SAJAK

Sajak-sajak Dadang Ari Murtono

9 April 2016 - 23.40 WIB > Dibaca 1229 kali | Komentar
 
dedes

barangkali, memang tak ada berkah di mayapada
bahkan kecantikan, bahkan betis yang bercahaya

“sejak kelahirannya, akuwu,” seseorang berkata
“dunia redup,dan bunga-bunga tak tahu cara mengembang
segala keindahan bermigrasi pada setiap sel tubuhnya”

maka di panawijen, sore itu, ketika si bujangga
dari budha mahayana itu entah ke mana
si akuwu dari tumapel tiba
lalu terjerat cinta

dan orang-orang membisu
sewaktu akuwu pergi dan membopongnya
dan tetap diam ketika purwa, si bujangga itu,
kembali dan bertanya tentang dedes

“o jagad dewa batara
semoga si pencuri anak perawan itu tak lanjut mengenyam
kenikmatan, semoga ia mati tertusuk keris, dan semoga
seseorang merebut istrinya,” kutuknya
dan dewa-dewa, seperti sejak mula dunia ada,
selalu mengabulkan kutukan-kutukan

“dan di panawijen, tempat orang-orang yang membisu
dari pertanyaan dan kejahatan ini, keringkan segala mata air,
susutkan kolam-kolam
dan dedes, anakku dedes, semoga segala kebaikan menyertainya,
semoga ia rasa keselamatan dan kebahagiaan besar” terusnya

tak ada dewa yang pandai menyahut doa baik
dan dedes tidak merasa selamat atau bahagia
ketika malam itu, si akuwu membuka kainnya
dan meletakkan sebutir benih dalam rahimnya

ia juga tak merasa baik
sewaktu di taman boboji, seorang berandalan
silau oleh cahaya betisnya
berandalan yang berbulan-bulan kemudian
menikam ayah bakal anaknya
dan mengangkat diri sebagai batara

“hanya nareswari yang memiliki
betis bercahaya, dan ia adalah ibu bagi semua raja
di jawa,
o... ini berkah, ini berkah, anakku,” kata dang hyang lohgawe
membujuknya menyusut airmata

“bagaimana berkah bisa berupa keharusan menyaksikan
kematian demi kematian, bapa?
raja-raja hanya muncul dari genangan darah
dan bila aku mesti menjadi ibu dari para raja
apakah itu berarti aku harus menyaksikan anak turunku
saling membantai, saling membenamkan diri dalam lautan darah?”

kelak, di singosari, ia akan bernama prajnaparamita
ia seorang perempuan, dan ia seorang nareswari
dan ia sengsara karenanya


anusapati

“keris itu, bunda, terus memanggil-manggil
seperti yang diinginkan gandring”

“gandring damai dalam kubur, anakku,
tepat ketika seratus pandai besi dari lulumbang
bebas dari pajak di dalam lingkungan dengan batas
jejak beliung cangkulnya”

“orang mati, bunda, tak bisa mencabut kutuk
dan takdir telah berjalan sepanjang lenganku”

dedes tahu dewa kematian
telah menyusup dalam istana singosari
dan andai pun anusapati bukan anak turun ametung
sang amurwabumi tetap akan tumpas atas siasatnya

maka ia beri keris setengah jadi itu
meski ada bagian dari dirinya yang terluka

“apakah kejahatan, anakku,
bila seorang istri bermuslihat dalam pembunuhan suaminya?”

“ini takdir, bunda, ini politik, dan ini suci,
dan ini bukan perkara suami istri,”
ujar anusapati sebelum ia panggil seorang pangalasan
dari batil dan berkata,
“nanti pangalasan, pada kamis pon minggu landep
tepat senjakala saat paduka bersantap,
tusuklah ia, tusuklah!”

orang-orang tengah menghidupkan pelita
ketika amurwabumi dimatikan

pangalasan teringat kebo ijo
kala anusapati membenamkan keris yang sama ke dadanya
dan seorang pujangga membuat catatan
: ah, batara diamuk pangalasan di batil
dan sang anusapati balas mengamuk si pengamuk  



tohjaya

ia percaya, segala cerita tentang
nareswari hanyalah nonsen

tapi tidak dengan umang

“darahmu, tohjaya, darah kental para perampok
darah dari bapaku, darah dari bapamu”

“tapi bapa menjadi raja
dan ia memang seorang perampok”

“ia menikah dengan dedes
dan dedes hanya satu”

“semua perempuan sama saja, bunda
dan kau juga nareswari
jika kau percaya”

ia lolos keris dari lulumbang
dan berkata, “setelah gandring, setelah ametung,
setelah kebo ijo, setelah bapa, setelah pangalasan,
kini keris ini akan menyadarkan anusapati
betapa fana kekuasaan itu, sedemikian sementara,
tak lebih lama dari se-air-an sabung ayam”

hari itu, seusai sebuah sarapan di 1171 saka
di kalangan ayam aduan
orang-orang bersorak untuk dua batu rantai
yang bergantian menetak dan mengelak
dan mereka tak mendengar
erang sekarat anusapati
sewaktu tohjaya menikam lambungnya

“lihatlah, kau juga
ibu seorang raja kini,”

dan sejak bisik itu, umang sibuk
belajar berduka
“sebab aku akan kehilangan anak!”

Dadang Ari Murtono,
lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 16 November 2018 - 18:00 wib

Menteri Keamanan Siber Jepang Ternyata Tak Mengerti Komputer

Jumat, 16 November 2018 - 17:30 wib

Dua Kecamatan Masih Terendam

Jumat, 16 November 2018 - 17:00 wib

Lutut Istri Disenggol, Nelayan Bacok Tetangga

Jumat, 16 November 2018 - 16:15 wib

Miliki 30 Kg Ganja, Petani Ditangkap

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

BRK Ikut MoU e-Samsat Nasional

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

Formasi CPNS Sumbar Terancam Kosong

Jumat, 16 November 2018 - 15:45 wib

Desa Dituntut Gerakkan Ekonomi Masyarakat Lewat ADD

Jumat, 16 November 2018 - 15:30 wib

Pedagang Belum Tahu Kapan Direlokasi

Follow Us