Oleh MUHAMMAD HUSEIN HEIKAL

Puisi Modern dan Keruntuhan Puisi

13 Maret 2016 - 01.25 WIB > Dibaca 1058 kali | Komentar
 
Seorang teman menuliskan pernyataan kira-kira begini: “Puisi modernlah yang menjadi penyebab runtuhnya dunia puisi.” Kerisauan –bila dapat disebut demikian– teman ini dituliskan didinding laman Facebook-nya. Saya pribadi heran sekaligus tergugah membaca pernyataan ini. Apakah benar perkembangan (era) puisi modern saat ini adalah (era) keruntuhan puisi?
Memang, puisi merupakan karya sastra yang penuh dengan kemisterian. Puisi ibarat sebuah lukisan yang memiliki unsur paling esensial. Kecenderungan penyair berfilsafat, bermetafora, bereksperimen, bahkan berevolusi dari peleburan situasi dengan emosi si penyair. Sehingga menjadikan puisi yang dihasilkan sebagai proses kreatif yang bersifat subyektif. Pertemuan ini diekspresikan si penyair melalui bahasa: huruf, kata, kalimat, simbol dan kiasan.

Tidak akan ada namanya kesusastraan, bila jika pengarang menyelesaikan deritanya dengan mengurai air mata. Bagaimana pun murninya air mata penyair tersebut, itu tak lebih air mata sia-sia, belum dapat disebut sastra. Maka air mata ini dikonversikannya menjadi puisi dengan menjinakkan kata-kata yang liar dan kasar. Kemudian dijinakkan oleh penyair dan dipatuhkan pada kehendaknya.

Kini, era modernisme telah menerpa kehidupan kita, termasuk pada sektor sastra. Maka pembaharuan ataupun pembebasan dalam cara pengungkapan yang lahir terkesan lebih baru dan bebas. Mari ditelisik dengan pencarian: mana yang disebut puisi modern?

Dalam puisi modern, irama tidak lagi terikat kepada pola matra tertentu. Sebaliknya berkembang dengan bebas dan rumit dan boleh dikatakan hampir-hampir tanpa ada aturan yang mengikatnya. Mungkin sekali apa-apa yang dimaksudkan dengan “puisi bebas” sebagai nama lain bagi puisi modern itu ialah terutama karena kebebasan susunan iramanya.
Saya mengatakan puisi 1943 milik Chairil Anwar-lah sebagai tonggak pertama puisi modern. 1943 sangat terlepas dari kaidah pantun yang selama ini sangat “digandrungi” penyair sebelumnya. Puncak kemodrenan Chairil begitu terpapar pada puisi ini. Tipografi, rima, irama, diksi sama sekali berbeda. Tipografinya (secara vertikal) membentuk gambar pistol, yang seolah “menodong” kaum penyair lama agar merevolusi gaya berpuisinya.

1943
Racun berada direguk pertama
Membusuk rabu terasa didada
Tenggelam darah dalam nanah
Malam kelam membelam
Jalan kaku lurus. Putus
Candu    
Tumbang
Tanganku menadah patah
Luluh terbenam
Hilang
Lumpuh
Lahir
Tegak
Berderak
Rubuh
Runtuh
Mengaum. Mengguruh
Menentang. Menyerang
Kuning
Merah
Hitam
Kering
Tandas
Rata
Rata
Rata
Dunia
Kau
Aku
Terpaku

Diperkirakan sekitar tahun 1942 Chairil mulai menulis puisi. Bukan dengan gaya bahasa yang dibacanya, tapi dengan bahasa Indonesia. Ia melakukan eksperimen baik terhadap bahasa itu sendiri maupun terhadap persepsi dirinya sebagai seorang penyair. Dengan memakai kesusasteraan Eropa (khususnya kesusasteraan masa PD I dan PD II) sebagai percontohan. Chairil Anwar menjadi orang pertama yang mereproduksi pengertian “modern” ke dalam kesusasteraan Indonesia berdasarkan ide kesusasteraan Eropa. (Foulcher, 1997: 88-89).

Pantun dan Puisi Modern

Beberapa profesor telah dengan seksama meneliti masalah pantun. Yang pertama dikenal adalah H.C.Klinkert. Lalu Prof Pijnappel, Van Ophuysen, dan R.O. Winstedt. Kenapa mereka ini, misalnya, mau bersusah payah meneliti pantun, sampai-sampai berpolemik.
Van Ophuysen misalnya, berpendapat bahwa antara sampiran dan isi, keduanya tidak bersangkut-paut kecuali untuk kesesuaian rima. Namun Pijnappel dan Winstedt mempertahankan bahwa ada hubungan yang halus antara sampiran dan isi, bukan hanya untuk kepentingan a.b/ a.b. saja, namun yang lebih mendasar adalah adanya aba-aba atau kiasan yang termaktub dalam sampiran secara tersirat baru kemudian terdedah di dalam isi pantun.
Mengapa para profesor itu mau menghabiskan waktu dan energinya hanya untuk sebuah pantun. Bukankah pula di negeri Belanda sendiri ada penyair-penyair modern yang sedang hingar-bingar melawan Angkatan 80 seperti Marsman, Ter Braak, Du Peron, Slauerhoff. Atau penyair Barat lainnya, W. B. Yeats, Ts Eliot, Auden, Lorca, Ezra Pound, yang dikatakan banyak bersinggungan dengan Chairil Anwar.

Debut 1943 melanggar semua kaidah pantun yang sebelumnya berkaitan erat dengan puisi (terutama yang membentuk rima). Herannya, pengeritik puisi (modern) sedikit sekali. Jangankan dari luar negeri (seperti yang meneliti pantun), dari dalam negeri sangat minim.
Barangkali kita dapat menemukan jawabannya pada catatan dewan juri sayembara puisi Dewan Kesenian Jakarta 2015 yang berbunyi: Seleksi kata-kata, imaji-imaji, unsur-unsur yang relevan. Entah karena penulisnya kurang percaya dengan kemampuan pembaca, entah karena mereka tidak mampu mengontrol kata-kata. Banyak puisi yang kedodoran, mubazir, sesak napas, kelebihan muatan kata-kata. Karena penulisnya ingin mengatakan dan menjejalkan terlalu banyak hal dalam ruang yang terbatas. Puisi bukan hanya menjadi sumpek dan pengap. Tidak memberikan ruang pemaknaan, melainkan juga kehilangan fokus sehingga tidak jelas maunya apa. Itulah puisi yang terlalu banyak berkata-kata hanya untuk tidak mengatakan apa-apa.

Mengambinghitamkan Modernisme

Alunk Estohank –esais yang berdomisili di Yogyakarta– menuliskan: “Maka tak pelak lagi kalau sastra modern menjadi biang keladi atas segala “krisis” dalam dunia kesusastraan. Sastra modern didaulat telah mencemarkan nama baik kesusastraan dan mengubah paham yang ada dalam dunia sastra yang awalnya mempunyai spirit kebangsaan dan kemanusiaan menjadi hiburan tanpa isi. Hal ini menjadi racun paling ganas dalam dunia kesusastraan, di mana anak-anak muda saat ini hanya memiliki paham kalau sastra hanya berkisar pada persoalan cinta dan tetek bengik hiburan saja” (Sastra Indonesia “Krisis”, Riau Pos, 9 Januari 2016).

Padahal dalam kesusastraan modern, estetika telah diupayakan dalam jalan yang penuh lika-liku, dieksplorasi dan “dimanipulasi” untuk berbagai maksud/tujuan. Berbagai aliran yang kita kenal seperti romantisisme, realisme, ekspresionisme, imajisme, dan lain-lain. Serta bentuk pemahaman dan kajian tentang sastra strukturalisme, formalisme, resepsi, semiotik, dan lain-lain, tak lain untuk menyiasati sastra yang selalu terbalut dan larut dalam estetika itu.
Indonesia dalam sejarah perkembangan sastra modern kita yang masih muda, pada permulaan pertumbuhannya sudah berorientasi ke Barat. Sikap sastra seperti yang dianut Teeuw itu begitu banyak dan meluas pendukungnya. Dapat kita catat nama tokoh-tokoh seperti H.B. Jassin, Chairil Anwar, Wiratmo Soekito, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, Budi Darma, sampai sekarang ini ke Afrizal Malna, Nirwan Dewanto, dan lainnya

Intinya, seorang penulis puisi tentu saja mesti membereskan dirinya dalam hal kemampuan berbahasa tulis dengan baik. Berbagai error berbahasa, termasuk kerancuan logika, serta kaitan dengan licentia poetica. Maka semestinyalah kehadiran puisi modern membuka pandangan baru bagi kehidupan puisi khususnya, dan sastra umumnya.***

Muhammad Husein Heikal, lahir di Medan, 11 Januari 1997. Menempuh studi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sumatera Utara. Karyanya dipublikasikan di Analisa, Waspada, Riau Pos, Medan Bisnis, Haluan, Horison dan beberapa media online.

KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Senin, 12 November 2018 - 21:00 wib

Maksimalkan Melalui Produk Unggulan

Senin, 12 November 2018 - 20:30 wib

2019, Tour de Singkarak Lintasi Mandeh dan Jambi

Senin, 12 November 2018 - 20:00 wib

Tausiah UAS Banjir Jamaah

Senin, 12 November 2018 - 19:00 wib

Transaksi Harian Saham Anjlok 1,89 Persen

Senin, 12 November 2018 - 18:30 wib

Lions Club 307 A2 Beri Bantuan Pengecatan Panti Asuhan

Senin, 12 November 2018 - 18:00 wib

Cukai Rokok Batal Naik, Target Pajak Sulit Tercapai

Senin, 12 November 2018 - 17:00 wib

PT Pekanperkasa Promo Spesial Akhir Tahun

Senin, 12 November 2018 - 16:30 wib

KPP Pratama Bangkinang Edukasi Siswa lewat Pajak Bertutur

Follow Us