OLEH DANTJE S MOEIS

Melayu Hamburg via WhatsApp

2 April 2016 - 21.12 WIB > Dibaca 1480 kali | Komentar
 
Melayu Hamburg via WhatsApp
Aku belumlah lama menggunakan aplikasi WhatsApp ini sebagai alat  berkomunikasi, begitu juga dengan produk applikasi lainya yang bahkan sama sekali tak kukenal. Kugunakan atas anjurkan sepupu, anak makcik tempat menumpang ketika bersekolah di Jawa dulu. Bukan tak ber-sebab, sakitnya makcik yang sudah berbilang hari di Rumah Sakit, kian hari kian menurun kondisi kesehatannya. Kemudahan diperoleh saat itu adalah informasi kesehatan makcik yang dapat terpantau, baik oleh aku, juga saudara-mara yang lain. Baik yang berada di kampung dan yang tersebar di luar kampung. Kami sepakat membuat grup keluarga saat itu, sehingga lebih efektif dan memudahkan komunikasi informasi sekaligus dan seragam oleh sepupuku itu.
16 Nevember 2015. Pukul. 15.25 WIB.

“Teluntung…”

Nada pemberitahu percakapan masuk ke Smartphone-ku. Debaran jantung agak menguat mendengar bunji “Teluntung…”. Entah mengapa,debaran jantung yang beralasan, perihal berita yang sebenarnya sangat tak kuinginkan.

“Innalillahi Waina Ilaihi Rojiun…Mama telah berpulang kerakhmatullah siang ini pkl. 15.05, semoga saudara-saudaraku dapat kuat mendengar,  menerima berita ‘kepergian’ Almarhumah. Rencana dikebumikan sore ini di taman pemakaman umum Anggrek Putih. Mohon  doa agar Mama diampuni segala dosa, ditempatkan pada tempat terbaik di sisi Allah
Subhanahuwata’ala. Amin…ya Rabbal Alamin…( Leny)”.

Aku kemas segala perlengkapan kerja, mengunci ruang kerja tanpa sempat pamit kepada sesiapapun dan pulang dengan muatan sebeban kesedihan. Membaca Alfatihah..dan berdoa sepanjang jalan buat almarhummah Makcikku.

Itulah awal perkenalan dan keakrabanku dengan WhatsApp dan setelah itu, ada beberapa hari sambungan data yang ada di Smartphone-ku tak kuaktifkan sama sekali, sebagai ungkapan duka.

20 Novembar 2015 dan hari-hari berikutnya…

“Teluntung…”. “Teluntung….”. “Teluntung…”. “Teluntung…”

Informasi, berita, kabar dari sahabat baik dari grup maupun di luar grup, bernada biasa-biasa saja.  Kebanyakan bermuatan salam, selamat pagi, siang dan malam, tukar menukar kiriman foto keluarga, anak beranak dan cucu, ditambah sedikit basa-basi atau tulisan tentang situasi politik dan yang terbanyak adalah, kiriman resep pengobatan tradisional yang selalu menjadi topik percakapan di antara kami yang sebahagian besar memang sudah baya. Dan seterusnya hingga…

1 Januari 2016. Pukul 00.35 wib. Awal pagi.

Ketika mata baru saja terpejam, setelah menanti kepulangan anak yang merayakan tahun baru, kumpul bersama teman sekampus.

“Acara makan bersama dan bakar ayam Pak”, saat kutanya.

“Teluntung…”

Sambil menguap kuraih Smartphoe yang terletak pada nakas di samping tempat tidur.
“Selamat pagi waktu Indonesia kawan…Selamat Tahun Baru 2016. Semoge di tahun hadapan ini keadaan kite lebih baek dari yang sebelomnye”. (Jim Männlich, Hamburg Germany).

Mengocak-ngocak mata tak bersebab, gatal tidak perihpun tidak. Pana sejenak hilang kantuk. “Hah… ini tak bisa dibiar, siapa pula pagi buta yang berberita dan memberi salam selamat tahun baru?” aku bertanya dalam hati.

Nomor teleponnya asing tak biasa dan pasti bukan dari orang di dalam negeri ini. Juga namanya, seingatku aku sama sekali tak pernah berkenalan dengan orang yang bernama Jim Männlich, walau ada beberapa nama orang luar sana yang pernah bersahabat atau sekedar bertegur sapa denganku. Jan Van Der Putten (asal Belanda), Henri Chambert Loir (asal Perancis) yang kukenal berkiprah di bidang kebudayaan dan kerap menyambangi kami di kantor majalah budaya “Sagang” dulu. James Ramsden (asal Detroit) consultan pembangunan Rumah Sakit PT Caltex Pasific Indonesia dimana dulu, aku sebagai salah seorang pelaksananya dan TJ Hansard (orang Amerika) sebagai bos-ku saat bekerja di salah satu perusahan penambangan minyak, PT Stanvac Indonesia Lirik. Dan nama-nama lainnya.
Semakin membuat bingung dan tanda tanya.

“Teluntung…”

“Aha…Bingung awak ye… Maafkan saye lupe menjelaskan pade awak. Saye ni Yim (Ibrahim) teman awak mase kite di kampong dulu. Awak ingat tak? Saye menghilang setelah keluar dari tahanan Polisi selame satu bulan, karena mempelasah budak yang belagak jagoan di kampung kite hingge bedarah-darah. Habis tu, mungkin secare tak sadar Emak saye mempehicit saye disuruh behambus dari kampong. Membuat malu orang tue, kate beliau saat-tu.”

Pikiran ku melayang, mengingat-ingat masa lalu… duapuluh, tigapuluh, empatpuluh tahun lalu? Ya…Empatpuluh-tujuh tahun lalu, ketika Ibrahim (Yim) tak berapa lama setelah keluar dari tahanan dan lalu menghilang begitu saja. Cukup menggemparkan kampung yang luasnya ibarat hanya sebesar “Belungkang” (tongkang kayu). Dugaan, syak wasangka pun berkembang tak terkendali. Fitnah tuduh-menuduh secara bisik-bisik marak seperti api disiram minyak. Cukup berbahaya memang keadaan saat itu. Apalagi pola kekerabatan, ikatan keluarga besar masing-masing, kuat dan sangat berpengaruh dengan jargon “atas nama solidaritas keluarga”.
Menjelang siang, saat menggantikan bang Mail menjaga kedai, Pak POS menderingkan lonceng sepedanya dan memanggil saya. “Ade Surat ni…dari Singapur”. Menyerahkan pada saya dengan benak penuh tanya. “Siapa pula yang mengirim surat dari Singapore? Sedang kami tak punya suku-sakat, kongsi dagang ataupun kenalan di sana”.

Dari amplop pada alamat yang di tuju tertera:
Kepada Ytc.

Ayahnda, Muhammad Yatim Cik Alang dan Emak
d/a Bang Ismail Bakar, Toko Buku “Tiga Saudara”, Jalan Tepi Batu Miring no. 214
Rengat-Indragiri-Riau-Indonesia.

Dan pada alamat pengirim disebalik amplop:
Ananda, Ibrahim bin Muhammad Yatim (Yim), Singapore.

Tak ada penjelasan tambahan selain nama negara Singapore sebagai alamat. Nihil alamat jelas. Bergegas aku mengayuh sepeda, tak lagi sempat menunggu bang Mail yang pulang makan siang. Sedikitpun tak ada sak wasangka meninggalkan toko dalam keadaan tak berpenjaga. Alhamdulillah masa itu manusia tak-lah sejahat orang sekarang dan itu biasa kulakukan ketika ada keperluan keluar sekejab.

Dengan segala sukacita Pakcik Yatim membaca surat dan yang terucap pertama kali dari mulutnya adalah, “Syukurlah kau selamat nak dan kami jadi tahu di mana engkau berada sekarang” komat-kamit yang kupastikan ia mengucapkan syukur dan doa buat anaknya, “dan yang juga tak kalah penting adalah,” Pakcik Yatim menyambung kalimat setelah mengucap kata amin…”Habislah segala sak-wasangka, tuduh menuduh dan fitnah, yang bisa menyebabkan terjadinya pertumpahan darah di antara sesama kita”.

1 Januari 2016. Pukul 01.10 wib. Awal pagi.

Belum sempat membalas berita dari Yim
“Teluntung…”

“Saye dapat nomor telepon, dengan aplikasi WA awak ni dari Syamsul Timan. Die bilang, die due bulan lalu jumpe awak di Pekanbaru, saat die balek kampong, cuti menengok Emaknye dan ziarah ke kubur Bapaknye. Sekarang kapal tempat die kerje sedang sandar di pelabuhan Hamburg ni. Awak ingat tak, mase itu, kemarahan Emak saye jadikan langkah awal mewujudkan khayal yang kite bangun bersama saat memancing dari atas geladak kapal silih berganti sandar, bongkar muatan di pelabuhan kampung kite. Merantau, itu kate yang selalu kite sebut, bahkan menjadi ikrar kite sa’at tu.

Broer, Fritz George Kaihatu, nakhoda kapal “Panama” yang kawan kite tu banyak membantu, saye dibolehkan naik kapal dengan tujuan Singapore, walau Singapore bukanlah tujuan yang direncanakan, begitu juge dengan kota dan negeri lain. Tak lain tak bukan tekad saye saat tu adalah “Merantau”kemanepon kaki dan nasib membawe.

Pasport tak ade, KTP pun tidak, cume satu-satunye kartu pengenal diri hanyalah Kartu Pelajar dan lagi-lagi atas jase Broer Fritz, sesampai di Singapore entah macam mane carenye, die buatkan saye “Seaman Card” kartu pelaut sebagai kartu pengenal diri selame bekerje di kapal “Panama”. Berlayar dari pelabuhan ke pelabuhan di Asia dan Eropa. Berpindah-pindah kapal tanpa kewarganegaraan yang jelas (stateless). Hingge pada suatu hari kapal kami singgah di Marseilles. Kota pelabuhan ini merupekan kota tertue dan pelabuhan laut utame di Prancis. Itu dulu ye… mungkin awak dah nak tidor. Bile-bile saye sambong lagi”.
Aku hanya menjawab, “selamat petang waktu Hamburg. Selalu ingat kampong…Yim”.

4 January 2016. Pukul 21.00 wib.

“Teluntung…”

“Selamat malam, ape kabar kawan? Mudah-mudah selalu baik lah ye. Menyambong cerite saya yang terputus. Ingin dengan perubahan dan suasana kerje yang lain, saye dan beberape teman lain menjadi pendatang gelap di Perancis. Syukurlah atas informasi dari teman orang Nigeria yang saye jumpekan di sane. Bahwa ade terbuka kesempatan kerje.

Perancis punye korps militer “unik” bername Legiun Asing Perancis atau “Legion d’Etrangere” yang didirikan pada 1831, disanelah kami melamar kerje. Sepanjang sejarah, Legiun Asing Perancis telah menerima warga dari 136 negara untuk berdinas di unit tempur yang unik tersebut. Peminat yang ingin bergabung menjadi Legionnaire (anggota Legiun Asing) dipersilekan mendaftar pade sejumlah tempat dalam wilayah Perancis. Namun, seleksi utama dilakukan di Markas Pusat Legiun Asing di Aubagne di tepi kota Marseille selatan Perancis. Setelah lulus seleksi, para calon Legionnaire (engage voluntaire) menjalani latihan dasar “neraka” selama 15 minggu. Seandainya lolos, mereka menjadi Legionnaire kelas dua (prajurit dua) dan menandatangani kontrak kerja selama lima tahun.

Dari empat orang kami yang melamar hanye due yang diterime, saye dan teman dari Uganda.
Saye bertugas di daratan Perancis, termasuk di Pulau Korsika, wilayah jajahan di Guyana di Amerika Latin, Djibouti dan Mayotte di Afrika, Pulau Reunion di Samudra Hindia, di Kaledonia Baru, dan Tahiti di Pasifik, tugas PBB, hingga operasi tempur di lokasi krisis,saye pernah ikot”.

Setelah lime tahon menjalani kontrak, dengan upah yang sangat besar, saye tak lagi melanjutkan kontrak perpanjangan. Pertame yang terpikir adelah status sah sebagai warganegara supaye tak mendapat kesulitan seperti yang sudah-sudah, orang tak berkewarganegaraan (stateless). Itu saje dulu kawan. Salam buat keluarge awak di Pekanbaru ye…

Aku mulai tertarik dengan kisah perjalanan hidup Yim. Berharap dalam waktu dekat ini dia kembali menghubungiku, melanjutkan cerita dan hal yang paling penting tak sedikitpun kesan sombong, berlagak dari kalimat Yim yang dia tuliskan di WhatsApp. Dia tetap menggunakan bahasa Melayu dengan logat kampung kami Rengat. Semoga Yim tetap menjadi Yim yang Melayu dan tidak berpaling iman. Untuk yang satu ini, aku takkan mampu menanyakan, biarlah waktu atau dia yang menjawab tanpa perlu ditanya.

2 Februari 2016. Pukul 21.00 wib.

“Teluntung…”

“Mudah-mudahan dari dia”. Aku berkata sendiri…”Ya…Benar”.

“Maaf kawan, sengaje sambungan data dari smartphone saye tak diaktifkan, kerene ade sikit urusan. Oh ye…menyambung kesah saye. Singkat cerite, urus punye urus dapatlah saye jadi warganegara Canada dengan nama baru: Jim Männlich dan itu memudahkan saye dalam mendapatkan pekerjaan. Saye tetap kerje di macam-macam kapal dengan berbagai bendera negara, hingge suatu saat kami sandar di pelabuhan Hamburg ni. Disitulah saye diperjodohkan yang kuase dengan perempuan asli Germany. Setelah menikah sayepun atas permintaan orang rumah, tak belayar. Saye pindah kerje disebuah gedung kesenian dengan tugas jabatan sebagai senior tehnisian. Anak kami ade empat, jantan tige dan betine satu, semuenye dah lepas menikah. Saye pon dah pension empat tahun lalu.

10 Maret 2016. Pukul 02.20 wib.

“Teluntung…”

“Assalamualaikum Warakhmatullahi Wabarakatuh…. Saye baru sampai dari kantor pencatatan, tak sabar nak nyampaikan berita gembira sekaligus mengharukan bagi saye. Orang rumah saye, siang tadi mengucapkan due kalimah syahadat dan resmi memeluk agame Islam, setelah sekian tahun inilah kebahagian puncak yang saye rasekan dalam berumah tangge. Mudah-mudahan anak-anak kami menyusul..Dan…InsyaAllah, bulan haji tahun ni, kami nak ber-Haji walau saye sendiri dah Haji mase bujang dulu. Kali ini saye nak menghajikan almarhum Emak dan Bapak saye.Itu saja berita dari negeri jauh, selamat pagi Indonesia..

Bungkam dan tak menjawab sama sekali percakapan Melayu Hamburg via WhatsApp, antara saya dan Yim sebagai orang Melayu yang pasti Islam. Terjawablah sudah…***


SPN Dantje S Moeis, kelahiran Rengat, Indragiri Hulu adalah penerima beberapa penghargaan seni, perupa, penulis kreatif, redaktur senior Majalah Budaya Sagang,
dan dosen perguruan tinggi seni di Pekanbaru
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 17 November 2018 - 11:01 wib

Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik

Sabtu, 17 November 2018 - 10:46 wib

E-Samsat Tahap II Dibuka, BNI Perluas Layanan ke 16 Provinsi

Sabtu, 17 November 2018 - 09:50 wib

Harimau Terjebak di Kolong Ruko, Berhasil Diselamatkan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:48 wib

Toyota Posisi Teratas untuk Fitur Keselamatan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:41 wib

BPJS Ketenagakerjaan Gandeng Kajati Riau Eksekusi Penunggak Iuran

Sabtu, 17 November 2018 - 08:31 wib

Dari Ambon Daihatsu Jelajahi Pulau Seram

Jumat, 16 November 2018 - 18:00 wib

Menteri Keamanan Siber Jepang Ternyata Tak Mengerti Komputer

Jumat, 16 November 2018 - 17:30 wib

Dua Kecamatan Masih Terendam

Follow Us