RIAU RHYTM CHAMBER INDONESIA

Menapak Jejak Suvarnadvipa Lewat Nyanyian Hulu Negeri Puan

19 Maret 2016 - 23.26 WIB > Dibaca 1419 kali | Komentar
 
Oleh Nurkholis

Teringat pendapat seorang filsuf “Ketika  angunan seni  lainnya—tari, drama, rupa, sastra— bergerak evolusi membentuk garis pondasi saintifik, dan beranting menjulang di kehidupan kontemporer, maka al-musikum tetap berdiri kokoh mengaksentuasikan aktualitas esensinya di garis edar indra dengar manusiawi, imajinatif, dan filsafati. Sadar atau tidak, dialektika keseharian kita penuh dengan peristiwa bunyi yang terbentuk oleh piranti; interval, ritme, dinamika, timbre, durasi, frasa, densitas, tempo, dan metrik.

Ya, seperti; distorsi bunyi kendaraan di darat, laut, dan udara, mesin-mesin pabrik, eporia penonton sepak bola di stadion, kebisingan pengunjung airport dan pasar tradisional, gadget, pola-pola ritmis manca negara yang provokatif mau pun dalam negeri yang silih berganti di streaming media, atawa senandung ibu menina bobo sang buah hati, senda gurau kanak-kanak bermain petak umpet di malam purnama, ratapan-ratapan pedalaman yang terisolatif, dan sebagainya. Oleh kalangan komposer kontemporer, sumber bunyi di atas bisa saja dilebur kembali ke dalam tafsir baru penciptaan musik, seperti; musik dodekafon, musik minimalis, musik kongkret, musik elektro-akustik, musik aleotorik, neo klasik, jazz kontemporer, dan chance music atas realitas dan fenomena musikal di sekitarnya.

Begitu juga ketika kita asik mendengar, dan larut ke dalam imaji atas atmosfir karya musik tertentu—khususnya seni musik kontemporer berakar idiom tradisi—, maka piranti musikal sebagai modal interpretasi dan disiplin lainnya—pembacaan sejarah, sosiologi, antropologi, fisika, matematika, psikologi, dll—posisinya menjadi penting, yakni sebagai serapan atas tafsir baru kekaryaan yang tidak lagi tergagas sebatas isu bentuk semata, namun bisa merembes ke hal-hal di luar batasan hirarki sonoritas tertentu.

Sebagaimana pemaknaan atas peta musik saat ini—fenomena world music—, realitas bangunan musik cenderung ambigu tersebab oleh adanya tarik menarik kekuatan musikal, seperti; adanya upaya-upaya komposer memadukan garis horizontal non metrikal nyanyian Timur—kaya akan taste ornamen mikrotonal dan aksen-aksen polimetrik—di satu sisi, dan sisi berikutnya tertantang oleh hegemoni tetrachord diatonal Barat yang vertikal, dan cenderung mengarah ke konsep-konsep pan-diatonic—leburnya oposisi biner pada frasa lagu konsonan-disonan yang tidak lagi berpusat pada superior tonalitas—dalam konsep atonal musik modern. Artinya, saat ini kontemplatif komposer sebagai pembawa kabar musikal—jejak musik masa lampau, kini, dan akan datang—, mesti mampu melihat, mempertautkan (koheren), memadukan (kohesi) ragam materi disekitarnya menjadi konsep geometri atas pesan yang ingin tersampaikan, khususnya lewat jalan ‘baru’ arena kreatifitas musik yang bertubrukan antara tradisi dan modernis.

Fenomena di atas penulis rasakan, yakni ketika menonton pertunjukan musik Suvarnadvipa: The Journey of Musical Harmony, yang digelar di Gedung Pertunjukan Hurijah Adam. Catatan ini mencoba menguraikan retorik seorang Rino Deza Pati—komposer dan pendiri Riau Rhythm Chamber Music (RRCI) – atas kegelisahannya mencari partikel-partikel bunyi eksotik budaya mesolitikum Bacson-Hoabinh dan neolitikum Dongson Astronesia yang berserakan di pedalaman Sumatera, untuk diwacanakan kembali lewat konser tunggal di kampus seni Institut Seni Indonesia Padangpanjang, tanggal 10 Maret 2016.

Menurut Rino, upaya Dia mencari jejak kebenaran musikal leluhurnya itu sesungguhnya sulit untuk dijumpai—bak mencari peniti di tumpukan jera(mi)—, karena tanda-tanda verbalitas musik sebagai peta, data, dan fakta tersurat, masih terkunci di antara pembatas ruang waktu. Oleh sebab itu, Rino dan musisi RRCI berusaha membongkar ruang-ruang pengarsipan kisah-kisah, mitos, legenda, foklor peradaban manusia di tanah ‘Omeh’ atawa negeri Suvarnadvipa—yang dulu katanya sempat jadi sebutan, pun rebutan di kalangan penguasa negeri-negeri seberang—melalui program riset kontinu dan eksplorasi bunyi yang tiada henti.

Malam itu, Rino dan musisi RRCI menggelar 9 repertoir, antara lain: a) Jang Si Bono medley Langkapuri; b) Sri Perca; c) Svara Jiva; d) Lukah Gilo; e) Pencalang; f) Dentang Denting Dentum; g) Puti Indira Dunia (with orkestra); h) Sound of Swarnadwipa (with orkestra). Aksi panggung mereka bak konser band jazz rock papan atas, mereka mampu membangun histeria penonton lewat padu-padan pola-pola ritme yang menghentak dan terkadang kejar mengejar dalam aksen poli-metrikal. Demikian juga repetitif garenek Melayu yang khas, terdengar lebur dalam improvisasi atas sentuhan comping dan bluenote jazz kontemporer.

 Namun uniknya, dari keseluruhan instrumentasi yang digunakan tidak satu pun elektronik. Rino dkk lebih mengedepankan orkestrasi musik akustik dari tradisi Melayu dan Eropa, seperti Gambus Seludang 7 String, Calempong Pentatonic-Diatonik, Ketepak, Gambang, Gong, Sarunai, Bebano, Tambur, Udu, Akordeon, Flute, Guitar 14 String, dan Cello untuk mengajak imajinasi audien melanglang ke jejak-jejak musikal pedalaman Sumatera. Ya, suatu perjalanan harmoni musikal yang meleleh (melting pot) di malam penuh responsif dan respek. Kesan itu penulis rasakan, yakni ketika repertoir per repertoir mulai dimainkan. Imaji auditorial penonton seolah diajak berakit ke pusaran budaya masa lalu. Impuls bebunian antara ritmis instrumen lokal dan global berkelindan dalam range yang luas, dan saling mensuport. Sehingga sufistik bunyi menghadirkan landscape kejayaan tanah tua Melayu ke hadapan kita.

Kesadaran akan kekuatan singkop dan pola ritmik proto-detro, pun menjadi cara tersendiri seorang Rino Deza Pati mengaplikasikan gerak ‘bebas’ melodi bermain bersama (call and respon) dalam logika scale-mode, dialektis impromptu. Jika ditelaah lebih dalam, jelas tergambar bahwa formulasi musik Melayu kontemporer yang digagas Rino dan musisi RRCI, tidaklah terlepas dari triangulasi budaya musik jazz. Esensinya, bahwa konsep musik Rino itu sendiri pada dasarnya melambangkan suatu cara bernyanyi dan bermusik yang identik dengan aksen-aksen blues—cara bernyanyi yang lebih mementingkan ‘penekanan’ pada nada-nada discord bluenote—, atau mirip dengan garenek, sruti, dan cengkok melodi yang berlaku dalam tradisi-tradisi bernyanyi di kawasan pentatonik Asia. Suatu cara yang menurut penulis berlaku sama dengan terma imbal dan ngumbang-ngisep, yakni: cara bersahut-sahutan antara bonang dan saron dalam karawitan Jawa-Bali-Sunda, atau setidaknya memiliki kemungkinan yang ‘mirip’ pada konsep-konsep pertunjukan musik tradisional di Sumatera, atawa ratapan asing (the other) dalam nyanyian-nyanyian Minanwa-tanwa.

Sajian komposisi malam itu, sepertinya memanifestasikan suatu pembacaan ulang atas manuskrip-manuskrip kuno yang tersurat, tersirat, terselubung, dan tersembunyi di hulu negeri Kampar, tepatnya di wilayah situs Muara Takus. Interval-interval pentatonik dan modaliti sebagai material musik dipadukan Rino ke dalam konsep diskord, sehingga spektra bunyi menstimulasi impresi tertentu nan mistik, bak tetesan embun di Batang Kampar yang juga dikenal sebagai Louik baombun. Suatu sikap berani, emansipatif, dan retro-aktif, karena Rino bersama musisi RRCI telah mencoba keluar dari comfort zone industri musik populer. Pilihan sulit tentunya, jika dilihat dari perspektif pasar musik pop dalam negeri, masif, penuh intrik, dan membuang jauh idealisme. Jujur saja, konsep musik yang ditawarkan Rino berpotensi menjadi avant-garde, sekaligus framework karya-karya musik Melayu kontemporer, bersintesa, berdialektika dalam laju perubahan.

 Ben M Pasaribu pernah mengatakan,  dalam perkembangan penciptaan musik baru di Indonesia, kita akan menemukan alur yang secara kesejarahan meneruskan dua ragam tradisi musik. Pertama, penciptaan dalam konteks musik tradisional yang berkembang dalam masyarakat (termasuk pengaruh-pengaruh asing yang sudah menyatu dalam kultur); dan kedua, penciptaan dalam konteks penggunaan estetika musikal dari musik Barat, baik dalam format struktur maupun instrumentasinya.

Walau ini adalah kerja yang belum tuntas, tapi setidaknya ada upaya-upaya kontinu membuka diri seluas-luasnya terhadap wawasan dan wacana musik kontemporer, serta kesejarahannya di peta musik dunia. Proses demikian, tentunya menjadi poin penting atas terciptanya kreasi dan inovasi musikal berdasar triangulasi Tungku Tiga Sajarangan dalam tata kehidupan tanah tua Melayu yang unik, dan bermutu tinggi. Tentunya harapan ke depan, bahwa gagasan penciptaan musik yang ditawarkan oleh Rino Deza Pati melalui Riau Rhythm Chamber Indonesia layak menjadi ‘payung’ transformasi didaktik musikum terdepan di ranah Sumatera—memiliki kemauan, kemampuan, dan kelenturan adaptasi—guna menerangi wajah colloquium jejak bebunyian Suvarnadvipa yang membentang ke penjuru semesta musika.

Nurkholis, pengamat musik, dosen, komposer, konduktor
KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 17:30 wib

Rider Berbagai Provinsi Bakal Ramaikan Jakjar 5

Selasa, 18 September 2018 - 17:22 wib

AJI Pekanbaru Kirim Delegasi ke Festival Media 2018 di Pontianak

Selasa, 18 September 2018 - 17:00 wib

Maksimalkan Peningkatan Kualitas Pendidikan

Selasa, 18 September 2018 - 17:00 wib

OOTD Jadi Inspirasi Fashion Bagi Banyak Orang

Selasa, 18 September 2018 - 16:44 wib

Australia Diserang Stroberi Berisi Jarum

Selasa, 18 September 2018 - 16:30 wib

Bupati Terima Dua Permendagri

Selasa, 18 September 2018 - 16:00 wib

Truk Laga Kambing, Pengemudi Tewas

Selasa, 18 September 2018 - 15:30 wib

Puskesmas Kampar Bersiap Hadapi Akreditasi

Follow Us