OLEH MUHAMMAD AMIN

Menghutankan Kota

19 Maret 2016 - 23.19 WIB > Dibaca 1777 kali | Komentar
 
Kebanyakan kota-kota tumbuh di Indonesia dengan tanpa perencanaan yang matang. Maka banyak wilayah-wilayah dalam perkotaan yang tumbuh tak terkendali. Perencanaan kota kerap kali tak berjalan dengan baik, sehingga pertumbuhan kota makin tak terkendali.

Akibatnya, aspek lingkungan tak terperhatikan. Munculnya masalah-masalah perkotaan, seperti banjir, terjadi karena aspek lingkungan ini diabaikan. Banyak daerah resapan air yang berubah menjadi ruko, perumahan, dan gedung-gedung pencakar langit. Drainase dan anak sungai pun tak terperhatikan.

Selain itu, daerah resapan air yang harusnya ada di tiap kawasan tertentu perkotaan, malah dialihfungsikan. Ini menjadikan sebuah kota kehilangan maknanya sebagai tempat kehidupan. Kota malah berubah menjadi hanya kawasan industri, tempat mencari nafkah, bukan sebuah kawasan yang kompleks, yang di sana ada kehidupan asri dan menyenangkan. Padahal kota sesungguhnya adalah kawasan yang lengkap, dan nyaman bagi penghuninya. Warga kota tak hanya perlu sarana transportasi, tempat tinggal, tapi juga udara yang bersih dan pemandangan alami.

Kota tak hanya perlu sarana untuk meningkatkan industrialisasi saja. Kota memerlukan nafas yang salah satunya didapat dari pepohonan atau hutan kota. Hutan kota adalah salah satu komponen ruang terbuka hijau. Keberadaan hutan kota sangat berfungsi sebagai sebuah sistem hidrorologi, menciptakan iklim mikro, menjaga keseimbangan oksigen (O2) dan karbon dioksida (CO2), mengurangi polutan, dan meredam kebisingan. Selain itu, hutan kota berfungsi pula untuk menambah nilai estetika dan keasrian kota sehingga berdampak positif terhadap kualitas lingkungan dan kehidupan masyarakat.

Konsep hutan kota sebenarnya sudah diatur secara rinci, bahkan dalam peraturan perundangan. Tapi kebanyakan berbagai kota terlambat mengantisipasinya, sehingga penerapannya tak maksimal. Kota telah telanjur ditumbuhi pelantara gedung pencakar langit dan papan reklame yang menjamur. Dalam Peraturan Pemerintah No 63 Tahun 2002 tentang Hutan Kota, disebutkan fungsi dari hutan kota, yaitu memperbaiki dan menjaga iklim mikro dan nilai estetika, meresapkan air, menciptakan keseimbangan dan keserasian lingkungan fisik kota, dan mendukung pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia.

Hutan kota misalnya memberikan manfaat estetika atau keindahan bagi sebuah kota. Nilai esetika hutan kota itu bisa dilihat dari hijaunya hutan tersebut dengan aneka bentuk daun, cabang, ranting dan tajuk serta bunga yang terpadu menjadi suatu pemandangan yang menyejukkan. Manfaat ekologis, yaitu tercapainya keserasian lingkungan antara tanaman, satwa maupun manusia dan sebagai habitat satwa, seperti burung-burung serta perlindungan plasma nutfah. Manfaat klimatologis, yaitu terciptanya iklim mikro, seperti kelembaban udara, suhu udara, dan curah hujan sehingga dapat menambah kesejukan dan kenyamanan serta tercapainya iklim yang stabil dan sehat. Manfaat hidrologis, hutan kota dengan perakaran tanaman mampu menyerap kelebihan air pada musim hujan sehingga dapat mencegah terjadinya banjir dan menjaga kestabilan air tanah, khususnya pada musim kemarau.

Ada lagi manfaat protektif, yakni pepohonan di hutan kota berfungsi sebagai pelindung dari pancaran sinar matahari dan penahan angin. Serta pohon dapat meredam kebisingan dengan cara mengabsorpsi gelombang suara oleh daun, cabang dan ranting. Jenis tumbuhan paling efektif untuk meredam suara ialah tumbuhan dengan tajuk lebat dan rindang, strata yang cukup rapat dan tinggi.

Keberadaan hutan kota di kota-kota besar tidak dipungkiri menjadi kebutuhan yang mau tidak mau harus dipikirkan dan direncanakan dalam pengaturannya. Dalam perencanaan pembangunan perkotaan, khususnya pembangunan pemukiman, sekaligus perlu dipersiapkan bentuk dan struktur hutan kota berstrata banyak yang dapat menjadi habitat satwa. Selain untuk meningkatkan kualitas lingkungan, bentuk dan struktur hutan koya berstrata banyak dapat mengurangi biaya pemeliharaan, sekaligus menjadi kebun bibit secara alamiah serta tempat pelestarian plasma nutfah.

Buku ini hadir sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan kota yang masih jauh dari pertimbangan segi ekologi fan fungsinya. Kalaupun ada hutan kota yang mempunyai strata, ternyata hanya secara kebetulan saja karena pengaturan vegetasi lebih ditujukan kepada kepentingan estetika. Buku ini dapat dijadikan referensi bagi mahasiswa dan dosen Jurusan Arsitektur Landekap, pejabat di lingkungan Dinas Tata Kota, atau para pemerhati lingkungan perkotaan.***

KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Follow Us