SAJAK

Sajak-sajak Cikie Wahab

7 Februari 2016 - 01.39 WIB > Dibaca 1126 kali | Komentar
 
Ritual Wangkang

Di dalam kapal Ang Mie Kui
Kau menjelma dewa
Membakar diri melewati Melaka
Sementara ombak menepikan namamu
di dermaga

Kucium abu dalam benak ikan
Sisa dupa yang bertumpuk semalam
Sebagai perayaan di Ing Hok King
Dan sembahyang yang didambakan

Panggung hiburan membara
Dari pelabuhan hingga ke depan rumah
Adakah kau lihat airmata
Jika percaya telah meluapkan segala
Doa-doa dipanjatkan dalam berkah

Tubuhmu tak lagi satu bercerai berai jadi debu
Wangkang yang patah terbakar sejarah
Diam sebagai Tai Su Ong atau Ki Ong Ya ‘kah?
Wahai engkau yang mengadu di rantau

Sebab hio dirimu padam
Berkabung tanpa selesai kuenyahkan
Dalam ritual tahunan
Aku masih menunggumu pulang

Pekanbaru, 2015



Kitab Amuk


Menjadi dungu setelah mengaji kitab
Adalah amuk dari segenap hasrat
Dari syair-syair yang menjerat hati
Mengetam jejak sekena diri
Akar yang memilin memucuk hingga ke pangkal
sunyi
Kata yang masih kita goreskan runcing diri
Kertas kita bakar jadi tanda
Sudah kumandikan diri dengan air mata
Tetapi apa daya ubahnya
Menyongsong lupa sesudahnya
Melipur diam yang makin buram
Terangguk-angguk memilah jawaban
Sudahlah, masih ada harapan
Yang menentukan kemenangan
Hendak kita atur segala peran
Untuk dikenang atau dilupakan



Segurat Hitam di Selat Sinaboi

Matamu melekat meniti jarak
Menyeberangi pulau  yang bersedekap
Selat menyempit jadi darat
Membawa nasib tentu tak dapat
Duhai dangkalnya lubuk
Ikan sembilang tak nampak lekuk
Kata Baba yang menjual terubuk
Tubuh kami dalam pompong yang menepi
Berat menyongsong gelombang
Dan perlahan hilang
Membawa serta kebimbangan
Menumpuk-numpuk kekhawatiran
Air pasang lama dinanti
Surut ia memberi duka kami
Sebab laut adalah rumah sejati
Di pelantar kami berdiri
Seperti mengantar mayat sendiri



Pupuk Tanam

Tanam-tanamkan aku pada benih yang
bertumbuh
Kelak ia dinamakan biji baru
Pupuk-pupuklah aku jika ia telah cukup waktu
Tiup ia dan taruh di belakang pintu
Dalam kegelapan yang terus memberinya jeda
Melelapkan dirinya yang upaya
Pada tiap lekuk daun
Pada batang yang memanjang
Atau beri ia segelas air
Pada pagi dan petang yang bergilir
Mata terpejam, basah tergenang
Hingga lupa menyerap segala yang datang
Dan pot-pot baru yang bergantian
Berjejeran dalam pandangan
Tertatih-tatih untuk tumbuh
Dalam cahaya yang kian menjauh

Januari,  2016



Mahar

Kupinang sejumput puisi untuk kemudian ia datang
bersama doa-doa dari langit
Mengakali sekian jarak dari perjumpaan kita, adakah kau rela menunggu
Hingga kuselipkan bunga di kupingmu
Bau rempah yang selalu membuat aku lapar
Meski kau berkata dengan datar
mahar demikian sanggup kuberikan

Tenanglah puan, jalan berdengkang
Tubuhku tegap menantang
Jika kau muncul dengan tangan terbuka
aku siap membawa nyawa
lekas kita menyatu raga dan jiwa agar tak
berserak ke mana-mana
agar gelisah bumbung ke angkasa
tempat kita menghitung bahagia
dari masa ke masa

Januari, 2016

Cikie Wahab, lahir dan tinggal di Pekanbaru. Bergiat di Komunitas Paragraf. Beberapa karyanya terbit di Jawa Pos, Riau Pos, Sumut Pos, Majalah Sagang, Story, Radar Banten, Padang Ekspres dan Indopos. Cerpen dan puisinya terangkum dalam antologi bersama seperti Fragmen Waktu, Robohkan Pagar Ini, Datuk, Bulan Majapahit Mojokerto, Kopi Hujan Pagi, Ayat-ayat Selat Sakat, dan Bendera Putih untuk Tuhan. Cerpennya “Kesalahan Angin Selatan” terpilih sebagai cerpen terbaik lomba menulis “Kawabanua, Kalimantan Selatan dalam Cerita.” Buku kumpulan cerpen terbarunya adalah Gaun Sinar Bulan (2012).

KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 16 November 2018 - 18:00 wib

Menteri Keamanan Siber Jepang Ternyata Tak Mengerti Komputer

Jumat, 16 November 2018 - 17:30 wib

Dua Kecamatan Masih Terendam

Jumat, 16 November 2018 - 17:00 wib

Lutut Istri Disenggol, Nelayan Bacok Tetangga

Jumat, 16 November 2018 - 16:15 wib

Miliki 30 Kg Ganja, Petani Ditangkap

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

BRK Ikut MoU e-Samsat Nasional

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

Formasi CPNS Sumbar Terancam Kosong

Jumat, 16 November 2018 - 15:45 wib

Desa Dituntut Gerakkan Ekonomi Masyarakat Lewat ADD

Jumat, 16 November 2018 - 15:30 wib

Pedagang Belum Tahu Kapan Direlokasi

Follow Us