OLEH ZUARMAN AHMAD

Menjejak Langit

7 Februari 2016 - 01.14 WIB > Dibaca 1842 kali | Komentar
 
Hampir satu jam aku tertidur di lift. Ketika bangun aku tiada lagi  melihat kawan-kawan sesama musisi yang hendak naik ke lantai tujuh sebuah hotel tempat kami menginap di Kualalumpur. Ketika aku melihat tanda angka yang berwarna merah di dinding lift menunjukkan angka 6622, aku merasa terkejut. Seingatku hotel tempat kami menginap sementara di Kualalumpur sebelum melanjutkan perjalanan ke Tanjungmalim, hanya mempunyai sembilan tingkat. Aku menekan tombol perintah nomor tujuh, tetapi tidak keluar angkanya, dan lift tidak menunjukkan akan turun ke lantai tujuh. Aku menekan tombol lift angka tujuh sekuat-kuat tenaga dan upaya namun tidak juga keluar angka tujuh itu. Aku mulai putus asa. Seperti hilang akal, baru aku ingat untuk menekan tombol yang bertuliskan bel sebagai tanda emergency. Tapi, setelah berkali-kali aku menekan tombol bertuliskan bel, tidak ada juga pertolongan dari pihak hotel. Aku mulai pasrah dan duduk di lantai lift karena mulai letih.

Sontak, aku melihat di dinding lift menunjukkan angka 6666, dan tiba-tiba lift mendadak berhenti. aku mulai was-was. Perasaanku tidak menentu dan ketakutan mulai menimpa diriku. Untung Aku mulai sadar dari perasaan ketakutan dan mulai membaca Ayat Kursi sebanyak mungkin. Aku tak mau menekan tombol perintah untuk membuka lift, karena aku tak mau menanggung risiko yang tidak terduga.

Setelah beberapa menit kemudian pintu lift terbuka dengan sendirinya. Aku melihat seberkas cahaya yang sangat terang masuk seperti hendak menelan lift tempatku berada. Aku mengira diriku akan hancur terbakar oleh cahaya yang sangat menyilaukan itu. “Sampailah ajalmu,” pikir hatiku. Namun, setelah cahaya itu membalut diriku, perasaanku menjadi tenang dan damai rasanya. Aku melihat dua orang perempuan yang tidak aku lukiskan kecantikannya diiringi dua orang lelaki sangat tampan berdiri di depan pintu lift. Mereka menyilakan diriku untuk keluar dari lift. Entah bagaimana, aku hanya menurut saja perintah dua orang perempuan yang tak terkira cantiknya itu dan dua orang lelaki sangat tampan itu. Aku keluar dari lift.

“Salam. Semoga Tuan selamat, dan selamat datang ke tempat Antara Impian dan Kenyataan”, ucap keempat orang yang menyambutku itu bersamaan, seperti lagu dengan nada yang sangat harmoni yang belum pernah aku dengar dalam chorus orkestra manapun.

“Alam Menjejak Langit?” pikir hatiku. Tempat apa pula ini, kata hatiku lagi. Aku mencubit lengan kiriku, namun terasa sakit. Berarti aku bukan dalam keadaan bermimpi, suara hatiku lagi.

“Tuan berada dalam alam nyata, bukan impian,” kata seorang perempuan yang memakai baju warna hijau lumut yang cantiknya tiada terlukiskan itu yang berdiri di sebelah kanan di antara mereka berempat itu. “Mereka mengetahui suara hatiku,” kataku lagi dalam hati.
“Aku mau dibawa ke mana?” ucapku kepada mereka berempat itu.

“Kepada penguasa alam Menjejak Langit,” kata dua orang lelaki sangat tampan bersamaan.

“Berapa lama lagi perjalanan kita hingga sampai ke tempat penguasa alam Menjejak Langit?” kataku agak tersendat-sendat.

“Kalau di tempat kalian di bumi mencapai perjalanan seribu kilo-meter lagi,” kata seorang lelaki sangat tampan yang memakai baju putih.

Dalam perjalanan menuju ke tempat penguasa alam Menjejak Langit, Aku menjumpai pepohonan di kanan kiri jalan yang merendah hampir mencecah tanah yang kami injak. Anehnya, jalan tanah yang kami lalui tidak seperti tanah yang ada di bumi, tetapi seperti berjalan di atas lautan beku yang berwarna biru kehijauan. Anak-anak sungai yang tidak dapat dilukiskan keindahannya mengalir di kiri kanan jalan yang kami lalui, dan airnya yang sangat jernih. Rasa hausku makin menjadi-jadi dan ingin rasanya Aku meminum air anak sungai itu.

“Kami tidak boleh melakukan apa yang tidak diperintahkan. Nanti tuan akan diberi air minum ketika sudah sampai di penguasa alam Menjejak Langit,” kata lelaki sangat tampan yang memakai baju biru.

“Kita sudah sampai,” kata perempuan yang memakai baju hijau lumut yang berjalan di sebelah kiriku.

Aku melihat istana yang menjulang tinggi dibalut cahaya sehingga tiada lagi terlihat puncak istana itu karena penuh dengan cahaya. Tiba-tiba pintu gerbang istana itu terbuka.

“Salam, salam, salam, selamat datang di tempat alam Menjejak Langit. Kamu boleh menikmati seluruh apa yang ada di tempat ini,” kata suatu suara yang keluar dari dalam istana itu diiringi cahaya berbagai-bagai warna yang seakan-akan membalut tubuh kami berlima.

“Masuklah,” sahut suara itu lagi.

“Saudara boleh masuk,” kata kedua perempuan sangat cantik yang tak dapat dilukiskan itu mengiringiku.

Aku masuk ke dalam istana itu. Kulihat seluruh ruangan bercahaya. Bau harum yang tiada pernah kuhirup selama hidupku. Seketika tujuh orang perempuan muda yang sangat cantik melebihi kedua orang perempuan yang membawaku dari lift keluar dari balik tabir, dan seorang perempuan menyuguhkan kepadaku segelas minuman dalam sebuah piala emas yang memancarkan cahaya. Aku mengambil gelas itu dan meminum airnya. Rasa hausku menjadi hilang dan aku bahkan merasa kenyang serta merasakan nikmat yang tiada dapat kuceritakan.

“Tidak semua orang dapat masuk dan merasakan kenikmatan tempat alam Menjejak Langit ini,” suatu suara tiba-tiba bersipongan ke seluruh ruangan.

"Aku mengucapkan terimakasih kepada penguasa alam Menjejak Langit, yang telah membawaku ke sini. Aku ingin mengajukan pertanyaan. Untuk apakah Aku dibawa ke tempat ini?”

“Kamu dibawa ke tempat ini untuk membalas kebajikan yang pernah kamu lakukan”, suara penguasa alam Menjejak Langit, yang dari tadi belum pernah Aku lihat rupanya.

“Kebajikan apakah yang pernah Aku lakukan? Setahuku Aku berbuat sekedar apa yang harus Aku perbuat. Dan, setahuku Aku mempunyai banyak dosa yang Aku sendiri lupa berapa banyaknya,” kataku apa adanya.

“Kamu tiada perlu mengetahuinya. Tugasmu hanyalah menjalani hidup dan kehidupanmu seperti apa yang kamu katakan tadi, yakni apa yang harus aku perbuat,” kata suara tanpa rupa itu.

“Apakah Aku akan kembali ke tempat asalku, atau...?”

“Ya, kecuali kamu sudah sampai ke tempat yang abadi, kamu tidak dapat kembali lagi ke dunia asalmu.”

“Sekarang sudah saatnya kamu kembali ke dunia asalmu. Apakah permintaanmu?”

“Aku tidak meminta apa-apa,” jawabku sekenanya.

“Kamu menyimpan pertanyaan dalam hatimu. Katakanlah!”

“Semenjak Aku dibawa ke sini dan berbicara dengan Tuanku, aku belum melihat rupa Tuanku,” kataku akhirnya setelah aku tahu suara tanpa rupa itu mengetahui apa yang tersirat di dalam hatiku.

“Aku mempunyai perjanjian dengan diriku sendiri sampai suatu waktu. Apa yang tersirat dalam hatimu tentang Aku, itulah aku.”

“Siapakah Tuanku?” kataku lagi tidak menyia-nyiakan kesempatan.

“Aku adalah apa yang tergambar dalam hatimu, Aku adalah apa yang menurut sangkamu,” kata suara tanpa rupa itu singkat.

“Apakah kamu ingin berjalan-jalan dan melihat bangunan, taman, sungai, dan segala keindahan alam Menjejak Langit?” kata suara tanpa rupa itu.

“Setelah berjumpa dengan Tuanku, apakah Aku masih mempunyai keinginan dengan yang lain?” kataku seadanya.

“Kamu telah mengenal dirimu,” kata penguasa alam Menjejak Langit itu. “Sekarang kamu boleh kembali ke tempat asalmu,” sambung suara tanpa rupa itu.

“Terimakasih, Tuanku telah berkenan membawa diriku ke sini.”

Aku keluar dari istana alam Menjejak Langit, diiringi oleh tujuh orang perempuan muda yang cantiknya tidak dapat diucapkan dengan kata-kata. Sampai di luar istana aku dibawa kembali oleh dua orang perempuan yang cantiknya tiada terkira dan dua orang lelaki sangat tampan sampai ke tempat lift hotel tempat ku menginap yang masih berada di tempat aku keluar tadi. Sebelum masuk ke dalam lift, aku tak lupa memasukkan ke dalam saku celanaku sebuah batu berukuran kecil yang aku pungut tanpa setahu keempat orang yang mengantarkan aku kembali ke depan lift.

Aku masuk ke dalam lift dan menekan tombol angka tujuh lantai hotel tempat aku dan kawan-kawan menginap. Terlihat angka tujuh menyala berwarna merah di dinding lift. Beberapa saat kemudian lift berhenti dan pintunya terbuka. Aku keluar dari lift, dan kulihat aku memang telah berada di lantai tujuh tempat aku menginap. Aku menuju ke kamar tempat kawan-kawanku telah dari tadi istirahat setelah aku tertinggal di dalam lift. Sampai di dalam kamar, kawan-kawan musisi terlihat tidur dengan pulas.

Ketika mereka bangun, aku menceritakan kejadian tentang diriku. Dan, mereka semuanya tertawa terbahak-bahak, gelak merahai, terkial-kial, kelihatannya mereka menyangka aku berbohong dan mengarang-ngarang cerita.

“Kata Bapak tadi ketika di dalam lift, terdesak mau kencing. Jadi, kami menyangka Bapak pergi kencing ke WC lantai tujuh ni,” kata Ifen Piul yang memanggilku dengan sebutan Bapak, karena kawan-kawan musisi dalam rombongan yang dibawa Tuan Haji Khalid untuk rekaman Album Melayu Asli di UPSI Tanjungmalim merupakan mahasiswaku semasa masih belajar.

“Kalau kalian tidak percaya, ini Aku membawa sebuah batu dari alam Menjejak Langit itu,” kataku tidak mau dikatakan berbohong.

“Itu mungkin batu yang keluar dari kencing Bapak tadi,” kata Sukron tiba-tiba.

“Berarti Bapak dah sehat dari penyakit kencing batu,” kata Eman dan Budi sembari tertawa terkial-kial.

Aku pun ikut tertawa, gelak merahai, terkial-kial ... ***

Zuarman Ahmad, pemusik, komposer, arranger, pensyarah/pengajar musik Akademi Kesenian melayu Riau (AKMR), penulis cerita-pendek, redaktur Majalah Budaya Sagang, penerima Anugerah Seniman Pemangku Tradisi Prestasi Seni/Musik 2005, Penerima Anugerah Sagang 2009.

KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 21 November 2018 - 15:54 wib

Prabowo Pasti Tepati Janji Tuntaskan Masalah Honorer K2

Rabu, 21 November 2018 - 15:50 wib

Tim Kampanye Jokowi Manfaatkan Popularitas Djarot

Rabu, 21 November 2018 - 15:45 wib

Dewan Rekomendasikan Cabut Izin PT MAS

Rabu, 21 November 2018 - 15:30 wib

Gunakan Sampan, Kapolres Jangkau Lokasi Banjir Temui Warga

Rabu, 21 November 2018 - 15:00 wib

APBD 2019 Rp1,47 T

Rabu, 21 November 2018 - 14:45 wib

Fokus Siapkan PK, Nuril Minta Perlindungan LPSK

Rabu, 21 November 2018 - 14:42 wib

141 Kades Tersangka Korupsi

Rabu, 21 November 2018 - 14:39 wib

Jadwal Pemeriksaan Kesehatan JCH Sesuai Konfirmasi Diskes

Follow Us