OLEH DESSY WAHYUNI

Ajari Aku, Riauku

20 Februari 2016 - 21.45 WIB > Dibaca 2082 kali | Komentar
 
Ajari Aku, Riauku
ajari aku bermantra, Riauku
seperti ngiau Sutardji
pot pot pot
pot pot
kalau pot tak mau pot
biar pot semau pot
mencari pot
pot

ajari aku mengemas murka, Riauku
seperti teriak Fakhrunnas, “Karena Kalian Gunung, Kami Pun Menjelma Jadi Angin”
agar aku mampu mengendalikan diri

ajari aku mengeja waktu, Riauku
seperti pesan Taufik Ikram Jamil “Kepada Jawa”
betapa cepat waktu pergi
sementara datang bukan bagian dari dirinya
agar aku tidak jadi pelupa

ajari aku berintrospeksi, Riauku
seperti “Solilokui Para Penunggu Hutan” Marhalim Zaini
agar aku dapat mengenal diri

ajari aku dengan puisimu, Riauku
agar aku tahu segala hakikat
seperti Rida menafsir “Jebat”

Kutipan tersebut merupakan potongan sajak “Ajari Aku, Riauku” yang ditulis Agus Sri Danardana. Sajak ini sempat dilantunkannya pada 21 Januari 2016 lalu dalam acara lepas sambut Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau.

Danar, begitu dia biasa disapa, telah menjadi Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau hampir tujuh tahun lamanya. Awal tahun ini, dia meninggalkan Bumi Lancang Kuning menuju ranah Minang untuk menjadi Kepala Balai Bahasa Sumatra Barat.

Lalu, apa yang membuat pria berambut panjang itu mengarca, seolah enggan beranjak dari Bumi Lancang Kuning ini? Rupanya, dalam sajak “Ajari Aku, Riauku” itu ia menyembunyikan salah satu alasannya. Betulkah demikian? Mari kita coba membualkannya.
Bagi Danar, Riau memiliki arti tersendiri. Riau (dan juga “adiknya” Kepulauan Riau) diyakininya menyimpan banyak sumber daya. Sebagai salah satu kawasan tonggak bahasa dan sastra Melayu, kedua daerah itu telah melahirkan banyak pujangga atau sastrawan. Sebut saja Raja Ali Haji, Suman Hs., Sutardji Calzoum Bachri, Rida K. Liamsi, Fakhrunnas M.A. Jabbar, Taufik Ikram Jamil, Marhalim Zaini, dan masih banyak lagi nama yang lain.

“Umumnya, merekalah (pujangga atau sastrawan itu) yang paling tunak merajut pernik-pernik kehidupan masyarakat dan lingkungannya dalam karya (sastra),” demikian kata Danar dalam sebuah obrolan di Balai Bahasa Provinsi Riau. Bisa jadi, karena keyakinannya itulah Danar memetaforkan Riau dalam diri lima sastrawannya: Sutardji Calzoum Bachri, Fakhrunnas M.A. Jabbar, Taufik Ikram Jamil, Marhalim Zaini, dan Rida K. Liamsi.

Konon, melalui karya sastra (dalam pembicaraan ini puisi) dapat diamati pantulan tata nilai dan gambaran kondisi sosial budaya masyarakat yang melahirkan karya tersebut. Dengan demikian, karya sastra yang baik selalu menyodorkan sejumlah ide atau konsep mengenai manusia dan lingkungannya. Hal itu tampak pula pada  puisi-puisi yang disebut dan digambarkan Agus Sri Danardana dalam “Ajari Aku, Riauku”. Melalui puisi-puisi itu, Danar ingin belajar (dan diajari) tentang Riau. Baginya, Riau bukan sekadar himpunan yang menyatukan Raja Ali Haji, Suman Hs., Sutardji Calzoum Bachri, Rida K. Liamsi, Fakhrunnas M.A. Jabbar, Taufik Ikram Jamil, Marhalim Zaini, dll., melainkan juga menyatukan mantra, syair, pantun, naskah, Rusydiah, Riau Pos, Sagang, Bandar Serai, Selembayung, dsb., sampai tidak terhitung jumlah dan jenisnya.

Melalui puisi-puisi Sutardji, misalnya, Danar ingin diajari bermantra. Ia ingin memiliki keahlian dalam berkata-kata yang mengandung kekuatan gaib. Seperti ngiau Sutardji, Danar ingin mengembalikan kata kepada mantra, dan tidak menjadikannya alat yang mengantarkan pengertian, sebab kata adalah pengertian yang memiliki kebebasan. Melalui “Karena Kalian Gunung, Kami Pun Menjelma Jadi Angin” (Fakhrunnas), Danar mengaku telah mendapat pelajaran mengenai (cara) pengendalian diri. Kemurkaan Fakhrunnas atas keteraniayaan masyarakat Melayu (Riau) telah dikemasnya dalam karya (puisi) yang apik: simbolik, metaforik, dan imajinatif. Sementara itu, melalui “Kepada Jawa” (Taufik Ikram Jamil), Danar merasa telah mendapat pelajaran bagaimana mengeja waktu yang begitu cepat berlalu. Keberadaan Taufik yang jati Melayu itu, ternyata selalu terbuka pada puak lain. Ia justru membangun tali persahabatan di tengah pergulatan antaretnis yang kian menajam.

Bagaimana terhadap Marhalim dan Rida? Melalui “Solilokui Para Penunggu Hutan” (Marhalim Zaini) dan “Jebat” (Rida K. Liamsi), Danar pun mengaku telah mendapat banyak pelajaran. Tentang bagaimana berintrospeksi diri, misalnya, Danar peroleh dari puisi Marhalim yang terbagi atas tiga bagian itu: "batu geliga" (bezoar), "rotan jenang" (dragon’s blood), dan "lebah sialang" (apis dorsata). Pada bagian "batu geliga", Marhalim seolah bersenandika tentang “kesangsian” orang atas eksistensi diri-(kemelayuan)-nya. Pada dua bagian lainnya, Marhalim terlihat berharap agar masalah etnisitas (Melayu kacukan) tidak digunjingkan lagi. Baginya, tindakan merawat dan mengembangkan kemelayuan itu jauh lebih penting daripada meributkan asli-tidaknya kemelayuan seseorang. Dengan demikian, solilokui yang dihadirkan Marhalim dalam sajaknya mengajari kita untuk berintrospeksi diri agar dapat mengenal diri sendiri. Sementara itu, “Jebat” telah mengajarinya tentang kearifan dalam membaca zaman.

Menurut Danar, Rida K. Liamsi (melalui “Jebat”) mencoba memberi makna baru (merevitalisasi) atas “tragedi” Jebat. Sebagai orang Melayu (yang paham betul tentang Jebat) ia tidak lagi terjebak pada perdebatan apakah Jebat itu pahlawan atau pecundang. Perdebatan tentang Jebat itu dianggapnya tiada guna, sia-sia, dan hanya akan menghasilkan pengultusan Jebat semata. Hal itu diungkapkan Rida dengan apik, seperti dikutip berikut ini.

Kami hanya menyaksikan waktu yang berhenti bertanya
sejarah yang berhenti ditulis
kita hanya membangun sebuah arca


Ya, kita hanya membangun sebuah arca: benda yang selalu dirawat, dijaga, dan bahkan disembah, tetapi tidak dapat menyelamatkan kehidupan manusia.

Ajaran-ajaran seperti itulah, kira-kira, yang dapat dipetik dari puisi-puisi sastrawan Riau sehingga membuat Agus Sri Danardana ingin terus menggalinya. “Riauku, janganlah pernah berhenti mengajariku,” katanya.***

Dessy Wahyuni, peneliti di Balai Bahasa Riau.
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 21 November 2018 - 15:54 wib

Prabowo Pasti Tepati Janji Tuntaskan Masalah Honorer K2

Rabu, 21 November 2018 - 15:50 wib

Tim Kampanye Jokowi Manfaatkan Popularitas Djarot

Rabu, 21 November 2018 - 15:45 wib

Dewan Rekomendasikan Cabut Izin PT MAS

Rabu, 21 November 2018 - 15:30 wib

Gunakan Sampan, Kapolres Jangkau Lokasi Banjir Temui Warga

Rabu, 21 November 2018 - 15:00 wib

APBD 2019 Rp1,47 T

Rabu, 21 November 2018 - 14:45 wib

Fokus Siapkan PK, Nuril Minta Perlindungan LPSK

Rabu, 21 November 2018 - 14:42 wib

141 Kades Tersangka Korupsi

Rabu, 21 November 2018 - 14:39 wib

Jadwal Pemeriksaan Kesehatan JCH Sesuai Konfirmasi Diskes

Follow Us