Oleh Alex R Nainggolan

Surat dari Seorang Penyair

5 Maret 2016 - 23.39 WIB > Dibaca 1597 kali | Komentar
 
- bagi agus noor

1.
Surat itu datang di musim hujan. Diantar oleh tukang pos yang mengenakan jas hujan gelap, dengan amplop yang dibungkus plastik. Plastik yang agak sedikit basah dan dingin oleh angin. Tukang pos itu nampaknya telah gigil oleh hujan yang menderanya. Entah siapa yang mengirimkannya kepada saya. Amplop yang sebenarnya tak lagi putih berseri, kertasnya sudah agak pucat kekuningan. Terasa tumpukan kertas yang tebal. Tanpa nama, pula alamat dari pengirimnya. Hanya ada sebuah kata yang ditulis pula (agaknya dengan tergesa). Dari: penyair.

Engkau tahu profesi penyair, mungkin pula bukan sebuah pekerjaan yang tertera dalam selembar kartu penduduk negeri ini. Profesi itu, mungkin hanya seorang W.S. Rendra yang bersikeras membubuhkannya dalam identitasnya. Pekerjaan: penyair. Sebuah kiriman yang aneh, pikir saya. Amplop itu saya biarkan teronggok di meja kayu. Lalu saya sibuk dengan kegiatan lainnya. Membersihkan beranda yang tergenang oleh hujan. Membersihkan kipas angin. Membaca beberapa BBM dari teman. Membuat secangkir kopi. Membakar sebatang rokok dan mengisapnya sampai tandas.

2.
Baru saat malam hinggap saya tergerak membukanya. Ada empat lembar kertas. Kertas yang juga tak lagi putih berseri. Terasa lebih kumal warnanya dibandingkan dengan amplop pembungkusnya. Tulisannya miring bersambung, begitu elok untuk dibaca. Mungkin semacam fragmen-fragmen yang lepas. Beberapa bagian tidak terasa nyambung.

Mulanya, ia memulai surat itu—aku membaca sebuah cerita pendek yang ditulis di sebuah koran ternama. Melulu berkisah tentang seorang penyair. Ihwal penyair yang jatuh cinta dengan telepon genggam. Begitu miris. Setiap jalinan kalimat dalam cerita itu menusukku di dada. Saya membayangkan ia tengah  menudingkan telunjuknya ke dadanya yang kurus. Padahal ia tak paham bagaimana kerja seorang penyair, bagaimana kesehariannya bergelut dengan kata-kata. Ia melanjutkan dengan kalimat:

Pagi. Sepi. Pernah  aku angankan kelahiran baru di mana kata-kata ngerubung mirip semut meniti jalannya sendiri-sendiri. Dengan segelas kopi kuseduh dirimu yang terasa makin lampuh. Meski lampion matamu mengingatkanku pada sebuah binar yang terus berdenyar, menakar-nakar kelakar, sesekali merupa bunga mawar—tetapi banyak yang juga tak serupa, bukan? Ehm, kau sejak lama telah memungut kesendirianku, menangguhkan derita yang tak henti-henti luka. Tapi  bagaimana aku dapat melahirkannya? Ingatanku tak lagi lekat pada garba bunda. Sementara di rahim kota telah lahir anak-anak kecil yang tegar, dengan celana penuh debu. Berjalan di sepanjang lorong kota ini, mengisap matahari, mengunyah udara. Seperti mengisyaratkan sebuah keinginan yang hambar. Aha,   pintu terus saja terbuka, menyeret masa lalu sampai lampus. Meninggalkan angin dingin di sepanjang tengkuk, bikin bulu kuduk berdiri. Sebentar, meski kau tak akan pernah setuju, biarlah aku kenang dulu para tetua moksa dan luka. Ah, betapa aku ingin melacak peta tubuhku yang sempat luruh. Di batang silsilah.

Maka aku bayangkan, diriku akan hanyut bersamamu, tersangkut di reranting pohon tua. Di mana sungai terus saja mengalir, menuju ke muara entah. “Bukankah harus ada yang termaknai?” tanyamu sendu, bibirmu beku. Mengeja semua petuah, dogma, yang terselip di akar-akar cuaca. Ya, harus ada yang termaknai, ketika lembar hari berganti, sebagaimana kita yang terus saja berada di dalam antrian panjang.

Meski, seperti kau bilang, selalu ada yang berdetak, mengumbar sebuah jarak. Dan mengusir geriak-geriak gelisah yang terasa makin basah, di ujung jarimu. Begitulah, aku ingin menangis lagi seperti bayi. Menjenguk  nyala matahari pagi yang lesap ke dalam pori. Dan kelak akan lepai, tak mampu dikunci.

Cuma genang diriku. masuki lorong-lorong solitude terlelap dalam permainan kartu yang lungkrah di atas meja, terbuka. Meski  bagiku, tanggal lahir nampak semilir tak mampu dijaga, tanda diri yang telah lahir katakanlah, sebagai pahat jejak yang lama berkerak dari biografi tubuh di ruas kalimat, bicara syair yang ngembara ke negeri saga. Cuma genang dirimu, terapung-apung, tak mau timbul, mirip pelampung. Aih, siapakah kamu yang terus bercerita tentang prosa seputar vagina dan payudara?

Dan sebelum semuanya tiba, kembali seperti semula. Sebab kita berada dalam lingkaran yang sama. Aku tahu, kau akan kembali sebelum malam benar-benar malam, membawa kata-kata yang terjangkit birahi. Minta disetubuhi.

Maka  segera kulupakan Rimbaud, dengan negeri syairnya yang menelikungku dalam belantara angin, selalu ngalir dalam beku kata-kata. Pun  Paz, yang tak selalu pas melacak suara lain begitu asing dan dingin.

Cuma, diri, aku dan kamu, yang menggelar warna-warna luka. Melengkapkan detak jam, juga lembab lebam. Dan ada yang terus berputaran, tetapi bukan waktu. Ah ya, pengetahuan yang kau miliki selama ini dari buku, terasa sia-sia bukan? Sebab hidup bukan muncul dari sela-sela buku, melainkan dari anasir yang berkelir.

Apakah aku selalu bertemu denganmu? Kapan dan di mana? Apakah di sebuah pasar yang sesumbar atawa di tengah derau puisi yang makin parau. Biarpun, nyeri masih tinggal gentar. Lelaki  yang kerap mengasah belati kata sampai badannya berdarah. Tetapi  kata-kata selalu basah, lemah, dan lelah. Sudah saatnya kita berangkat tidur. Rapikan ranjangmu, cari hangat yang sempat terlewat. Mungkin di tempat lain, kita masih bisa merapikan imaji. Dan, lagi-lagi rambutmu terbayang lagi, basah sehabis keramas, begitu lemas seperti kata. Seperti kata.

Barangkali aku cuma tinggal sejarah. Sebab  selalu ada orang gila yang muncul dari sajak-sajak, minta dituntun ke pintu cahaya. tetapi selalu ada  matahari yang lain, nampak begitu pasi dan nyendiri. O, dusta yang laknat, mengapa tetap kukerat? Berapa banyak rindu yang tenggelam hilang di tengah pelabuhan sunyinya sendiri tertinggal perahu untuk melarung laut? Sayang, perempuanku juga lenyap, diminum hujan sampai demam dan aku terperosok ke dalam kangen yang ngilu membuka jajaran kenangan yang tumpang tindih dengan berita di halaman surat kabar hambar. Menakar kelakar yang tak lagi berdenyar.

Apakah aku menyesalinya? Akan kepergian perempuan itu? Mungkin. Barangkali aku akan kehilangan bibir untuk kucium setiap hari, atau percakapan basah yang mengingatkan hujan bakal turun berwaktu-waktu.

Namun selalu ada arca baru dari puisi jadi patung yang mutung. Meski nampak begitu murung. Betapa kelahiran ini telah mengambil separuh usiaku, mengingat wajah ibu. Meski  aku terus saja menabung luka, menyimpan sobekan surat cinta yang tak jadi kukirim buatmu. Ah, cinta yang bimbang? Siapa yang pernah memberikannya alamat, sebuah buah tangan, atau sepotong ingatan buatmu? Aha, kelahiran ini pun sebenarnya tak lagi punya airmata sekadar menandakan perih atau gembira.

Kini usia terasa makin purna, sayang, kita tak pernah bisa untuk mencoba dewasa. Segalanya terasa makin samar sekarang. Dan ingatan diriku dan dirimu tetap saja meruang, menyebarkan getah sengit, yang terasa terjepit.

Sekalian saja, aku tulis dirimu. penuh dengan kalimat keluh di gelap kata-kata, mungkin di gang-gang sempit tempat tinggalku berkisah hal-hal biasa dan sederhana yang melulu terlupa. Tentang keganjilan kita, misalnya, yang melecut parut usia, supaya cepat lari mengejar waktu. Merasa menjadi Tuhan, menjadi seorang pencipta atau, mungkin kita berani menantang malaikat sekadar turut mencipta puisi? “Hahaha….” Kau tertawa begitu lega. Apa? Jangan-jangan sejauh itu, kawan. Nanti kau dicabiknya sampai terlunta.

Sayangku, puisi siapa yang benar-benar kau kenal? Chairil Anwar, W.S. Rendra, Sutardji, Taufiq, Sapardi, GM, Joko Pinurbo, atau penyair lain yang gigil mengudap peluh di jaket yang lusuh? Begitu hematkah dunia kita? Sempit dan terjepit. Seperti sebuah ruang kecil yang masih saja bertanya-tanya. Toh, dengan atau tidak adanya puisi dunia tetap berputar juga, kawan.

Pernah kau bilang, dulu sekali, sajak ini tak pernah sampai, cuma kata-kata rapuh yang mengeluh, mengelupas huruf demi huruf, cuma jadi sampah aksara. Menelanjangi pakaiannya di depan cermin, berlompatan. Dan kau? Ah ya, kau memungutnya dengan hati-hati sekali, supaya jangan ada yang disakiti, begitu kau bilang. Namun, siapa yang hilang? Selain para filosof abad lalu yang sibuk dengan enigma. Menghitung dirinya sendiri-sendiri. Seakan begitu bangga dengan kelinglungannya sebagai manusia. Seakan membuka metafora dalam tubuhmu.

Lalu dari kata-kata itu, kau menyaringnya sampai bening. Barangkali akan kau minum sebelum tidur. Supaya kau bisa bermimpi yang indah-indah saja. Tiba-tiba dengan ligat, kau memasukkan mereka dalam lembaran arsip di lemari buku juga ruas kepala. Mereka mencarimu, kawan. Mereka kepanasan, katanya. Minta dibukakan, supaya cepat keluar.
Oh, kawan, sebenarnya apa yang telah kau lahirkan? Kok, tambah hari rasanya dirimu tambah bingung. Ling-lungmu makin menjadi. Mencacah sejarah di negeri yang makin pudar ini. Kau capek? berbulan-bulan dikerjain puisi. Ke mana pacarmu, kawan?

Ia menjawab, lariiiiiiii….!!!!! pacarku, pulang kampung halaman, ketika aku kirimkan SMS yang setengah matang, sambil memandang sedap-sedap pohon ketapang, dengan kesiur angin telanjang yang nyunsep di halaman

O, kau tak lagi merindukannya? Kau tak merindukan bibir, payudara, mungkin vaginanya?
Ya, merci, aku tak lagi takjub pada kemilau cinta, katamu, cuma penjara.

Kasihan kau, kawan. How poor you are! Dan, malam itu, perempuan itu, bekas pacarmu pergi sendirian ke kampung halaman dengan bis malam menembus hujan dan kelokan. Tidak kau antarkan? Tidak! Pergi kau!

Lalu kau pun bercerita: semenjak hubungan kami bubaran, ia tak pernah membalas SMS yang kukirim, tak pernah mau mengangkat telepon dariku. Well, kau merasa begitu larat? Mungkin. Hubungan kami memang telah berakhir, it’s over, kata film-film Hollywood. Dan ia tak lagi memukauku, bahkan jika aku tahu dirinya cantik, dengan body yang menarik.Hari-hari lunglai. Tak ada suara yang membuatmu merasa damai. Sesekali, kau ingat kawan-kawan lama yang ngendon dalam kepala. Begitu lama, bertahun-tahun. Aih, siapa kamu? Apa kamu diriku sendiri? Lalu  siapa dong aku? Wah  ini mah cuma sandiwara yang tak bicara. Capek. Monolog. Bisu yang mengisap lembab di ulang tahunmu. sama sekali tidak lucu!

Samar-samar, aku, mungkin kamu, mendengar ada yang tertawa. Begitu keras. Deras seperti hujan kemarin sore. Ah, kapan kau main ke rumahku? Kutunggu berwaktu-waktu, namun kau tak datang-datang. Ada banyak buku yang belum terbaca. Malah dikerubungi oleh debu. Katanya, kau kepingin mencari foto-foto pengarang yang kelewat umur. Mungkin, engkau bisa lama-lama menafsir di sana, mengunjungi situs-situs masa lalu yang tak pernah terbuka., juga membaca sebagian riwayat yang terpenggal. Aneh, kok, pengarang jadi tukang jagal? Apa dirinya  tak mampu bikin autobiografi dirinya sendiri? Atau, semua itu dari dirimu sendiri?

Mungkin, kau akan bertanya begini, “mengapa dunia selalu berhubungan dengan angka-angka?”—supaya tak lekas lupa—(gema suara yang tak jelas berpantulan di batu-batu). Tapi mengapa selalu ada matematika, di arloji, kalender, juga usia? O ya berapa usiamu sekarang? Tuh kan angka lagi. Maaf, aku sudah lupa. Dan kau membayangkan dirimu menjadi orang-orang di masa lalu, yang tak pernah peduli pada usia, yang kalau ditanya berapa umurnya sekarang akan bilang, “Ya, waktu saya lahir, pohon itu masih segini, nih. “ sambil menunjukkan batas dirimu di cakrawala.

(Angka-angka itu, selalu kau benci sejak duduk di  bangku sekolah berseragam putih-biru. Kau tak tahu, apakah dirimu benar-benar membencinya, atau tidak. Tetapi kau selalu merasa takut, jika guru menunjukmu untuk ke depan kelas, mengerjakan soal-soal. Dan seketika tubuhmu berkeringat. Betapa ruwetnya dunia, pikirmu)

Kemungkinan lainnya, tebakmu, di kota lahir juga puisi-puisi segitiga. Punya siapa? Kau tak tahu. Namun puisi-puisi terus berlahiran, mengucurkan tangis dan gembira. Narasi  manusia bingung yang mengukir transkrip mimpinya. Ehm, kota ini sebenarnya dipenuhi dengan kesepian juga, di tengah hingar-bingar yang menghampar, selalu nada seseorang di sudut, menekuk diri, menuliskan sesuatu. Mungkin rada tertahan, mungkin penuh kegeraman.

Maka  kau membayangkan lingkaran baru. yang selalu menjebakmu dengan ilusi-ilusi, bayang kupu-kupu, di mana kau tetap kembali ke tempat semula. Terkadang kau tak berani menatapnya. Ada kengerian yang muncul di sela-sela bola matamu, tetapi kau memaksakan diri untuk mengakrabinya. Dan nyatanya, tambah hari kau merasa candu kata-kata itu jadi banyak. Kau merasa jadi peternak, yang siap mengembang-biakkan kata. Meski akhirnya kau tahu, semuanya itu tak pernah ada. Segala hal yang tertulis, sesungguhnya tak pernah benar-benar muncul. Semuanya tinggal di sisi kepalamu.

Hari ini Jumat terasa berat. Kau  ingin menggapai-gapai liur Januari, di mana dingin hujan selalu tertahan di bola matamu. Dan  senja ini kau memutuskan untuk tidak pulang ke rumah, berjalan-jalan di rerindang pohon ketapang. Kau merasa dirimu telanjang, berjalan di jalanan. Sampai masa kecil muncul lagi. Tiba-tiba  tubuhmu meriang, kau ingat wajah ibu, muncul di sela-sela napasmu. Seakan menggapai-gapai, seperti ingin merapikan doa-doa yang lama hambur.

Jumat ini segalanya semakin tersekat. Kau merasakan panas yang gegas. Dan malam itu kau kehujanan. Dingin, tetapi tak punya pacar yang bisa menghangatkan dengan pelukan. Kau ingin singgah, di sebuah tempat, mencari-cari semua yang pernah lenyap dari dirimu. Namun itupun tak pernah kesampaian. Hujan tambah hujan. Deras dan melibas dirimu. Basah dan kuyup.

Sia-sia kau kerat dirimu. Nyatanya napasmu kian sesak tak mau bergerak. Yang lahir cuma ulat-ulat, terus bertambah. Memasuki tubuhmu seperti ngengat mencari hangat. Dan, kau merasa  mimpimu jadi bencana petaka yang selalu membekas, kenanganmu lemas seperti jerat umur  yang suatu saat akan terkubur semua kenangan emas yang makin keras.
Kurasa surat ini sudah melebar ke mana-mana. Maaf kalau terkesan tak memiliki alur yang jelas. Tak perlu diperpanjang. Aku berharap orang yang menulis cerita tentang penyair itu dapat membacanya. Terima kasih telah turut mengirimkannya ke koran tersebut. Syukurnya bisa dimuat.

3.
Saya terkesiap. Saya merasa surat itu berkisah sepenuhnya tentang saya. Duh…***

Poris Plawad/Edelweis, 2014


Alex R. Nainggolan dilahirkan di Jakarta, 16 Januari 1982. Menyelesaikan studi di FE Unila jurusan Manajemen. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku sempat nyasar di Majalah Sastra Horison, Jurnal Puisi, Kompas, Republika, Jurnal Nasional, Suara Pembaruan, Jawa Pos, Seputar Indonesia, Berita Harian Minggu (Singapura), Sabili, Annida, Matabaca, Surabaya News, Radar Surabaya, Lampung Post, Sriwijaya Post, Riau Pos, Suara Karya, Bangka Pos, Radar Surabaya, NOVA, On/Off, Majalah e Squire, Majalah Femina, www.sastradigital.com, www.angsoduo.net, Majalah Sagang Riau, dll.

KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 17 November 2018 - 19:06 wib

Pekan Depan, Nasib OSO Diputuskan

Sabtu, 17 November 2018 - 14:10 wib

Tempuh 1.574 Kilometer, Terios Akhiri Ekspedisi di Wonders ke Tujuh

Sabtu, 17 November 2018 - 13:28 wib

BKD Prov Riau Road To Siak 24 November Mendatang

Sabtu, 17 November 2018 - 11:01 wib

Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik

Sabtu, 17 November 2018 - 10:46 wib

E-Samsat Tahap II Dibuka, BNI Perluas Layanan ke 16 Provinsi

Sabtu, 17 November 2018 - 09:50 wib

Harimau Terjebak di Kolong Ruko, Berhasil Diselamatkan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:48 wib

Toyota Posisi Teratas untuk Fitur Keselamatan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:41 wib

BPJS Ketenagakerjaan Gandeng Kajati Riau Eksekusi Penunggak Iuran

Follow Us