OLEH BUDI P HATEES

Buku dan Dokumentasi Sastra Kita

5 Maret 2016 - 23.10 WIB > Dibaca 1281 kali | Komentar
 
JIKA suatu hari berkesempatan ke Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin di Jakarta, mintalah kepada  petugas data dari salah seorang sastrawan di negeri ini. Petugas yang ramah itu akan menyodorkan satu atau dua bundelan. Isinya berupa kliping karya-karya sastrawan bersangkutan yang pernah terbit di koran, tabloid, majalah, atau buletin yang pernah ada di negeri ini.

Arsip-arsip itu dokumen penting. Sejarah apapun ditulis berdasarkan dokumen yang dikumpul.  HB Jassin menulis tentang para sastrawan berdasarkan dokumen-dokumen itu. Para mahasiswa sering ke PDS HB Jassin untuk keperluan riset, juga membaca data-data itu. Kerja PDS HB Jassin hari ini adalah meneruskan kerja HB Jassin.

Kita mengenal Jassin sebagai kritikus sastra. Orang ini telaten membaca, mencatat, dan mengapresiasi setiap karya para sastrawan. Hasil pembacaannya ditulis dalam bentuk esai, dipublikasikan di jurnal-jurnal sastra yang dikelolanya, kemudian diterbitkan ulang menjadi  buku. Banyak nama sastrawan kita temukan dalam buku-buku yang ditulisnya, meskipun kita hanya mengingat sebagian kecil dari nama-nama itu.

Kerja Jassin dalam mendokumentasikan karya sastra banyak dicontoh. Dokumentasi sastra  bisa dengan muda dijumpai di berbagai perpustakaan di negeri ini. Lembaga pendidikan, terutama perguruan tinggi, memperkaya koleksi perpustakaannya dengan bundelan berisi kliping koran.

Beberapa sastrawan pun memiliki kegemaran mendokumentasikan karyanya dengan cara serupa, tidak sedikit pula yang mendokumentasikan karya orang lain untuk kepentingan koleksi pribadi. Saya salut pada sastrawan yang giat mendokumentasikan peristiwa-peristiwa sastra di negeri ini.

Laku mendokumentasikan karya seperti ini menjadi tradisi yang baku di kalangan penggiat komunitas sastra. Para anggota komunitas punya kewajiban membuat kliping karya anggota komunitasnya yang telah terbit di media cetak. Komunitas juga sering mengkliping karya-karya dari sastrawan lain.

Tapi bundelan kliping koran, tabloid, majalah, atau jurnal sastra itu kini tidak berbeda dengan buku sastra di negeri ini. Sebagian besar buku sastra kita, isinya berupa karya-karya sastra (cerpen, sajak, esai, bahkan novel) yang ditulis sastrawan dan pernah disiarkan di media cetak. Cuma, jika bundelan kliping itu menampilkan apa adanya karya sastra yang pernah terbit di media cetak karena fungsinya mendokumentasikan dan mengarsipkan, maka dalam buku-buku sastra yang diterbitkan para penerbit  karya sastra yang pernah disiarkan di media cetak itu sengaja ditulis kembali (rewriting).

Buku sastra kita adalah pemutahiran dari bundelan arsip tentang sastra. Isi buku sastra itu berbeda dengan ketika disiarkan di media cetak. Ada perbaikan data, ada pembaharuan teknik penulisan, dan ada hasil kerja editor yang lebih profesional. Buku-buku itu hasil revisi terhadap karya-karya sastra yang pernah disiarkan media cetak.

Pemutakhiran arsip sastra mengabaikan fungsi dokumentasi yang sesungguhnya. Fungsi itu digantikan fungsi buku sebagai barang komoditas dunia industri penerbitan buku, dan para sastrawan terjebak memperlakukan karya sastra sebagai komoditas tanpa jelas relasinya dengan hakikat sastra yang sesungguhnya.

Ketika kita membaca buku sastra, laku membaca itu  akhirnya sebuah redunden. Kita sudah pernah membaca karya-karya itu, karena sebelumnya pernah disiarkan di media cetak. Novel yang kita baca, sudah lebih dahulu muncul sebagai cerita bersambung. Begitu juga buku cerpen dan buku sajak. Beberapa buku yang pernah mendapat penghargaan sebagai karya sastra terbaik sesungguhnya hasil penerbitan ulang dari karya yang pernah kita baca di media cetak.

Buku akhirnya kehilangan peran yang sebenarnya. Bukan lagi sumber ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup, tapi semata barang dagangan yang diukur berdasarkan konversinya ke dalam rupiah. Para sastrawan pun menjelma menjadi pedagang, memperjualbelikan buku barunya kepada siapa pun.

Dalam kajian komunikasi, bila buku kita pahami sebagai medium bagi penulis untuk mengkomunikasikan sebuah informasi, maka buku sastra tak lebih dari berita yang diulang atau siaran ulang. Di dalam dunia televisi,  siara ulang atau malah daur ulang (the old diatribes) dilakukan bukan untuk menyampaikan informasi penting agar masyarakat lebih memahami fakta yang ada, tetapi karena pengulangan itu membawa keuntungan finansial akibat didukung para pemasang iklan.

Pengulangan berita adalah strategi bermedia yang disemangati (dirongrong) politik bisnis dengan agenda yang tak bisa lepas dari idiologi tertentu. Pengulangan penyiaran karya sastra dalam bentuk buku sastra, yang seakan-akan sesuatu dengan  aktualitas tinggi,  padahal hanya untuk memuaskan hasrat idiologi tertentu. Sastrawan mungkin tidak pernah memikirkan soal itu, karena buku punya relasi yang serius untuk mendongkrak popularitasnya. Sastrawan merasa diuntungkan. Buku, bagi sastrawan punya derajat yang sama seperti proklamasi. Buku menjadi pengukuh eksistensi.

Tapi apa dampaknya kemudian? Ketika publik kita tak gemar membaca karena tak perduli bahwa laku membaca sebagai tradisi

mematangkan diri, buku-buku sastra kita menjadi mubazir. Buku-buku itu hanya dibaca oleh orang yang punya tradisi membuat arsip dan mendokumentasikan sastra yang pernah terbit di media cetak.

Hampir semua buku sastra yang pernah terbit ada di rak-rak perpustakaan pribadi para sastrawan, tetapi bentuknya berupa bundelan yang terdiri dari lembar-lembar kliping koran.***

Budi Hatees, lahir 3 Juni 1972 di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara.  Menulis esai di berbagai media cetak dan menulis buku seperti Tulisan yang Tak Enak Dibaca (jilid I dan II) diterbitkan Penerbit Matakata  pada 2008 dan 2010, Ulat di Kebun Polri  diterbitkan Penerbit Raih Asa Sukses (Grup Bina Swadaya) pada tahun 2013. Tahun 2016, buku terbarunya, Bila Polisi  Melawan Korps  dan  Sejarah Kekerasan Publik.
KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Rabu, 14 November 2018 - 20:40 wib

Cuti Bersama Idulfitri Tahun Depan Lebih Pendek

Rabu, 14 November 2018 - 19:30 wib

Reaksi Brexit dan Dampak Ekonomi Cina Picu Pelemahan Rupiah

Rabu, 14 November 2018 - 19:28 wib

Kebut Pertumbuhan, RI Perbaiki SDM

Rabu, 14 November 2018 - 16:15 wib

Bonus Demografi Diharapkan Sampai ke Masyarakat

Rabu, 14 November 2018 - 16:00 wib

APBD Kampar Diperkirakan Rp2,4 T

Rabu, 14 November 2018 - 15:45 wib

Pencakar Langit Riau Pertama di Luar Pekanbaru

Rabu, 14 November 2018 - 15:33 wib

Lelang Sepeda Motor Dinas Pemko 22 November

Rabu, 14 November 2018 - 14:43 wib

Pengungsi Rohingya Hindari Repatriasi

Follow Us