Oleh Gde Agung Lontar

Kebas

9 April 2016 - 23.36 WIB > Dibaca 1598 kali | Komentar
 
Apa yang paling menyedihkan dalam hidup ini?
Ketika engkau tidak lagi dapat merasakan apa pun.
(Dari seorang pengarang yang terlupakan).

Jerit istriku mendengking malam itu, nyaris bersamaan dengan suara sopran beling yang berderai di lantai. Aku pun bergegas mengejar sumber kebisingan itu. Tiga perempuan kutemui di ruang makan itu: istriku dan dua pembantunya. Di lantai marmer yang berkilau itu, berserak seperti petikan lukisan hiper-realis Dede Eri Supria, pecahan mangkuk kaca berikut isinya dalam berbagai ukuran, bentuk, dan komposisi. Sementara istriku, menatap seolah tak percaya pada kedua belah tangannya, dengan latar dua pembantu yang berdiri gelisah tak tentu tuju.

Aku pun berdebar-debar. Menatap berganti antara wajah istriku dan lukisan kaca berkecai. Meskipun punya empat pembantu, ketika aku sedang di rumah istriku memang biasa langsung turun tangan ikut menyajikan hidangan untuk kami bersantap. Seperti malam itu. Tetapi sekarang dengan kedua bola mata istriku terbuka lebar, terbeliak, terbelalak. Kedua tangannya yang gemetaran terlihat dalam formasi seolah tengah berdoa. Nyata benar kecemasannya. Aku pun jadi cemas. Apakah akhirnya akan berlaku kepada kami jua?

“Datuk ….” Suaranya serak, meluncur lemah dari kerongkongan yang terjepit.

“Datin …..” Suaraku pun nyaris tak bermaya juga. Melihat perempuan itu setengah menjulurkan kedua telapak tangannya, mempertontonkan sesuatu yang hanya kami berdua yang tahu. Lalu kemudian berusaha melangkah mendekat dengan hati-hati di atas bentangan hiper-realisme yang dapat mengoyakkan kulit dan pembuluh darah, atau sekadar membuat kulit yang putih mulus itu jadi berlumur kotoran menjijikkan. Aku pun berusaha mendekat untuk menjemput dengan kehati-hatian yang sama, atau mungkin lebih. Kedua tangan kami saling bertemu dan berpagut: kiridankanan dan kanandankiri; tapi aku nyaris seperti tidak merasakan apa-apa.

“Kedua tangan beta, Datuk ….” Istriku tumbang nyaris runtuh. Kedua telaga matanya yang bening mulai nampak merebak sebak. “Jari-jemari beta ….”

Aku segera menampung nyaris seluruh beban tubuh perempuan itu. Memapahnya duduk ke sofa yang terdekat. Lalu dengan cepat kembali menggenggam dengan erat kedua telapak tangan nan halus itu, namun sekarang dengan mengusap-usapnya, menggosok-gosoknya, memijat-mijatnya, seperti ingin menghangatkan kelembutan itu dari radang hipotermia; atau lebih tepat lagi seperti ingin tidak percaya. Apakah kami berdua juga akan benar-benar terkena penyakit itu? Lagi pula, bukankah penyakit itu tidak menular?

“Jari-jemari beta, Datuk, mulai hilang rasa ….”

Lalu, tangis istriku pun berderai.

Aku jadi ingat, sekira tujuh bulan yang lalu, aku mulai merasakan gejala yang serupa. Sedang bermain golf bersama Tengku Lakan dan Wan Kereje serta beberapa kolega petinggi negeri, stik iron nomor tigaku setelah kuhayun kencang tiba-tiba lepas terpelanting tak tentu harah. Sementara benda bulat putih itu masih saja tercagak lena di atas bidang rumput paspalum di rough area. Peristiwa itu segera pecah menjadi buah seloroh yang menggelikan bagi kelompok orang-orang tua dan dituakan itu.

“Alamak!” aku hampir saja memaki, yang tentu saja tak baik keluar dari mulut seorang petinggi peneraju akal-budi, di depan sepuluh kedi lagi. “Tangan aku macam hilang rasa!”
Aku segera merogoh-rogoh beberapa stik lainnya di dalam beg yang dipegang kediku, mencoba hendak memastikan diri dengan menusap-usapnya. Tapi kemudian jadi ragu sendiri, karena sekali hilang sekali ada terasa.

Tengku Lakan mendekat setelah selorohnya memenatkan perutnya sendiri.

“Kebas?”

“Entahlah.” Aku menggeleng tak pasti.

“Ada terasa sesemut, tak?”

Aku menggeleng ragu. Tapi tak membuat Tengku jadi lega.

“Meskipun begitu, Datuk harus segera cek dokter. Dulu, aku pun bermula macam begitu. Tapi karena menganggap remeh, aku tak segera ke dokter. Akibatnya, engkau sudah tahu sendiri.”
Aku mengangguk lemah, sembari melihat kedua punggung tangannya yang telah dipasangi alat mekanis terapi urat syaraf, yang membuat ia sampai hari itu masih mampu mengayunkan stik golfnya, meski hanya untuk sekadar main-main perintang hati macam hari itu.

“Karena pengalaman Tengku inilah aku jadi tahu, dan cepat-cepat ke dokter. Jadi, aku tak perlu sampai harus pakai mesin macam itu, meskipun sekali-sekala masih juga terasa kebas tu datang.” Wan Kereje menyambung. “Kita yang dah tua-tua ni begitulah. Ke seberanglah, dokter yang bagus. Paten. Memang agak mahal, tapi untuk Datuk, bapak-bapak petinggi negeri ni apa yang tak akan diusahakan. Jangankan akar, rotan pun jadi.”

Terdengar suara tawa bersama.

Beberapa petinggi itu pun segera lebih mendekat.

“Iya, Datuk tinggal sebut saja. Kami akan menyiapkan segala keperluan Datuk.”

Dan seingatku waktu itu aku hanya menjawab semuanya dengan mengangguk-angguk kecil sahaja. Tapi sebulan sesudahnya, terpaksa juga aku berangkat ke negeri seberang itu. Bukan saja sudah kebas hilang rasa, beberapa jariku bahkan sekali-dua sudah mulai kaku-kaku. Meskipun tidak harus sampai menggunakan mesin terapi itu, setiap bulan aku bersama kedua tua-tua sahabatku itu harus berulang ke seberang. Tapi bukan makin membaik, kebas Tengku bahkan sudah turun ke kaki beberapa bulan kemudian. Lalu disusul Wan sebulan berikutnya. Dan saat peristiwa pecahnya lukisan hiper-realis di ruang makan itu, Tengku dan Wan sudah duduk di kursi roda, disusul mulai kebas-kebasnya para kolega petinggi negeri itu.

Melihat macam mewabah begitu, siapa yang takkan gerun hatinya? Apalagi hati istriku yang selembut dan seharum melati itu. Tak menunggu lama, kami pun terbang ke negeri yang lebih seberang – karena tak yakin lagi dengan kehebatan dokter di negeri seberang itu. Dua belas jam di atas pesawat, istriku yang masih nampak cantik jelita itu membuat repot tiga pramugari. Satu untuk persoalan tisu yang tak cukup-cukup untuk mengelap si air mata. Satu lagi untuk persoalan makanan yang katanya tidak ada yang sedap – padahal telah beberapa kali dia naik pesawat ke negeri yang lebih seberang itu sebelum ini tak ada masalah. Dan yang satu lagi disemburnya hanya karena kebetulan pramugari itu lagi terkena sakit pekak saat didera pertanyaan istriku.

Diagnosis dokter negeri yang lebih seberang itu ternyata nyaris sama saja dengan yang pernah aku terima dari dokter negeri seberang. Bahwa kebas-kebas itu terjadi karena adanya gangguan pada saraf tepi. Bahwa kebas-kebas itu ada juga yang bukan merupakan penyakit itu sendiri melainkan sebuah gejala atau simtom tentang adanya suatu penyakit atau masalah yang lebih serius lagi. Bahwa itu bisa merupakan petunjuk adanya penyakit sindrom lorong karpal atau diabetes atau tekanan darah tinggi atau kadar kolesterol tinggi atau asam urat atau terjangkit virus shingle atau herpes zoster atau kekurangan gizi. Maka penyakit dan masalah itulah yang harus diselesaikan terlebih dahulu, barulah soal kebas-kebas itu akan lesap tak berbekas.

Namun, seperti juga pada diriku, pada Tengku, dan pada Wan oleh dokter negeri seberang itu, setelah melakukan pemeriksaan dan uji laboratorium yang mendalam, dokter negeri yang lebih seberang itu juga terkejut ketika mendapatkan kenyataan bahwa pada dasarnya istriku sehat-sehat saja sehingga tidak ada alasan untuk munculnya kebas-kebas itu. Maka dokter itu pun kemudian memberikan kesimpulan yang cenderung spekulatif bahwa kebas-kebas itu terjadi hanya karena disebabkan sekadar sikap tubuh dan gaya hidup sehingga menyebabkan syaraf tepi itu terjepit dan adanya kekurangan asupan vitamin-vitamin B1, B6, dan terutama B12. Maka terapi yang diberikan adalah nasihat-nasihat dan petunjuk-petunjuk tentang sikap tubuh dan cara berolah raga di usia paruh baya ini, serta asupan gizi dan vitamin yang lebih teratur. Sama saja dengan terapi yang diberikan oleh dokter negeri seberang kepada kami. Bedanya peralatan mereka lebih canggih, dan bayarannya lebih mahal – meskipun untuk hal yang kedua ini aku nyaris tak ambil pusing karena selalu saja masuk ke rekeningku sumber-sumber dana yang dapat dengan segera menutupi seluruh kewajiban rumahsakit, bahkan lebih daripada itu.

Istriku pun jadi sedikit lebih lega. Terapi dua minggu di hospital bintang lima membuat kebas-kebasnya cepat menghilang. Untuk merayakan kebahagiaan ratuku itu, kami pun menghabiskan minggu-minggu berikutnya keliling-keliling ke tempat-tempat yang indah dan romantis, serta gedung-gedung perbelanjaan, persis seperti orang yang sedang berbulan madu. Aku tak tahu kalau kelapa makin tua makin bersantan, entah macam mana pula dengan madu.
Tapi selama kami di negeri yang lebih seberang itu, di samping banyak yang memberikan dukungan dan doa untuk kesembuhan istriku, banyak juga masuk berita tentang perkembangan terakhir negeri kami. Nampaknya penyakit kebas itu telah menjadi wabah. Yang terjangkit bukan lagi sekadar orang-orang besar di lingkungan yang aku kenal, tapi nampaknya sudah nyaris seluruh penduduk. Padahal kebas-kebas bukanlah jenis penyakit yang dapat menular; tegas para dokter. Apalagi dalam kasus ini tidak ditemukan adanya virus sebagai pemicunya. Sementara itu yang sudah terjangkiti penyakit ini pada kenyataannya belum ditemukan ada yang bisa sembuh, bahkan kian meningkat intensitasnya disertai kesehatan yang semakin terdegradasi. Maka peristiwa ini pun segera menjadi bahan seminar dan lokakarya.

Aku tentu saja tidak menceritakan perkembangan buruk itu kepada istriku, selain titipan salam dan doa untuk kesembuhannya. Ini agaknya memberi dampak positif kepadanya, karena kesehatan jiwa dan raganya nampak kian hari kian membaik seiring dengan menghilangnya kebas-kebas di jari-jemarinya yang halus dan lentik itu. Aku pun bersyukur, tak dapat membayangkan akan bagaimana jadinya istriku yang begitu lembut ini harus menjalani masa tuanya dengan seluruh anggota tubuh kaku-kaku dan hilang rasa.

Sebulan berlalu, istriku mulai rindu rumah – terutama tiga cucunya. Dan segala tempat wisata yang indah-indah dan mall-mall dan barang-barang belanjaan mulai tak lagi membahagiakan hatinya. Karena itu ia mulai mendesak untuk pulang. Inilah yang justru kucemaskan. Aku tak ingin ketika kami pulang nanti istriku terjangkit penyakit itu kembali, atau setidak-tidaknya shock melihat keadaan negeri kami sekarang. Sudah beberapa kali aku berhasil membujuknya untuk menunda kepulangan dengan berbagai alasan dan rayuan, tapi tentulah tak selamanya bisa seperti itu. Siapa yang dapat menunda kepulangan?

Aku pun tak terlalu heran kenapa Datuk enggan untuk pulang. Ada-ada saja alasannya untuk menunda kepulangan, meski sudah kukatakan aku rindu rumah dan terutama ketiga cucuku yang comel-comel itu. Masih dengan berusaha tampak gagah dan bijak-bestari, Datuk memberikan berbagai alasan dan argumentasi. Dipikirnya aku tidak tahu apa yang sudah berlaku. Dia agaknya sudah mulai lupa istrinya ini seorang mantan guru besar ilmu budaya.
Berita dari dua anakku tentang keadaan negeri kami memang sungguh mengkhawatirkan, dan dapat membuat orang-orang mengurungkan niatnya untuk berkunjung. Tapi, aku ingin pulang – tentu ini lain halnya. Aku ingin di masa-masa akhir hayatku nanti berada di dalam rumahku, di dalam lingkungan yang aku kenal, bersama orang-orang yang kukasihi dan mengasihi aku – meskipun sekarang kebas sedang menjangkiti. Aku tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi dengan jasadku bila aku di negeri yang asing.

Tanpa banyak kisah dengan Datuk, aku pun berhasil mempersiapkan kepulangan kami. Kembali dua belas jam di atas pesawat, kali ini aku semakin sering berlama-lama menatap wajah Datuk. Wajah yang dulu begitu ganteng, sekaligus menyimpan kecerdasan dan kearifan tamadun kami, sehingga selama belasan tahun  terakhir ia dipercaya menjadi peneraju lembaga adat dan kebudayaan kami. Tapi wajah gagah itu sekarang sudah terlihat nyaris seperti patung, nyaris tanpa ekspresi, baik kesedihan, kesakitan, atau kebahagiaan. Apalah yang tersisa dari kearifan di dalam ratusan buku, makalah, dan ceramah yang telah dihasilkannya pada wajah tak bermaya ini? Padahal kami berdua juga tahu belaka sejak dahulu kala bahwa ratusan buku, makalah, ceramah, nasihat, dan segala penabalan yang telah diberikan melalui dirinya kepada segala peneraju dan anak negeri adalah fatamorgana indah belaka.

Di dalam pesawat ini, dari ketinggian 12.000 kaki, aku menatap wajah Datuk mungkin untuk melihat rona kehidupan di wajahnya untuk yang terakhir kali. Saat terapi itu dokter sudah mengatakan bahwa penyakit yang kami alami ini ternyata bukanlah kebas-kebas biasa, melainkan sebuah fenomena baru bagi dunia kedokteran. Karena itu belum ada obat untuk menyembuhkannya. Mereka hanya bisa sementara ini memberikan sekadar terapi bantuan yang barangkali bisa paling tidak mencegah perkembangannya. Yang jelas, karena itu penyakit ini akan terus mendegradasi fungsi tubuh. Setelah seluruh sistem syaraf tepi pada organ dermis serta sistem persendian manusia, diyakini penyakit ini akan menjangkiti otak, hati, dan kemudian jantung. Namun kepada Datuk aku mengatakan bahwa aku sudah mulai berangsur-angsur sembuh.

Tapi nyatanya tidak.

Dan masih empat jam lagi pesawat kami mendarat. Dengan susah payah aku berusaha menggerakkan kesepuluh jari-jemariku secara sinkron untuk menarik selimut Datuk yang melorot. Udara terasa sangat dingin. Sekarang di ketinggian 10.000 kaki ini wajah Datuk yang putih bersih itu terlihat rata, namun masih ada segaris senyum di bibirnya. Aku menduga otaknya pun sekarang sudah kebas, karena sejak beberapa hari terakhir Datuk tidak lagi mampu berkomunikasi secara logis. Aku hanya bisa menangkap dari bahasa tubuhnya saja – terutama dari kedua matanya. Setelah tahapan ini, seperti kata dokter itu, maka yang akan diserang berikut adalah hati. Hanya saja aku lupa menanyakan, yang akan terjangkiti kebas itu nanti apakah hati fisiologis atau hati spiritualis?***
    
Payungsekaki, 170316.
KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 18 November 2018 - 20:28 wib

Berlari 15 Menit untuk Daya Ingat yang Baik

Minggu, 18 November 2018 - 20:23 wib

Jadi Pemilik Akun Penyebar Hoax, Istri Gubernur Diselidiki Polisi

Minggu, 18 November 2018 - 20:20 wib

IDI Riau Gembira PN Pekanbaru Menangkan Gugatan Anggotanya

Minggu, 18 November 2018 - 06:45 wib

Bela SBY, Ruhut Sebut Prabowo Seperti Beruang Madu

Minggu, 18 November 2018 - 06:03 wib

PBNU Tak Sependapat dengan PSI Soal Perda Syariah dan Injil

Minggu, 18 November 2018 - 05:34 wib

Ketua PGI Tanggapi Positif Kritik Grace

Minggu, 18 November 2018 - 05:11 wib

Grace Harus Uraikan Maksud Perda Syariah

Minggu, 18 November 2018 - 04:36 wib

Kata Jokowi Monumen Kapsul Menyimpan Idealisme Seperti Avengers

Follow Us