CERPEN ISBEDY STIAWAN ZS

Gattaw Cegaguk

13 Maret 2016 - 02.30 WIB > Dibaca 1675 kali | Komentar
 
SEBUAH perahu telah siap di bibir sungai. Minak Ratu Junjungan meloncat ke lambung lalu menuju buritan, dayung di tangan. Perahu pun dikayuh membelah arus. Ia harus kembali sebelum begawi berlangsung membawa tumpukan telinga untuk pagar bagi pesta adat. Adiknya, Tuan Surting, penunggu tiyuh tengah menyiapkan begawi. Dan Minak Ratu Junjungan yakin adiknya bisa menyelesaikan selagi ia mencari kuping.

Matahari sudah tenggelam sejak tadi. Sungai tak lagi bergambar. Begitu pekat. Perahu kokoh siap membawanya ke kampung lain. Tugasnya berat. Mengumpulkan daun telinga yang tak sedikit. Kuping-kuping itu, setiap ada begawi (pesta) adat, dijadikan pembatas antara warga yang hadir1 untuk turut dalam prosesi atau hanya jadi penonton.

Minak Ratu Junjungan kini sudah menggerakkan perahunya. Ia tidak mengikuti arus, agar pulangnya setelah berhasil mendapatkan daun-daun telinga bia lebih cepat. Kedua tangannya yang kokoh memainkan ujung dayung di air. Perahu pun selancar. Gunung Batin Malay2 semakin tampak kecil di belakang sana.

Acap ia menemui arus deras, namun mudah sekali ia lalui. Karena tak sedikit perahu terbalik begitu berhadapan dengan pusaran air, atau arus besar. Bagi Minak Ratu Junjungan yang sejak kecil hidup bersama perahu, ia fasih bagaimana mengelaknya. Seperti kata pujangga, karena laut mengajarkan rahasia badai, aku pun setia berlayar3 demikian pula bagi Minak Ratu Junjungan. Sebahai pelayar sejak anak-anak tentu ia tahu mana arus deras, dan di mana pula terdapat pusaran air yang dapat mengancam keselamatannya.

Maka ia memilih melawan arus saat pergi, agar sekembali esok pagi tak lagi memerlukan tenaga lebih banyak sampai ke kampungnya. Cukup mengarahkan kemudi supaya perahu lempang tanpa halangan oleh akar ataupun batu. Minak Ratu Junjungan tak henti bersenandung demi menghalau kesunyian. Beratus-ratus reringget dan bubandung4  habis dan berulang-ulang dibacakan.

Semakin dikeraskan suaranya, bait-bait reringget dan bubandung bagai menguatkan dirinya. Minak Ratu Junjungan seperti tak lagi memiliki kelemahan. Betapa, syair-syair itu memunyai magis yang kuat, gumamnya.

Sejatinya, Minak Ratu Junjungan tak hanya fasih melafalkan bubandung dan reringget, banyak syair-syair tradisi Lampung dihapalnya. Sejak buaian, kedua orang tuanya selalu mendendangkan syair-syair itu setiap ia hendak tidur. Meninabobo dengan bait-bait bubandung dan reringget yang memang panjang itu, hingga ia terlelap. Budandung atau reringget jika dibawakan oleh ahlinya, bisa sehari semalam. Dalam syair-syair itu, terdapat ajaran dan ujaran nasihat, kesedihan, pujian pada alam dan Tuhan, dan seterusnya.

Itulah yang menguatkan dan memberi semangat Minak Ratu Junjungan mengayuh perahunya di malam yang sunyi dan kelam . Sudah sepuluh tiyuh dilintasi, dan delapan tiyuh telah menjejakkan kakinya. Mengumpulkan daun-daun telinga dari manusia dan hewan di sana. Tetapi belum cukup untuk menjadikan pagar.

Ia bertekad akan pulang setelah yang diinginkan memenuhi perahunya, karena begawi adat tidak akan dilasanakan tanpa pagar tersusun dari daun telinga. Meski, mungkin, harus sehari atau dua hari lagi baru ia kembali ke tiyuh.

***

TUAN Surting dan Minak Ratu Junjungan sudah sepakat. Kakak-beradi itu siap melaksanakan begawi untuk mendatapkan gelar dalam adat. Setelah gelar diperoleh, Minak Ratu Junjungan akan menjadi pemimpin kaum yang ada di Utara. Sedangkan Tuan Surting memimpin di wilayah Selatan. Itulah dua wilayah yang belum memiliki tetua adat. Karena itu, sebelum diisi oleh orang lain keduanya menggelar gawi. Sebelum purnama kalender kedua bulan ini.

Namun tahapan dimulai. Mengumpulkan daun  telinga untuk pagar saat begawi. Dilaksanakanlah undian. Siapa yang kalah perundian, tugasnya adalah mencari kuping dari kampung-kampung lainnya. Minak Ratu Junjungan mendapat tugas meninggalkan kampung untuk mendapatkan daun telinga. Sementara Tuan Surting menjaga tiyuh dan menyiapkan segala sesuatunya untuk prosesi begawi. Tuan Surting menang dalam berundi yang dilakukan pada malam hari.

Minak Ratu Junjungan bukan tak tahu, kalau adiknya di saat undian semalam melakukan kecurangan. Maka ia terperdaya. Tetapi, demi adat, untuk sebuah begawi yang wajib dirayakan suka-cita, bisikan-bisikan hatinya itu segera ditepis jauh-jauh. Apalagi hanya dugaan-dugaan, tentulah lebih banyak yang bermain adalah setan.

“Apa karena kalah-menang, kekeluargaan akhirnya bercerai-berai? Aku tak ingin karena itu kakak-beradik bertikai. Biarlah, ia menanggung sendiri nantinya, jika benar ia berbuat curang?” suara hati Minak Ratu Junjungan, sebelum ia pamit kepada tetangga-tetangganya untuk mengarungi sungai dan singgah di sejumlah tiyuh.

Singgah di tiyuh tak segampang menjejakkan kaki di tanah. Pastilah akan berhadapan dengan pemilik tiyuh,  di sanalah adu kesaktian diuji. Sebanyak delapan tiyuh yang sudah disinggahi, Minak Ratu Junjungan memenangi perkelahian. Meski pada satu tiyuh, ia terkepung dan nyaris tewas.

Luka di sekujur tubuhnya ia bawa lari menuju perahu. Secepatnya ia pacu laju perahu meninggalkan tiyuh itu. Di atas perahu tatkala arus tenang mendorong buritan, Minak Ratu Junjungan tertidur setelah mengobati luka-lukanya dengan ramuan dedaunan.

Tuan Surting pasti senang menyambut kedatangan Minak Ratu Junjungan. Apalagi ia membawa kuping menggunung di perahu. Seluruh warga akan memeluk dan mengangkut tumpukan daun telinga dari dalam perahu yang dibawanya. Para gadis akan mengumbar senyum, karena Minak Ratu Junjungan selamat. Ia akan ditahbis oleh muli-muli5 sebagai mekhanai6 perkasa dan sakti. Siapa pun akan berkhayar bisa hidup dan dilindungi oleh lelaki sakti dan gagah.

Dan, lazimnya setiap lelaki pulang dari berburu daun-daun telinga lalu kembali selamat, banyak gadis ingin dipinang. Terbayang dalam benak Minak Ratu Junjungan, para gadis ingin dilamar. Meski dalam adat, perempuan memiliki martabat yang tinggi. Maharnya berlipat.

Tiba-tiba seekor buaya bertubuh besar telah siap menghadang, membuat Minak Ratu Junjungan terjaga dari lamunan. Secepat kilat dia cabut parang dari sarangnya. Sekali tebas, leher buaya lepas dari tubuhnya. Namun, buaya-buaya lain—sekitar 5 ekor—tak terima kawannya tewas lalu membuat barekade di depan perahu Minak Ratu Junjungan.

Karena kesaktiannya sudah teruji, sekali entakan tubuh Minak Ratu Junjungan melenting ke udara dan sekejap kemudian sudah kembali di atas perahu yang meluncur deras meliwati hadangan lima ekor buaya itu. Dia kembali mengemudi perahunya, selancar di permukaan arus sungai. Pagi akan jelang.

***

TUAN Surting sedang menyiapkan pesta adat. Orang-orang setiyuh berkumpul di rumahnya. Tak ada seorang pun berpangku tangan. Seluruhnya bekerja. Ada yang mengumpulkan kayu untuk memasak, menyiangkan tungku, mengambil air di sungai dan sumur. Lelaki lain mengunduh kelapa. Sedangkan lainnya menggaduh kerbau untuk disembelih keesokan harinya.
Pesta ini harus meriah, Tuan Surting membatin. Apalagi Kiyai Minak Ratu Junjungan sangat membantu demi kemerihan begawi adat. Kakak-beradik itu akan mengambil gelar dalam adat, demi memimpin marga di dusun itu.

Alat-alat tetabuh sudah dipajang di panggung, begitu pula para penabuhnya siap bertugas begitu ada komando. Para muli berias sejak sore tadi, dan begitu malam berlabuh mereka akan dijemput para lelaki. Dengan alat penerang seadanya, para lelaki memukul canang sebagai tanda penjemputan tiba.

Kemudian muli keluar dari rumah mengenekan siger7 di kepala. Para perempuan yang telah dihiasi itu betapa cantiknya tiap lelaki memandang. Mereka diantar ke tempat prosesi begadi adat. Lalu pada saatnya para muli berngigel diiringi tetabuhan. Sedang malam harinya hingga dini, dikhususnya bagi para orang tua atau tetua adat.

Tuan Surting tampak bahagia. Tugasnya mempersiapkan begawi dilakukannya nyaris sempurna. Di hatinya berkecamuk. Ingin melaksanakan begadi seorang diri. Ia mau menguasai dua wilayah itu. Bukankah Kiyai Minak Ratu Junjungan belum tentu selamat tiba di kampung. Boleh jadi kini kakaknya itu tewas dibunuh para penjahat atau punah diterkam binatang buas di perjalanan.

Sejarah menulis begitu. Setiap yang kalah dalam undian, dan harus keluar dari kampung untuk mendapatkan kuping hilang tak jelas rimbanya. Mati tak tahu di mana kuburnya. Kecuali perahu dan bawaannya yang sampai di perkampungan. Perahu-perahu tanpa pengemudinya bersandar di akar pohon.  Orang-orang kemudian mengangkut bawaan dari perut perahu kosong itu.

Sepertinya perahu itu tahu arah pulang mesti tak dikemudikan oleh si empunya. Bagaikan kuda peliharaan yang bisa pulang meski tanpa tuan. Atau seekor burung dara karena cerdiknya, pandai mengantar atau membawa pesan dan tak salah orang.

Apalagi tinggal hitungan jam, begawi adat dimulai. Tuan Surting sudah mengenakan pakaian adat lengkap. Pakaian adat itu sudah lama dibuatnya. Mungkin sejak ia berusia anak-anak. Dianyamnya sendiri dengan kedua tangannya. Jemari-jemarinya bak penari merajut pakaian adat itu. Seperti juga Minak Ratu Junjungan. Pakaian adatnya siap menanti kedatangan si empunya.

Dua kursi singgasana untuk keduanya pun sangat kasmaran, seperti seseorang yang merindukan kekasihnya. Kursi itu kelak yang menaikan martabat seseorang. Itu sebabnya, orang-orang berlomba untuk didudukkan di kursi itu.8

Hingga matahari nyaris tergelincir di Barat, Minak Ratu Junjungan belum tiba. Orang-orang mulai cemas. Berbeda bagi Tuan Surting. Ia perintahkan para penabuh memainkan alat tetabuhan. Di situ ada canang, talobalak, dan lain-lain.

Suara riuh tetabuhan itu mengudara hingga ke beberapa kampung. Tiyuh Gunung Batin Malay semakin mamalam kian ramai. Warga dari tiyuh tetangga datang ada yang disebabkan diundang, namun tak sedikit lantaran mendengar tetabuhan.

Tuan Surting sebentar lagi memeroleh gelar adat. Ia akan bergelar Tuan Surting gelar Suttan Cerdik Nanpiawai. Gelar biasanya disematkan tak lari sifat asli yang mendapatkan gelar.9 Sedangkan Minak Ratu Junjungan entah di mana. Kursi pepadunnya tak akan didudukinya.  
Tetabuhan itu sengaja dimainkan para pemusik, agar warga berkumpul, bahkan dari seberang maupun kampung tetangga. Tuan Surting telah memerintahkan pemusik memulai permainannya, agar suasana tampak riang dan tak sunyi. Atau siasat dia? Entahlah…

***

SUARA tetabuhan terdengar hingga beberapa kampung tetangga. Riuh dan semarak. Sorak-sorai. Tarian. Purnama di langit luas. Musik itu sangat khas di telinga Minak Ratu Junjungan. Darahnya bergolak tiba-tiba. Kedua telinganya mengembang, ingin meyakinkan apakah suara itu benar-benar dari tetabuhan yang diperagaan pemusik di rumahnya? Dari Tiyuh Gunung Batin Malay?

“Ya, itu pasti suara musik. Begawi sudah dimulai. Sungguh licik…” ia membatin. Tak mampu ia meneruskan gumamnya itu.

Bagaimanapun Tuan Surting adalah adik seayah-ibu. Tidak patut ia mencaci ataupun mencerca. Menjelek-jelekkan saudara sendiri, apalagi dari satu darah, sama saja mengumbar aib sendiri. Dan, memamerkan aib dapat disanding dengan seseorang yang menyantap bangkai.

“Aku tak suka bangkai. Menjijikkan,” kata hatinya lagi. “Aku mencintai ibu dan ayahku, karena merekalah kehormatanku. Dan, aku terhormat. Lalu, tak pantas kalau aku mencerca adikku. Mencela, bahkan mengumbar aibnya!”

Tetapi, ia memperdayaiku. Aku ditipu. Didustai terang-terangan. Dari cara berdunding, mengundi, dan lain sebagainya. Sehingga aku mendapat tugas mencari kuping-kuping ini. Ini sama artinya mengusirku secara halus ari kampung yang melahirkan dan telah menanam ari-ariku.

Minak Ratu Junjungan terus bergumam. Kata-kata di batinnya berkelindan dan bergantian. Antara menenteramkan dan membakar amarahnya. Darahnya menggelegak, bagai larva dalam kepundan yang tak kuasa menahan panas.

Tapi bukan Minak Ratu Junjungan, kalau tak mampu membendung amarahnya. Menurunkan suhu larva dalam kepundan hatinya. Hati memang bergolak, namun kepala harus tetap sejuk. Itulah petuah yang diterimanya dari ayahnya saat ia anak-anak.

“Yang mengalahkan dirimu, sesungguhnya bukan kesaktian ilmu dari lawanmu. Melainkan yang ada dalam dirimu. Batinmu. Maka sering-seringlah memasuki hatimu. Ajakalah berdialog. Niscaya ia akan selalu tenang, walaupun badai bertubi-tubi meradang,” nasihat gurunya saat mempelajari ilmu hayat dan akhirat.

Lalu sekali helaan, perahu pun berbalik arah. Ia tak menuju pulang. Ia mencari tanah baru untuk merenung sampai kekecewaannya benar-benar pulih. Ia tak bisa memastikan ihwal waktu. Karena bukan saja soal kecewa, patah hati, tetapi yang sulit dihapusnya adalah malu. Ia malu pada seluruh keluarga dan kampung lainnya.

Setelah dua atau tiga tiyuh dilalui, persis pada kali ketiga tikungan arus; di bawah pohon amat rindang menyerupai rumah, Minak Ratu Junjungan merapatkan perahunya. Ia melompat dari atas sampan itu. Duduk. Merenung10 sampai bertahun-tahun.***

Bandarlampung,
1-12 April 2015


Isbedy Stiawan adalah sastrawan asal Lampung. arya-karyanya dimuat di berbagai media. Isbedy juga telah menghasilkan beberapa buku kumpulan puisi.

Catatan:
1 Pada prosesi begawi adat, yang dibolehkan masuk dan ikut dalam perayaan begawi di dalam arena adalah jika lelaki diwajibkan berpakaian adat, yakni celana panjang bersarung setengah di atas lutut dan memakai topi/peci. Jika tidak, hanya berada di luar gelanggang
—yang biasa dibatasi/dipagar
—dan dulu kala, konon yang disampaikan penutur, pagar/pembatas terbuat dari daun telinga.
2 Gunung Batin Malay adalah tiyuh induk, dan Gedung Ratu muasalnya dari tiyuh ini.
3 Kalimat ini dpetik dari baris puisi “Perjalanan Pelaut” karya Isbedy Stiawan ZS (1987)
4 Sastra lisan dalam bentuk syair
5 Muli dalam bahasa Lampung ada perempuan/gadis
6 Mekhanai berarti lelaki/bujang/lajang (bahasa Lampung)
7 Siger adalah hiasan bagi perempuan (muli) Lampung di atas kepalanya. Alat ini sama artinya mahkota, maka tak semabarang dipakai dan diletakkan. Siger semestinya selalau berada di atas. Tetapi perkembangan zaman, kini siger berubah menjadi lambing (ikon) di daerah ini, sehingga (seakan) boleh dipajang di mana saja; di depan toko atau rumah toko, di dinding jalan, dan sebagainya.
8 Kursi untuk mendapatkan gelar dalam adat, kedua jurai sepertinya sepakat menyebut pepadun. Kini, cakak pepadun (naik ke kursi pepadun) bukan saja khusus bagi etnis Lampung (sai batin maupun pepadun), tetapi tamu pemerintah atau pejabat di daerah ini bisa mendapatkan gelar dan duduk di kursi tersebut.  
9 Misalnya seseorang yang hidupnya suka-suka (semaunya, ingin bebas, tidak bisa diatur), maka ia digelari Suttan Seago-ago (sesukanya/semaunya). Ini hanya misal.
10 Tempat merenung Minak Ratu Junjungan ini dinamai Gattaw Cegaguk. Inilah cikalbakal menjadi tiyuh sampai suatu masa karena populasi manusia terus bertambah, berpindahlah ke lahan lain yang tak jauh dari Gattaw Cegaguk itu, yakni Gedung Ratu. Dalam bahasa Lampung, gedung bisa diartikan ranah/wilayah, sedangkan Ratu konon diambil dari puyang pertama orang Gedung Ratu; Minak Ratu Junjungan.

KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Jumat, 21 September 2018 - 18:00 wib

Pengelola Diminta Optimalkan Aset untuk Kesejahteraan Desa

Jumat, 21 September 2018 - 17:30 wib

Apresiasi Komitmen Partai

Jumat, 21 September 2018 - 17:00 wib

Warga Dambakan Aliran Listrik

Jumat, 21 September 2018 - 16:30 wib

Real Wahid dan UIR Juara Kejurda Futsal 2018

Jumat, 21 September 2018 - 16:14 wib

Etape Terakhir Diraih Tim Sapura Cycling Malaysia

Follow Us