SAJAK

Sajak-sajak Isbedy Stiawan ZS

7 Februari 2016 - 01.44 WIB > Dibaca 1109 kali | Komentar
 
Ingin Pulang

aku sudah beku 17 hari di sini
ingin pulang dan mencium hangat
tubuh istri dan suam pipi anak
karena itu tiada tunda jadwal
tak pula tambah hari. tak ingin
aku menjejaki jalan beribu
kilometer lagi. kakiku sudah khatam,
jemarinya sudah keram dan lebam

apa kau kira menambah hari
tinggal di sini, tumpukan cerita
dan sejarah bertambah?
di leiden banyak halaman buku
kubaca, tapi hanya berapa
kalimat bisa kuingat?

kecuali sajak-sajak di dinding rumah
sungguh membangun halaman baru,
seperti taman, bisa kusinggah

lalu kuberi padamu, kekasihku
yang kutinggal dan sudah rindu
sebagai ciuman panjang

Rotterdam, 23 November 2015



Teman Perjalanan

tak ada siapa-siapa
selain bukubuku, selimut
yang belum dilipat, dan
laptop tak menyala

sebuah kamar aroma rokok,
kopi, dan asbak bagai
bibir selalu menunggu

teman lama tak pulang
menyisakan bacin dan
bekas minuman. mungkin
ke balik dingin ia tidur
atau ke dalam tubuhmu
berlabuh?

sebuah jalan membentang
bunga es luruh
lampu merah menggoda
tak menyala

teman lama pergi
tanpa kabar
kosong kamar

2015



Pelabuhan Sunyi

salam kedatangan, selebihnya sepi: tak
ada lagi yang menjamah botolbotol
di kedai itu. gelas berkepala di bawah. jettti marina
semakin malam. bot-bot sudah istirah,
bersandar di dadamu

kau belum kukenal: siapa namamu, dari
mana asalmu? lalu berulang rokok
aku hidupkan dan kumatikan
di bawah sepatuku

di jetti marina mulai kureka namamu,
kucari asalmu. perempuan yang hilang
di balik malam pelabuhan sunyi

pangkor sesaat lagi kujamah. mengulang
percakapan—dan membubuhi cinta—di
lembar puisi. lagu mengalun, pantun
dikatakan

“engkau si manis berjalan di tepi pantai,
di arena pangkor, ruang-ruang diskusi;
untuk sebuah kenangan perjalanan,” desah
angin pasir bogak

tak ada mawar, tapi ada kau di sini! puisi
yang tumbuh dari pulau memukau
pasir bogak yang menggelegak
ombak bergelak...

4-10 Desember, 2015



10 Menit untuk Percakapan

hanya punya waktu
10 menit saat petang
minum teh di bawah pohon
dan taman basah oleh hujan

hanya 10 menit untuk
jumpa dan berbincang,
katamu suatu masa

sejak itu aku menanti
10 menit keramat itu
kujagai jam agar berdentang
saat 10 menit dijanjikan

jam yang tak pernah ingkar
kecuali gempa dan petaka

lalu aku datang pada
10 menit yang berdentang
saat engkau pualam
dan langit benderang

di bawah pohon, ah tidak,
aku sudah jauh dari dunia anakanak
bermain gobaksodor di bawah purnama
berlari umpet-umpetan di balik pohon

tapi, 10 menit itu tak juga menghampir
aku lupa pada jadwal, dan kau sibuk
menata diri; mengunjungi keramaian

di mana 10 menit berlalu?
pasir pantai tak memberi halaman
untuk kutulis nama dan pertemuan

bahkan, kertas buku yang
menulis puisiku di pasir bogak
hanya sejenak bergolak
lalu tersapu ombak

6-9 Desember, 2015

Isbedy Stiawan ZS, lahir dan besar di Tanjungkarang, Lampung. Karya-karya sastranya terhimpun dalam sejumlah buku tunggal dan bersama. Buku terbaru kumpulan cerpen Perempuan di Rumah Panggung, dan buku puisi Menuju Kota Lama yang memenangkan sayembara buku puisi Hari Puisi Indonesia 2014. Buku puisi terbarunya Pagi Lalu Cinta dan Perjalanan Sunyi.


KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 18 November 2018 - 20:28 wib

Berlari 15 Menit untuk Daya Ingat yang Baik

Minggu, 18 November 2018 - 20:23 wib

Jadi Pemilik Akun Penyebar Hoax, Istri Gubernur Diselidiki Polisi

Minggu, 18 November 2018 - 20:20 wib

IDI Riau Gembira PN Pekanbaru Menangkan Gugatan Anggotanya

Minggu, 18 November 2018 - 14:18 wib

1250Orang Antusias Ikuti Rangkaian #Hands4Diabetes

Minggu, 18 November 2018 - 06:45 wib

Bela SBY, Ruhut Sebut Prabowo Seperti Beruang Madu

Minggu, 18 November 2018 - 06:03 wib

PBNU Tak Sependapat dengan PSI Soal Perda Syariah dan Injil

Minggu, 18 November 2018 - 05:34 wib

Ketua PGI Tanggapi Positif Kritik Grace

Minggu, 18 November 2018 - 05:11 wib

Grace Harus Uraikan Maksud Perda Syariah

Follow Us