OLEH BOY RIZA UTAMA

Alienasi Mahasiswa terhadap Tradisi Literasi

5 Maret 2016 - 23.26 WIB > Dibaca 1338 kali | Komentar
 
Alienasi Mahasiswa terhadap Tradisi Literasi
Beberapa waktu yang lalu tersiar  sebuah informasi bahwa Indonesia berada pada urutan ke 63 dari 65 negara dalam hal literasi. Tentu saja, hal ini sebuah kabar yang memiriskan di tengah era yang memerlukan tradisi baca-tulis dewasa ini.   

Menurut Jose Luis Borges, membaca dan menulis adalah tindakan paling beradab yang mampu dilakukan umat manusia. Sastrawan besar Argentina itu mungkin risih dan sekaligus bangga akan dua hal yang digelutinya ini ketika mengatakannya. Bagi sebagian orang, ungkapan Borges itu boleh jadi sarkastis, selain terasa begitu hiperbolis. Akan tetapi,  pada saat itu dia menghadapi kondisi dunia yang seakan tidak lagi menyediakan tempat bagi sesuatu yang “beradab” dan “berperadaban.”

Borges tentu tidak sendiri. Ada banyak orang, terutama sesama penulis, yang mengamini ucapannya di masa silam itu. Bahkan, hingga sekarang, banyak orang yang  turut memegang kata-katanya tersebut. Dunia terlalu disibukkan dengan percepatan teknologi; konflik dan perang berlangsung di mana-mana; dan gerak-laju kapitalisme tidak terbendung dan seolah belum menemukan lawan sepadan sehingga membaca dan menulis, dalam perspektif Borges, barangkali mampu menjadi solusi dalam menghadapi kesemrawutan dunia yang kita tinggali ini.

Jika ditilik ucapan Borges tersebut, proses menulis boleh jadi terasa sulit. Menulis sebagai fase lanjutan dari tradisi membaca dan berpikir itu terkesan eksklusif sehingga tidak semua orang mampu melakukannya.

Sayangnya, hal itu tidak hanya terjadi pada mereka yang  jauh atau terjauhkan dari tradisi berpikir. Dalam ruang-ruang pemikiran milik sejumlah kalangan “pengampu” tradisi adiluhung ini, kita juga disuguhkan sebuah kenyataan bahwa tradisi ini juga terancam eksistensinya, termasuk dalam kalangan mahasiswa. Di dalam rubrik ini, 6 September 2015 lalu, Alvi Puspita sempat mengungkapkan keresahannya mengenai tradisi tulis dalam kalangan mahasiswa.

Lantas, ada apa dengan mahasiswa sehingga tradisi menulis (dan membaca) semakin asing bagi para “intelektual muda” tersebut? Secara sederhana (meski hal ini sebetulnya sangat kompleks), salah satu kondisi yang teridentifikasi sebagai penyebabnya adalah mahasiswa  telah lebih dahulu kehilangan tradisi berpikir serta sepinya minat pada tradisi membaca. Disadari atau tidak, hal ini bermula dari miskinnya diskursus di antara mahasiswa itu sendiri; mahasiswa yang dalam pergulatan pemikirannya itu kemudian seolah-seolah dipaksa —bukan terpaksa— untuk meninggalkan (atau meniadakan?) entitas penting dalam dunia kemahasiswaannya.

Dalam konstelasi pemikiran dan tradisi intelektual, menulis sebagai suatu upaya untuk meletakkan gagasan itu, memang semakin kehilangan tempat. Proses menulis yang kemudian juga dapat diartikan sebagai semacam ikhtiar untuk menyalurkan berbagai pendapat mengenai suatu keadaan, teralienasi dalam berbagai paradigma dan problematika yang dianggap lebih bergengsi dan menjanjikan, seperti terjun dalam dunia pergerakan.

Mencermati dunia pergerakan ini, ada hal yang selalu luput dalam pengamatan mahasiswa hari ini: seorang aktivis seharusnya tak akan bisa lepas dari tradisi membaca dan menulis.
Sebut saja nama-nama semisal Achmad Wahib, Kuntowijoyo, atau Nurcholis Madjid. Para pesohor dalam dunia intelektual dan kepengarangan kita itu —yang dahulunya menceburkan diri ke dalam organisasi  HMI —adalah sedikit nama yang bisa dimunculkan di sini. Sementara dalam perbincangan lebih jauh, kita bisa sebut nama Soe Hok Gie yang sejarah hidupnya telah menjadi legenda tersendiri dalam dunia pergerakan mahasiswa Indonesia.

Apabila kita mempersoalkan minimnya minat diskursus di kalangan mahasiswa, hal itu tidak terlepas dari pengaruh (baca: keterlibatan) kampus. Idealnya, sebuah kampus merupakan instrumen utama dalam pembekalan ilmu pengetahuan (selain segudang wacana) yang kelak mereka miliki dan akhirnya diterapkan. Akan tetapi, dewasa ini kampus yang sejak lama dianggap sebagai rumah bagi segenap insan yang (dilatih) berpikir kritis itu, sepertinya telah kehilangan taji untuk melahirkan mahasiswa yang masih peduli pada sejumlah tradisi intelektual, di antaranya tradisi membaca dan menulis.

Kita tidak ingin modal yang dipertaruhkan mahasiswa dalam sebuah medan —dalam sebuah teori Bordieu— hanya bertumpu-pangku pada modal ekonomi semata. Kita juga tidak mau mahasiswa hanya memanfaatkan modal simbolik (nama besar), tetapi kehilangan modal budaya (pengetahuan bernilai) yang tiada lain berasal dari proses membaca dan menulis yang berdisiplin. Tentu, kita juga tidak ingin mereka hanya berharap pada —masih bertumpu pada teori Bordieu— modal sosial (jaringan) belaka, sedangkan pengetahuan yang bernilai tidak mereka memiliki.

Metode pembelajaran dan kerangka berpikir yang “sempit” memang hampir melenyapkan wacana kritis dalam teori dan praktiknya sehingga (jangan-jangan) mahasiswa memang sudah seperti apa yang digambarkan Baudrillad sebagai “hiperealitas”: ketika ia tidak bisa lagi membedakan asli dan palsu, fakta dan rekayasa, masa lalu dan masa kini, atau tanda dan realitas.

Apakah kampus sudah kehilangan jawaban atas pertanyaan mengapa tradisi membaca-menulis ini kemudian semakin teralienasi? Barangkali saja. Akan tetapi, kita masih berharap dengan (terus) membaca dan menulis, kita bisa mengasah kemampuan mahasiswa yang disebut  oleh Alvi Puspita “memiliki mata pena yang runcing”.

Mari membaca dan menulis karena kita tidak ingin masyarakat Indonesia dikenal sebagai orang yang “tuna baca dan pincang menulis”, seperti istilah yang disampaikan Taufik Ismail.***

Boy Riza Utama, Koordinator Gerakan Komunitas Sastra Riau (GKSR) dan bergiat di Komunitas Paragraf.

KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 15 November 2018 - 10:16 wib

Puluhan Pasangan Terjaring Razia

Kamis, 15 November 2018 - 10:00 wib

Anggaran Makan SMAN Plus Dihentikan

Kamis, 15 November 2018 - 09:55 wib

GTT Digaji Rp1,5 Juta Sebulan

Kamis, 15 November 2018 - 09:38 wib

Kerusakan Jalan Datuk Laksamana Semakin Parah

Kamis, 15 November 2018 - 09:36 wib

Geger, Harimau Terjebak di Antara Ruko

Kamis, 15 November 2018 - 09:00 wib

BPK Temukan Kelebihan Bayar Rp239 Juta

Rabu, 14 November 2018 - 20:40 wib

Cuti Bersama Idulfitri Tahun Depan Lebih Pendek

Rabu, 14 November 2018 - 19:30 wib

Reaksi Brexit dan Dampak Ekonomi Cina Picu Pelemahan Rupiah

Follow Us