OLEH ZUARMAN AHMAD

Szomorú vasárnap dan Moderato Cantabile di Kedai Kopi Bandar Serai

5 Maret 2016 - 23.00 WIB > Dibaca 1237 kali | Komentar
 
MARGUERITE Duras atau lama lengkapnya Marguerite Donnadieu Duras lahir di Gia-Dinh, Indocina, 1914. Perempuan keturunan Perancis ini mengarang novel (nouveau roman) yang berjudul Moderato Cantabile.

Moderato dalam pengertian musik berarti dinyanyikan dengan tempo sedang lambat, dan cantabile bermakna dengan berlagu atau berseru; dalam buku Oxford Concise Dictionary of Music ditulis: Single, stingingly, with the melody smoothly perf. and well brought out.
Beberapa percakapan (dialog) dalam novel Marguerite Duras itu, yakni seorang guru piano perempuan yang agak marah kepada murid les piano-nya yang sepertinya tidak mengerti tentang makna tempo moderato cantabile lagu atau etude dari partitur piano yang dimainkan muridnya itu.

“Coba baca yang tertulis di atas partiturmu,” perintah perempuan itu.

“Moderato cantabile.” Jawab anak itu. Perempuan itu menandai jawaban itu dengan satu pinsil di atas tuts piano. Si anak tetap tidak bergerak, kepalanya menghadap ke arah partitur.

“Apa arti moderato cantabile?”

“Tidak tahu.”

Seorang perempuan lain yang duduk tiga meter dari situ, menarik napas panjang.

“Kau yakin, tidak tahu arti moderato cantabile?” perempuan pertama bertanya kembali.

Anak itu tidak menjawab. Perempuan itu mendesahkan perasaan yang tertekan tidak berdaya sambil sekali lagi mengetukkan pensil ke atas tuts piano. Anak itu tak bergerak seujung rambut pun. Perempuan itu membalikkan tubuh.

Tempo Moderato Cantabile atau yang dipakai sebagai tema (movement) dari sebuah karya musik, menjadi inspirasi bagi Marguerite Duras untuk membangun cerita dalam novel-nya. Novel ini satu dari nouveau roman-nya yang terbit 1958, dan terjual sebanyak 500.000 eksemplar.

Lain Moderato Cantabile yang merupakan judul novel Marguerite atau juga suatu movement atau bagian dari tema musikal musik klasik atau juga merupakan suatu tempo dan suasana dinamika dari satu bagian (theme) lagu; lain pula satu kisah sebuah lagu  berbahasa Hongaria dengan judul aslinya ‘’Szomorú vasárnap’’ yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menurut Hasan Junus dapat menjadi entah ‘’Hari Minggu Kelabu’’ atau‘’Hari Minggu yang Sendu’’, agak serupa dengan lagu Koes Plus, "Kisah Sedih di Hari Minggu", ya? Pencipta lagu (menurut Hasan Junus “lagu puaka”) ini adalah Rezsö Seress. Lagu ini konon membuat virus bunuh diri (une vague de suicide) mula-mula di Hongaria, ke Inggeris, lalu ke serata Eropa dan dunia.

Khusus mengenai lagu ini, suatu hari, seorang mahasiswa menanyakan kepada saya di sebuah kedai kopi di Bandar Serai, ketika ia memberikan perta nyaan tentang lagu gubahan Rezsö Seress ini yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris berjudul Gloomy Sunday.

“Bapak, tahu tentang kisah sebuah lagu kalau tak salah lagu Hongaria yang menyebabkan orang bunuh diri, judulnya Gloomy Sunday?”

Saya balik bertanya, “Dari mana kau dapatkan be rita tentang lagu itu?”

Mahasiswa itu menjawab bahwa ia dapat dari berita tulisan internet dari penulis yang katanya dari Surabaya, Jakarta atau Jawa, begitu katanya yang ia pun tak ingat lagi. Saya katakan, “Setahu saya, Hasan Junus pernah menulis tentang lagu yang mengakibatkan wabah bunuh diri itu”. Ia seakan-akan tidak percaya, saya katakan lagi, “Judul asli dari lagu tersebut adalah Szomorú vasárnap, memang dari Hongaria,” kata saya.

Ia pun termangu. Kisahnya adalah, ketika “Rezsö Seress sedang berkunjung ke Paris pada bulan Desember 1932 berada dalam suasana hati teramat sendu karena baru putus hubungan hati dengan kekasihnya. Lirik lagu itu dipercayakan  kepada seorang yang bernama Lázló Jávor. Tapi kata orang lain, lain lagi, yaitu lagu Szomorú vasárnap diciptakan dalam restoran ‘’Kispipa’’ di Budapest pada tahun 1933.”

Mahasiswa di kedai kopi di Bandar Serai itu meneruskan pertanyaannya yang seperti air bah. “Kenapa lagu Szomorú vasárnap @ Gloomy Sunday @ Hari Minggu (Ahad) Kelabu @ Hari Minggu yang Sendu ini dapat mengakibatkan virus bunuh diri? Entah berapa SKS agaknya saya menjelaskannya. Kita harus membuat penelitian tentang hal seperti ini. Sebuah lagu (musik) yang memakai lirik (sastra) tidak dapat “dituduh” mana yang lebih “kuat” irama musiknyakah atau liriknyakah atau gabungan dari keduanyakah? Jika dipisahkan liriknya dari irama musiknya, apakah dapat membuat orang bunuh diri kalau membacanya, atau dapatkah membuat orang bunuh diri ketika hanya mendengarkan iramanya saja? Bahwa, banyak orang di luar Islam masuk Islam (menjadi muallaf) ketika mendengarkan suara azan; tetapi orang itu pasti belum mengetahui makna kalimat dalam azan itu ketika dikumandangkan oleh seorang muazin (di kampung saya dinamakan tukang (h)obang). “Dalam hal ini mana yang lebih kuat”, kata saya kepada mahasiswa itu. Banyak anak gadis yang tojun tingkok (terjun tingkap) atau lompat pago (melompat pagar) ketika mendengarkan suara biola wak Fendi, atau permainan seruling lagu "Ungut-ungut Mandahiling" oleh Haposan Nasution ketika budaya markusip masih berlangsung dahulu di ranah Mandahiling.

Tengah percakapan dengan mahasiswa itu, seorang dosen kawan saya, Hukmi, datang. Dan, saya bersyukur atas kedatangannya ke kedai kopi Bandar Serai itu, ketika terjadi dialog dengan seorang mahasiswa itu. Hukmi kemudian nimbrung ikut diskusi. Hukmi, yang seorang etnomusikolog dan lulusan progran magister S2 humaniora ini kemudian menjelaskan panjang-lebar tentang musik, peristiwa musikal, lirik, dan suasana zaman ketika sebuah lagu muncul, yang mungkin erat hubungannya dengan lagu yang mengakibatkan orang bunuh diri itu. Hukmi dan saya tidak mau membuat kesimpulan apakah lirik yang membuat orang bunuh diri, atau musik (irama), atau kedua-keduanya? Mahasiswa yang bertanya di kedai kopi Bandar Serai itu semakin bingung, dan ia pun meninggalkan kedai kopi itu.

Terlepas dari semua cerita itu, bagaimana kalau judul lagu puaka ini dibuat sebagai judul sebuah novel, atau tari, atau musik simphony, dalam bahasa aslinya Hongaria Szomorú vasárnap, maupun dalam bahasa Inggris Gloomy Sunday, atau dalam bahasa Indonesia Hari Minggu (Ahad) Kelabu, atau dalam bahasa Perancis, Sombre dimanche?  Terserah.***



Zuarman Ahmad, pemusik, komposer, arranger, pensyarah/ pengajar musik Akademi Kesenian melayu Riau (AKMR), penikmat sastra, penulis cerita-pendek, redaktur Majalah Budaya Sagang, penerima Anugerah Seniman Pemangku Tradisi Prestasi Seni/Musik 2005, Penerima Anugerah Sagang 2009.

KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 13:30 wib

Harga Emas Kembali Stabil

Selasa, 18 September 2018 - 13:30 wib

SMA Santa Maria Unggulkan Tim Putra

Selasa, 18 September 2018 - 13:20 wib

Subsidi Energi Membengkak

Selasa, 18 September 2018 - 13:00 wib

Bersihkan Sisa Banjir, Belajar Ditunda

Selasa, 18 September 2018 - 13:00 wib

Syamsuar, Gubernur Riau Terpilih Siap Dukung APPSI

Selasa, 18 September 2018 - 12:50 wib

Ulama di Ranah Minang Tolak Aturan Pengeras Suara Masjid

Selasa, 18 September 2018 - 12:42 wib

Kakek 11 Cicit dan 31 Cucu Nikah Isbat

Selasa, 18 September 2018 - 12:30 wib

Mahasiswa Tuntut Stabilitas Rupiah dan Pengelolaan Blok Rokan

Follow Us