SAJAK

Sajak-sajak Sutirman Eka Ardhana

21 Februari 2016 - 01.48 WIB > Dibaca 949 kali | Komentar
 
Pelabuhan

Di pelabuhan itu, masih ada yang tertambat
mungkin kenang, atau sebaris catatan
dan, camar-camar terbang pulang.
Aku pun sibuk mencari, warna selendangmu
yang melambai dikibaskan angin
di dalam tas kembaraku.

Sampai hari ini tak pernah kutahu
apakah deru laut, debur gelombang
yang menyapa kapal-kapal dan pantai
nyanyinya masih seindah dulu.

Kadang aku berharap, suatu petang
engkau berjalan ke ujung pelabuhan
menunggu kapal-kapal datang.
Dan, kadang aku berharap, ada lagu
dalam debur gelombang
memanggil pulang.

Kadang aku berharap, setiap saat
bisa menambatkan rindu
di pelabuhan itu.

2016

Deru Laut

Deru laut itu seperti tak pernah berhenti
bernyanyi. Seperti lagu-lagu yang sering
dinyanyikan ketika memandang malam
di beranda rumah.

Seperti laut, malam pun tak pernah berhenti
mengirimkan angin. Lalu, angin bergegas
mengirim risik daun, menyapa lelaki
yang rindu pulang.

Deru laut itu seperti tak pernah berhenti
bercerita tentang pelabuhan, dan Bengkalis
yang tak pernah bosan mengirim kenang.

2016

Pada Selembar Foto

Di selembar foto, di hamparan pohon-pohon karet
yang daunnya merimbun hijau
lelaki itu menemukan lagi
pisau torehnya
yang dulu hilang.

Lelaki itu lalu sibuk mengingat
di pohon yang mana
ember getahnya tertinggal,
seraya bertanya ke daun-daun
apakah masih menyimpan
suara detak langkahnya
yang tergesa.

Di selembar foto, di hamparan pohon-pohon karet
lelaki itu menemukan lagi
sepotong cerita cinta
yang tertinggal
dan hilang.

2016

Pada Sebuah Tas

di dalam tas sederhana itu
telah disimpannya semua catatan
tentang kisah kembara, serta
sederetan wajah-wajah
yang menyapanya
sepanjang perjalanan

disimpannya juga cerita-cerita
tentang cinta, gelak tawa,
angan-angan, nestapa
dan air mata

di dalam tas sederhana itu
juga selalu tersimpan rapi
tentang rahasia
dan misteri

2016

Parit di Depan Rumah

parit di depan rumah
mengalirkan air berwarna coklat
sedari dulu tak pernah berhenti
berkecipak di dadaku
dan, beningnya masih juga
menyimpan kenang
perempuan yang tatapnya
sempat kubawa pergi

kemana perginya celoteh
yang selalu bersama nyanyi
suara gemericik air
apa dia tak tahu, kalau aku pulang
ingin melihat bayang

parit di depan rumah
tak pernah lelah
mengalirkan rindu
dari waktu ke waktu

1989-2016

Sutirman Eka Ardhana, lahir di Bengkalis, Riau, 27 September 1952. Kini menetap di Yogyakarta. Kumpulan puisinya Risau (Pabrik tulisan, 1976) dan Emas Kawin (Renas, 1979). Puisi-puisinya juga terhimpun dalam sejumlah antologi puisi di antaranya Radja-Ratoe Alit (2011), Suluk Mataram (2012), Suara-suara yang Terpinggirkan (2012), Negeri Abal-Abal (2013), Negeri Langit (2014), Parangtritis (2014), Jalan Remang Kesaksian (2015), Negeri Laut (2015) dan Semesta Wayang (2015). Selain puisi, ia banyak menulis novel. Kini redaktur di majalah Sabana, dan dosen di Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan Akademi Komunikasi Yogyakarta (AKY).

KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 16 Desember 2018 - 15:14 wib

UKW Angkatan XI PWI Riau, 38 Wartawan Dinyatakan Kompeten

Minggu, 16 Desember 2018 - 15:12 wib

Malam Puncak Z Face Girl Riau 2018, Juara Baru Telah Terpilih

Minggu, 16 Desember 2018 - 15:04 wib

Mengapa Khitan Penting?

Minggu, 16 Desember 2018 - 14:58 wib

Hijau Simo yang Sejuk

Minggu, 16 Desember 2018 - 14:55 wib

Mayweather Jadi Mangsa Khabib Nurmagomedov

Minggu, 16 Desember 2018 - 14:53 wib

Penyaluran CSR Banyak Tak Sesuai Perda

Minggu, 16 Desember 2018 - 14:44 wib

Fasilitas Pendukung Embarkasi Belum Rampung

Minggu, 16 Desember 2018 - 14:34 wib

Dan, Palung Puisi itu Bernama Perempuan

Follow Us