SAJAK

Sajak-sajak Reski Kuantan

20 Maret 2016 - 00.26 WIB > Dibaca 1232 kali | Komentar
 
Malam Bujang
:Nie Dori

Oi kawan,
ini tuak kudatangkan dari jauh
lebih jauh ketimbang masa muda yang tak
habis-habis
bikin kangen dan tangis
ciciplah sedikit
biar kedukaan itu ke dadaku.

Jika dadaku tak cukup kuat bagi dukamu
maka teriakan pada hening Kuantan
atau tebing dingin ini malam.

Lagi malam panjang
mata kailmu dan ikan-ikan
nasib baik siapa tahu
kita panen belido seukuran perahu
biar kukabarkan pada Munthe dan Kuntet
atau gadis yang kau kangeni itu
mereka yang selalu saja terlambat.

Atau biar kukabarkan pada apa saja
yang tak sekali-kali bicara
dan paham tentang cinta
sebab padanya
kau bebas bercerita
sebab murung dan duka
tak membawamu ke mana-mana.

Kuansing; 2016


Lukaku Berkata

Lukaku berkata
kataku berdarah
pada senyap ia bicara.

Kuajak lukaku itu bernyanyi
senyap ikut menari
kami begitu akbab
detak sepatu dan ingatan yang nyeri.

Lukaku berkata
kataku berlayar
mencari bandarnya sendiri.

Malam mendaki berat
puisi-puisi melipat diri dalam sekarat
tak kujumpai apa-apa lagi
kecuali lukaku sendiri.

Telah kukenal luka bertahun-tahun
serupa aku mengenal sakit pada lambung
juga kata-kata
yang tak lagi dapat menyampaikannya.
Sebab luka
sebab kata
senyap saja yang mampu memaknainya
sedang aku pelabuhan bisu
maka berlabuhlah kapalmu
gantikan lukaku.

Kuansing; 2016


Domba Kecil di Gurun

Kutabahkan kejadianmu
dalam peram cemasku
yang tetas dalam tanya itu
bagaimanakah andil Tuhan?

Sejauh mata memandang
terik gemerisik hari nyalang
membakar tanah gersang
mengubur hidup yang jalang.

Oi diriku
domba kecil di gurun
tersesat dan disesatkan
badai kehidupan.

Ketika udara masih kuhirup
merayap darahku dalam degup
segera aku tunduk
takjub dan takluk
ke kau telah kuserahkan.

Kuansing; 2016


Melepas Biduk

Biduk itu pun hilir
menempuh ceritanya sendiri
pada senja kusam
setelah berkali-kali ditikam masa silam.

Ia pernah membawaku
menyeberangi sungaimu
yang resah dan tergugu
selepas badai ketika itu.

Kuansing; 2016


Menangislah Kanak-kanakku

Kanak-kanak dari masalaluku
menangislah
muntahkan air matamu
pada kedip waktu
kedap ruang rindu
biarkan segala macam ingatan tumbuh
agar kau kian teguh dan tahu
bahwa batas mesti ditempuh
dan orang-orang yang pergi dan datang
sekedar jeda dari kesendirian yang panjang.

Padang; 2016


Dalam Igau

Dalam igau
rimba hijau
lagu-lagu tua
tidurkan dinda
oh ia berdusta
pada anak-anaknya.

Dalam igau
raung rimau
padi-padi menguning
di ladang kering
ia begitu kurus
menanggung gedung-gedung
di punggungnya yang renta.
Sedang lancang sudah pergi
undur diri ke pulau jauh
tinggal melayumu
tersedu dalam lagu
yang tak kau tau lirihnya.

Dan anak-anakmu akan bertanya
tentang bunda atau Hang Tuah
tentang keris pusaka
atau tuba yang kau cucutkan padanya
di mana sejarah?
Oh di sana
mati di tugu-tugu persimpangan kota.

Dalam igau
muntahkan risau
umpama pisau
tajam menggorok lehernya
pada kehancuran itu
kelak ia akan menyerah.

Kuansing; 2016

Reski Kuantan, lahir di Kuantan Singingi, Riau. Sejak kecil telah memiliki gairah terhadap karya seni dan sastra. Tulisan-tulisannya dipublikasikan di beberapa media cetak dan online. Pernah tergabung dalam beberapa buku antologi puisi bersama.


KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 23 September 2018 - 19:53 wib

Ratusan Mahasiswa Belajar Persatuan dan Kesatuan di Riau Kompleks

Minggu, 23 September 2018 - 19:52 wib

Pembakar Lahan TNTN Ditangkap

Minggu, 23 September 2018 - 19:48 wib

Kembalinya sang Primadona

Minggu, 23 September 2018 - 19:47 wib

Disdik Tempati Gedung Eks SMK Teknologi

Minggu, 23 September 2018 - 19:46 wib

Ditabrak Emak-Emak

Minggu, 23 September 2018 - 19:44 wib

Refresh di Waduk Hijau

Minggu, 23 September 2018 - 19:40 wib

Anggur Murah Laris Manis Terjual

Minggu, 23 September 2018 - 17:50 wib

Minta Jembatani GP Ansor-UAS

Follow Us