SAJAK

Sajak-sajak Abdul Wachid BS

16 April 2016 - 23.03 WIB > Dibaca 980 kali | Komentar
 
Tegal Arum
- werdi agung suwargono

semua dan segala yang
bernama cinta
kau kalahkan untuk yang
bernama cinta pula

apakah karena hidup itu
ruhnya ialah ilmu
dan ilmu turunnya tersebab
adanya pengakuan murid dan guru

kau kalahkan cinta untuk yang
bernama cinta pula
tetapi ingat akan jerit
tangis perempuan yang

di hatinya bersemayam al-qur’an
di matanya ada cerita cinta
sayidina ali dan sayidah fatimah
lantas di manakah

lelaki agung akan berdiri?
tidak lagi sebagai amangkurat satu
tetapi sunan tegal arum
yang bukan perempuan yang tercium

tetapi wangi daun pandan
kehijauan taman
pesantren yang berbatas sawah
lelaki agung itu akan abadi berdiri

semua dan segala yang
bernama cinta
kau aku kalahkan untuk yang
bernama maha cinta

yogyakarta, 9 februari 2016



Masjid Saka Tunggal

masjid satu pilar  
di tengahnya empat sayap
seperti totem tergambar
bawah tiang kaca pelapis senyap

ada tahun pendirian prasasti

abad 12 sebelum wali sanga
di tanah yang disucikan agama kuna
sebuah batu menhir tegak meraja
di hutan dengan ratusan kera

empat sayap penopang yang
menempel di saka empat kiblat dan lima lurus
empat mata angin dan satu pusat tak terputus

manusia dikelilingi
api, angin, air, dan bumi
bahwa hidup haruslah seimbang
 
yang hidup mestinya seperti alif
jangan bengkok
yang bengkok bukanlah manusia
 
empat penjuru
mata memandang
hati berdendang
lagu

“jangan terlalu banyak air
kalau tak ingin tenggelam
jangan banyak angin
bila tak tahan masuk angin
jangan bermain api
jika takut terbakar
jangan terlalu memuja bumi
jika tak ingin terjatuh”

empat kiblat dan lima lurus
sufiyah, amarah, lawwmah, muthmainnah
bertarunglah jiwajiwa manusia
hingga hidup hanyalah alif

Cikakak, Wangon, 4 januari 2016


Sepeninggal Ibu

kusapa perempuan di jalannya
tidak sebagai kemarin: mata
bunga biru kehijauan
lengkung alis rembulan limabelasan
mancung hidung mancung dada membusung
pinggang menari dipegang kendali
kuda betina dipacu di padang gelanggang

kusapa perempuan sebagai matahari
terbit ke esok hari : cahaya
menembus jendela kamar
pandang ke cakrawala dengan sabar
harapan dan doadoa yang
tidak berkesudahan

memang indah tubuh
tetapi megah ruh
akan tiada henti menari
hingga megatruh

sekalipun matahari terasa senja di jalannya
matahari toh akan tenggelam di hari rabu
seperti lingsirnya nenekmoyangku : di jalanku
kusapa setiap perempuan sebagai ibu

yogyakarta, 2 januari 2016


Setiap Pagi

matahari terbit dari rambutmu yang panjang
seperti sungai masakecilku
di mana aku berterjunan berlatih berenang
seringkali untuk mendapatkan sesuatu tertatap batubatu

aku telah menjumpaimu melalui mimpi
jauh sebelum hatimu kau serahkan
ketika engkau membasuh wajahmu dengan air wudlu suci
aku tergoda oleh cahaya matahari di usia rawan

rindu dendam
cemburu
ketidakberdayaan remuk redam
matahari hampir padam di sela waktu

tetapi
aku menjumpainya kembali
di sepanjang trotoar kotakkotak nasib
kuisi dengan shalawat dan salam hati
agar matahari hidup tidaklah raib

selalu setiap pagi kutemukan

matahari terbit dari rambutmu yang panjang
seperti sungai masakecilku
di mana bapak ibuku berkata beningnya doa
dan aku dimintanya berkaca di dalamnya

aku telah menjumpaimu melalui mimpi
dengan baju warna kuning seperti janur kuning
kelak kau aku menjolok bintanggemintang
matahari dan rembulan maka berjatuhan sajaksajak

sebagai aku yang
jatuh bangun berjalan dalam kesunyian panjang
setelah setiap pencapaian demi pencapaian
hidup bukanlah sekadar kesepian yang gelap lantaran

selalu setiap pagi kutemukan

matahari terbit dari rambutmu yang panjang
seperti sungai masakecilku
di mana muara cinta senantiasa tidak pernah menyerah
untuk melakoninya sekaligus mengenangnya

hingga cakrawala

mojokerto, 18 januari 2016

Abdul Wachid BS, lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Alumnus Sastra Indonesia Pascasarjana UGM (Magister Humaniora) ini adalah dosen di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto, dan sekarang sedang studi Program Doktor Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Sebelas Maret Solo. Sejak 1995 telah menerbitkan 13 buku.

KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 19 September 2018 - 13:00 wib

Dominasi Kandang

Rabu, 19 September 2018 - 12:30 wib

Epson Luncurkan Proyektor EB-L510 U dan EB L-610U

Rabu, 19 September 2018 - 12:22 wib

Aura Kasih, Tak Kuat Jauh dari Pacar

Rabu, 19 September 2018 - 12:19 wib

Bingbing, Tersangkut Kasus Pajak dan Ditinggal Fans

Rabu, 19 September 2018 - 12:00 wib

TP PKK Bengkalis Wakili Riau ke Tingkat Nasional

Rabu, 19 September 2018 - 11:50 wib

Pencairan Tunda Bayar Prioritas

Rabu, 19 September 2018 - 11:25 wib

11 Pejabat Kembali Dilantik

Rabu, 19 September 2018 - 11:00 wib

JPO Makan Korban Jiwa

Follow Us