OLEH YULITA FITRIANA

Karya Sastra Melayu Riau: Di Mana Kau?

2 April 2016 - 21.01 WIB > Dibaca 3074 kali | Komentar
 
Karya Sastra Melayu Riau: Di Mana Kau?
Seringkali terdengar keprihatinan akan kehidupan bahasa dan sastra Jawa atau Sunda. Bahasa dan sastra ini dianggap mulai ditinggalkan para penuturnya, terutama anak-anak muda. Padahal kedua bahasa ini masih dipergunakan oleh para penuturnya di berbagai tempat, bahkan di daerah yang jauh dari asal penutur bahasa ini, seperti Suriname.

Keprihatinan seperti itu nyaris kurang bergaung pada masyarakat Melayu di Riau. Padahal penggunaan bahasa Melayu di daerah Riau, terutama di daerah perkotaan, kian terdesak oleh bahasa-bahasa pendatang dan bahasa Indonesia. Ancaman itu mungkin nantinya juga akan berwujud bahasa asing, apalagi dengan diberlakukannya era Masyarakat Ekonomi ASEAN.
Seharusnya pula, kekhawatiran tersebut tidak hanya ditujukan terhadap bahasa lisan yang dipergunakan dalam percakapan atau pergaulan sehari-hari. Kondisi penggunaan bahasa dan sastra tulisan berbahasa Melayu, lebih menyedihkan lagi. Walaupun karya-karya sastra Melayu bercorak lama, seperti pantun, syair, dan teater tradisional (makyong, randai) masih hidup dan cukup berkembang di dalam masyarakat di daerah-daerah, tetapi kita nyaris (atau memang tidak ada?) tidak dapat menikmati karya-karya sastra modern, seperti puisi, prosa, dan drama yang berbahasa Melayu. 

Lalu mengapa hal tersebut terjadi? Kongres Bahasa Indonesia II pada tahun 1954 di Medan mencetuskan bahwa “..asal bahasa Indonesia ialah bahasa Melayu. Dasar bahasa Indonesia ialah bahasa Melayu yang disesuaikan dengan pertumbuhannya dalam masyarakat Indonesia sekarang” (Sugono, 2004). Tampaknya, hal ini berimbas pada rasa kepemilikan yang tinggi terhadap bahasa Indonesia oleh masyarakat Melayu (Riau dan Kepulauan Riau). Bahasa Indonesia dianggap sebagai (bagian) bahasa Melayu, walaupun pada kenyataannya bahasa Indonesia sudah menyerap banyak kosakata dari bahasa daerah lain atau bahasa asing. Akibatnya, tradisi kepengarangan tersebut seakan terputus karena para pengarang Melayu Riau sudah berkarya dengan media bahasa Indonesia yang mereka anggap sebagai bahasa mereka sendiri.

Disadari bahwa banyak tantangan yang muncul untuk menciptakan karya sastra berbahasa Melayu. Menulis dalam bahasa Melayu berarti pengedepanan idealisme dibandingkan selera pasar. Tidak dapat dimungkiri, menulis sebuah karya sastra, apalagi berbahasa Melayu, bukanlah hal mudah. Dibutuhkan idealisme yang tinggi karena karya tersebut belum tentu laku di pasaran. Dengan demikian, pengarang dan penerbitnya harus siap mengalami kerugian.
Tantangan selanjutnya terletak pada pemilihan bahasa Melayu yang digunakan. Di Provinsi Riau, terdapat bahasa Melayu Daratan dan Melayu Pesisir dengan berbagai dialeknya. Sampai setakat ini memang belum ada upaya untuk memilih atau membuat sebuah standar bahasa Melayu Riau yang akan diajarkan atau digunakan sebagai bahasa Melayu yang baku. Akan tetapi, seharusnya seorang sastrawan tidak menjadikan hal tersebut sebagai kendala. Seorang sastrawan hendaknya tetap saja menulis dalam bahasa Melayu yang mereka kuasai. Perbedaan dialek yang dipergunakan tidak akan menjadi penghalang karena tingkat pemahaman masyarakat terhadap dialek bahasa Melayu lainnya masih cukup tinggi.

Berbagai upaya patut dilakukan untuk mendorong kemunculan karya sastra berbahasa Melayu Riau. Pertama, hendaknya diwujudkan penerbitan dan penyiaran karya sastra berbahasa Melayu. Setakat ini, setidaknya terdapat sekitar 50 media massa, baik cetak, maupun elektronik di Provinsi Riau. Mereka dapat menjadi pelopor penulisan karya sastra Melayu Riau. Akan tetapi, sepanjang pengetahuan penulis, belum ada media massa (terutama cetak) yang menyediakan ruang khusus untuk karya sastra berbahasa Melayu. Kedua, berbagai pihak, baik pemerintah maupun  swasta menyelenggarakan sayembara penulisan karya sastra berbahasa Melayu. Kegiatan tersebut diharapkan akan memotivasi para penulis untuk menulis karya sastra berbahasa Melayu. Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan memberi penghargaan yang tinggi terhadap penulis/sastrawan yang menulis dalam bahasa daerah Riau. Tidak hanya pemerintah, yayasan seperti Yayasan Sagang pun, dapat ikut andil dalam memberi penghargaan dengan menambah kategori yang sudah ada selama ini dalam Anugerah Sagang.  

Riau sudah sejak lama mencanangkan Visi Riau 2020, yaitu: terwujudnya Provinsi Riau sebagai pusat perekonomian dan kebudayaan Melayu dalam lingkungan masyarakat yang agamis, sejahtera lahir dan batin di Asia Tenggara tahun 2020. Pencanangan Visi Riau 2020 tersebut adalah salah satu upaya Pemerintah Provinsi Riau dalam rangka mengembalikan jati diri dan kebesaran bangsa Melayu yang telah hilang sehingga diharapkan kemudian visi ini dapat terlaksana dengan baik dengan dukungan bulat dari semua unsur masyarakat Riau. Salah satu upaya nyata yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Riau adalah dengan mewujudkan keberadaan karya sastra berbahasa Melayu.

Sastrawan atau penulis Riau tidak boleh terlena dengan kehebatan dan kegemilangan karya-kaya sastra para pengarang Melayu zaman dahulu, seperti Raja Ali Haji terkenal dengan Gurindam 12-nya, atau sederet pengarang Melayu lainnya. Kehebatan karya-karya tersebut hendaknya memacu para penulis Riau masa kini untuk menulis dalam bahasa Melayu dan membuat karya-karya luar biasa yang tampil sejajar, bahkan melebihi karya-karya penulis Melayu masa lalu. Memang, selama ini beberapa penulis sudah mewarnai karya-karyanya dengan nuansa Melayu, termasuk di antaranya melalui bahasa. Sebut saja beberapa penulis itu di antaranya: Taufik Ikram Jamil, Marhalim Zaini, Hang Kafrawi, atau Jeffri al Malay. Akan tetapi, ke depan diharapkan bahasa  Melayu tersebut ada di dalam keseluruhan karya sastra tersebut sehingga akan muncul novel, kumpulan atau antologi cerpen atau puisi berbahasa Melayu Riau dari para penenun bahasa tersebut.    

Saya, mungkin juga Anda, merindukan sastra (modern) berbahasa Melayu Riau. Adakah yang mau menghapus kerinduan tersebut?***

Yulita Fitriana, adalah peneliti sastra pada Balai Bahasa Provinsi Riau.
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 20:34 wib

BPJS TK Beri Penghargaan pada Tiga Perusahaan Terbaik

Kamis, 20 September 2018 - 19:00 wib

Olahraga Bangun Peradaban Positif

Kamis, 20 September 2018 - 18:43 wib

TGB Blak-blakan Bicara Tudingan Gratifikasi

Kamis, 20 September 2018 - 18:38 wib

AS Potong Bantuan Dana bagi Palestina

Kamis, 20 September 2018 - 18:30 wib

Polres Gelar Apel Pasukan Operasi Mantap Brata

Kamis, 20 September 2018 - 18:24 wib

Ketua Ombudsman RI Gelar Kuliah Umum di Unri

Kamis, 20 September 2018 - 18:00 wib

Sah, BPI Kerjasama dengan Negeri Istana

Kamis, 20 September 2018 - 17:39 wib

Dimsum, Chinese Food Yg Menggugah Selera

Follow Us