OLEH FAKHRUNNAS MA JABBAR

Mewariskan Tunjuk Ajar Melayu ke Generasi Baru

21 Februari 2016 - 00.48 WIB > Dibaca 4588 kali | Komentar
 
Mewariskan Tunjuk Ajar Melayu ke Generasi Baru
Orang Melayu sangat kaya dengan ajaran kebajikan demi ketinggian budi dan kemuliaan kemanusiaan. Ajaran-ajaran yang yang berhubungan dengan pembentukan  karakter atau sikap moral itu diajarkan secara alamiah dan turun temurun. Kearifan orang Melayu dalam menjaga kehalusan budi dan tutur kata disampaikan dengan bahasa kiasaan dan ungkapan-ungkapan penuh lambang.

Dalam jangka masa yang panjang, ajaran kebajikan melalui kiasan itu terjelma dalam tradisi lisan lintas generasi. Inilah yang dikenal di dalam wujud sastra lisan yang sebagian besar masih terpelihara berupa pantun, syair, gurindam, peribahasa, seloka, dongen, legenda, hikayat atau cerita rakyat.

Di masa lalu, semua tradisi lisan dalam kehidupan orang Melayu semata-mata dimaksudkan untuk pewarisan nilai-nilai kesantunan dan kehalusan budi. Gaya orang Melayu dalam memberikan teguran cenderung memilih cara-cara yang moderat (jalan tengah) sehingga cukup ampuh menghindari ketersinggungan sesama.

Semua ajaran kebajikan yang mengatur tatacara pergaulan dan kehidupan orang Melayu itu disebut Tunjuk Ajar, Pantang Larang. Namun, sebutan Tunjuk Ajar saja sudah cukup menggambarkan adanya arahan dan bimbingan budi pekerti yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Tentu saja, para orangtua mewariskan tunjuk ajar itu dengan cara mempraktikkan dalam kehidupan di rumah tangga.

Ajaran tradisi dan budaya Melayu yang disimpai dengan ajaran Islam secara jelas mengutamakan suri tauladan orangtua terhadap anak keturunan (zuriat) atau rumpun keluarga lainnya. Para orangtua selalu mengingat anak-cucu akan arti penting memelihara marwah atau harga diri. Sebab, apabila salah satu dari anggota rumpun keluarga itu membuat aib (hal-hal yang memalukan) niscaya dapat merusak keharuman dan nama baik rumpun keluarga itu.

Orang Melayu di masa lalu mewariskan ajaran tunjuk ajar dan pantang larang itu secara lisan kepada anak keturunan. Ajaran yang terkait hubungan pemimpin dengan rakyat  diwujudkan dalam praktik pemerintahan atau kesultanan. Begitu pula ajaran yang berkaitan dengan adat-istiadat diwariskan dalam kebiasaan sehari-hari. Sistem inilah yang melahirkan tradisi lisan dalam jangka waktu yang panjang.

Tradisi lisan yang berlangsung secara turun-temurun dengan mengandalan hapalan demi hapalan menjadikan ajaran tunjuk ajar suatu saat bisa mengalami distorsi. Sebab kemampuan hapalan seseorang sangat berbeda-beda. Sejalan dengan munculnya tradisi literasi (tulisan) maka upaya menuliskan ajaran tunjuk ajar itu menjadi sebuah keniscayaan agar tetap terjaga dan terpelihara sebagai ajaran leluhur yang bisa diwariskan sampai generasi kapan pun.

Buku Tunjuk Ajar Melayu

Upaya sungguh-sungguh dan ketunakan seorang punggawa Melayu Riau, Dr. (H) Tenas Effendy patut dipuji. Penelitian panjang yang dlakukannya sebagai ‘mengutip remah-remah budaya’ yang terserak di mana-mana telah membuahkan hasil ketika terwujudnya buku Tunjuk Ajar Melayu – Butir-butir Budaya Melayu Riau sekitar dua dasawarsa silam, Cetakan pertama buku ini diterbitkan oleh Bappeda Riau dan Dewan Kesenian Riau (DKR), 28 September 1994.

Boleh jadi sejumlah penulis atau peneliti lain juga melakukan pengimpunan ajaran Tunjuk Ajar Melayu dalam intensitas dan kapasitas yang berbeda. Namun, keberadaan buku yang ditulis Tenas Effendy ini  dapat dijadikan sebagai acuan dasar dalam memahami dan mengembangkan ajaran karakter orang Melayu ini.

Persoalan sosialisasi buku-buku yang diterbitkan oleh pemerintah selalu terkait distribusi buku yang terbatas dan tak jelas. Sebab, kebiasaan buku-buku proyek cenderung diterbitkan ala kadarnya dan masalah penyebaran buku tidak lagi diperhatikan.

Padahal bila buku Tunjuk Ajar Melayu ini disebarkan sampai di seluruh perpustakaan sekolah dan perguruan tinggi di kawasan rumpun Melayu terutama Provinsi Riau tentu saja sejak lama ajaran tunjuk ajar tersebut dapat dijadikan bahan bacaan dan pedoman bagi anak-anak jati Melayu sebagai bimbingan dan arahan dalam   kehidupan sehari-hari.

Pada masa pemerintahan Gubernur Riau Rusli Zainal buku Tunjuk Ajar Melayu karya Tenas disempurnakan dan dicetak ulang oleh Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu, Yogyakarta bekerjasama dengan penerbit Adicita Karya Nusa, Yogyakarta. Penerbitan buku ini yang diinisiasi oleh pemilik penerbitan, Mahyuddin Al Mudra, anak jati Melayu di perantauan ini  patut disambut gembira karena penyebaran buku ini pasti jauh lebih terbuka karena dijual di toko-toko buku.

Persoalannya, harga jual buku ini cukup mahal untuk ukuran orang awam. Apalagi buku-buku serius yang berkaitan dengan keilmuan dan pengetahuan. Persoalan harga buku dan minat baca memang sudah lama diperbincangkan di negeri ini. Oleh sebab itu, masalah distribusi buku tetap saja menjadi kendala dalam mensosialisasikan buku Tunjuk Ajar Melayu ini.

Perbincangan saya dengan Bung Mahyuddin Al Mudra beberapa tahun setelah buku Tunjuk Ajar Melayu terbit masih menyiratkan kekhawatiran bagaimana buku tersebut bisa tersebar luas. Persoalannya, Pemerintah Provinsi Riau tidak membeli buku dalam jumlah yang sebanding dengan perpustakaan sekolah dan perguruan tinggi yang ada. Belum lagi institusi sosial-kemasyarakatan yang selama ini lebih mudah diakses oleh masyarakat dalam hal bahan bacaan.

Buku Tunjuk Ajar Melayu karya Tenas Effendy  tampaknya masih tepat menjadi objek kajian para peneliti dan ilmuwan atau orang-orang yang bergelut di bidang budaya Melayu. Bahkan kandungan buku ini sudah lazim dikutip dalam pidato-pidato para pembesar di negeri serumpun, Malaysia.

 Pewarisan Tunjuk Ajar Melayu


Persoalan pewarisan nilai-nilai dan ajaran Tunjuk Ajar Melayu sebagaimana ajaran adat budaya puak lain selalu menjadi kerisauan yang tak habis-habisnya. Hal ini berkaitan dengan banyak faktor mulai tidak jelasnya sarana dan metode pewarisan, kepungan dan gempuran budaya modern yang lebih dusukai anak-anak generasi masa kini hingga institusi yang paling bertanggungjawab dalam urusan pewarisan itu.

Ajaran Tunjuk Ajar Melayu yang disampaikan dalam bentuk ungkapan dan kiasan tentu saja hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang memiliki perhatian dan keahlian tersendiri. Banyak relasi saya yang ingin memahami ajaran kehidupan orang Melayu, ketika saya perkenalkan buku Tunjuk Ajar Melayu langsung menyatakan kesulitan untuk memahaminya.

Semestinya upaya pewarisan nilai dan ajaran Tunjuk Ajar Melayu ini sejak dulu sudah menjadi urusan dan tanggungjawab institusi yang berhubungan dengan pengembangan dan pembinaan kebudayaan seperti Dinas Pariwisata dan Kebudayaan –masa lalu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Selain itu, institusi pendukung seperti Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, Dewan Kesenian Riau dan institusi-institusi lain perlu ambil peduli dan berinisiatif pula melakukannya.

Pola pewarisan itu dapat dilakukan melalui jalur formal yakni pendidikan di sekolah dan jalur informal melalui lembaga kursus dan non-formal yang langsung dilakukan dalam kehidupan bermasyarakat. Pewarisan baru dapat dilakukan apabila sudah memiliki sistem dan sumber informasi yang tepat sehingga efektivitasnya dapat dijamin.

Saya mencoba mencermati buku-buku yang berisi ajaran kebajikan dan karakter yang disepadankan dengan Tunjuk Ajar Melayu itu di bangku sekolah dasar, menengah dan atas. Terus terang, apa yang disajikan tampaknya masih menggambarkan ajaran kebajikan umum yang kurang mengandung ajaran karakter dan tradisi orang Melayu. Apalagi di dalam buku-buku itu kurang dipadankan dengan ungkapan dan ajaran bijak Melayu sebagaimana termuat di dalam buku Tunjuk Ajar Melayu.

Selebihnya, buku-buku yang banyak tersedia di sekolah justru buku penunjang berupa dongeng, mitos dan cerita rakyat. Biasanya buku-buku ini diterbitkan oleh penerbit buku dan dibeli oleh pihak pemerintah. Laiknya proyek pengadaan buku yang sudah lazim berlaku di negeri ini.

Pertanyaan yang muncul sekarang, siapakah pihak yang paling berkompeten mengelaborasi buku Tunjuk Ajar Melayu itu sehingga lebih mudah dipahami oleh seluruh orang yang bermastautin di wilayah ini.

Harus Menjadi Gerakan Massif

Apabila Tunjuk Ajar Melayu mesti diwariskan sejak kini ke generasi akan datang tak ada pilihan lain harus dijadikan sebuah gerakan massif yang melibatkan pihak pemerintah, pemuka adat, pemuka agama, generasi muda dan seluruh rakyat. Apalagi, ajaran karakter orang Melayu ini seiring-sejalan dengan aspek budaya dalam Visi Riau 2020 yang berazam menjadi Provinsi Riau sebagai Pusat Kebudayaan Melayu di Asia Tenggara dalam suasana yang agamis.

Pewarisan melalui jalur formal atau pendidikan tentu perlu disempurnakan dalam wujud silabus dan kurikulum yang sepenuhnya merujuk pada buku Tunjuk Ajar Melayu yang ada. Upaya ini memerlukan kesungguhan dan kerja keras dengan melibatkan para penulis dan peneliti budaya yang paham dan ahli. Langkah-langkah ini masih mungkin dilakukan apabila ajaran tunjuk ajar ini disepakati sebagai sumber utama ajaran karakter yang mesti dianut oleh seluruh orang Melayu atau orang-orang yang bermastautin di tanah Melayu Riau.

Lebih dari itu, lembaga pendidikan mjulai dasar hingga perguruan tinggi mesti menyediakan mata pelajaran atau mata kuliah Tunjuk Ajar Melayu. Kebijakan ini sekaligus mampu menjawab pertanyaan yang selalu muncul terkait keberadaan lulusan Sekolah Tinggi Seni Riau yang nota bene selama ini mengkaji seluk-beluk seni budaya Melayu. Begitu pula halnya pada lulusan Prodi Sastra Melayu yang terdapat di Fakultas Ilmu Budaya atau FKIP di sejumlah perguruan tinggi di Provinsi Riau.

Upaya pewarisan secara informal tentu dapat dilakukan melalui kursus-kursus dengan  sistem dan muatan tunjuk ajar yang tepat bersumber pada buku Tunjuk Ajar Melayu yang ada. Perlu pula dilakukan TOT (Training on Trainer) di semua lembaga kursus agar pewarisan Tunjuk Ajar Melayu benar-benar menjadi gerakan massif yang berkelanjutan.

Sementara pewarisan tunjuk ajar Melayu di lingkungan perkantoran baik pemerintah maupun swasta serta masyarakat umum  dapat digerakkan melalui training-training berkaitan dengan Tunjuk Ajar Melayu. Pola pewarisan yang pernah dilakukan melalui Penataran P4 di masa Orde Baru duu dapat diadopsi dengan penyempurnaan sesuai yang diperlukan.

Tunjuk Ajar Melayu
seharusnya tidak lagi hanya sekadar aspek kognitif melainkan mesti mewujud dalam aspek psiko-motorik dan efektif sehingga dapat melahirkan generasi anak jati Melayu yang tidak hanya cerdast tapi juga santun dan tunak berbudaya dengan kekayaan integritas yang patut disanjung-puji.***

Fakhrunnas MA Jabbar, lahir di Airtiris, Kampar, 18 Januari 1959. Menulis dan mempublikasikan tulisannya berupa puisi, cerpen, esai dan artikel di hampir 100 media yang terbit di Indonesia sejak 1975- sekarang.  Telah menulis dan menerbitkan buku yakni  5 kumpulan puisi  (antara lain Airmata Barzanji, 2005 dan Tanah Airku Melayu, 2007), 3 kumpulan cerpen (Jazirah Layeela, 2004, Sebatang Ceri di Serambi, 2006, dan Ongkak, 2010), 2 biografi (Zaini Kunin, Sebutir Mutiara dari Lubuk Bendahara, 1993 dan Soeman Hs, Bukan Pencuri Anak Perawan, 1998) serta 5 buku cerita anak.

KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 21:31 wib

Ini Alasan Sebagian Caleg Golkar Dukung Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 21:04 wib

Buni Yani Bergabung di BPN Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 20:26 wib

PDIP Apresiasi Tranparansi Laporan Awal Dana Kampanye

Senin, 24 September 2018 - 18:52 wib

Belum Mau Nikah

Senin, 24 September 2018 - 18:40 wib

Telur Jadi Tidak Sehat Bila Dikonsumsi Bersamaan dengan Lemak Jenuh

Senin, 24 September 2018 - 17:48 wib

Ika Surtika Senam Bugar di UIR

Senin, 24 September 2018 - 17:43 wib

Calon Anggota DPRD Inhu Bertambah Jadi 531 orang

Senin, 24 September 2018 - 17:41 wib

Komunitas BIJAK Dilatih Tim Desa Binaan LPPM Unri

Follow Us