukan Indonesia. Ini akan menjadi karakter yang khas Indonesia dibanding dari negara lain, sebagai negara yang hidup dalam budaya multikultural, “ kata Tilaar.

Menurut Tilaar, nilai-nilai karakter Indonesia yang hendak dibangun itu ada di dalam nilai-nilai Pancasila, yang sebenarnya digali dari kebudayaan-kebudayaan daerah. Yang dibutuhkan sekarang ini, bagaimana pendidikan nasional kita dapat menerapkan pendidikan yang mengembangkan kreativitas, berpikir kritis, memecahkan masalah, dan berkarakter,” kata Tilaar.

Sementara menurut saya, lebih karena kurang memperhatikan nilai-nilai kearifan lokal karena di setiap tempat dan kelompok masyarakat memiliki cara tersendiri dalam mewariskan nilai kepada masayarakatnya. Jauh sebelum ide penerapan pendidikan karakter di Indonesia yang dimotori Prof M Nuh, masyarakat Melayu sudah melakukannya dalam berbilang masa. Setidaknya itu dapat dibuktikan melalui Tunjuk Ajar Melayu yang dikumpulkan atau dituliskan kembali oleh H Tenas Effendy.

Dari sekian banyak petuah dan amanah, maka setidaknya ada terkandung 29 butir nilai yang berkait kelindan dengan pendidikan karakter.

Perbandingan tabel di atas menunjukkkan betapa kayanya pendidikan karakter dalam budaya Melayu. Itu baru dilihat dari satu sumber, yaitu buku Tunjuk Ajar Melayu yang dihimpun Tenas Effendy, padahal masih banyak buku yang lain, baik tulisan dari Tenas sendiri maupun dari pengarang Melayu Riau lainnya.

Pertanyaannya, apakah pendidikan karakter di Indonesia benar-benar berlandaskan budaya daerah, termasuk di dalamnya budaya Melayu? Kalau memang ada, apakah pendidikan karakter berdasar budaya daerah benar-benar diimplementasikan di sejumlah lembaga pendidikan di Indonesia? Kemudian, untuk provinsi Riau sendiri, apakah kurikulum muatan lokal di Provinsi Riau telah berisi kearifan lokal yang bersumber dari Tunjuk Ajar Melayu? Atau setakat berisi cerita-cerita picisan Melayu saja? Kemudian, masih adakah kebanggaan orang Riau terhadap kekayaan budaya Melayu hari ini, termasuk keranggian sastra, seperti pepatah-petitih yang dijadikan tunjuk dan ajar dalam kehidupan pendahulu mereka selama sekian masa?

Pertanyaan ini muncul setelah melihat lesunya gebrakan kemelayuan di Riau pasca meninggalnya Tenas Effendi (karena di LAM sendiri belum ada orang Melayu yang sebanding dan setanding dengan Tenas Effendy). Kelesuan tersebut juga akibat tersangkut beberapa kasus hukum, beberapa pemimpin Riau seperti Annas Maamun, T Azmun Jaafar, serta lain sebagainya. Untuk itu, masyarakat Riau, kaum pemerintahan dan sejumlah elemen di Riau perlu mengkaji benar dan menerapkan dengan ikhlas serta sungguh-sungguh Tunjuk Ajar Melayu yang sesungguhnya berasal dari nilai Islam dalam laku hidup, agar kelesuan gerakan peradaban Melayu di Provinsi Riau dapat sirna. Tabik...***

Griven H Putra, adalah sastrawan Riau yang aktif menulis. Karya-karyanya telah diterbitkan diberbagai media lokal maupun nasional. Karyanya telah pula dibukukan.

KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 18:52 wib

Belum Mau Nikah

Senin, 24 September 2018 - 18:40 wib

Telur Jadi Tidak Sehat Bila Dikonsumsi Bersamaan dengan Lemak Jenuh

Senin, 24 September 2018 - 17:48 wib

Ika Surtika Senam Bugar di UIR

Senin, 24 September 2018 - 17:43 wib

Calon Anggota DPRD Inhu Bertambah Jadi 531 orang

Senin, 24 September 2018 - 17:41 wib

Komunitas BIJAK Dilatih Tim Desa Binaan LPPM Unri

Senin, 24 September 2018 - 17:04 wib

Komitmen Kampanye Damai

Senin, 24 September 2018 - 17:00 wib

Sungai Salak Juara MTQ Kecamatan Tempuling

Senin, 24 September 2018 - 16:43 wib

1 Dekade Eka Hospital Melayani Sepenuh Hati

Follow Us