SAJAK

Sajak-sajak Sulaiman Juned

6 Maret 2016 - 00.11 WIB > Dibaca 1040 kali | Komentar
 
Menabung Sunyi

jangan
kau rusak
garis dalam gambarku. Membelah
batu melawan angin menabung sunyi
di jiwa sepi.

jangan
kau rusak
garis dalam gambarku. Di tepian
kali angin menggulung pucuk
rambut-gigilnya menggigit
tulang.

jangan
kau rusak
garis dalam gambarku. Apalagi
membasuh mata yang telah kering
dengan api.

(matamu adalah mata Tuhan yang sempurna, ah!)

-Tokyo, 2015-


Ulee Lheue, Senja Itu

berangkat
melukiskan hujan
di halaman. Berbaur sekerat
rindu-harumnya tak sempat kunikmati.

berangkat
memahat keraguan
di gugur daun. Angin mengisi keranda
mengeja luka dalam kamar cinta.

berangkat
menghabiskan malam
bersama ombak. Sekalung tasbih
berganyut di langit sembunyikan getir.

: Aku lukiskan senja di atas pasir-resah
terkurung debur ombak.
                    
-Banda Aceh, 2016-



Melukis

aku
sedang melukis
gerimis dengan jiwa
teriris.

aku
sedang melukiskan
hujan dengan hati
kuyub.

aku
terpaksa melukiskan
wajahmu dengan api
agar hilang rupa
di sukma
ah!

-Solo, 2016-



Hikayat Negeri di Bawah Angin

aku
saksikan anak-anak
menghidupi api di kepala. Dari
sudut yang paling sunyi
cinta tergadai atasnama peradaban
kampung. Sedang rindu tersayat
perihnya bersarang di hati.

Aku
saksikan anak-anak
menghidupi api di kepala. Berjalan
dalam kabut. Tak usah
ajarkan aku bagaimana mengalahkan
sepi. Pernahkah engkau menikmati
sunyi dalam keramaian, seperti
sembilu menyayat jiwa. Tak usah
ajarkan aku bagaimana menikmati
cinta. Pernahkah engkau merabakan
sayang dalam pekat tak bertepi. Tak usah
ajarkan aku bagaimana siang dan malam
tanpa bintang juga matahari
bergasing atas kepala. Tak usah
ajarkan aku bagaimana bulan
purnama dan sabit saling hilang
terkadang  gerimis menepi di pipi.

Aku
saksikan anak-anak
menghidupi api di kepala. Rentak
guel hilang di sunyi
malam. Tepuk didong tenggelam
di senyap Laut Tawar. Sebuku
renyai di dada pengembara. Di rantau
aku mencium renggali mengurung ruang
kalbu, menyaksikan Bensu Puteri
berkecipak di kolam tenang memanggil-maggil
Malem Dewa kembali ke kamar
cinta. orang-orang di sini senang  
berkelahi bersama ombak

: angin dan api mempersiang hati
  Ah!

-Banda Aceh, 2016-


Sulaiman Juned, lahir di Gampoeng (Desa) Usi dayah, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie, 12 Mei 1965. Dosen Jurusan Seni Teater Fakultas Seni Pertunjukan ISI Padangpanjang, Sumatera Barat. Pendiri/Penasihat Sanggar Cempala Karya Banda Aceh (1986), Pendiri/Penasihat Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang, Sumatera Barat (1997-Sekarang), Sekretaris/Ketua Panitia Pendirian Kampus Seni ISBI Aceh (2012/2013), Dewan Pakar pada Dewan Kesenian Aceh (2014-2019), dan Kandidat Doktor Penciptaan Seni Teater ISI Surakarta Jawa Tengah.
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 15 November 2018 - 19:45 wib

Telkomsel Hadirkan Kerja Sama Non-Tunai dengan Adhya Tirta Batam

Kamis, 15 November 2018 - 18:35 wib

Ingin Bahasa Indonesia jadi Bahasa Internasional, APPBIPA Riau Terbentuk

Kamis, 15 November 2018 - 17:59 wib

Lagi Berenang, Bocah Tewas Diterkam Buaya

Kamis, 15 November 2018 - 17:00 wib

3 Pemain Timnas Dapat Tawaran dari Klub Luar Negeri

Kamis, 15 November 2018 - 16:15 wib

BPN Komit Realisasikan Program PTSL 2018

Kamis, 15 November 2018 - 16:00 wib

Sabhara Gagalkan Rencana Tawuran Sekelompok Pemuda

Kamis, 15 November 2018 - 15:45 wib

Pembangunan RSUD Indrasari Terlambat

Kamis, 15 November 2018 - 15:30 wib

BNNK Ringkus Pengedar Antar Provinsi

Follow Us