OLEH RIKI UTOMI

Membaca Anak Luka Susu

20 Maret 2016 - 00.13 WIB > Dibaca 1301 kali | Komentar
 
Membaca Anak Luka Susu
Kumpulan puisi Anak Luka Susu karya Muhammad Asqalani Eneste memiliki corak yang khas dari penyairnya. Setidaknya, ada beberapa hal yang dapat dicatat dari puisi-puisi yang ada di dalamnya. Pertama, Asqalani mengambil bermacam tema dan lihai mengemasnya dengan kata-kata apik nan memikat. Kedua, ada ungkapan-ungkapan asing (bukan berarti bahasa asing) yang diciptakannya sendiri  -setidaknya- untuk memberi efek dari daya ucap sajaknya. Ketiga, Asqalani merupakan seorang penyair yang seolah lepas dari dunia Melayu; tidak seperti sebagian penyair Riau yang tunak bertukus-lumus dengan roh Melayu. Asqalani seolah melenggang sendiri ke dalam dunianya.

Di dalam kumpulan puisi ini tampak usaha Asqalani yang tidak putus-putusnya untuk terus mencari jalannya menuju jati diri sebagai penyair garda depan. Di dalam sajak “Korkhena” terlihat bentuk yang kokoh dalam segi diksi, rima, pencitraan, frasa, alunan kisah, dan juga tema yang diusung. Ada keunikan yang ditampilkan karena tafsiran antara ayat-ayat suci Al-Quran dan Injil. “ular! Seru seorang yang sedang menyembah istri/ istrinya hitam beku, secantik patung hyena// … korkhena memisah-misah misa doa, menjemurnya satu-satu di tiang merah/ tuhan hijau dalam segala anggapan, telapak tangan telah lama lumut.”//

Di dalam puisi “Puan Momiji” dengan satu paragraf penuh dan utuh, berkisah suatu sosok manusia yang menjadi dambaan aku lirik. Asqalani cukup cermat dalam merangkai kata, memilih ketepatan diksi dan rima bunyi yang sangat berpengaruh pada lantunannya ketika dibaca. Sajak ini utuh dengan deskripsi yang kuat sekaligus tampak berusaha membawa emosi pembaca. “Jika kau pulang sayang/ kau akan seabsolut gamang, matamu kian mengambang/ merasa kaki salah tujuan// kau pilih pergi? Telah kusuluh sunyi dengan dalih seribu sendiri/ bahkan telah kupadamkan seluruh nyala mimpi/ duduklah, jika kau masih anggap ini rumah sendiri.”//

Sajak “Mendengar Lonceng” tampak mengarah ke religiusitas yang berbeda dengan latar belakang agama penyair sendri sebagai seorang muslim. Puisi yang agak “membelok” ke arah aura Nasrani ini, memiliki daya pikat dengan kekuatan jalan ceritanya. Juga memberi penafsiran bahwa lonceng yang didengar adalah kekuatan lain pada diri seorang pemeluk Nasrani. “sering kami dengar lonceng berdenting dikejauhan, kata ibu//… ia akan masuk ke dalam tidurmu sebelum kau ingat cara menghindar dengan doa dan telapak tangan yang ingin menggenggam matahari siang.”//

Ketiga sajak tersebut, memiliki karakter kuat, tetapi juga—menurut hemat saya—memiliki kelemahan apabila penyair kurang awas (baca: hati-hati) pada diksi-diksi yang membentuk kalimat yang dapat mengarah pada kerancuan dan ambigu. Pada judul “Korkhena” diawali dengan kalimat: “korkhena berjalan mati suri/ jejaknya keajaiban alibi/ rambutnya rambut andini.”//  Namun penamaan Andini dan Korkhena sendiri serasa kurang nyambung pada kelangsungan tafsiran keseluruhan puisi. Puisi ini bertema besar (baca: mengarah) tentang kisah Adam dan Hawa yang terlempar dari surga karena telah memakan buah larangan. Juga diksi “ular” memiliki posisi tafsir sang iblis yang menggoda kedua obyek manusia itu. Namun penyair membuat perumpamaan yang kurang cermat sebab mengapa Korkhena harus “mati suri” dan mengapa pula “rambutnya rambut Andini?” Hal tersebut membuat kaitannya dengan kisah Adam Hawa menjadi kurang fokus.

Dalam sajak “Puan Momiji”, terlepas apakah Momiji sebagai sosok perempuan atau laki-laki (objek) atau khayalan/fiktif penyair (subjek), pada judul, penyair memberi kata “Puan” yang berarti (kita anggap) obyek perempuan, yaitu sosok Momiji, tetapi dalam isi penyair melukiskan, “… membayangkan wajahmu serimbun momiji”. Seharusnya, kata itu mengarah kepada subyek benda karena bukan lagi sosok manusia tetapi sosok lain yang penyair anggap indah selaras atau sama seperti manusia.

Sajak “Mendengar Lonceng” memiliki tafsiran kuat dalam hubung-kait diksi “lonceng” sebagai bentuk upaya “jalan” menuju Tuhan (bagi umat Nasrani). Akan tetapi, penyair sedikit mengalihkan peluang tafsiran itu kepada kalimat yang entah sengaja atau tidak dengan mengatakan “lonceng yang berdenting di kejauhan itu, kata ibu/ serupa kambing hitam yang dikendarai setan” (?). Seorang pembaca mungkin akan menarik benang merah untuk menangkap tafsir bahwa frasa “Mendengar Lonceng” suatu harapan pertolongan dari keteguhan kaum Nasrani juga ketenangan batin bagi mereka ketika menjalankan ritual ibadah; ibarat “beduk” dalam simbol-simbol kaum muslimin yang berarti juga memiliki makna keteguhan karena segera akan menjalankan peribadatan. Apa sebenarnya yang ingin disampaikan penyair?

Asqalani  merupakan salah seorang penyair muda yang memiliki geliat produktif yang tinggi di Riau. Selain ia telah menerbitkan sejumlah buku puisi, juga telah banyak memenangkan lomba deklamasi dan kepenulisan, ditambah turut aktif menggerakkan komunitas sastra Community Pena Terbang-nya, juga puisi-puisinya bertebaran di berbagai media massa lokal dan nasional sekaligus turut meraih penghargaan.

Asqalani masih memiliki jalan lapang dan panjang. Kegigihannya (totalitas) tampak pada keseriusan dalam menggarap puisi tanpa kenal lelah. Anak Luka Susu merupakan  capaian yang berbeda dari buku-buku puisinya yang lalu. Terlepas dari apakah ia terinspirasi dari Bulu Mata Susu karya Ramon Damora itu (mengingat judul buku puisi dalam ulasan ini hampir mirip), Asqalani tetaplah sosok berbeda yang juga “membuka peluang” tafsir dari puisi-puisi. Terakhir, saya ingin mengutip kalimat yang senantiasa menjadi ciri khasnya, “terima kasih ya peMirza…” ***

Riki Utomi adalah guru SMA 3 Tebingtinggi, Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti.

KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 12 Desember 2018 - 16:00 wib

BC Musnahkan Barang Ilegal Miliaran Rupiah

Rabu, 12 Desember 2018 - 15:00 wib

Jalan Koridor Langgam Ditutup Sementara

Rabu, 12 Desember 2018 - 14:30 wib

Bupati Harap Prestasi Terbaik di MTQ Provinsi

Rabu, 12 Desember 2018 - 14:00 wib

Jarang Cetak Gol, Malah Jadi Pemain Terbaik

Rabu, 12 Desember 2018 - 13:51 wib

BBKSDA Riau Melepasliarkan Seekor Kukang ke Habitatnya

Rabu, 12 Desember 2018 - 13:45 wib

Empat Tersangka Narkoba Diamankan

Rabu, 12 Desember 2018 - 13:44 wib

Siswa SMK Muhammadiyah 3 Gelar Studi Banding Ke Industri

Rabu, 12 Desember 2018 - 13:30 wib

Jalan Menuju Masjid Jami Air Tiris, Hari Ini Dihantam Banjir

Follow Us