SAJAK

Sajak-sajak Ahmad Ijazi Hasbullah

2 April 2016 - 21.51 WIB > Dibaca 987 kali | Komentar
 
Ziarah Arus

1
seperti cinta yang kau peram
kau mengandungnya sekian lama
dalam kantung-kantung hutan
sungguh, rimba bagai surga
urat-urat menjuntai menjajaki tanah
tumit-tumitmu membekas
menjelajah bahu-bahu bukit
tetapi sakit yang kau simpan tetap rapat
bagai tali yang merekat erat di bentangan rakit
yang tersendat menziarahi arus sungai
menuju surga,
tempat menyembuhkan segala yang sakit

2
seperti api yang kau padamkan
panas itu tunak di batang
kendati asapnya telah mati
tetapi tumbuhmu tak lagi kuasa
warna hijau
berpindah ke langit
 
cabang-cabangmu kembali ke muasal
tanah yang menjadi batu
sungguh, kau tak lagi kuasa tumbuh

3
seperti derita yang kau telan
sungai-sungai tak lagi mengalir
desaunya punah
kemarau membawa nyanyiannya
kepada sepi
lalu sepi membawanya kepada mati

di sini, kita hanya mampu bercerita
tetapi tak kuasa menghidupkan yang telah mati
maka, duhai bumi
terimalah jasadku,
kendati lapuk, kendati busuk,
tetap ingin aku kembali menyandang namamu

Pku, 2016  

Serangan ke Batavia

Sultan Agung memercayakan keperkasaan
Tumenggung Bahurekso untuk menyerang
benteng pertahanan VOC di Batavia

I
kerumuman semut hitam itu,
adalah pasukan Mataram
yang mengerumuni tanah Marunda.
benteng pertanahan dari bambu
ditancapkan kokoh,
seperti tulang-tulang kakimu
yang dipuguh yang diguruh
sebelum kulit hatimu rontok
lalu terkulai ke tanah   

sayang, Belanda lebih cepat mengintai gelagat
perkampungan di sekeliling benteng itu
dibakar tanpa pengampunan
telah tercecer di manakah
hati-hati yang warnanya bersih semasa silam?
sementara jejakmu semakin malam,
semakin garang menyeruduk-ruduk
kepala yang dipecahkan pukulan palu
ribuan ton  

Tumenggung Bahurekso tak ingin
jadi pecundang
ia yang terkepung memilih bertarung
meskipun azal kemudian
menyembelih lehernya
dengan mutilasi yang teramat mengerikan
anai-anai yang warnanya pahit
merapat menggerogoti kulit yang berselimut
kerut, kusut, menuntaskan segala yang ada

setelahnya, bala bantuan berdatangan
serupa malaikat yang berguguran dari arasy
Tumenggung Suro Agul-agul,
Kyai Dipati Mandurarejo,
Serta Dipati Upasantoso bergerak
dengan gagah berani
sebagai pemimpin pasukan
tangan-tangan mereka merah
bagai dibilas sapuan kuas di kanvas
jari jemari
memerlihatkan lukisan darah

Sungai Ciliwung mereka bendung,
dengan maksud agar benteng pertahanan VOC
kekurangan air.
tetapi pasukan VOC tak undur
menajamkan cakar
menerkam segara isyarat dari segala penjuru
untuk menggagalkan usaha pembendungan.

dalam situasi terdesak, pasukan Mataram
memutuskan mundur
perlahan, jejak mereka mulai membusuk ke buritan
kemudi menikung ke dermaga
yang diselubungi kabut
kehilangan arahlah mereka
sementara arus laut kerap membisiki
ihwal batas waktu yang berberai
tersebab siasat yang terlampau
menyusup terperosok ke lubang yang hitam

II
tahun berikutnya Mataram
mengerahkan 80 ribu
pasukan bersenjakan meriam
siap siaga untuk merontokkan
benteng pertanahan Batavia
yang menghadap ke arah matahari

Benteng Hollandia porak poranda
tetapi VOC yang gigih bertahan
mampu membalikkan keadaan
lumbung padi di Cirebon dan Tegal terbakar,
busung lapar melanda
40 ribu prajurit tewas sia-sia

Sultan Agung mundur dari medan laga
seketika, nuraninya bagai ditelanjangi
ke lubang yang hampa udara
begitu pucat, begitu tak bernyali,
bagai dikebiri segala keberaniaanya
yang entah melapuk ke tulang jasad yang mana

kedukaan mendalam bagi Batavia    
penyakit kolera melanda saat pengepungan,
menuntaskan jejak pahit J.P Coen
undur mundur dan menyusut
ke dalam bumi
ke dalam ketiadaan yang purna

III
persekutuan yang dijalin Mataram dan Portugis
tak memuaskan Sultan Ageng
Potugis tak bernyali lagi menghadapi VOC
terpaksa Mataram menjalin kerjasama
dengan VOC

pertikaian dihentikan
VOC mengirim upeti sebagai bentuk pengakuan
atas kebesaran Mataram di bawah
kepemimpinan Sultan Agung
para pegawai VOC yang disandera, dibebaskan
dendam yang telanjur pecah
dikuncupkan kembali ke muasal
gulma penyesalan
tak boleh lagi dibiarkan menumbuhi
keberlahiran mereka pun dikembalikan
ke peti empat persegi yang terkunci sempurna

Pku, 2016

Ahmad Ijazi Hasbullah, kelahiran Rengat, Riau, 25 Agustus. Pernah menjadi pemenang 2 LMCR nasional PT. Rohto Laboratories-Rayakultura Jakarta 2009, nominator lomba menulis cerpen pemuda Kemenpora 2011, 10 besar menulis puisi Tulis Nusantara Kemenparekraf 2013, juara 1 lomba cerpen Festival Sastra UGM 2013, juara 1 lomba cerpen GBSI UPI 2014, penerima Anugerah Sagang kategori Buku Pilihan Sagang 2015. Bergiat di FLP wilayah Riau. Tinggal dan menetap di Pekanbaru.
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 14 November 2018 - 20:40 wib

Cuti Bersama Idulfitri Tahun Depan Lebih Pendek

Rabu, 14 November 2018 - 19:30 wib

Reaksi Brexit dan Dampak Ekonomi Cina Picu Pelemahan Rupiah

Rabu, 14 November 2018 - 19:28 wib

Kebut Pertumbuhan, RI Perbaiki SDM

Rabu, 14 November 2018 - 16:15 wib

Bonus Demografi Diharapkan Sampai ke Masyarakat

Rabu, 14 November 2018 - 16:00 wib

APBD Kampar Diperkirakan Rp2,4 T

Rabu, 14 November 2018 - 15:45 wib

Pencakar Langit Riau Pertama di Luar Pekanbaru

Rabu, 14 November 2018 - 15:33 wib

Lelang Sepeda Motor Dinas Pemko 22 November

Rabu, 14 November 2018 - 14:43 wib

Pengungsi Rohingya Hindari Repatriasi

Follow Us