OLEH ISBEDY STIAWAN ZS

Ritual Pagi Saat Segelas Kopi Disaji

16 April 2016 - 23.25 WIB > Dibaca 2219 kali | Komentar
 
Ritual Pagi Saat Segelas Kopi Disaji
SEGELAS kopi, gorengan pisang atau singkong dan kadang mantang, sudah tersaji di meja ruang tamu. Begitu aku bangun dan berkumur dengan air minum aku selalu menuju kursi yang sudah ada puluhan tahun itu.

Istriku selalu menyiapkan kopi dan makanan ringan—jika tak ada gorengan biasanya roti seharga Rp1.000 yang dibeli di warung kecil sebelah rumah—untuk mengisi perut sebelum kuseruput kopi. Acap kopi sudah rada dingin jika aku lamban bangun tidur. Nah, di kursi itu sambil mengopi dan merokok, aku menulis. Atau berkhayal.

Aku pernah mengkhayal yang kupikir tak masuk akal. Aku adalah gubernur. Hidupku tunduk dengan protokoler. Padahal, sejatinya aku seniman. Sangat bertolakbelakang, melawan kodrat sifatku, bertentangan dengan nurani dan kelazimanku yang sudah mengakar sejak aku remaja.
Kebiasaan sejak remaja bangun tidur selepas pukul 10.00 harus dibangunkan karena membuaka rapat ini, melantik eselon, menandatangani setumpuk surat dan lain-lain, menerima tamu yang hendak audiensi dari bernagai profesi dan keperluan, atau berkunjung ke kabupaten/kota.

Ya. Kadang aku ingin melawan protokoler yang ternyata sangat mengekang kebebasan dan kepribadianku. Meski protokol itu digaji karena tugasnya menjadwal dan mengatur atau mengigatkanku. Begitu ajudanku yang acap tiap larut malam masih menemaniku. Aku sering menyuruhnya pulang, tapi Jamil hanya tersenyum.

“Saya kan digaji menjadi ajudan bapak. Saya akan pulang jika bapak sudah istirahat dan saya tak lagi diperlukan saat itu,” ujar Jamil, ajudanku berperawakan kecil dan kurus itu.

Sementara pengawalku yang berasal dari kesatuan polisi, bahkan sering tidur di pos jaga bersama polidi sipil. Pagi-pagi Cahya baru pulang, kembali di pos dua jam kemudian.

“Bahkan nyawa saya sudah saya gadaikan ketika saya terima tugas untuk mengawal bapak,” ujar Cahya suatu saat.

Tetapi, karena aku selalu berpikir sederhana dan menjalani hidup ini apa adanya; ibarat air di sungai mengalirlah mengalir ke temoat rendah mana pun atau ke muara dan pantai, maka kubiarkan segalanya berjalan menurut alam. Aku ikuti selagi tidak aku tersangkut di akar atau batu.

Apalagi sebagai pemimpin daerah, aku mesti menunjukkan semangatku memimpin dan mengayomi rakyat. Betapapun aku letih dan mungkin mengantuk lantaran menyelesaikan tugas-tugas yang kubawa ke rumah. Belum lagi tamu silih berganti datang ke rumah dinas ini, aku harus melayani juga menerima sepenuh familiar.

Sebab, kusadari aku menjadi pemimpin karena dukungan doa mereka. Tak mungkin aku ada di kursi nomor 1 di daerah ini, jika tidak didukung dan direstui Tuhan. Sebab itu saatnya aku berbagi, waktu, pikiran, kegembiraan, dan juga barangkali uang.

Tak pernah terbayang meski aku biasa berkhayal, bisa jadi gubernur di Provinsi Anakidah ini. Aku juga jauh dari ingar-bingar politik, dunia yang hanya bersatu jika sama-sama memiliki kepentingan dan berpisah tatkala kepentingan politik sudah tak sejalan.

Tatkala orang tuaku yang pengusaha memasukkan aku ke dunia politik melalui sebuah partai politik, aku tak bisa mengelak. Ibarat sebuah rumah sekolah, anggap saja aku belajar di sana; bagaimana mengenal dan mengelola politik. Akhirnya aku khatam. Aku bisa menduduki kursi tertinggi dalam parpol tersebut.

Lalu pada Pemilihhan Raya—sebuah pesta demokrasi—yang digelar saban lima tahun sekali, para kader memintaku ikut dalam ring tersebut. Kupilih seorang yang bakal menjadi wakilku. Dia berpengalaman pengelola dan merawat adminitasi kepegawaian. Dengan bismillah aku maju ke ring Pemilihan Raya. Dan, aku menang!

Sebagai gubernur aku pun ditimbun berbagai tugas. Amat lelah. Istriku nan canti juga memegang beragam organisasi. Kami kerap tak lagi bersama di rumah. Misalnya, aku di rumah maka istriku sedang di luar kota untuk melantik dan lain-lain. Atau saat dia di rumah bersama anak, aku masih di kantor atau di luar kota hingga larut malam. Begitu bangun tidur, anakku sudah ke sekolah dan istriku sudah di sekretariat organisasi yang dipimpinnya.

Sungguh, hidup kami sudah lagi diatur oleh kami sendiri, tetapi oleh protokoler. Terkadang ku merasa terhimpit, kesepian, tidak bebas bersama keluarga. Dan pada saat bersamaan, aku tak bisa menolak, sebab aku tak hendak diturunkan secara paksa oleh rakyat karena tak becus memimpin.

Betapa indahnya berkhayal…

***

AH  aku hanya seorang penulis sastra. Orang-orang menyebutku sastrawan. Sementara para tetangga menilaiku seorang pengangguran. Menurut mereka, orang kantoran atau kalau aku bekerja, tentu pergi pagi dan pulang sore.

“Kalau pan Andre itu kan, setahu saya selalu di rumah. Sesekali saja pergi, dan kalau sedang tak ada di rumah bisa-bisa pulangnya tengah malam, dini hari, atau baru kembali setelah berhari-hari,” cerita Ali, tetangga di sebelah rumahku kalau ditanya tamuku.

Aku tahu Ali bercerita begitu, dia sendiri yang mengatakan. Habis, kata dia, dirinya tak tahu apa pekerjaanku dan di mana aku bekerja. Dia hanya melihatku selalu duduk di ruang tamu menikmati segelas kopi sambil merokok. Dari luar rumah, dia selalu mengintipku, katanya: aku seperti tengah melamun atau berkhayal.

“Emangnya pak Andre kerja apa sih?” suatu malam dia bertanya, saat itu kami sedang mendapat giliran ronda.

“Apa yang diiomongin pak Ali benar kok, saya tak tersinggung. Memangnya kenyataannya begitu,” jawabku santai.

Aku tak ingin dia tahu apa pekerjaanku sesungguhnya. Aku pun tak bercerita jujur bahwa aku seniman atau orang yang menulis karya sastra, dan dari karya-karyaku itu jika dimuat media massa atau diterbitkan menjadi buku oleh penerbit akan mendapatkan uang yang bisa menghidupi keluargaku dengan ukuran hidup sederhana.

Aku berharap, bahkan seluruh tetanggaku hanya tahu bahwa aku warga seperti mereka di perumahan sangat sederhana ini. Tak begitu penting dan membanggakan menyandang kesastrawanan di negara yang tak begitu menghargai profesi ini. Negara hanya menomorsekiankan peran seniman, dan mendaulat penuh olahragawan.

“Tapi saya malu pak Andre. Mosok tetangga sendiri tak tahu bapak bekerja di mana gitu,” ujar Ali lagi. “Jadi kalau tak keberatan, bolehlah kami tahu sebenarnya bapak itu kerja apa sih? Kok setiap hari di rumah terus, kadang saya lihat duduk lama sekali, dan kalau subuh atau malam asyik nulis di computer. Apa pak yang ditulis?”

“Hanya nulis-nulis saja, saya sendiri juga tak tahu apa yang saya tulis,” jawabku hanya untuk mengelak. “Sudah ah, tak begitu penting di mana kita bekerja, tetapi yang perlu adalah apakah seseorang bisa menghidupi keluarga, membayar kredit rumah, rekening listrik, air, dan sebagainya. Dari hasil yang tak merampok atau korupsi. Iya kan pak?” lanjutnya.

Ali, Endri, Herman, dan bapak-bapak lain yang juga mendapat giliran ronda mengangguk. Di gardu ini ada 10 orang termasuk aku. Ada yang asyik main catur, gaple, dan membakar singkong.

Kataku lagi, “Kerja bukan melulu menghasilkan uang, tapi rezeki datang dari Allah dan bisa dari mana saja.”

 Lagi-lagi mereka mengangguk.

“Saya pernah bekerja pas satu bulan, eh pemilik modalnya kabur. Ya ndak dapat upah,” sela Dion, tetanggaku yang rumahnya di sudut jalan.

Aku tak berkomentar.

Terpenting menjadi diri sendiri. Bekerja tak mengabdi juga tak menghamba. Tidak harus menjilat atasan, dan melecehkan bawahan. Dan, rasanya menjadi pengarang lebih egaliter dan acap terkesan individualistis.

Betapa tidak? Saat aku mengarang sebuah cerita, aku seperti “tuhan” yang kuhidupi dulu tokoh-tokohnya, kutandai karakternya, kuberi eksen tiap karakter itu; lalu aku mainkan tokoh-tokoh itu sepeti dalang memainkan wayangnya. Atau layaknya Tuhan menggerakan hidup-matinya mahluk ciptaan-Nya.

Betapa indah dan nikmat bukan? Kumainkan satu persatu tokoh-tokoh jelmaan dari khayalku. Kuberi vokal, ucapan, kujadikan mereka bernyawa. Bisa memainkan tokoh bodoh, pintar, culun, munafik, dan hipokrit sekalipun. Tokoh-tokoh dalam ceritaku itu memang kuciptakan, namun mereka bukan bagian dari ejawantah diriku.

Aku hanya dalang. Karena itu bisa saja dalam mendalang, aku akan salah memainkan dan menerjemahkan tiap tokoh yang kuciptakan. Sebagaimana kita melangkah dari satu tempat ke lokasi lainnya, boleh jadi kita pernah tersandung, terjatuh, atau mendapat hambatan. Para pengunjukrasa tak melulu mulus memperjuangkan cita-cita dan keinginannya. Mereka bisa dihadang pasukan bersenjata, khianat dari dalam barisan, penyabet finish, dan seterusnya.
Begitu pengarang cerita. Banyak orang menyebut juru khayal, sihir kisah, dan seterusnya. Sebutan-sebutan yang justru tak melegakan. Seperti juga nasib pengarang cerita di negara yang tak begitu mementingkan narasi-narasi selain politik yang telah menjadi dewa, makin memperpuruk saja.

Dan, aku sejak dulu kala hanya menempati rumah sederhana yang dibayar tiap bulan hingga 20 tahun setelahnya baru lunas, namun belum sepenuhnya menjadi pemilik sah. Sebab harus ke notaries, atau jika sewaktu-waktu negara memerlukan dengan suka atau tak rela menyerahkannya. Kembali mencari rumah lain.

“Rumah hanya ruang singgah sementara, sebagaimana seorang pejalan yang kelelahan lalu istirahat sebentar. Kemudian berjalan lagi, entah mana tujuannya yang pasti,” ucapku setelah lama hening.

“Bapak Andre ini kayak seorang pemikir. Kata-katanya penuh renungan dan berat maknanya,” kata Endri, tetangga termuda di antara kami dan baru enam tahun berumah tangga.

Aku tak merespon. Ia, dan tetanggaku lainnya, tak akan pernah tahu kalau ucapanku itu ada dalam kalimat dari sebuah cerita yang kutulis nanti.

“Memangnya dari mana sih Pak Andre dapat ucapan seperti itu, enak didengar tapi rasanya sulit memaknainya?” tanya Endri kemudian.

“Dari mana saja, alam terkembang jadikan guru. Jadikan sungai untuk belajar berenang, hutan buat belajar memanah. Dan, buku jadikan untuk menulis. Sebab ruang sekolah rasanya tak lebih hanya mengajarkan agar kita tahu menulis huruf dan mengenal angka,” jawabku lirih.

Begitulah aku selalu menutup siapa diriku. Tidak seperti buku yang tertutup oleh sampul, kita berlomba hendak membuka dan membacanya.

***

AKU hanya pengarang cerita, tukang sihir dalam cerita. Tidak tercatat dalam dsaftar kenegaraan.

Segelas kopi, gorengan pisang atau singkong dan kadang mantang, sudah tersaji di meja ruang tamu. Begitu aku bangun dan berkumur dengan air minum aku selalu menuju kursi yang sudah ada puluhan tahun itu.

Istriku selalu menyiapkan kopi dan makanan ringan—jika tak ada gorengan biasanya roti seharga Rp1.000 yang dibeli di warung kecil sebelah rumah—untuk mengisi perut sebelum kuseruput kopi. Acap kopi sudah rada dingin jika aku lamban bangun tidur. Nah, di kursi itu sambil mengopi dan merokok, aku menulis. Atau berkhayal.

Aku pernah mengkhayal sebagai pemulung. Mengais dari satu kotak sampah ke tong sampah yang lain. Mengais-ngais kata dan mengumpulkan hingga jadi kalimat. Meski anda kemudian menganggapnya barang rongsokan… ***

Lampung, 8 April 2016

Isbedy Stiawan ZS,
lahir, besar dan bermastautin di Tanjungkarang (Lampung). Puisi, cerpen, esai dan karya jurnalistiknya dimuat di Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Sinar Harapan, NOVA, Horison, Jurnal Nasional, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Jawa Pos, Lampung Pos, Radar Lampung, Kedaulatan Rakyat, Riau Pos dan banyak lagi.
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 13:30 wib

Jessica Raih Emas Kejurnas Piala Panglima

Senin, 24 September 2018 - 13:23 wib

Nasabah BRI Juanda Dapat Xenia dari Simpedes

Senin, 24 September 2018 - 13:16 wib

Paripurna Molor 6 Jam, 11 Anggota Dewan Bolos

Senin, 24 September 2018 - 13:00 wib

Joshua Penuhi Janji

Senin, 24 September 2018 - 12:55 wib

Setujui Tobasa Jadi Toba

Senin, 24 September 2018 - 12:31 wib

12 Jamaah Haji Nagan Belum Kembali

Senin, 24 September 2018 - 12:30 wib

Marquez Juara di Aragon

Senin, 24 September 2018 - 12:30 wib

Flyover Ditunda

Follow Us