SAJAK

Sajak-sajak Sulaiman Juned

6 Maret 2016 - 00.11 WIB > Dibaca 1097 kali | Komentar
 
Menabung Sunyi

jangan
kau rusak
garis dalam gambarku. Membelah
batu melawan angin menabung sunyi
di jiwa sepi.

jangan
kau rusak
garis dalam gambarku. Di tepian
kali angin menggulung pucuk
rambut-gigilnya menggigit
tulang.

jangan
kau rusak
garis dalam gambarku. Apalagi
membasuh mata yang telah kering
dengan api.

(matamu adalah mata Tuhan yang sempurna, ah!)

-Tokyo, 2015-


Ulee Lheue, Senja Itu

berangkat
melukiskan hujan
di halaman. Berbaur sekerat
rindu-harumnya tak sempat kunikmati.

berangkat
memahat keraguan
di gugur daun. Angin mengisi keranda
mengeja luka dalam kamar cinta.

berangkat
menghabiskan malam
bersama ombak. Sekalung tasbih
berganyut di langit sembunyikan getir.

: Aku lukiskan senja di atas pasir-resah
terkurung debur ombak.
                    
-Banda Aceh, 2016-



Melukis

aku
sedang melukis
gerimis dengan jiwa
teriris.

aku
sedang melukiskan
hujan dengan hati
kuyub.

aku
terpaksa melukiskan
wajahmu dengan api
agar hilang rupa
di sukma
ah!

-Solo, 2016-



Hikayat Negeri di Bawah Angin

aku
saksikan anak-anak
menghidupi api di kepala. Dari
sudut yang paling sunyi
cinta tergadai atasnama peradaban
kampung. Sedang rindu tersayat
perihnya bersarang di hati.

Aku
saksikan anak-anak
menghidupi api di kepala. Berjalan
dalam kabut. Tak usah
ajarkan aku bagaimana mengalahkan
sepi. Pernahkah engkau menikmati
sunyi dalam keramaian, seperti
sembilu menyayat jiwa. Tak usah
ajarkan aku bagaimana menikmati
cinta. Pernahkah engkau merabakan
sayang dalam pekat tak bertepi. Tak usah
ajarkan aku bagaimana siang dan malam
tanpa bintang juga matahari
bergasing atas kepala. Tak usah
ajarkan aku bagaimana bulan
purnama dan sabit saling hilang
terkadang  gerimis menepi di pipi.

Aku
saksikan anak-anak
menghidupi api di kepala. Rentak
guel hilang di sunyi
malam. Tepuk didong tenggelam
di senyap Laut Tawar. Sebuku
renyai di dada pengembara. Di rantau
aku mencium renggali mengurung ruang
kalbu, menyaksikan Bensu Puteri
berkecipak di kolam tenang memanggil-maggil
Malem Dewa kembali ke kamar
cinta. orang-orang di sini senang  
berkelahi bersama ombak

: angin dan api mempersiang hati
  Ah!

-Banda Aceh, 2016-


Sulaiman Juned, lahir di Gampoeng (Desa) Usi dayah, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie, 12 Mei 1965. Dosen Jurusan Seni Teater Fakultas Seni Pertunjukan ISI Padangpanjang, Sumatera Barat. Pendiri/Penasihat Sanggar Cempala Karya Banda Aceh (1986), Pendiri/Penasihat Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang, Sumatera Barat (1997-Sekarang), Sekretaris/Ketua Panitia Pendirian Kampus Seni ISBI Aceh (2012/2013), Dewan Pakar pada Dewan Kesenian Aceh (2014-2019), dan Kandidat Doktor Penciptaan Seni Teater ISI Surakarta Jawa Tengah.
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 23 Januari 2019 - 09:30 wib

Pengajuan NIP CPNS Serentak

Rabu, 23 Januari 2019 - 09:25 wib

Pejabat Diberi Waktu Enam Bulan

Rabu, 23 Januari 2019 - 09:20 wib

APBD Riau Belum Sejahterakan Masyarakat

Rabu, 23 Januari 2019 - 09:20 wib

Awal Tahun, Waspadai DBD

Rabu, 23 Januari 2019 - 09:15 wib

Dua Pelaku Curanmor Diringkus Polisi

Rabu, 23 Januari 2019 - 09:10 wib

Tabrak Dump Truck, Personel Satlantas Tewas

Rabu, 23 Januari 2019 - 09:00 wib

Baterai Lampu APILL Raib

Selasa, 22 Januari 2019 - 19:53 wib

Nadia dan 3 Adiknya Tinggal di Rumah Tanpa WC dan Air Bersih

Follow Us