OLEH RAMON DAMORA

Estetika Diam Mat Syam

21 Februari 2016 - 00.34 WIB > Dibaca 1001 kali | Komentar
 
TERPUJILAH Bujang Mat Syamsuddin. Ranumlah semua karyanya yang ditulis atas nama kalam: BM Syamsuddin a.k.a BM Syam. Hari ini, 19 tahun yang lalu, salah seorang sastrawan Melayu yang sempat menjulang pesonanya di pentas literasi tanah air itu menutup mata untuk selamanya. Kita masih saja tergetar melihat semangat yang ia wariskan. Terutama kehendak yang demikian kokoh menjadikan sastra sebagai parau lenguh suara zamannya.

Di tengah kepanikan banyak pihak, bahwa sastra Indonesia hari ini kian terasing (baca: mengasingkan diri) dari realitas masyarakat kiwari, karya-karya BM Syam seakan menjadi pelipur lara. Ia tak hanya berambisi mengusung teks ke dalam apa yang oleh sosiolog diistilahkan mirror (cermin). Tetapi juga berjibaku menjadikan prosa-prosanya bernilai mimesis, insan tiruan,salin-rupa umat semasa.

Yang membuat posisi kepengarangan BM Syam diperhitungkan, adalah ia seorang “pemeluk teguh” di barisan ini. Barisan kaum penghayat kerja sastra yang percaya, naskah raksasa mestilah merefleksikan zamannya. Bila pun terbersit noda bid’ah dalam proses kreatifnya, sungguh itu semata pengingkaran akan kementahan, menolak copy-paste realitas kehidupan tanpa tafsir. Sebab pada hampir semua cerita pendek BM Syam kenyataan hidup tak lebih dari sehelai kertas karbon legam-buram.Karena itu, harus dilapis kembali dengan penafsiran yang kalis lagi estetis. Kapan perlu, disiram serbuk emas perada. Estetika Melayu, namanya.
Lahir sebagai Melayu, menggenggam estetika Melayu, menulis pelbagai realitas duka lara Melayu dalam tebaran cerita fiksinya, sejenak kita terhenyak. Bertahun-tahun lamanya Mat Syam berjuang sendirian mengusung bahasa (dan penderitaan) Melayu di tengah ingar-bingar kesusastraan nasional.Tema-tema cerpennya sungguh tak berhijab dengan problem sosial kemelayuan dan karenanya selalu mengandung pesan kritik yang tajam.

Menyebut beberapa misal, singgunglah cerpen "Taikong" yang mengisahkan desakan seorang ayah agar sang anak mengikuti jejaknya meraup untung besar kala menyeberangi selat secara gelap. Ada pula nestapa "Suku Sakai dalam Pemburu Rusa Sepanjang Pipa", kisah serakah pembangunan pada "Batam Perburuan", hingga ratap seorang Sri Banun, dara berparas jelita yang terpaksa mengangkut air setiap harinya, karena sumber air bersih terhalang akses PT Timah di daerah Dabo suatu ketika. Semuanya ditulis mendiang tatkala mengaruk, menggugat,sebuah sistem yang mapan belum segampang menggaruk —maaf— pantat, bahkan di halaman istana presiden sekalipun, seperti sekarang.

Siapa dulu yang punya nyali temberang walau hanya di pagar halaman belakang Cendana? Persis pada tahun 1990 –setidaknya menurut dokumen kontroversial George Junus Aditjondro– di dalam kediamannya Soeharto sedang bagi-bagi lahan untuk para penerus nasab. Lahan tol dan penerbangan buat Mbak Tutut. Industri otomotif untuk Mas Bambang.

Lahan cengkeh, siapa lagi kalau bukan jadi milik Tommy. PT Kembang Cengkeh Nasional (KCN) baru saja dibentuk kala itu.Tommy Soeharto telah meninggalkan posisinya sebagai pemegang saham terbesar kroni sebelumnya, Badan Penyangga Perdagangan Cengkeh (BPPC). Para pengusaha rokok yang dulu dipaksa beli cengkeh ke BPPC, kini dititahkan harus pindah ke KCN. Pangeran Cendana itu dengan cepat menularkan demam uang cengkeh ke berbagai pelosok nusantara.Tak terkecuali "Natuna.Euforia" rupiah-senang menyebar bagai wabah.

Sampai di sini, kita jeda sebentar menuju abad 18, saat seorang filosof Jerman, Alexander Boumgarten, mematlamatkan pertama kali konsepsi estetika sebagai ilmu pengetahuan yang mandiri, dengan menggamit akar katanya yang berasal dari Bahasa Yunani: aithe, kepekaan. Aesthetic, estetika, tak lahir dari keindahan yang kasat mata.Melainkan dari ketajaman perasaan pada dunia yang keliru dankabur sekalipun.Andai sisi terluka manusia (faculty inferior) bisa diutarakan dengan molek, itulah estetika.

Monopoli distribusi bisnis cengkeh ala Tommy Soeharto. Hujjah estetika Tuan Boumgarten. Apa kait kelindan keduanya? Ini: tahun 1991, terbentanglah ke hadapan kita, "Dan Cengkeh pun Berbunga di Natuna". Satu tajuk yang memangmengusik kepekaan.Pilihan estetik penggunaan partikel “pun” di situ tak ayal menyergap nalar.Ia bisa menyatakan aspek sesuatu sedang, atau telah, terjadi. Bahwa fenomena ekonomi yang dihasilkan pertanian cengkeh waktu itu, akhirnya menjalar ke Natuna-Anambas yang sebagian masyarakatnya selama ini justru dikenal sebagai petani kelapa.

Seorang antagonis, dari korporasi muslihat transaksi cengkeh, diceritakan datang menebar impian, yang tentu saja palsu.Satu per satu lahan kopra ditebas, menjelma jadi area kebun cengkeh penuh ilusi. Barulah pada pertengahan alur cerita, kita tersadar bahwa pengarang sesungguhnya telah menyisipkan makna yang lebih menegangkan dalam partikel sependek, sekaligus seluas, “pun”. Asas estetik Tuan Boumgarten mulai menari-nari di sini.

Frasa “cengkeh pun berbunga” pada akhirnya bukan keindahan diksi mengenai panen bunga cengkeh yang siap dipetik petani.Bukan pula bunga harum mewangi.Melainkan kuntum yang pecah berderai, chaotic. Rentetan ironi relasi kuasa kartel cengkeh dan kaum jelata yang sebenarnya telah terjadi di mana-mana nusantara, punpada gilirannya memporak-porandakan sendi hidup masyarakat Natuna, tanah kelahiran sang pengarang.

Simaklah jeritan Siti Hamlah pada suaminya yang cukup mewakili fakta pahit utopia niaga cengkeh dalam cerita itu: “Sampai hati Abang meninggalkan kami, anak-anak masih kecil, sedangkan kebun kelapa tempat bergantung hidup telah punah ranah,” ratap Siti Hamlah, semakin menjadi-jadi. Harapkan cengkeh penggantinya yang membelantara, sekalipun setiap musim pasti berbunga belum tentu cukup untuk keperluan hidup, sedangkan untuk melunasi utang makan saja belum pernah terselesaikan. Setiap musim cengkeh berbunga, utang baru semakin menumpuk…”

Ketika Kompas memuat cerpen ini, ia terasa sangat aktual dengan kapitalisasme oligarki bisnis cengkeh yang tengah menggurita-guritanya. Setahun kemudian, karya yang seperti menjadi postulat bagi estetika kepengarangan BM Syam tersebut termaktub pula di buku Kado Istimewa (Cerpen Terbaik Pilihan Kompas 1992).

Semenjak itu, masyarakat sastra tanah air menerima dengan baik persembahan-persembahan estetik dalam senarai prosa Syam yang lain. Namanya masyhur sebagai cerpenis Melayu paling produktif, utamanya pada rentang tahun 80 sampai 90-an. Masa itu, tiada surat kabar mainstream di Jakarta yang luput mempublikasikan cerpen-cerpennya.

Seraya meniupkan umm al-Qur’an ke ruh Allahuyarham BM Syam, barangkali telah selayaknya kita mengingat namanya sebagai pengasas korpus estetika sastra Melayu mutakhir.Apa tepatnya estetika Melayu yang ditinggalkan BM Syam itu? Sastrawan yang juga pensyarah teori-teori sastra Melayu terkemuka dari Malaysia, Profesor Muhammad Haji Saleh, memudahkan kita dengan gagasannya.Estetika Melayu, jejal Muhammad Haji Saleh, berasal dari duka alam, duka sengsara yang indah.

Sulit membantah dalil Encik Haji Saleh ini, rasanya. Sama sulitnya dengan menemukan karya-karya sastrawan Melayu terkini yang benar-benar terbebas zahir batin dari “duka alam” itu. Barangkali masih perlu bilangan beberapa dekade lagi Melayu bisa menemukan konsep estetika yang baharu. Perubahan pola pikir suatu tatanan kehidupan masyarakat, memang sangat mempengaruhi penilaian terhadap keindahan. Namun,betapa terpujinya sastrawan bila karya-karyanyalah yang menjadi pemandu perubahan tersebut.

Pada masa Romantisme Perancis, estetika berarti kemampuan menyajikan keindahan demi sebuah keagungan. Moral merupakan segala-galanya. Namun lewat Madame Bovary, novel yang ditulis Gustave Flaubert pada 1856 dan selalu diulang para pengamat sastra sebagai roman terbaik yang pernah ada, moral luluh-lantak. Perselingkuhan diumbar Puan Bovary, istri bangsawan, mewakili ketaksenonohan perangai kaum borjuis kala itu.

Kepincangan akhlak yang selama ini tabu, terekam menjadi kisah cinta terlarang yang memukau oleh Flaubert. Madame Bovary bukan saja novel sejati yang piawai memotret zamannya, tetapi juga menandai runtuhnya era Romantisme. Lalu terbitlah masa Realisme, di mana estetika diukur dari kemampuan menyajikan keindahan apa adanya.

Sejarah berutang kepada Gustave Flaubert. Kini sudahkah kita berterima kasih pada BM Syam? Kesetiaan sastrawinyaberdepan-depan dengan tema kecamuk sosial, kekeras-kepalaannya menjadi hati nurani masyarakat Melayu di zamannya, tak terinterupsi lagi, menempatkan BM Syam pada tahta yang sangat khas di suatu masa. Satu-satunya, bahkan.
Direngkuhnya prestasi sunyi itu dengan diam. Tanpa keinginan menggebu-gebu dipanggil pembaharu.Tak mengemis supaya digelari Reformis. Tanpa sempat memiliki buku kumpulan cerpen tunggal edisi lux bersampul endorsement para sahabat.Tanpa sempat menikmati hidupselesa,seperti yang dirasakan seniman-seniman Melayu pasca-otonomi dari kemurah-hatian anggaran pemangku negeri.

Hari ini, 21 Februari, atau tepat 19 tahun yang lalu, BM Syamsudin wafat. Dijemput maut yang juga diam. Siapa menyangka, nikmat besar era Reformasi bagi para sastrawan sepeninggalnya adalah merayakan estetika yang bertahun-tahun dulu dihayatinya: estetikadari teks-teks Melayu yang terluka, Melayu melawan, dan seterusnya.
Celakanya, wahai Bujang Mat Syam, engkau berhasil menyatukan luka-luka itu dengan tanah pusara yang diam. Sementara kami masih terus-menerus bising mereproduksinya dengan kecengengan dan kebodohan baru.Estetika kami estetika tukang kibul seni berjubah marwah. Maafkanlah…***

Ramon Damora adalah sastrawan yang rajin menulis karya, baik esai maupun sajak. Karya-karyanya dimuat dalam berbagai media dan sudah pula dibukukan. Saat ini Ramon mengasuk halaman budaya Jembia di Batam Pos.

KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Follow Us